
Malam dengan cepat berlalu. Ling Tian dan Wei Ziin sama sekali tidak tidur. Wei Ziin menyempatkan diri untuk berkultivasi didalam kamar yang disediakan, sementara Ling Tian hanya rebahan, rebahan dan rebahan untuk bermalas-malasan.
Pagi harinya, Ling Tian dan Wei Ziin diminta untuk sarapan bersama keluarga Chi. Mereka disuguhi oleh makanan-makanan terlezat yang bisa disajikan oleh Klan Chi. Disaat setelah ini pula Ling Tian ingin menyatakan keputusannya untuk undur diri dan kembali melanjutkan perjalanan.
"Mohon maaf Tuan Kota.." kata Ling Tian.
"Iya, Tuan Muda Ling. Ada apa? Ada sesuatu?" tanya Chi Fan.
"Setelah ini, kami ingin segera izin pamit undur diri kepada Tuan Kota dan semuanya. Kami hendak melanjutkan perjalanan!" ujar Ling Tian.
"Ah! Kenapa buru-buru sekali Tuan Muda Ling? Putri Wei? Apakah pelayanan kami kurang memuaskan atau kalian tidak betah disini?" Chi Fan sedikit panik.
"Oh.. Bukan begitu Tuan Kota! Sebenarnya kami di Kota Zhongjian ini hanya kebetulan lewat saja!" giliran Wei Ziin yang menjawab.
"Kami juga sangat senang dan puas dengan kebaikan hati kalian semua!" lanjut Wei Ziin.
"Ooh.. Baiklah.. Kami tidak bisa memaksa kalian jika sudah memutuskannya! Kami hanya bisa mengatakan selamat jalan dan jangan sungkan-sungkan untuk mampir disini! Pintu gerbang rumah kecil ini akan selalu terbuka untuk Tuan Muda Ling dan Tuan Putri Wei," ungkap Chi Fan.
"Kami sungguh berterima kasih kepada Tuan Kota!" ujar Ling Tian.
"Itu tidak diperlukan Tuan Muda Ling! Sebuah kehormatan bagi kami bisa melayani anda dan Tuan Putri Wei!" jawab Chi Fan dengan mantap.
"Emm.. Baiklah.. Kalau begitu kami pergi dulu!" kata Ling Tian sambil melirik Wei Ziin.
"Silakan Tuan Muda Ling, Tuan Putri Wei!" jawab semua orang.
"Ya."
Ling Tian melihat kearah Tuan Kota Chi Fan dengan tatapan sedikit tajam, kemudian mengirimkan pesan telepati,
"Jangan mengecewakanku! Aku harap kamu tidak serakah dan menyalah gunakan kekuatanmu! Dan juga berbelas kasihlah kepada keluargamu!"
Setelah menyampaikan pesannya, Ling Tian dan Wei Ziin segera menghilang dari hadapan para anggota keluarga atau Klan Chi.
Zheepp!
"Sangat cepat!"
Semua orang terkagum dengan kecepatan yang dimiliki Ling Tian dan Wei Ziin. Mereka menduga-duga bahwa keduanya sudah di ranah Pendekar Emas Akhir.
__ADS_1
"Tuan Muda Ling Tian dan Tuan Putri Wei Ziin sangatlah berbakat!" kata seseorang tanpa sadar.
"Kau benar! Mereka sangat berbakat dan kuat! Masih sangat muda namun sudah sampai di ranah Pendekar Emas!" sahut orang yang disebelahnya.
Sementara itu Tuan Kota Zhongjian atau Chi Fan masih tertegun dan diam membisu ditempat awal. Dirinya masih memikirkan pesan yang diberikan oleh Ling Tian. Serakah? Dan menyayangi keluarga? Apa maksudnya? Selama ini Chi Fan adalah sosok kepala keluarga yang baik dan tidak pilih kasih atau bahkan serakah. Tapi mengapa Tuan Muda Ling Tian mengatakan padanya untuk tidak serakah? Beberapa pertanyaan menggantung dibenak Chi Fan. Ya, tentu dia ingin tahu maksud ucapan Ling Tian. Namun apalah daya, mungkin suatu saat nanti dia akan tahu juga.
"Ayah!"
Suara dari Chi San membuyar lamunan Chi Fan. Dia segera menoleh kearah putranya.
"Iya nak! Ada apa?" tanya Chi Fan.
"Harusnya aku yang bertanya kepada ayah mengapa ayah melamun? Tidak lihatkah ayah bahwa semua orang termasuk ibu sudah pergi?" tutur Chi San dengan ekspresi aneh melihat ayahnya.
"Aah.. Benar rupanya!" kata Chi Fan dengan lemas setelah menoleh kekanan dan kekiri tidak mendapati siapapun kecuali putranya.
"Aiih.. Ada apa denganmu ayah? Apakah ayah kurang tidur?" tanya Chi San asal-asalan.
"Hahh.. Mungkin iya!" siapa menyangka bahwa Chi Fan mengiyakan pertanyaan bodoh itu untuk kultivator ranah Pendekar Emas Menengah Bintang 5 seperti dirinya.
