AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU

AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU
PEMBICARAAN BERDUA


__ADS_3

Tidak ada kata kata apapun yang keluar dari mulut mereka berempat, Violin Viona, dan kedua orang tuanya.


Mereka berempat hanya berangkulan sedih sambil menangis.


Andi sedikit mundur menjauh, dia menatap kearah mereka dengan sepasang mata basah karena terharu.


Dia juga tidak tahu mau berkata apa, selain diam di sana dan menatap mereka dengan penuh rasa haru.


Mama Viona sambil menangis berkata,


"Mengapa kamu begitu bodoh nak,? mengapa kamu tidak bisa berpikir secara terbuka.."


"Mengapa tidak pulang mencari kami, ? mengapa tidak menelpon kami menjemput mu ? mengapa kau biarkan diri mu jadi seperti ini ?"


"Ahh kamu ini nak, kenapa harus selalu membuat papa mama mencemaskan mu..?"


mulut mengomel tapi tangannya tak berhenti membelai kepala dan punggung Viona dengan lembut.


Airmata terus bercucuran dari sepasang matanya yang sudah mulai banyak keriputnya.


Dari tatapan matanya jelas dia sangat sedih dan cemas melihat kondisi anaknya ini.


Viona sendiri hanya memilih diam dan berusaha menahan suara tangisannya dengan airmata tiada berhenti mengalir dari sepasang matanya yang sayu lelah dan ada garis hitam di bawah pelupuk matanya.


"Sudahlah ma, semua sudah terjadi yang penting adalah sekarang, bagaimana cara kita merawat dan menjaganya hingga dia bisa sehat kembali.."


ucap papa Viona.


Mama Viona mengangguk dan tidak berkata apapun lagi, selain menciumi kepala Viona penuh kasih sayang.


Andi perlahan lahan melangkah mundur kemudian keluar dari dalam kamar tersebut.


Andi berjalan dalam pikiran kacau balau, pernikahan sudah di depan mata, memilih Violin dan menyakiti perasaan Viona dan menghancurkan sedikit harapan kemauan hidupnya yang tersisa.


Andi jelas tidak mampu melakukan hal ini, memilih Viona membatalkan pernikahan dengan Violin ini jelas menghancurkan perasaan dan hatinya sendiri, juga menghancurkan perasaan gadis yang mulai sangat di cintai dan di sayanginya itu, dia juga tidak tega.


Memilih keduanya untuk hidup bersama itu jelas lebih tidak mungkin.


Pilihan itu justru akan menghancurkan perasaan kedua gadis itu sekaligus.


Tanpa itupun hubungan kedua kakak beradik itu sudah renggang, karena keberadaan diri nya, ditengah tengah antara mereka berdua.


Andi yang termenung terus melangkah tak terasa dia sudah tiba di area Roftop bangunan tersebut.


Andi menghirup udara segar berulang-ulang untuk mengurangi rasa sumpek pikiran dan hatinya.


Andi akhirnya memilih duduk dalam gelap, dengan hanya di temani bintang bintang yang bertaburan di langit.


Selain menghela nafas panjang berulang ulang dan menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, yang bisa mengeluarkan cahaya dalam kegelapan, tidak ada hal lain yang bisa Andi lakukan.

__ADS_1


Tidak tahu berapa lama Andi duduk melamun membayangkan semua kenangan lamanya satu persatu.


Hingga ada seseorang yang ikut duduk di sampingnya sambil menyentuh lembut tangannya, Andi baru kembali sadar dari lamunannya.


Dia menoleh ke samping sambil tersenyum sedih, dan menatap gadis itu dalam dalam,


Andi berkata pelan,


"Perawat yang merawat Viona kakak mu, mereka mengatakan Viona kakak mu, selain mengidap gangguan jiwa stress berlebih, dia juga mengidap kanker servik."


"Tubuhnya menjadi seperti itu, karena digerogoti oleh penyakit kronis itu."


Violin mengangguk kecil dan berkata,


"Kalau itu aku sudah tahu dari perawat dan dokter di panti ini."


"Aku tadi sempat mengobrol banyak dengan mereka, sebelum kemari."


