Ling Tian

Ling Tian
Akhir Ujian Sang Naga Hijau


__ADS_3

Setelah kepergian dari pasukan aliansi aliran hitam, semua orang termasuk Ling Jian dan Ling We menghela nafas panjangnya. Mereka lega karena perang yang melelahkan ini akhirnya selesai juga.


Kedua pemuda itu khususnya Ling Jian lalu menatap pasukannya yang terlihat masih utuh dan beberapa diantara mereka hanya terluka ringan saja. Hal itu membuat dirinya mengerutkan keningnya.


Bagaimana bisa hal seperti ini dapat terjadi? Jelas-jelas Ling Jian tahu bahwa pasukannya itu lebih lemah daripada pasukan aliansi aliran hitam, tapi bagaimana mungkin? fikir Ling Jian yang masih tidak percaya.


Tap! Tap!


Keduanya mendarat dihadapan pasukan daratan timur dengan mantap. Ling Jian menatap seluruh pasukannya itu dengan tatapan penuh pertanyaan.


Swush... Swush... Swush...


Lima puluh sosok yang tidak dikenal muncul dan berlutut memberikan penghormatan kepada Ling Jian dan Ling We.


"Salam Tuan Muda Ling!" ucap mereka semua dengan serentak.


Ling Jian dan Ling We tersentak dengan kehadiran mereka yang tidak dia rasakan auranya sama sekali. Keduanya juga terkejut dengan cara mereka memberikan penghormatan.


"Salam semuanya! Berdirilah!" ujar Ling We meminta mereka berdiri.


"Baik Tuan Muda!" jawab mereka serentak.


"S-sebenarnya.. S-siapa kalian?" tanya Ling Jian dengan sedikit terbata karena masih belum bisa menyembunyikan keterkejutannya. Dia merasa seperti semut jika dibandingkan dengan orang-orang didepannya ini.


Pria paruh baya dan wanita cantik diantara kelima puluh orang itu maju satu langkah dan menangkupkan kedua tangan untuk memberikan penghormatan lagi.


"Tuan Muda! Aku Bai Senlu! Leluhur tua Klan Bai dari Hutan Tanpa Batas daratan tengah! Dan ini adalah putriku Bai Wenhe'er, Tetua Agung Klan Bai saati ini! Kami adalah para pelayan dari Klan Ling atau lebih tepatnya Tuan Muda Ling Tian!" ucap Bai Senlu memperkenalkan diri.

__ADS_1


Ling Jian dan Ling We terkejut dengan apa yang didengar oleh telinga mereka. Mereka tidak menyangka bahwa sosok-sosok kuat ini adalah pelayan mereka atau lebih tepatnya pelayan Ling Tian.


Bai Senlu lalu menjelaskan tentang mereka yang datang atas perintah dari Ling Tian untuk melindungi Klan Ling dan Kekaisaran Wei pada awalnya. Namun karena perang terjadi, maka dengan senang hati mereka ikut membantu atau lebih tepatnya membantai pasukan aliansi aliran hitam.


Ling Jian dan Ling We serta orang-orang yang mendengar penjelasan Bai Senlu terkesiap saat mengetahui bahwa kekuatan mereka sudah berada diatas ranah Pendekar Berlian. Pantas saja mereka dengan sangat mudah mereka membantai pasukan musuh tanpa halangan suatu apapun.


"Jadi, yang membuat kedua pimpinan aliansi memuntahkan seteguk darah sebelum kami tertarung adalah karena pekerjaan Leluhur?" tanya Ling Jian.


"Benar sekali Tuan Muda! Maaf karena ayahku melakukannya tanpa sepengetahuan dan izin dari Tuan Muda! Karena jika ayah tidak melakukannya, kami yakin Tuan Muda tidak akan mungkin dapat menyentuh mereka! Sebab kesenjangan kekuatan Tuan Muda dengan kedua orang itu sangatlah jauh!" giliran Bai Wenhe'er yang menjawab.


Ling Jian dan Ling We kini akhirnya mengerti mengapa kedua entitas terkuat di Benua Langit itu tidaklah sekuat yang dirumorkan. Ternyata karena mereka berdua sudah dibuat terluka dalam terlebih dahulu oleh niat membunuh Leluhur Bai Senlu.


Setelah berbincang-bincang beberapa saat, Ling Jian dan Ling We lalu membawa kelima puluh orang itu untuk menemui Patriark Ling, Tetua Agung serta Kaisar Wei Heian didalam tenda pertemuan. Mereka berdua juga menyuruh semua pasukan untuk beristirahat namun melarangnya untuk mengendurkan kewaspadaan.