"Ukhuk! Ukhuk!" Chi San segera tersedak mendapati ayahnya menjawab dengan santai pertanyaan bodohnya.
"Eeh.. Ada apa nak? Apakah kamu sakit?" tanya Chi Fan dengan sedikit panik.
Chi Fan menjadi sedikit mengangkat alisnya mendapati anaknya berubah serius.
"Ada apa? Tinggal katakan saja!" ujar Chi Fan.
"Tidak ayah! Ini rahasia!" kata Chi San menjadi bertambah misterius untuk sang ayah.
"Rahasia? Apakah perlu kita bicara di ruang khusus ayah?" tanya Chi Fan kepada anaknya itu.
"Iya!" singkat Chi San.
"Baiklah.. Ayo kesana sekarang! Melihat dari wajah seriusmu, sepertinya memang sangat penting ya?"
"Tentu ayah!"
Ayah dan anak itu akhirnya memutuskan untuk masuk ke ruangan khusus. Setelah sampai, Chi Fan yang tidak sabar dan tidak mau basa-basi langsung menanyakan perihal rahasia yang dikatakan Chi San anaknya.
__ADS_1
"Sekarang kau bisa katakan pada ayah dengan tenang!"
"Iya.. Ini ayah! Aku diberikan cincin penyimpanan oleh seseorang yang didalamnya katanya ada harta yang memiliki khasiat memperbaiki dantianku yang rusak!" jawab Chi San sambil mengeluarkan cincin penyimpanan dari saku bajunya.
"Harta yang mampu menyembuhkan dantianmu yang rusak? Harta apa itu?" tanya Chi Fan penasaran dan tidak langsung percaya begitu saja. Alih-alih percaya, Chi Fan malah menganggap anaknya ini agak sedikit gila atau tertekan karena kehilangan kekuatannya.
"Itu.. Aku tidak tahu ayah! Aku tidak bisa mengecek harta apakah itu karena aku tidak bisa menggunakan energi Qi lagi! Makanya aku meminta ayah untuk mengeceknya!" ujar Chi San.
"Ooh.. Baiklah! Sini ayah cek!" kata Chi Fan menyadongkan tangan meminta cincin penyimpanan yang ada pada putranya.
"Silakan ayah!"
Chi San juga dengan tidak sabar memberikan cincin penyimpanan itu kepada ayahnya. Dia sangat ingin tahu serta penasaran dengan rupa harta apakah gerangan yang bisa menyembuhkan dantian miliknya.
Chi Fan atau ayah dari Chi San mengalirkan energi Qi untuk memeriksa cincin penyimpanan. Begitu dia sudah melihat apa yang tersimpan didalamnya, Chi Fan seketika membatu, tatapannya tampak kosong karena tidak percaya. Dia dapat dengan jelas melihat sesuatu yang mungkin dikatakan mustahil bagi orang-orang di Benua Langit, satu Buah Bodhi dan dua Anggur Putih!
"I-ini-.." hanya kata itu yang sanggup keluar dari mulutnya. Tubuh Chi Fan bergetar dengan hebat lalu menjadi lemas seperti tak bertulang. Fikirannya juga ikut melayang jauh dan mengingat jelas pesan terakhir Ling Tian.
"A-apakah y-ang mem-berikan cin-cin ini adalah T-tuan Muda Ling Tian?" tanya Chi Fan dengan terputus-putus.
"Ada apa denganmu ayah? Mengapa kau bertingkah aneh seperti itu? Iya benar! Memang Tuan Muda Ling Tian lah yang menghadiahiku cincin itu! Lalu apa isinya?" ungkap Chi San lalu balik bertanya.
Sang Ayah tidak menjawab namun mengeluarkan isi dari cincin penyimpanan tersebut.
Swussh...
Mata Chi San sama persis dengan Chi Fan saat melihat apa yang menjadi hadiah Ling Tian padanya.
"I-ini.. B-buah Abadi!" kata Chi San dalam keterkejutannya.
"Benar! Ini adalah buah bodhi dan anggur putih!" kata Chi Fan yang sudah mampu mengontrol tingkat emosionalnya.
"Nak! Segera konsumsi buah bodhi ini dan setelahnya cepat kau datangi Klan Ling! Nyatakan bahwa Klan Chi kita tunduk pada mereka!" ujar Chi Fan.
"B-baik ayah!" jawab singkat Chi San dan menurut.
***
Sementara itu sepasang manusia yang tidak lain adalah Ling Tian dan Wei Ziin terbang melayang meninggalkan Kota Zhongjian menuju arah dimana Klan Ling berada. Mereka berdua terbang dengan tenang dan santai. Mereka tidak terburu-buru sama sekali, karena memang tidak ada yang harus membuat mereka terburu buru.
__ADS_1
"Sekarang, kita mau kemana lagi kak Tian?" tanya Wei Ziin.
"Selanjutnya, adalah mengunjungi Klan Xuan!" jawab Ling Tian dengan senyuman penuh misteri.