Di dalam hati Andi sangat kagum dengan ketelitian dan ketenangan gadis yang sangat di cintai nya ini.


Pantas saja di rumah sakit, dia bisa menempati posisi begitu penting, dan sangat di hormati oleh semua orang.


Dia memang pantas, karena dia memang memiliki kemampuan untuk itu.


Inilah titik besar perbedaan kedua gadis yang di cintai nya itu.


Viona terlihat tegar dan percaya diri, padahal di dalam sangat lemah.


batin Andi memberikan penilaian sendiri.


"Kak,.menurut mu, kedepannya kira kira kakak punya rencana apa buat kak Viona ?"


tanya Violin sambil menundukkan kepalanya dalam dalam kebawah.


Andi menatap Violin dari samping dengan tatapan mata sedih dan penuh rasa bersalah.


"Kondisi kakak mu seperti ini, saat ini yang paling dia perlukan adalah kehadiran ku di sisinya.."


"Aku berencana ingin membawanya ke Amerika, untuk mendapatkan pengobatan dan perawatan terbaik di sana."


ucap Andi penuh tekad.


Violin terdiam cukup lama, baru berkata,


"Kakak akan berangkat kapan ? setelah pernikahan kita, atau..."


Violin tidak sanggup melanjutkan kata-katanya, dia terdiam dengan kepala tertunduk.


Andi menghela nafas sedih dan berkata,

__ADS_1


"Kondisi kakak mu tidak mengijinkan untuk di tunda sedetik pun, maaf aku rasa pernikahan kita..."


"Cukup kak,..aku paham,.. aku akan doa kan yang terbaik buat kalian.."


ucap Violin sambil menahan Isak.


"Lin aku minta maaf ?"


ucap Andi penuh rasa bersalah


"Tak perlu kak,..Lin paham,.."


Violin mengangkat wajahnya yang penuh linangan air mata, menatap Andi sambil berusaha tersenyum.


Dia memberikan sebuah senyum yang paling menyedihkan dan menyayat perasaan.


Sambil menatap Andi dengan lembut, Violin berkata,


"Sedari awal memilih bersama kakak, sebenarnya aku sudah tahu, suatu hari ada kemungkinan akan seperti ini.."


"Tapi yang tidak pernah ku sangka semuanya datang begitu cepat.."


"Awalnya aku mengira aku akan sanggup menerimanya, tapi ,.. tapi,..ternyata,.aku,.. hu,..hu,..hu..!"


ucap Violin tersendat sendat kemudian dia masuk kedalam pelukan Andi menangis seperti anak kecil di sana.


Andi juga sangat sedih perasaan nya tersayat sayat oleh suara tangis gadis yang sangat baik, sangat setia dan sangat tulus mencintainya.


Sebaliknya akhir akhir ini dia pun mulai jatuh cinta dan sangat sangat mencintainya.


Andi tidak tahu harus berkata apa, selain kata maaf berulang kali, tidak ada kata lain yang bisa di ucapkan nya.


Andi hanya bisa memeluk Violin dengan erat membelai rambut dan punggungnya dengan lembut.


Violin setelah melepaskan tangisan kesedihannya, dia menghela nafas dan berkata pelan


"Kak aku tahu, bagaimana aku berusaha, selamanya aku tidak akan pernah bisa menandingi perasaan kakak terhadap kak Viona."


"Posisi ku di hati kakak selamanya adalah tetap nomor dua.."


"Aku sungguh iri dan menyesal, kenapa bukan aku yang lebih dulu mengenal kakak."


"Bila ada kehidupan mendatang, aku benar benar berharap, aku lah yang akan menjadi yang pertama bertemu dengan kakak.."


Selesai berucap, Violin sambil mendorong Andi menjauh darinya, dia berkata,


"Selamat tinggal kak, jaga diri.."


Lalu dia berlari meninggalkan Andi sambil menutupi mulutnya dengan tangan, berusaha menahan suara tangisnya tidak sampai terdengar keluar.

__ADS_1


Andi terduduk di sana dan berkata pelan,


"Kamu salah Lin, aku sendiri sampai detik ini juga baru sadar."


__ADS_2