
"Tapi tetap saja meski sudah di sederhanakan, ilmu ini tetap sangat dahsyat dan sulit di pelajari.."
"Hanya leluhur kita Huo San yang bisa menguasainya secara lengkap."
"Kakek sampai setua ini, hanya menguasai 3 jurus saja..."
ucap Kakek Andi menutup penjelasannya.
Andi terlihat berpikir sejenak kemudian berkata,
"Bagaimana dengan Hua Yen Jia..?"
Kakek Tersenyum dan berkata,
"Dia sangat berbakat dan cerdas, dalam usia muda dia sudah menguasai 7 jurus.."
"Sayang dia terlalu suka pamer dan mencampuri urusan orang, sehingga harus mati muda.."
"Bila dia tekun berlatih, mungkin dia adalah satu satunya yang bisa menguasai ke 13 jurus itu seperti leluhur Huo San."
"Andi ingatlah pesan kakek, jangan pernah meniru Huo Yen Jia, bila tidak ingin mati muda.."
"Kakek katakan pada mu, Ilmu silat itu adalah alat untuk membunuh, bukan untuk di pamer.."
"Di saat terdesak dan tidak punya pilihan lain, kita baru menggunakan nya.."
"Sekali di lepaskan maka akan ada nyawa yang melayang, jadi berhati-hatilah dalam menggunakan nya.."
Setelah berpesan, kakek Andi dengan tubuh sedikit sempoyongan berjalan masuk kedalam pondok nya.
Andi buru-buru berdiri ingin membantu kakek nya, tapi kakeknya mengibaskan tangan nya dan berkata,
"Kakek bisa sendiri, kamu duduk saja di sini sebentar,.. hikk..!"
Kakek Andi berjalan seorang diri masuk kedalam rumah sambil memegang dua botol minuman hadiah Andi di kedua tangan nya.
Tak lama kemudian kakek Andi kembali keluar dari dalam rumah, dia meletakkan sebuah kotak kayu usang di hadapan Andi dan berkata.
"Kamu sudah cukup umur dan sangat berbakat, kamu cobalah pelajari.."
"Semuanya ada di dalam sini, bisa atau tidak tergantung dengan kemampuan mu sendiri..dalam memahaminya.."
ucap Kakek Andi sambil menepuk bagian atas kotak tersebut.
"Silahkan saja, kakek mau pergi tidur, jangan lupa lakukan tugas mu seperti biasa ya,.."
pesan kakek nya sebelum masuk kedalam rumah.
__ADS_1
Andi mengangguk, dia menatap hingga bayangan punggung kakeknya menghilang kedalam rumah.
Andi baru membuka kotak itu, untuk mengobati rasa penasaran nya.
Begitu kotak terbuka di dalamnya ada selembar kulit kambing yang di penuhi gambar dan tulisan kecil kecil.
Andi mengeluarkan kulit kambing itu, dan membacanya berulang-ulang dan mencoba meniru gerakan gambar yang tertera di dalam kulit kambing tersebut.
Andi mencobanya berulang kali, tapi belum terlihat ada hasilnya.
Dengan tubuh basah kuyup penuh keringat, Andi menghentikan latihannya.
Andi lalu menyimpan kotak tersebut beserta isinya kedalam kamar rumah.
Setelah itu dia pun bergegas pergi bersiap-siap mengumpulkan bahan dan perlengkapan untuk masak.
Seperti kayu bakar, timba air, bersihkan dapur, memanen sayuran, memotong ayam membersihkannya.
Baru Andi mulai masak, di tempat kakeknya ini semua serba tradisional, pelihara sendiri masak sendiri.
Kakek Andi memang sedikit kuno dan tradisional, sehingga dia lebih suka hidup menyendiri seperti ini.
Ketimbang hidup bersama kedua orang tua nya, padahal ibu dan ayahnya sering menawarkan nya, untuk tinggal bersama.
Tapi kakeknya selalu menolaknya, dia lebih suka hidup bebas dan santai seperti ini, menurutnya dengan begini dia akan lebih sehat.
Di tempat lain di sebuah rumah mewah yang besar dan indah.
Malam itu tepat 3 bulan setelah pernikahan Viona dan Rio.