***


Di daratan utara atau lebih tepatnya di pantai perbatasan Kekaisaran Bing kini sedang dalam suasana tegang. Pasalnya, perang baru saja usai dan pasukan aliansi yang dipimpin oleh pangeran Song Yunlei dan Matriark Sekte Hasrat Chang Roulan telah berhasil menempati salah satu wilayah.


Keduanya sangat tidak menyangka bahwa serangan kejutan yang mereka lakukan ternyata tidaklah langsung berhasil menguasai daratan utara karena ternyata kultivator disana sangatlah kuat.


Hal itu disebabkan karena umumnya kultivator aliansi aliran hitam adalah pengguna elemen api, sementara penduduk atau kultivator di daratan utara adalah berelemen air dan es abadi.


Tenu saja hal itu yang membuat pasukan aliansi kesulitan karena elemen mereka dapat dengan mudah dihalau oleh orang daratan utara yang berelemen counter elemen api.


"Bagaimana Matriark? Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya pangeran Song Yunlei.


"Tidak ada yang bisa kita lakukan untuk sekarang ini! Kita tetap bertahan disini dan untuk sementara harus berpuas dengan menguasai wilayah kecil ini! Sebab orang-orang dari Kekaisaran Bing sangatlah merepotkan!" jawab seorang wanita cantik yang tidak lain adalah Matriark Sekte Hasrat, Chang Roulan.

__ADS_1


Dia memang masih terlihat cantik, namun umur yang dimilikinya sudahlah sangat tua dan dia menggunakan esensi darah dari para laki-laki yang dia perkosa dan menyerapnya hingga kering dan mati untuk mempertahankan kemudaan dan meningkatkan kekuatannya. Sungguh wanita pemerkosa dan pengguna teknik yang sangat kejam.


"Baiklah kalau begitu!" ucap pangeran Song Yunlei lalu berniat pergi meninggalkan ruangan itu namun segera dicegah oleh Matriark Chang Roulan.


"Pangeran! Mengapa anda begitu terburu-buru? Bagaimana jika kita bermain satu atau dua ronde terlebih dahulu?" ajak Matriark Sekte Hasrat menggoda pangeran Song Yunlei.


Dengan tanpa ragu dia melepaskan pakaiannya didepan sang pangeran dan memperlihatkan tubuhnya yang indah kepadanya.


Pangeran Song Yunlei hampir saja tergoda dengan pesona tubuh Matriark Sekte Hasrat itu. Hidungnya sudah mimisan melihat betapa indahnya lekuk tubuh wanita didepannya, namun dia mengingat kembali akan efek dari berhubungan badan dengan wanita didepannya mati, maka dengan cepat dia menolak ajakan mantap-mantap itu.


Dia buru-buru keluar dari ruangan itu yang membuat wanita cantik tanpa busana atau Matriark Chang Roulan tertawa cekikikan karena lucu. Wanita cantik itu lalu kembali memakai pakaiannya dan duduk ditempat itu dengan tenang.


Tidak lama setelahnya, ada beberapa orang pria yang dibawa masuk dalam ruangannya dengan wajah keadaan terikat diatas sebuah kasur dan sudah tanpa busana. Tanpa menunggu waktu lagi, Matriark Sekte itu langsung menggarap para pria itu dan bersenang-senang dengan mereka lalu setelahnya menyedot habis esensi darahnya hingga kering dan mati.


***


Wilayah Terlarang, Daratan Tengah.


Waktu terus berlalu, tidak terasa Mao An telah menjalani ujian untuk memasuki dunia yang ada dibalik portal dimensi dari sang Naga Hijau selama dua hari.


Mao An tiba-tiba dikejutkan dengan menghilngnya tekanan dan siksaan dari dalam jiwanya. Dia membuka matanya dan melihat ada sebuah token berwarna hijau melayang didepannya yang menandakan dirinya telah lulus ujian.


Mao An melihat sekitarnya dan mendapati banyak sekali atau ribuan orang yang mati bergelimpangan karena gagal dalam tes itu dan tidak bisa menyelamatkan diri mereka untuk keluar dari zona wilayah terlarang.


Dia menyusuri beberapa bagian dari wilayah terlarang dan mencari-cari keberadaan seseorang. Namun setelah hampir lima menit mencari, dia sama sekali tidak menemukannya.


Saat dia membalikkan tubuhnya untuk kembali ketempat dimana dia dan Ling Tian sebelumnya bertempat, Mao An melihat seorang pemuda tampan dengan topeng separuh wajah dan pakaian serba hitam sedang duduk santai sambil minum teh dan juga sedang menatapnya.

__ADS_1


'Sial! Apakah Tuan Muda tidak ikut ujian?' batin Mao An.


__ADS_2