AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU

AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU
UDARA MALAM YANG DINGIN SEDINGIN HATINYA


__ADS_3

"Kak Viona sungguh beruntung..bisa mengenal kak Andi.."


ucap Violin jujur sambil menatap Andi dengan penuh simpati.


"Terimakasih Lin, bagi mu mungkin ya."


"Tapi bagi orang sedunia, aku adalah sebuah lelucon besar yang patut di tertawakan dan sangat menyedihkan."


"Aku tidak takut di benci dan ditertawakan oleh orang sedunia, tapi yang aku sulit terima adalah pada akhirnya semua jadi percuma.."


"Yang tersisa hanya ke hampaan kekosongan dan kesepian tak berujung.."


ucap Andi sambil membenamkan kepalanya di balik lengannya dan menangis sedih seperti anak kecil.


Ini semua terjadi karena Andi dalam keadaan antara sadar dan tidak.


Andi masih berada dalam pengaruh alkohol bir yang di paksa minumnya tadi.


Violin ikut berjongkok di samping Andi, tanpa berkata apa-apa, dia dengan penuh perhatian membersihkan luka di tangan Andi.


Menaburkan obat luka, kemudian menggunakan kasa perban membungkus nya dengan rapi.


Violin setelah beberapa kali menyaksikan Andi terluka dalam pertarungan.


Belajar dari pengalaman itu, dia selalu menyimpan beberapa perlengkapan P3K di dalam tasnya, untuk keperluan keperluan mendadak bila Andi terluka.


Dan secara kebetulan saat ini, semuanya jadi terpakai.


Violin selalu fokus mendalami ilmu kedokteran dari Ronaldo, sehingga ilmu ilmu perawatan pertama begini, dia sudah menguasainya dengan baik.


Jadi bukan hal sulit baginya, untuk merawat luka Andi.


Andi tidak perduli dengan apa yang di lakukan Violin pada tangannya, dia hanya terus menangis sedih.


Tiba-tiba Andi mengangkat wajahnya, yang penuh dengan linangan air mata, dia terus menatap kearah wajah Violin.


Beberapa kali dia menggelengkan kepalanya dan memukuli kepalanya sendiri.


Melihat hal ini, Violin buru buru mencegahnya dan berkata,


"Kak jangan...kak Andi jangan..!"


Andi menatap Violin kembali kemudian berkata,


"Viona,.. Viona.. kamu kah yang datang ? Viona jawab aku..!"


Andi memegangi kedua bahu Violin kemudian menariknya kedalam pelukannya dan berkata,


"Viona tolong,..tolong..jangan tinggalkan aku,.. aku sangat mencintai mu.."


"Kamu adalah segalanya bagi ku, impian ku masa depan ku, tolong jangan tinggalkan aku.."


"Kak Andi,.. Kak.. sadarlah aku Violin, bukan kak Viona.."


ucap Violin kaget sambil berusaha meronta melepaskan diri dari pelukan Andi.


Tapi Andi yang sedang mabuk, malah semakin mempererat pelukannya dan berkata,


"Tidak Viona aku tidak akan melepaskan mu, kembali ke sisi si bajingan itu tidak Vi.."


"Ku mohon Vi..hu..hu..hu..!


kumohon Vi,.. jangan pernah tinggalkan aku lagi."


"jangan hancurkan impian dan harapan masa depan ku Vi..hu..hu


.hu..! tolong jangan Vi.."


"ku mohon..pada mu.. tetaplah di sini bersama ku.."

__ADS_1


Mendengar ucapan Andi yang penuh luapan perasaan dan kesedihan.


Violin tidak berusaha meronta dan berkata apapun lagi, untuk membantahnya.


Dia ikut terbawa suasana perasaan Andi.


Violin membalas pelukan Andi dengan mesra, dan berbisik di samping telinga Andi.


"Tidak kak,.. aku tidak akan pernah meninggalkan kakak, aku selamanya akan menemani kakak.."


"Aku akan membantu menjaga impian dan harapan masa depan kakak, aku tidak akan pernah tinggalkan kakak.."


ucap Violin penuh perasaan.


"Benarkah Vi,.. kamu tidak sedang menipu untuk menyenangkan hati ku bukan..?'


ucap Andi sambil memeluk dan membelai punggung Violin dengan penuh perasaan.


Violin memejamkan matanya sambil mengangguk dan balas membelai kepala Andi, dia kembali berkata,


"Benar kak, Violin tidak bakal pernah menipu perasaan kakak.."


Ucapan Violin yang menyebut namanya sendiri, tiba tiba membuat Andi sadar, bahwa yang sedang di peluknya bukan Viona..


Tapi Violin adik nya, Andi seperti ditarik kembali dari dunia khayalnya.


Dia mulai sadar dan ingat semuanya, Viona sedang ada di dalam merayakan pesta pernikahannya, mana mungkin ada di sini menemaninya.


