
Setelah mendengarkan semua cerita Sarah, kakek Sarah menatap cucunya dengan tajam dan berkata,
"Sarah kamu katakan pada kakek secara terus terang, apakah kamu benar-benar sangat menyukai anak bernama Andi itu.."
"Kakek..! kakek ini apaan sih..? Sarah sedang bercerita tentang teman Sarah yang membutuhkan pertolongan."
"Bukan bercerita tentang perasaan Sarah...kakek.."
ucap Sarah cemberut dan menegur kakeknya.
Tapi kakek Sarah menatap Sarah dengan serius dan berkata,
"Sarah membantu teman mu, bukan hal sulit bagi kakek.."
"30 miliar bukan masalah, sedangkan 100 miliar yang dikontrak itu, kakek bisa jamin kita tidak perlu bayar sepeserpun ke keluarga Ferdinand.."
"Tapi sebelum membantu mereka, kakek ingin tahu satu hal dengan jelas dulu."
"Untuk itu kami harus jujur dengan kakek.."
"Kakek...apaan sih.."
rengek Sarah dengan manja.
"Ya sudah kalau tidak mau bicara, maaf masalah ini Lupakan saja."
"Kakek...!"
teriak Sarah kesal.
Tapi melihat sikap kakeknya, Sarah pun tahu tiada guna nya berbantah dengan orang tua ini.
Akhirnya dengan kesal dia berkata,
"Baiklah biar kakek puas, dengarlah..aku memang mencintai nya dan sangat menyukainya..lalu kenapa ? dan aku bisa apa..?"
"Semua cinta dan perasaannya hanya dia tujukan pada Viona,..aku bisa apa.?..apa sekarang kakek.puas..!?"
ucap Sarah kesal dan sedih, airmatanya runtuh tak terbendung
Melihat hal ini, tatapan kakek itu pun melembut, dia menarik Viona kedalam pelukannya dan berkata,
"Sarah kemarilah..maafkan kakek.. sudahlah jangan menangis lagi.."
"Dia tidak menerima cinta mu adalah kebodohannya, kamu cucu kakek yang cantik, sudah jangan bersedih lagi.."
"Kakek...hu...hu...hu..hu...!"
kini meledak lah tangisan Sarah yang selama ini dia tahan-tahan.
Setelah bertemu kakeknya, Sarah pun menumpahkan seluruh kesedihan keluar bagai bendungan yang jebol.
Kakek Sarah hanya bisa membelai rambut Sarah dengan lembut, membiarkan cucunya melepaskan seluruh perasaannya.
Agar hati Sarah bisa lebih ringan, dan tidak terlalu terbebani karena memendam kesedihannya seorang diri itu bisa merusak kesehatan nya.
Perlahan-lahan Sarah mulai bisa kembali mengendalikan perasaannya dan berkata,
"Kek..kakek.. tolong lah mereka.."
__ADS_1
"Saat ini Sarah hanya ingin melihat mereka bisa bersama dan hidup dengan bahagia.."
"Sarah tidak ingin memaksanya mencintai dan menyukai Sarah.."
"Cukup asal dia mengingat semua kebaikan Sarah padanya, Sarah sudah puas kek.."
Kakek Sarah menghela nafas panjang dan berkata,
"Anak bodoh...sungguh anak bodoh.. mengapa kamu memilih cara seperti ini...melukai diri mu sendiri.."
Kakek Sarah tidak berhenti menghela nafas panjang dengan sedih..
Kamu sungguh mirip... kalian benar-benar sangat mirip.
Kenapa kamu malah mewarisi sikap nenek mu yang keras kepala itu..
ucap Kakek Sarah sedih, karena terkenang dengan istrinya yang telah mendahuluinya.
Sesaat kakek Sarah termenung karena terkenang dengan istrinya.
Sambil menghela nafas panjang, kakek Sarah melepaskan kacamata nya , dan mengelap matanya yang basah.
Baru memakai kembali kacamata nya dan berkata,
"Sarah panggilkan pemuda itu kemari,.kakek ingin berbicara dengan nya.."
Sarah mengangkat kepalanya menatap kakeknya dan berkata,
"Untuk apa kek..? bila kakek ingin membantu, kakek kan cukup telpon om Bimo, semua tentu beres.."
"Sarah kakek tidak mau salah membantu orang,"
Sebelum kakek mengenal nya langsung dengan jelas, kakek tidak akan membantunya.."
