
"Mbak saya mau ke Swiss ke pegunungan Alpen tepatnya, sebaiknya naik pesawat apa ?"
"Kalau bisa penerbangan tercepat mbak.."
tanya Violin ke mbak yang menjaga loket penjualan tiket pesawat.
Mbak itu terlihat sedikit bingung, kemudian dia berkonsultasi dengan senior di sebelah nya.
Tak lama kemudian dia baru menatap Violin dan berkata,
"Maaf kak, harap tunggu sebentar."
"Aku akan menanyakannya dulu kedalam, mohon tunggu sebentar ya kak.."
Violin hanya bisa mengangguk pasrah dan duduk di sana dengan wajah gelisah.
Tak lama kemudian dari dalam ruangan berjalan keluar gadis tadi bersama seorang wanita gemuk berkacamata.
Dia langsung duduk di hadapan Violin dan berkata,
"Ya Miss, ada yang bisa kami bantu ?"
Violin terpaksa mengulangi ceritanya sekali lagi, ke wanita gendut di hadapannya itu.
Wanita gendut itu mendengarkan dengan serius, kemudian berkata,
"Begini Miss, bila Miss tertarik 15 menit lagi ada satu seat di class executive dengan tujuan Zurich Swiss.."
"Hanya saja tiketnya agak mahal gak papa..?"
Violin memberikan kartu blacknya dan berkata,
"Itu bukan masalah, open aja.."
"Maaf boleh pinjam kartu identitasnya,..?"
ucap si gendut.
Violin membuka dompetnya, mengeluarkan Kartu Id nya, dan memberikannya ke wanita gendut tersebut.
Mbak gendut itu mengangguk kecil menerima kartu id dari violin, lalu dia memberikan kedua kartu tersebut ke gadis muda disebelahnya dan berkata
"Tolong uruskan semuanya termasuk cek in nya cepat."
Gadis muda itu mengangguk cepat lalu dia segera pergi mengurusnya.
Sementara gadis muda itu pergi urus, si gendut kembali melanjutkan berkata,
"Nanti Miss tiba di bandara Zurich, naik taksi saja ke stasiun kereta, nanti Miss bisa gunakan kereta langsung menuju Alpen.."
Violin menganggukkan kepalanya dan berkata,
"Makasih banyak ya mbak Dewi, atas informasi detilnya."
Violin mengetahui nama si gendut itu lewat name tag didadanya.
Si gendut tersenyum ramah dan berkata,
"Bukan masalah santai aja."
"Itu sudah kewajiban dan bagian dari service kami.."
__ADS_1
"Maaf Miss saya tinggal dulu, untuk selanjutnya, nanti diurus oleh anak buah saya Merlin.."
"Miss tunggu saja sebentar di sini.."
Violin menganggukkan kepalanya, tak lama si gendut pergi, anak buahnya si Merlin telah kembali.
Dia memberikan sebuah amplop dan dua lembar kertas kecil, yang memerlukan tanda tangan Violin.
Violin langsung menandatanganinya dengan cepat, selembar di bawa Merlin, selembar lagi dia masukkan kedalam amplop.
Sebelum amplop tersebut, dia serahkan kepada Violin, berikut Kartu Id dan kartu black card milik Violin.
"Ini kak, terimakasih.."
ucap gadis itu sopan.
Violin menerimanya dan berkata,
"Sama sama mbak.."
Setelah menyimpan kartu id dan kartu black card nya.
Violin pun bergegas meninggalkan ruangan penjualan tiket.
Dia berjalan dengan sangat terburu-buru masuk kedalam bandara, langsung menuju ruang tunggu pesawat.
Sesuai petunjuk dari si wanita gendut, Violin akhirnya tiba di depan rumah kayu berhalaman luas, sesuai dengan alamat yang Berry berikan.
Setelah taksi yang mengantarnya sampai alamat ini pergi, Violin buru buru berjalan mendekati rumah sederhana tersebut, dengan jantung berdebar-debar.
Ada perasaan gembira, bahagia, tapi di saat bersamaan juga ada perasaan haru dan sedih.
Setelah menaiki undakan tangga kayu halaman depan rumah.
Dia berdiri didepan pintu rumah tersebut dan mengetuk pintunya 3 kali.
