
Santi tidak berlama-lama di kamar mandi, sebentar kemudian dia sudah keluar dari kamar mandi.
Untuk menenangkan pikiran nya, setelah berganti pakaian dengan rapi, Santi duduk bersimpuh di lantai sambil berdoa kepada yang maha kuasa.
Agar di beri kemudahan dalam hidupnya, jauhkan hidupnya dari berbagai cobaan.
Setelah menyelesaikan doa nya, Santi merasa hatinya jauh lebih nyaman dan ringan sekarang.
Santi melihat jam masih pukul 5,30 pagi.
Masih banyak waktu, dia pun mempersiapkan pelajaran mata kuliah yang akan di ikuti nya nanti.
Tanpa terasa waktu berlalu dengan cepat, tahu-tahu sudah jam 6,30.
Santi buru-buru minum segelas sereal lalu keluar dari kamar nya.
Saat keluar dari kamar, Viona pun pas baru keluar dari kamar nya.
Sambil tersenyum kedua gadis itu berjalan keluar dari kost bersama sama.
Tapi baru tiba didepan pintu pagar, mereka melihat sebuah mobil Mersi parkir didepan kost mereka.
Seorang pria ganteng dan macho bertubuh tinggi besar berdiri bersandar di pintu mobil sambil tersenyum kearah Viona.
Pria itu adalah Rio, Viona melihat kearah Santi dan berkata,
"Kamu duluan aja San, aku ikut dia.."
Santi mengangguk tanpa berkata apa-apa, dia langsung berjalan dengan kepala tertunduk menuju kampus.
Viona tanpa banyak bicara masuk kedalam mobil yang pintunya di bukakan oleh Rio.
Setelah Rio duduk dalam mobil, Viona memberikan kontrak yang sudah di tandatangani nya ke Rio.
Rio menerima nya sambil tersenyum, lalu melempar kontrak tersebut ke jok belakang mobil.
Setelah itu tanpa berkata apa-apa, dia menjalankan mobilnya menuju kampus.
Setelah memarkirkan mobilnya, Rio buru-buru keluar dari dalam mobil, membuka pintu mobil buat Viona.
Mengulurkan tangannya untuk membantu Viona keluar dari mobil.
Viona dengan terpaksa menyambut uluran tangan dari Rio, perlahan-lahan keluar dari dalam mobil Rio.
Mereka berjalan bergandengan tangan menuju kelas Viona.
Di tengah jalan secara kebetulan berpapasan dengan Andi, yang juga baru saja tiba di kampus.
Situasi yang paling tidak ingin di lihat oleh Andi akhirnya terjadi di depan matanya.
Andi pura-pura tidak melihat tatapan Viona yang sedih dan tak berdaya, dia buru-buru mengambil jalan lain secara memutar arah.
Rio tersenyum bangga menatap Andi, seolah olah tatapan matanya berkata, lihat cewek mu kini jalan bersama ku.
Kamu bisa apa pecundang, makan sana cinta mu itu.
__ADS_1
Pecundang kere selamanya tetap pecundang.
Andi juga sadar Rio sedang melecehkan dirinya lewat tatapan matanya.
Ingin rasanya dia maju menghajar Rio bajingan itu hingga babak belur.
Tapi Andi menahan diri untuk tidak melakukan hal tak berguna itu.
Bila dia melakukan hal itu, pertama dia hanya akan mempersulit posisi Viona gadis yang sangat di cintai nya itu.
Kedua jelas dia bisa di masukkan ke penjara, dia hanya akan menyusahkan orang tuanya.
Ketiga ada kemungkinan, dia akan di keluarkan dari kampus dengan secara tidak hormat.
Sehingga dia akan kesulitan melanjutkan kuliahnya di kampus lain.
Ada begitu banyak kerugian yang harus dialami nya, bila menuruti emosinya menghajar Rio.
Akhirnya dia sadar dan memilih mundur menjauhi mereka untuk mengurangi masalah.
Viona yang tidak ingin Andi di persulit, dia segera menggandeng tangan Rio menariknya menuju kelasnya.
Rio tersenyum senang, dia mengikuti tarikan tangan Viona dengan bangga berjalan mengantar Viona sampai kelas nya.
