
Dengan telapak tangan terbuka, Andi menusuk kearah jantung si Badak yang sedang berdetak keras dan terbuka lebar, karena si badak habis melepaskan pukulan Upercut yang tidak mengenai sasarannya.
Tusukan Andi membuat dada kiri Si badak bergetar hebat, si badak sepasang matanya sampai melotot menahan nyeri, pergerakan nya sesaat terhenti.
Andi tidak hanya menusuk dengan jari terbuka, kemudian dia menekuk sedikit jarinya kedalam dan kembali melanjutkan tusukan, kemudian di tutup dengan tinjunya.
Yang langsung membuat si Badak terdiam dari mulutnya menyemburkan darah segar, lalu dia pun tumbang keatas kanvas tak bergerak lagi.
Andi secara reflek melompat mundur saat tubuh si badak tumbang kedepan, karena Andi tidak mau tertimpa tubuh si badak yang besar.
Untuk pertama kalinya, Si wasit bertiarap di hadapan si badak dan melakukan perhitungan angka buat si badak dengan suara lantang sambil memukul lantai.
Tapi sampai hitungan ke 10 selesai, si Badak tidak juga kunjung bergerak, wasit segera memberi kode agar tubuh Si badak di tandu keluar dari lapangan.
Dan Wasit mengangkat tangan Andi keatas menyatakan nya sebagai pemenang lomba.
Andi tersenyum girang, di matanya sudah terbayang.
Sebentar lagi dia akan bisa berkumpul lagi bersama Viona.
Saat itu Viona akan resmi menjadi tunangannya, setelah Viona tamat mereka akan menikah dan sama sama bekerja.
Membeli mobil membeli rumah, mereka akan hidup sebagai keluarga kecil yang bahagia.
Dia dan Viona akan berpelukan di akhir pekan, sambil melihat kedua buah hati mereka yang berlarian kejar kejaran ditaman.
Semua kebahagiaan itu sudah terbayang jelas di dalam pikiran Andi, hingga tanpa sadar dia menitikkan air mata bahagia.
Andi buru-buru menengadahkan wajahnya dan menghapus dua butir air mata kebahagiaan itu.
Setelah Andi diumumkan sebagai pemenang, Berry dan Violin pun masuk kedalam arena memeluk Andi .
Lalu mereka bertiga meninggalkan arena menuju ruang ganti.
Sepanjang jalan para penonton pada meneriaki Andi, ada yang memberinya semangat, tapi ada juga yang mengutuknya.
Karena gara gara Andi menang mereka mengalami kekalahan besar di pasar taruhan.
Andi meski merasa sedikit pusing, menghadapi Banyak wajah yang berseliweran di dekatnya, tapi dia masih bisa berusaha tersenyum tenang sambil terus melangkah menuju ruang ganti.
Saat mereka tiba di ruang ganti, Andi langsung menuju kamar mandi, sedangkan Violin ditemani Berry menunggu di bagian depan ruang ganti.
Sambil membantu membereskan barang barang bawaan Andi.
Andi yang berada di bawah pancuran air hangat kamar mandi, tiba tiba merasa pandangannya menjadi gelap sesaat.
Tapi saat air pancuran di nyalakan, dan membasahi kepala nya, pandangan Andi pun terang kembali.
__ADS_1
Andi merasa sangat nyaman terkena siraman air hangat yang membasahi kepala dan seluruh tubuhnya.
Tapi saat Andi hendak mengambil sabun dan shampo, tiba-tiba dia merasa kepalanya sangat sakit dan pusing.
Dia merasa ruangan kamar mandi berputar putar dengan sangat cepat, lantai yang di injak nya pun bergelombang.
Andi buru-buru berpegangan pada tembok, tapi dia kembali merasa tembok ikut bergelombang, karena tidak kuat menahan pusing Andi mulai muntah muntah.
Berry dan Violin yang mendengar suara muntah Andi, yang terus menerus mulai merasa janggal.
Mereka berdua langsung bergegas menuju kamar mandi.
Dari luar Berry berteriak,
"Di,...kamu kenapa.? kamu tidak apa-apa kan..?"
