
"Tuh dengarkan kata-kata dokter barusan, jangan ngeyel.."
"Aku sudah bilang berulang kali, urusan di rumah, biarkan saja pembantu yang kerjakan, kamu cukup duduk manis jaga kandungan mu baik baik.."
"Gak usah ikut campur..!
Gak mau dengarkan ? kini lihat akibatnya hampir saja, kalian berdua celaka.."
ucap Rio memarahi Viona sambil mengeleng gelengkan kepalanya.
Viona yang baru mulai bisa turun dari pembaringan, berjalan pelan-pelan ingin menghampiri Rio dan dokter.
Mendengar teguran Rio yang melemparkan semua kesalahan padanya, dia jadi berhenti melangkah, dia mempelototi Rio dari samping dengan kesal.
Emosinya rasanya mau meledak melihat kemunafikan Rio, tapi mau bagaimana lagi, inilah pilihan hidupnya dia mau bagaimana lagi.
Dari awal sudah salah langkah, seluruh papan permainan dia sudah kalah total, inilah bayaran yang harus dia bayar atas langkah yang salah tersebut.
Viona terpaksa tersenyum pahit, saat dokter yang menolong nya tadi, menoleh kearah nya dan berkata,
"Suami mu benar sekali Bu Viona, ibu lain kali tidak boleh lagi keras kepala,.ini semua demi keselamatan ibu dan anak yang ibu kandung itu.."
"Ibu Viona sangat beruntung memiliki suami yang perhatian dan siaga seperti pak Rio, bila tidak entah jadi apa nasib ibu dan bayi dalam kandungan ibu, bila datang terlambat..'
Viona hanya bisa mengangguk dan tersenyum pahit, sambil berkata,
"Makasih banyak dokter."
Rio di belakang si dokter tertawa puas penuh kemenangan.
Melihat tingkahnya, Viona rasanya ingin mengunyah kepala pria itu hidup hidup.
Tapi lagi lagi itu cuma khayalan yang tidak mungkin terwujud, dia hanya bisa sabar dan menelan semuanya di dalam hati.
"Nona Viona silahkan duduk,."
ucap si dokter.
Rio buru buru bangun menghampiri Viona membantunya untuk duduk di kursi.
Viona sebenarnya ingin mengibaskan tangan Rio menjauhinya, tapi kondisinya tidak memungkinkan untuk itu.
Akhirnya dia terpaksa menerima bantuan Rio, untuk duduk disisi Rio menghadap kearah dokter.
"Ibu Viona aku akan membukakan beberapa resep untuk mu, ingat harus di konsumsi secara rutin ya."
ucap Dokter cantik itu sambil membuka resep buat Viona.
"Dua Minggu lagi tolong datang lagi kemari buat kontrol.."
ucap Dokter cantik itu sambil tersenyum dan menyerahkan resep tersebut ke Viona.
Viona menerima resep tersebut sambil mengangguk dia berkata,
__ADS_1
"Baik dok, terimakasih.."
Dokter itu tersenyum sambil menganggukkan kepalanya kearah Rio dan Viona.
Sambil melihat bayangan punggung Viona di gandeng dengan mesra oleh Rio meninggalkan ruangan nya.
Dokter cantik itu bergumam di dalam hati.
"Sungguh beruntung dia, padahal secara penampilan dari angka 1 SD 10 paling nilainya 5, tapi dia bisa mendapatkan Pria setampan dan sebaik pak Rio.."
"Andaikan...hush kamu ini apa apaan kebelet punya suami, ? hingga naksir suami pasien mu, sungguh gila dan gak masuk akal kamu.."
tegur dokter cantik itu mengomeli dirinya sendiri.
Sambil termenung dan tersenyum sendiri dia berkata,
"Tapi pak Rio itu benar-benar sangat tampan dan menawan.."
Sementara itu setelah membantu Viona masuk kedalam mobil, Rio langsung menutup pintu mobilnya dengan kasar, hingga Viona tersentak dan terkejut di buatnya.
Setelah masuk kedalam mobil, wajah Rio pun berubah menjadi dingin, tanpa berkata apa-apa dia langsung membawa mobilnya kembali ke rumah.
Setelah sana sama diam cukup lama akhirnya Viona tidak tahan dan buka suara,
"Rio siapa gadis yang bernama Vivian Lim, yang mengangkat telpon mu semalam..?"