Di ruangan tengah terlihat terjadi pertengkaran hebat antara Rio dan Ayahnya Ferdinand Chu.
Suara pertengkaran yang begitu keras memenuhi seluruh rumah, Viona yang tadinya ingin turun ke bawah untuk makan malam.
Saat tiba di tengah tangga, dia terpaksa membatalkan nya.
Viona memutuskan kembali ke kamarnya.
Viona duduk di depan cermin menatap wajah nya sendiri yang terlihat kusut dan kurang terawat.
Sepasang matanya sedikit cekung dan ada garis hitam di bawahnya mirip mata panda.
Tubuhnya juga jauh lebih kurus, padahal dirinya sedang hamil hampir 4 bulan seharusnya tubuh nya terlihat jauh lebih berisi.
Tapi kenyataannya Viona terlihat jauh lebih kurus, bahkan di saat sakit sekalipun, dulu dia tidak pernah sekurus ini.
Semenjak menikah dengan Rio Viona sudah putus kuliah, dia sudah berhenti dari perkuliahan.
__ADS_1
Keputusan ini dia ambil agar bisa sepenuh hati menjadi seorang istri yang baik buat Rio.
Selain itu dia ingin belajar menjadi menantu yang baik untuk kedua mertuanya.
Sayang nya semua pengorbanan, termasuk seluruh uang tabungannya yang berasal dari Andi.
Kini sudah habis semua beralih ke rekening Rio, dengan berbagai alasan untuk keperluan usaha sendiri dan berbagai alasan lainnya.
Akhirnya semua tabungan Viona habis tak bersisa sedikit pun.
Bahkan kini Viona sudah 2 bulan tidak pernah di antar pergi cek up kandungan dengan alasan tidak punya uang.
Pada awal perkawinan mereka di bulan pertama, semua berjalan cukup lancar, Rio termasuk sangat perhatian dan menyayanginya.
Kecuali ayah mertuanya, yang selalu bersikap kasar dingin dan suka melontarkan sindiran sesuka hati, tapi hal lainnya semua berjalan cukup lancar.
Viona selalu bersikap sabar dan tidak pernah membalas atau menanggapinya dengan serius.
Berpura-pura tidak mendengarnya, masuk telinga kiri keluar telinga kanan.
Ilmu ini ternyata cukup efektif, sehingga situasi rumah itu pun berjalan cukup kondusif dan baik' baik saja.
Tapi memasuki bulan kedua situasi mulai berubah, Rio mulai tidak memperdulikannya.
Jarang pulang, kalaupun pulang pasti sudah subuh dan dalam keadaan mabuk.
Semua itu mulai membuat Viona tertekan perasaannya, tapi Viona selalu berusaha menahan sabar dan mencoba mengerti alasan alasan yang Rio lontarkan.
Hingga hampir memasuki bulan ketiga pernikahan mereka, Rio bahkan mulai sering tidak pergi bekerja.
Dia setiap malam selalu pulang mabuk mabukan, lalu tidur hingga siang siang baru bangun dan tidak pergi bekerja.
Hal ini mulai memicu pertengkaran ayah anak itu, di mana dalam setiap pertengkaran Ferdinand Chu pasti akan mengungkit ketidak bergunaan Rio yang memilih menikahi dirinya.
Setiap kata dan ucapan ini sungguh menyakiti hati dan perasaan Viona.
Hingga malam ini adalah puncak nya, di mana Ferdinand Chu sudah lepas kontrol emosi nya, sehingga dia langsung memecat Rio dari perusahaannya.
Bahkan dalam pertengkaran itu Viona menyaksikan Rio di tampar bolak balik oleh ayahnya.
Puncaknya karena Rio tidak terima dirinya di hina oleh ayahnya, Ferdinand Chu mengusir Rio dan dia dari rumah tersebut.
Sampai di sini, Viona sudah tidak kuat melanjutkan mendengar kan pertengkaran ayah dan anak itu.
Viona memilih kembali ke kamarnya dengan airmata berlinang membasahi kedua pipinya.
Kini Viona hanya bisa duduk termenung menatap cermin, tanpa sadar dia membuka laci meja riasnya, mengeluarkan sebuah patung ukir yang sangat halus.
__ADS_1