
Sebelumnya, Ling Tian sudah terlebih dahulu memperingati Mao An untuk tetap diam dan tidak berulah. Dengan terpaksa Mao An harus menurutinya karena tidak ingin mendapatkan hukuman dari Ling Tian lagi.
Dia kini benar-benar seperti seekor kucing rumahan yang sangat menurut kepada tuannya dan tidak akan bertindak apapun kecuali ketika diperintahkan oleh sang tuan. Mao An menggerutu di dalam hatinya saat Ling Tian dengan santainya minum tepat didepannya.
Ling Tian mulai menajamkan pendengaran untuk menguping pembicaraan dari pelanggan lain. Dia tidak ingin tidak mendapatkan informasi apapun lagi seperti halnya pada saat di restoran sebelumnya.
"Saudaraku! Apakah kau sudah tahu mengenai kabar terbaru?" tanya salah satu pengunjung kepada temannya.
"Kabar terbaru?" temannya yang dibuat mengerutkan kening.
"Ini mengenai penghancuran Klan Lian itu!" kata si pengunjung.
"Apa kabar terbarunya? Semua orang telah tahu bahwa Klan Lian dihancurkan oleh seseorang!" ucap temannya yang tidak tertarik dengan informasi yang memang sudah menjadi pengetahuan umum baru-baru ini.
"Bukan itu maksudku! Tapi ini mengenai orang yang menghancurkan Klan Lian!" ujar si pengunjung.
"Oh? Apakah ada kejelasan mengenai itu?" temannya mulai tertarik.
"Dari serta beberapa saksi mata yang berada tidak jauh dari kediaman Klan Lian, orang yang telah menghancurkannya adalah-.." si pengunjung itu sengaja memotong ucapannya agar temannya itu menjadi penasaran.
"Siapa kampret! Jangan memberikan informasi sepenggal-sepenggal seperti itu" ujar temannya mendengus dengan kesal.
"Ehehehe.. Pelaku yang telah menghancurkan hegemoni Klan Lian adalah dua orang!" kata si pengunjung sambil tersenyum misterius.
__ADS_1
"Sial! Kamu membuatku semakin penasaran saja! Lalu siapakah dua orang itu? Mereka hebat sekali! Hanya dengan dua orang saja dapat menghancurkan klan yang sudah memiliki akar dan pondasi kuat di daratan tengah ini! Baiklah.. Aku akan membayar biaya makan dan minummu! Sekarang cepat katakan siapa dua orang hebat itu?" kata temannya.
Si pengunjung itu akhirnya tersenyum dengan sumringah saat mendapati apa yang dia inginkan alias kata makan minum gratis terlontar dari mulut saudaranya akhirnya keluar juga.
"Leluhur Xiao Chen dan Leluhur Song Mu!" jawab si pengunjung dengan suara yang agak dipelankan.
"A-apaa!" temannya dibuat terkejut dan tidak percaya dengan apa yang didengar oleh telinganya.
"Kau jangan bercanda saudaraku! Semua orang tahu bahwa Leluhur Xiao Chen, Leluhur Song Mu adalah entitas terkuat lainnya yang sangat akrab dengan Leluhur dari Klan Lian, Lian Qin! Lalu bagaimana mungkin keduanya melakukan hal yang seperti itu kepada Klan Lian?" tanya temannya yang masih tidak percaya.
"Aku tidak tahu karena alasan apa keduanya menghancurkan Klan Lian! Namun cari informasi yang aku dapatkan dari mata-mata bahwa leluhur dari Klan Lian tidaklah ada saat pembantaian itu terjadi! Kemungkinan Leluhur Lian Qin terbunuh dan tidak bisa keluar dari dimensi di balik portal milik sang naga hijau!" kata si pengunjung memberikan alasan.
"Haahhh.. Ini terlalu mengejutkanku! Bagaimana bisa ketiga orang yang telah bersahabat ribuan tahun tiba-tiba berkhianat bahkan menghabisi seluruh keturunan dari salah satunya!" kata teman si pengunjung dengan menghela nafas panjang seolah dirinya adalah termasuk orang dari Klan Lian yang telah terbantai.
"Benar sekali katamu!" setuju temannya.