"Viona melemparkan senyum setengah terpaksa, lalu berkata.
"Aku masuk dulu.."
Tapi Rio menahan tangan Viona dan berkata,
"Tunggu kamu lupa sesuatu.."
Dengan tak berdaya Viona maju sedikit berjinjit kemudian mencium pipi Rio.
Rio tersenyum Banggai sambil mengelus pipinya, yang barusan merasakan ciuman lembut dan hangat dan bibir Viona.
Viona sendiri dengan wajah kesal berjalan masuk kedalam kelasnya.
Saat dia mencari-cari Santi teman nya, dia sedikit terkejut melihat pria yang duduk di samping Santi.
Santi sendiri tadi pagi setelah berpisah jalan dengan Viona, dia dengan terburu-buru berjalan langsung menuju kelas nya.
Belum lama dia duduk dan meletakkan buku nya di bangku sebelah, untuk booking tempat buat sahabat nya Viona.
Terdengar sebuah suara berat khas yang sangat di kenal nya berkata,
"Boleh saya duduk di sini..?"
Santi buru-buru mengangkat kepalanya menatap pemilik asal suara tersebut.
Ternyata dugaannya tidak salah yang barusan bersuara adalah James kakaknya Sarah.
Santi menatap James dengan tatapan tak percaya, dia pun berkata.
"Sebelah sini buat Viona.. sebelah sini kosong bebas.."
__ADS_1
"Kenapa kak James bisa ada di sini..?"
tanya Santi heran.
"Aku daftar sebagai murid tambahan di sini."
ucap James santai.
Sebelum James duduk menempati kursi kosong di sebelah Santi.
Marcel si kribo brokoli tiba-tiba datang duduk di sana, kemudian dengan wajah tidak tahu malu dia berkata,
"Sayang terimalah bunga dan coklat dari ku ini.."
James mengerutkan alisnya, wajahnya menjadi sedingin es.
Dia menatap Santi dengan tajam dan berkata,
"Apa kamu mengenalnya ? apa dia kekasih mu ?"
Santi buru-buru menggelengkan kepalanya dengan keras.
Tanpa basa-basi James mengambil coklat dan bunga didepan Santi, lalu dengan sekali lempar bunga dan coklat itu masuk kedalam tempat sampah yang terletak didepan kelas.
Jarak antara tempat duduk Santi dan tempat sampah itu cukup jauh, tapi dengan mudah tanpa melihat James bisa melempar nya dengan tepat.
Kejadian tersebut membuat murid seisi ruangan mulai mengalihkan perhatian mereka menatap kearah James, yang bertubuh tinggi besar ganteng tapi berwajah sangat dingin.
Marcel tentu tidak terima, barang yang dia berikan ke Viona di lempar begitu saja oleh James ketempat sampah.
Sambil melotot dia berkata,
"Hei orang baru..! kamu mau coba cari masalah dengan ku..!"
Santi menatap perselisihan kedua orang itu dengan wajah ketakutan.
Dia jadi teringat kejadian Andi di keroyok dengan golok oleh Marcel dan temannya yang suka nekad.
Santi tidak ingin terjadi sesuatu dengan kakak sahabatnya.
Dia pun buru-buru berdiri dari tempat duduk menarik tangan James dan berkata,
"Jangan hiraukan dia, ayo kita duduk di sana saja.."
James sebenarnya ingin menghajar Marcel yang berani mengganggu Santi.
Jiwa pembunuh nya terpancing dengan ulah Marcel.
Bila ini terjadi di tempatnya dulu, bisa dipastikan detik itu juga Marcel akan kehilangan kepalanya.
Tapi ditempat baru ini James masih berusaha menahan diri.
Karena Santi sudah menarik tangannya, dia pun tidak punya alasan menolak niat baik Santi, yang tidak ingin dia ribut dengan bajingan kribo itu.
James pun hendak melangkah pergi mengikuti tarikan tangan Santi.
__ADS_1
Di luar dugaan Marcel menyambar kerah bajunya dan mendeliki nya, sambil berkata.
"Ambil kembali barang ku..! taruh kembali disini..atau...!"