Tidak ada jawaban dari Andi, setelah suara muntah berhenti tiba-tiba terdengar suara,
"Gubrakkkk,..!"
Lalu suasana menjadi hening hanya terdengar suara air pancuran yang jatuh menimpa lantai.
Berry kembali berteriak dengan panik, sementara Violin terlihat pucat dan mulai bercucuran air mata.
"Di..Andi...Andi ..Duk...Duk..Duk...! Andi kamu kenapa ? Andi ...jangan nakutin kita kita...!"
Andi yang selalu serius jarang bercanda, tidak mungkin akan bercanda dengan mereka dengan cara seperti ini, pikir Berry.
Berry langsung mengambil ancang-ancang kemudian dia mendobrak pintu kamar mandi.
"Brakkkk...!"
Pintu kamar mandi terbuka, terlihat Andi yang jatuh meringkuk di atas lantai tidak bergerak, hanya mengenakan ****** *****.
Violin tentu tidak berani ikut masuk meski khawatir.
Berry lah yang menerobos masuk ke dalam kamar mandi mematikan kran air, mengambil handuk menyelimuti Andi.
Kemudian dia berkata,
"Lin cepat panggil team medis kemari..! cepat...cepat...!"
Violin mengangguk, lalu dia segera berlari keluar dari ruang ganti dengan panik, air mata bercucuran membasahi wajahnya yang pucat.
Setelah keluar dari kamar ganti, Violin langsung berteriak,
"Tolong....! tolong....! tolong...! paramedis tolong...!"
__ADS_1
Teriakkan Violin langsung mendapat respon, dari para medis yang segera membawa tandu masuk kedalam kamar ganti.
Tak lama kemudian terlihat tubuh Andi yang diam tidak bergerak, dengan wajah pucat pasi di gotong keluar oleh paramedis menggunakan tandu.
Lalu dia di pindahkan ke ranjang kereta dorong, dan di pasangkan oksigen dan berbagai macam peralatan medis di tubuhnya.
Kemudian di dorong ke dalam mobil ambulance untuk di bawa kerumah sakit, untuk mendapatkan perawatan medis yang lebih lengkap.
Berry dan Violin ikut di dalam mobil ambulance tersebut.
Sepanjang perjalanan Violin terus menangis dan memanggil manggil nama Andi.
Sedangkan Berry hanya duduk terdiam, di tempatnya dengan wajah cemas dan pucat.
Dia hanya terus menatap kearah Andi sambil mulutnya berkomat Kamit membaca doa meminta agar Andi di sembuhkan.
Karena saat ini Berry sudah tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan, selain berdoa sama yang maha kuasa.
Sesekali Andi sempat membuka matanya, menatap mereka berdua tadi dia selalu kembali pingsan.
Setiap Andi sadar, Violin pasti akan berteriak pada para medis yang juga ikut di dalam mobil.
Tapi setelah mereka sibuk melakukan pemeriksaan Andi selalu pingsan kembali.
"Kondisinya terlalu lemah, dia belum sepenuhnya sadar..itu hanya reaksi sesaat saja.."
ucap para medis memberi penjelasan seadanya pada Berry dan Violin.
"Mudah-mudahan masih sempat tertolong, kalian banyak banyak berdoa saja.."
ucap Para medis itu.
Kini baik Berry maupun Violin mereka berdua sama-sama terus berdoa sepanjang jalan.
Akhirnya mobil Ambulance tiba di rumah sakit, Andi segera di larikan ke ruangan ICU untuk mendapatkan pertolongan.
Sedangkan Berry dan Violin tertahan di luar, karena di larang untuk ikut masuk kedalam.
Mereka berdua hanya bisa duduk dengan cemas di luar menunggu lampu emergency padam.
Yang berarti dokter akan segera keluar memberi penjelasan pada mereka.
Tapi tak lama kemudian seorang dokter dan seorang perawat keluar dari dalam ruangan dan bertanya,
"Siapa keluarga pasien..?"
Beery dan Violin langsung maju kedepan dan berkata,
__ADS_1
"Kami keluarga pasien..dokter.."