Rio pun jadi sadar, ternyata yang nelpon semalam dan di katakan orang iseng oleh Vivian adalah Viona.
Tapi Rio bersikap tenang dan berkata,
Viona langsung duduk miring menghadap kearah Rio dan berkata dengan emosi,
"Rio...! apa maksud mu.!?"
Rio tersenyum sinis dan berkata,
"Kamu tuli atau tidak punya telinga, aku sudah katakan tadi, apa perlu aku mengulanginya lagi..!"
Viona tersentak mendengar bentakan Rio.
Sepasang matanya langsung basah, bibirnya bergetar,
"Rio,..apa maksud mu..? lalu aku Bagaimana..? aku tidak Sudi di madu.."
Viona berusaha menahan diri untuk tidak menangis, tapi airmatanya mulai meluncur deras tak terkontrol.
Rio tertawa mengejek dan berkata,
"Kamu terserah kamu,.. mau tinggal boleh... mau pergi terserah.."
"Sudi tidak Sudi,.. itu kenyataan harus kamu terima.."
ucap Rio santai sambil tertawa mengejek.
__ADS_1
"Rio kamu...kamu bajingan..biadab..!"
teriak Viona marah.
Lalu dia mengangkat tangannya hendak menampar Rio dari samping.
Tapi tangannya yang kurus kecil keburu di tangkap oleh tangan Rio yang besar kekar dan kuat.
"Plakkk..."
terdengar bunyi tamparan yang sangat keras.
Terdengar jerit kesakitan, tapi yang terkena tampar hingga kepalanya membentur kaca jendela bukan Rio tapi Viona.
Viona merintih kesakitan, pipinya bengkak biru, bibirnya sobek berdarah, kepalanya yang membentur kaca jendela juga benjol sebesar telur ayam.
Dengan kejamnya, Rio sambil menyetir dengan tangan kanan,. tangan kirinya, menjambak rambut Viona dan membenturkan wajah Viona dengan keras kearah dashboard mobil.
"Brakkk...!"
"Ahhhhh...."
teriak Viona kesakitan, hidungnya terluka, darah mengocor deras dari kedua lubang hidung nya.
Rio lalu meminggirkan mobilnya di tepi jalan, membuka pintu mobil, lalu dia mendorong paksa Viona keluar dari mobilnya dan berkata,
"Kamu pelacur kecilnya Andi si pecundang itu, menjauhlah dari hadapan ku, dasar menjijikkan..!"
"Peiii..!"
Rio meludahi wajah Viona, yang sedang terjatuh duduk bersimpuh di lantai dengan lutut lecet berdarah, akibat didorong paksa keluar dari dalam mobil hingga terjatuh disana.
Tanpa memperdulikan rintihan dan tangisan Viona, Rio membawa mobilnya berlalu dari sana meninggalkan Viona yang hanya bisa menangis sedih seorang diri di sana.
Viona mengeluarkan selembar tissue dari tas nya, lalu di menggunakan tisue yang dilinting itu untuk menyumbat lubang hidungnya yang terus mengucurkan darah.
Setelah menengadahkan kepalanya beberapa saat, hingga darah dari hidung nya berhenti mengucur.
Viona dengan kaki terpincang pincang karena sendalnya putus, dia berjalan menuju kantor polisi terdekat untuk membuat laporan KDRT yang di lakukan Rio padanya.
Polisi menerima dan mencatat laporan yang Viona berikan, Viona di visum dan di periksa dokter kepolisian.
Tentu saja semua biaya laporan dan biaya visum Viona harus membayarnya.
Untuk membayar biaya itu, Viona terpaksa menggadaikan kalung pemberian ayahnya.
Setelah semua pembayaran selesai, pihak kepolisian pun bertindak memanggil Rio datang ke kantor polisi.
Rio memenuhi panggilan datang dengan pengacara nya, tidak tahu apa yang mereka bicarakan di dalam.
Tak lama kemudian terlihat Rio berjalan keluar dengan santai menghampiri Viona dan berkata,
"Ayo ikut aku pulang, jangan pernah berani bikin masalah di sini.."
__ADS_1
"Atau kamu bisa mencicipi melahirkan dan membusuk di dalam penjara.."
Mendengar bisikan Rio, Viona sangat terkejut dan menatap kearah polisi yang menangani kasusnya dengan tatapan tak percaya.