Ling Tian

Ling Tian
Kemarahan Patriark Sekte Taring Iblis


__ADS_3

Ling Tian dan Long Yuan melesat dengan kecepatan puncaknya. Dua hari terlewati dengan cepat. Ling Tian sudah tidak sabar untuk bertemu sang ibu yang sangat dia rindukan.


Ling Tian dan Long Yuan mendarat didekat gerbang Desa Cemara sekitar jarak tiga ratus meter karena menghindari menarik perhatian. Mereka berdua berjalan dengan santai menuju gerbang desa.


"Identitasnya!" ucap penjaga gerbang yang belum menyadari kalau yang didepannya adalah Ling Tian.


Bagaimanapun Tubuh Ling Tian telah banyak berubah. Posturnya menjadi lebih tinggi dan tegap, kulitnya semulus sutra dan wajah Ling Tian bertambah tampan. Ling Tian tersenyum ramah dan mengeluarkan lencana Tuan Muda Klan Ling.


"Ini paman!" ujar Ling Tian dengan masih tersenyum.


"I-ini.. T-tuan Muda Tian?" ucap penjaga gerbang desa dengan terbata-bata karena terkejut.


"Tentu. Apa kabarnya paman? Sudah hampir tiga tahun kita tidak bertemu!" kata Ling Tian.


"B-baik Tuan Muda Tian! Saya baik-baik saja! Emm... Tampaknya Tuan Muda tambah tampan saja!" ucap penjaga dengan jujur.


"Hahaha.. Paman ini bisa saja! Oiya, apa sekarang aku dan saudaraku ini bisa masuk?" tanya Ling Tian sambil melihat dan menunjuk Long Yuan.


"Tentu saja Tuan Muda! Selamat datang kembali di Desa Cemara dan Klan Ling!" jawab penjaga gerbang dengan ramah.


"Baik, terima kasih paman!" ujar Ling Tian lalu melempar dua koin platinum kepada penjaga.


"T-tuan Mu-muda?" tanya penjaga gerbang yang terkejut dengan dua koin platinum ditangannya.


"Ambil saja paman! Buat paman dan paman satunya itu. Anggap saja hadiah dariku!" jawab Ling Tian terus melangkah masuk desa.

__ADS_1


"T-tapi Tuan Muda.. Ini terlalu banyak!" penjaga itu tetap ingin menolak.


"Sudahlah paman, aku akan sangat kecewa jika paman menolaknya!" ujar Ling Tian dengan nada agak sedih.


"Baik Tuan Muda! Terima kasih!" ucap penjaga gerbang tak mau membuat Ling Tian kecewa.


"Iya!"


***


Didalam sebuah ruangan pertemuan sekte yang jauh dari tempat Ling Tian berada, terjadilah gejolak dan perdebatan sengit para tetua sekte dan Patriark mereka. Benar! Mereka adalah para petinggi sekte aliran hitam, Sekte Taring Iblis.


"Jadi, siapa yang berani membunuh para murid kita?" tanya Patriark sekte yang bernama Mao An dengan nada tinggi dan auranya sedikit bocor yang sudah berada diranah Pendekar Emas Akhir Bintang 8 membuat para tetua sangat tertekan. Dia sangat marah sekali karena diantara para murid-murid yang terbunuh ada salah satu keponakan sekaligus muridnya.


"Dari saksi yang sudah kami selidiki. Sebelum Mao Ruen pergi bersama rombongannya. Dia mengatakan ingin mencegat dan merekrut para murid Klan Xuan," jawab salah satu tetua.


"Benar Patriark!" jawab tetua tersebut.


"Tidak mungkin para murid Klan Xuan mampu mengalahkan keponakanku Mao Ruan yang sudah berada di ranah Pendekar Besi Awal!" kata Patriark Mao An.


"Jika begitu, pasti ada yang ikut campur dalam pertarungan mereka!" ujar Tetua Pertama memberikan spekulasi.


"Yang dikatakan Tetua Pertama kemungkinan benar adanya! Setelah diperiksa, dari luka-luka yang ada disekujur tubuh para murid diduga mereka hanya diserang dengan dua atau tiga kali serangan saja yang menandakan yang menyerang mereka adalah orang-orang yang cukup kuat, kemudian para murid dibunuh dengan ditusuk jantung atau tenggorokan masing-masing," Tetua Kedua memberikan penjelasan.


Duaar!

__ADS_1


Meja dihadapan sang Patriark hancur seketika karena kemarahannya yang tak lagi terbendung.


"Siapa mereka? Siapa yang berani ikut campur bahkan membunuh keponakanku!" teriak Patriark Mao An dengan mengeluarkan aura membunuhnya.


"P-patriark! T-tahan aura anda Patriark! Anda bisa membunuh kami semua disini!" ucap Tetua Pertama tergagap-gagap. Seluruh tubuh Tetua Pertama dan yang lainnya bergetar dan berkeringat dingin ketakutan.


"Aku tidak mau tahu, cari dan seret kesini orang yang telah membunuh keponankanku! Biar kusiksa dia sampai meminta kematian kepadaku!" ucap Patriark Mao An dengan berteriak.


"B-baik Patriark! Kami akan mencarinya!" jawab para tetua dengan serentak.


"Yasudah! Silakan bubar!" ujar Patriark Mao An.


"Baik!"


'Ini bisa gawat! Bukannya bertambah, malah berkurang! Aku bisa mati karena kemarahan Yang Mulia!' gumam Patriark Mao An setelah semua tetua bubar.


***


"Sepertinya Klan Lingmu sangat damai," ucap Long Yuan.


"Yaah.. Begitulah. Tapi jangan selalu melihat dari luarnya saja saudaraku. Terkadang sesuatu terlihat dari luarnya sangat bagus dan damai namun didalamnya banyak bangkai berupa kisruh dan percekcokan!" ujar Ling Tian sedikit bijak.


"Aku setuju dengan ucapanmu itu!" sahut Long Yuan mengangguk.


"Kalau begitu, mari masuk saudaraku! Pintu gerbang klan sudah terlihat!" kata Ling Tian.

__ADS_1


"Iya saudaraku!"


__ADS_2