
Senjata-senjata buatan Ling Tian berdengung tanpa terkecuali saat Naga Petir Kekacauan.
"Sudah cukup!" kata Ling Tian menyudahi menguplai kekuatan jiwa.
Ling Tian mendongakkan kepalanya dan tersenyum puas.
"Jadi kau datang lagi? Baiklah.." ucap Ling Tian masih dengan mimik muka tersenyum. Dia membuat formasi agar senjata-senjata itu tetap bisa mengambang meski tanpa dia pegang dengan kekuatan.
Ling Tian terbang keatas langit menuju Sang Naga Petir itu berada.
"Ayo cepat sucikan sejata buatanku itu! Tak usah berlama-lama!" bentak Ling Tian kepada Naga Petir.
Groooaaaarrr...
Naga Petir Kekacauan sangat marah saat ada yang berani membentaknya yang mana dia adalah eksistensi petir terkuat sealam semesta dan pemimpin dari semua petir.
"Kau marah? Apa kau tidak tahu sekarang ada dimana? Ini dunia jiwaku! Dan akulah penguasa disini! Rasakan bogemku!" teriak Ling Tian lalu melesat memukul Naga Petir.
Swuusshh...
Booommm...
Groooaaarrrr...
"Ayo! Kalau kamu marah, lawan aku!" ucap Ling Tian sambil terus memberi Naga Petir tonjokan.
Baamm.. Bamm.. Bam..
__ADS_1
Naga Petir Kekacauan tak berkutik saat menerima jotosan berat tangan Ling Tian. Dia benar-benar dibuat babak belur oleh Ling Tian. Untuk Ling Tian sendiri dia sama sekali tidak khawatir akan tubuhnya. Dia mempunyai tubuh terkuat dan tak tergores sealam semesta, Tubuh Kaisar Naga Bayangan.
Groooaarrr...
"Apa? Meminta berhenti? Tidak akan! Sebelum kau menurut kepadaku dan mensucikan senjataku ketingkat tertinggi!" kata Ling Tian kepada Naga Petir.
Bamm! Bamm! Bamm!
Long Yuan dan Wei Hun benar-benar hilang akal dan tak bisa berkata-kata lagi saat melihat Ling Tian terus memukuli Naga Petir tanpa henti.
"Baru kali ini aku melihat ada petir kesengsaraan dihajar habis oleh seseorang! Apa dia masih manusia?" tanya Wei Hun lirih.
"Dasar bocah gila!" teriak Long Yuan.
Sementara Ling Tian yang mendengar teriakan Long Yuan hanya tersenyum dan kembali memukuli Naga Petir tanpa ampun.
Naga Petir menangis tersedu-sedu dan meminta ampun. Namun untuk menurut dengan Ling Tian dia masih sangat bimbang dan ragu. Apalagi mensucikan senjata hingga tingkat tinggi yang harusnya hanya sanggup di tingkat rendah, bukankah itu curang?
Bam! Bam! Booooommmmmmm...
"Ayo jawab Naga Sialan!" teriak Ling Tian mulai kehabisan kesabaran dan memukul Naga Petir dengan sangat kuat.
Grooaar...
Naga Petir yang sudah bonyok dan terjatuh akhirnya mengaum kecil dan menganggukkan kepala tanda menyetujui perkataan Ling Tian. Dia sudah tidak tahan lagi dipukuli oleh Ling Tian yang seperti preman saja.
"Baguuuus.. Mengapa tidak sedari tadi sialan! Yasudah cepat sucikan senjataku!" perintah Ling Tian.
__ADS_1
Naga Petir hanya mengangguk dan menyemburkan petir merahnya ke senjata-senjata buatan Ling Tian. Senjata yang menerima semburan petir tampak berdengung kuat dan menyerap esensi petir dengan lahap.
Swooossshhh...
Aura senjata pusaka tingkat saint menyebar keseluruh penjuru dunia jiwa. Seluruh pusaka terus berdengung, bersinar dan mengambang didepan Ling Tian.
"Saudara Long, senior Wei, kalian teteskan darah kalian kesenjata pusakanya supaya mengetahui siapa tuan mereka!" ujar Ling Tian.
Long Yuan dan Wei Hun melakukan apa yang diperintahkan. Ling Tian juga mengalirkan darahnya di pedang pelangi kedua, belati terbang pelangi, dan jarum pelangi. Setelah selesai mengontrak dengan senjatanya. Ling Tian menyimpan belati terbang dan jarum pelangi. Ling Tian memegang pedang pelangi dengan erat.
'Lihatlah guru! Aku sudah bisa menempa pedang yang hampir sama denganmu! Aku tak akan mengecewakanmu' gumam Ling Tian.
"Kau boleh pergi Naga Petir!" ujar Ling Tian kepada Naga Petir.
Naga Petir yang sudah dipersilahkan pergi langsung menghilang dengan terburu-buru. Dia tidak mau lagi melepaskan kesempatan untuk keluar dari cengkraman preman seperti Ling Tian.
Ling Tian melirik Long Yuan dan Wei Hun yang juga sudah selesai membuat kontrak dengan senjatanya. Terlihat jelas diwajahnya rona sumringah dan bahagia.
"Senior Wei, Saudara Long, mari kita kembali keistana!" ujar Ling Tian.
"Ah..!" kaget mereka serentak.
"Oiya, mari Ling Tian! Dan terima kasih telah membuatkan senjata yang sangat hebat ini!" tutur Wei Hun tulus.
"Benar!" sahut Long Yuan.
"Sudahlaah.. Bukankah kita ini saudara? Bukankah sudah kewajiban seorang saudara untuk membuat saudaranya senang dan bahagia?"
__ADS_1