"Bagaimana bila pria itu adalah orang tak berjantung, yang malah akan mencelakai teman mu Viona.."
"Kakek tidak mau apa yang menjadi penyesalan kakek, karena melepaskan nenek mu pergi bersama pilihan nya, ternyata malah mencelakainya.."
"Kamu mengerti dan paham kan maksud kakek Sarah.?"
Sarah menghela nafas panjang dan berkata,
"Baiklah kek, Sarah akan memanggilnya kemari menemui kakek.."
Setelah Sarah pergi memanggil Andi, kakek Sarah duduk di meja kerjanya sambil memegang sebuah bingkai foto yang berisi foto seorang wanita cantik yang mirip sekali dengan Sarah.
"Sayang tahu kah kamu, aku sungguh menyesal, waktu itu membiarkan mu pergi meninggalkan rumah begitu saja.."
"Bila waktu itu, aku memberi mu kesempatan menjelaskan semuanya, mendengarkan keluh kesah mu, sambil memeluk mu dan memaafkan mu.."
"Mungkin akhir cerita diantara kita, tentu akan berbeda, dan kamu tidak akan pergi dengan cara seperti itu.."
Kakek Sarah terlihat bergumam sendiri sambil menatap foto ditangannya.
Ketukan pintu, membuyarkan semua lamunannya,
Setelah menghela nafas panjang beberapa kali kakek Sarah baru berkata,
"Masuk lah.."
__ADS_1
Pintu terbuka, Andi melangkah masuk kedalam ruangan tersebut.
Kakek Sarah berdiri dari kursinya, tersenyum ramah kepada Andi dan berkata,
"Silahkan duduk..nama mu Andi kan..?"
Andi mengangguk, lalu dia duduk di hadapan kakek Sarah.
"Nak Andi karena kamu temannya cucu ku, kamu boleh ikut dengan Sarah memanggil ku kakek."
"Kamu tidak keberatan kan..?"
Andi tersenyum dan berkata,
"Tidak kek.."
"Nah bagus.."
ucap Kakek Sarah sambil tertawa.
"Nak bisakah kamu ceritakan bagaimana awal pertemuan kamu dan Sarah.."
Andi mengangguk dia bercerita semua tentang dirinya dan Sarah ke kakek Sarah dengan jujur.
Kakek Sarah mendengarkan sambil mengangguk-angguk kan kepalanya.
Setelah Andi menyelesaikan ceritanya kakek Sarah baru berkata,
"Nak Andi sebelum aku bertanya ke hal yang lebih pribadi sifatnya.."
"Aku ingin bertanya pada mu, apakah kamu tahu latar belakang keluarga kami, latar belakang Ayah dan ibu Sarah..?"
Andi menggelengkan kepalanya, karena dia memang tidak tahu.
Dia juga tidak ingin tahu sebenarnya, karena yang dia jadikan teman adalah Sarah, bukan keluarganya, bukan juga latar belakangnya.
"Nak Andi apa kamu pernah lihat foto ini dan foto ini..?"
ucap Kakek Sarah sambil memberikan dua buah bingkai foto, yang berisi gambar dirinya yang dua kali menjabat sebagai wakil.presiden di dua periode presiden yang berbeda.
Meski Andi di dalam hati sangat terkejut dan kagum, tapi di luar dia bersikap biasa saja.
"Kakek pantes saja aku selalu merasa pernah melihat wajah anda, tapi di mana aku melihatnya aku tidak ingat."
"Ternyata kakek adalah...wakil presiden dua periode yang Fotonya ada di mana-mana."
ucap Andi sambil tersenyum.
"Tapi kek kalau boleh tahu, untuk apa kakek membuka hal ini pada ku..?"
tanya Andi sopan.
"Tidak ada maksud apa-apa, kakek hanya ingin kamu mengenal lebih akrab siapa Sarah dan keluarganya."
ucap Kakek Sarah sambil tersenyum.
Andi mengangguk kecil,.meski hatinya tidak puas, tapi dia masih tahu batas sopan santun untuk berbantahan dengan orang yang lebih tua darinya.
"Nak Andi ketahuilah, ayah Sarah yang juga merupakan putra tunggal ku, dia adalah presiden direktur Group KY."
__ADS_1
"Anak cabang perusahaan kami tidak terhitung jumlahnya, kalau nak Andi mau tahu lebih jelas, nak Andi bisa buka di situs Group KY.."
..