"Tok,..Tok,..Tok,..!!"
Karena tidak ada respon dari dalam rumah, Violin mengulanginya dengan ketukan pintu yang lebih keras.
"Kak Andi,.. kak Andi,..!!"
"Tok,..Tok,..Tok,.."
teriak Violin sambil menggedor pintu lebih keras lagi.
Karena masih juga tidak ada respon, akhirnya Violin mencoba mengintip lewat jendela yang tertutup gorden.
Tapi dari sana, Violin kesulitan untuk melihat dengan jelas situasi di dalam rumah, karena tertutup kain gorden.
Akhirnya dengan penerangan lampu senter dari HP nya, Violin mencoba berkeliling melihat lihat ke halaman samping, dan halaman belakang rumah kayu itu.
Di halaman belakang, Violin menemukan pintu yang menembus kedapur.
Violin mencoba membuka pintu belakang tersebut, sayang nya dia harus kembali kecewa.
Pintu itu terkunci rapat, sambil menggosok gosokkan kedua telapak tangannya yang mengenakan sarung tangan dan meniup niupnya.
Violin yang merasa kedinginan diterpa angin dan hujan salju, terpaksa kembali lagi ke halaman depan rumah Andi, dengan kepala tertunduk dan tubuh sedikit membungkuk.
"Andi mungkin sedang keluar, tidak ada pilihan lain, terpaksa aku harus menunggunya kembali."
gumam Violin seorang diri.
__ADS_1
Violin akhirnya duduk meringkuk bersandaran di depan pintu rumah Andi, sambil berusaha menahan dingin dengan mengeratkan jaketnya.
"Untung di bandara tadi aku sempat membeli setelan pakaian penghangat ini, bila tidak sebelum bertemu Andi aku sudah mati kedinginan di sini.."
batin Violin sambil meringkuk memeluk lututnya sendiri menahan dingin.
Sementara itu di ruangan tengah rumah James, terlihat James duduk disana sambil merangkul Santi, Dokter Monica duduk di samping Andi, mereka duduk dalam posisi berhadapan dengan Santi dan James.
"Begitulah ceritanya,.."
ucap Andi yang menyelesaikan ceritanya, lalu menatap ke semua yang hadir di sana sambil tersenyum.
"Lalu apa alasan mu menyepi ketempat ini,.seorang diri.."
tanya Santi sambil menatap Andi.
Andi tersenyum pahit dan berkata,
"Tidak ada alasan, hanya ingin refreshing dan bersantai saja ."
"Kamu serius cuma itu, tidak ada yang ditutupi dari kita kita kan ?"
tanya Santi sedikit curiga melihat senyum dan reaksi Andi yang kurang wajar.
Andi menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Tidak ada, emang cuma hanya itu.."
Santi menghela nafas panjang, meski hatinya masih curiga dan kurang puas dengan jawaban Andi.
Tapi dia tahu, bila Andi ingin menutupi darinya, memaksanya sekalipun akan percuma.
"Di,..aku punya apartemen di Zurich, ini ada kunci dan alamatnya"
"Besok pagi kamu tolong bantu aku, bawa mereka semua kesana ya.."
ucap James sambil menatap Andi.
Andi mengangguk dan berkata,
"Kamu tenang saja, aku akan urus mereka berdua.."
Santi menatap kearah James dan berkata,
"Sayang,..aku..."
James tersenyum menatap Santi dengan lembut dan berkata,
"Seperti pembicaraan kita sebelumnya, ok..?"
"Demi anak kita,.. demi kamu..aku pasti akan berjuang untuk kembali menemui kalian dengan selamat."
"Percayalah.."
Santi sudah tidak bisa menahan airmatanya yang runtuh, dia benar-benar sangat khawatir dan tidak ingin berpisah dari James.
Tapi bila dia dan putranya tidak mereka, mereka berdua akan menjadi beban bagi James, bila musuh tiba..
Andi mengerti situasi,.dia segera berkata,
"Dokter Monica kondisi mu belum pulih pergilah cepat istirahat,.. hari sudah malam.."
"James Santi kalian juga beristirahatlah, aku mau pulang kerumah bersiap siap."
__ADS_1
"Besok subuh jam 5 pagi, aku baru datang jemput kemari.."