"Dan satu lagi saudaraku! Bahkan Kekaisaran Xiao telah menyiapkan bounty untuk setiap satu kepala dari anggota Klan Lian dengan nominal 1000 keping koin platinum untuk para murid yang memiliki kekuatan ranah Pendekar Perak kebawah. Sementara untuk para penatua atau guru pengajar yang memiliki kekuatan ranah Pendekar Emas keatas, Kekaisaran Xiao akan memberikan hadiah yang lebih besar lagi!" kata si pengunjung.
"A-apaa! Klan Lian benar-benar akan menghilang dari peta daratan tengah Benua Langit ini!" ucap temannya dengan sedikit terbata.
"Ya.. Begitulah! Pihak Kekaisaran benar-benar tidak ingin menyisakan satupun anggota dari Klan Lian supaya tidak akan menjadi benalu suatu hari nanti!" kata si pengunjung itu menjelaskan.
"Benar!" angguk temannya sependapat.
__ADS_1
Mereka berdua terus mengobrol sambil menikmati hidangan makan dan minum yang disediakan oleh pemilik kedai. Sementara untuk Ling Tian, dia pada akhirnya tersenyum dengan informasi yang didapatkan olehnya dari kedua pengunjung kedai itu.
Ling Tian sungguh tidak menyangka bahwa kedua budak dari saudaranya yang sedang bermalas-malasan diatas pundak kanannya akan benar-benar patuh dan menghancurkan seluruh anggota Klan Lian hingga tak tersisa.
Bahkan kedua budak itu menyiapkan sebuah bounty untuk orang-orang yang berhasil membunuh anggota Klan Lian yang tidak berhasil keduanya habisi. Entah itu karena sedang melakukan misi keluar klan atau yang lainnya. Ini benar-benar penghancuran total!
Ling Tian sama sekali tidak bersimpati sedikitpun kepada orang-orang dari Klan Lian, karena pada akhirnya pemusnahan ini adalah timbal balik dari apa yang telah mereka lakukan kepada Klan Ling-nya ribuan tahun silam.
Jika saja mereka tidak mengganggu atau melakukan kesalahan fatal seperti itu maka pasti Ling Tian akan menjadi orang pertama yang tidak setuju atau bisa dikatakan menjadi tameng untuk Klan Lian. Namun kini nasi telah menjadi bubur. Tinggal dikasih opor ayam, sambel setan dan kerupuk udang sebelum dimakan saja karena mubadzir jika disia-siakan.
Ling Tian juga ingin memberitahukan kepada semua jajaran masyarakat yang berada di seluruh daratan bahwa menyinggung Klan Ling adalah hal yang tidak boleh dilakukan dan tabu.
"Tuan Muda cukup puas bukan dengan kinerja kedua budak tua bangkaku itu?" tanya Mao An melalui telepati. Sebenarnya dia juga ikut mendengarkan apa yang menjadi pembicaraan kedua pengunjung kedai kecil milik pria paruh baya.
"Ya! Mereka cukup bisa diandalkan! Aku akan memberikan apresiasi kepada keduanya suatu hari nanti jika mereka bertindak atau melakukan hal yang menurutku layak untuk aku beri hadiah!" jawab Ling Tian sambil tersenyum.
Setelah puas dengan informasi yang didapatkan dan minuman yang telah disediakan oleh pemilik kedai juga sudah habis, Ling Tian kemudian pergi meninggalkan kedai itu dan melemparkan satu koin platinum kepada si pemilik kedai yang langsung kegirangan dan sangat berterima kasih.
Ling Tian dan kucing jadi-jadian alias Mao An yang dengan malas tiduran dipundaknya terus berjalan menuju ke tengah-tengah Kota Nianqing. Mereka berdua berniat untuk mengunjungi Istana Kekaisaran Xiao.
Tidak membutuhkan waktu lama keduanya segera sampai di depan pintu gerbang istana yang sangat megah dan mewah. Ling Tian langsung dicegat oleh beberapa prajurit penjaga gerbang yang ingin bertanya alasan apa Ling Tian mendatangi istana.
"Katakan saja kepada Kaisar Xiao Sujin atau Leluhur Xiao Chen bahwa aku Ling Tian dari daratan timur mengunjungi mereka!" ucap Ling Tian sambil memberikan lencana giok kepada komandan prajurit penjaga gerbang sebagai bukti.
__ADS_1
"Klan Ling? B-baik Tuan Muda! Tuan muda bisa menunggu disana terlebih dahulu!" ucap komandan prajurit sambil menunjukkan kursi tunggu kepasa Ling Tian. Setelah itu dia langsung bergegas menuju dalam istana untuk melapor kepada Kaisar.