Ini cuma khayalan sebelah pihak darinya, kenyataannya saat ini dia sudah di tinggalkan.


Dan saat ini yang menemaninya adalah seorang gadis kecil, adiknya Viona yang belum dewasa.


Andi perlahan-lahan melepaskan pelukan nya dan berhenti membelai punggung Violin.


Lalu dia perlahan-lahan melepaskan kedua tangan Violin, yang sedang dilingkarkan di belakang lehernya.


"Lin maafkan kakak, kakak telah melakukan hal tidak pantas pada mu.."


"Terimakasih banyak, kamu sudah bersedia temani kakak di sini.."


"Ini kunci mobilnya, tolong berikan pada papa, sekalian sampaikan pesan kakak ke papa mama.."


"Kakak pulang duluan ke apartemen, papa mama tidak perlu buru-buru ikut pulang, ikuti saja prosesi acara sampai usai baru pulang.."


"Anggap saja ini permohonan kakak pada mereka, jangan bikin Viona bersedih dan khawatir.."


"Kamu bisa kan Lin bantu kakak.."


ucap Andi serius.


"Kakak pulang pakai apa ? bila kunci mobil ini di kasih ke papa ?"


tanya Violin ragu.


Andi tersenyum lembut kemudian berkata,


"Di depan sana banyak taksi, kota ini kakak sangat hapal kamu tak perlu khawatir."


"Oh ya nanti kamu bisa bantu pandu papa pakai GPS, untuk kembali ke apartemen jadi gak akan nyasar nyasar.."


"Tap kak,.. Violin ingin tetap temani kakak.."


ucap Violin dengan kepala tertunduk malu, teringat situasi dirinya dan Andi tadi yang begitu mesra.


"Maaf Lin,.. saat ini kakak sedang kacau, tolong di mengerti."


"Kakak butuh waktu untuk sendirian,. Lin mengerti kan..?"


ucap Andi pelan.

__ADS_1


"Tapi kak.."


ucap Violin masih ingin membantah.


Tapi Andi langsung memotongnya dan berkata,


"Lin kamu juga mau membantah dan menyakiti perasaan kakak seperti kakak mu..?"


Violin buru buru menggelengkan kepalanya dengan cepat, dan berkata,


"Tidak kak,.. bukan itu maksud Violin."


"Violin hanya..."


ucap Violin sedikit panik.


Andi menatap Violin lekat lekat dan berkata,


"Lin kakak percaya pada mu, kamu paling bisa di percaya, dan paling pengertian."


"Jadi sekali ini kakak mohon mengertilah, kakak sedang butuh privasi saat ini.."


ucap Andi sambil menatap Violin dengan serius.


"Baiklah kak.."


jawab violin dengan kepala tertunduk sedih..


Andi mengulurkan tangannya membelai kepala Violin dan berkata,


"Jangan bersedih dan berkecil hati, hanya malam ini saja.."


"Besok pagi kita sudah bisa bersama kembali, menempuh perjalanan kembali kekota J."


Violin memaksakan diri Tersenyum dan berkata,


"Baiklah kak, kalau begitu Lin masuk kedalam sekarang.."


"Kakak hati hati di jalan, langsung pulang jangan keluyuran sembarangan."


"Besok kita masih harus menempuh perjalanan panjang yang cukup jauh untuk pulang.."


ucap Violin mengingatkan.


Dia sedikit khawatir Andi akan keluyuran pergi minum, dan mabuk mabukan.


Sehingga menimbulkan keributan dan masalah baru yang tidak diinginkan.


Andi mengerti kekhawatiran gadis kecil itu, meski umurnya masih kecil tapi pikirannya sudah seperti nenek nenek, pikir Andi dalam hati.


Memikirkan hal ini, Andi tidak dapat menahan diri untuk tersenyum.


"Kakak senyum senyum apa ? menertawai Violin ya..?"


ucap Violin cemberut.


"Ahh tidak kok, kakak mana berani, ya sudah kamu cepat masuk sana, jangan pikir yang tidak tidak, kakak mau pulang sekarang.."


ucap Andi sambil memutar tubuh violin dan sedikit memaksa mendorongnya, agar kembali masuk ke dalam.


Dengan bibir cemberut Violin pun masuk kedalam menuruti permintaan Andi.


Setelah memastikan gadis kecil itu sudah kembali masuk kedalam dengan aman.


Andi baru berjalan santai meninggalkan tempat itu,.sambil menikmati udara malam yang dingin, sedingin hatinya yang kesepian.


Andi tidak menghentikan taksi, melainkan terus berjalan dan berjalan, menikmati udara malam yang dingin.


Membiarkan angin malam membantu mengeringkan airmata nya yang runtuh membasahi wajahnya..

__ADS_1


__ADS_2