
Seluruh pasukan yang berjumlah seratus lima puluh ribu keluar dari armada perang kapal terbang dengan teratur dan membuat barisan dengan sangat rapih. Terlihat mereka semu dapat melayang di udara yang menandakan semuanya sudah berada di ranah Pendekar Emas keatas.
Kaisar Han Biao dan Nan Kong muncul didekat Ling Jian dan Ling We tidak lama setelah pasukannya selesai membuat barisannya. Mereka menatap kedua orang pemuda itu dengan tatapan remeh dan penghinaan.
"Jadi, untuk apa kalian datang ketempat kami dengan membawa armada perang seperti itu?" tanya Ling Jian basa-basi.
"Bukankah sudah jelas? Kami ingin menguasai daratan timur ini! Jadi kalian para semut lebih baik menyerah saja dan tunduklah dibawah kami dan menjadi kaki tangan Tuan kami!" jawab Nan Kong dengan tegas.
"Lalu bagaimana jika kami tidak mau?" tanya Ling We.
"Sudah tentu kami akan memberikan sedikit pelajaran dengan membunuh kalian semua lalu menikmati keindahan yang kalian miliki!" jawab Kaisar Han Biao dengan menyeringai.
"Bukankah kau adalah Kaisar Han Biao?" tanya Ling Jian.
"Oh.. Kau mengenalku? Setelah kau tahu identitasku mengapa kau tidak bergegas untuk berlutut dihadapan Kaisar ini?" ujar Kaisar Han Biao dengan menepuk-nepuk dadanya bangga.
"Hahaha.. Mohon maaf Kaisar! Bukan begitu maksudku bertanya! Aku hanya tidak menyangka bahwa Kaisar Kekaisaran Han sangatlah mesum dan bejat!" ucap Ling Jian dengan nada menusuk.
Seketika wajah Kaisar Han Biao langsung menjadi hitam saat mendengar alasan dari Ling Jian yang ternyata membuat hatinya terasa sangatlah sakit.
"Keparat kau bocah! Aku bersumpah akan meremukkan kepalamu!" teriak Kaisar Han Biao dengan amarah yang memuncak.
Aura kultivasi ranah Pendekar Berlian Puncak disertai niat membunuh yang sangat pekat juga meledak dari dalam tubuh Kaisar Han yang membuat Ling Jian dan Ling We terpaksa untuk mundur beberapa langkah dengan memasang wajah sangat serius.
Bukan hanya Ling We dan Ling Jian saja yang merubah raut wajahnya menjadi lebih serius, tapi seluruh pasukan dari sisi daratan timur juga mengekspresikan hal yang sama. Hanya lima puluh orang yang berasal dari Klan Bai yang justru terlihat tersenyum seperti mereka menemukan mainan baru dan tidak sabar untuk segera memainkannya.
"Pendekar Berlian Puncak!" ucap Ling We dan Ling Jian dengan bersamaan.
"Hahaha.. Bagaimana nak? Apakah kalian terkejut dan mulai takut sekarang? Aku dan saudaraku Nan Kong sudah berada di ranah puncak kultivasi Benua Langit ini! Hahaha.." seru Kaisar Han Biao dengan tawanya yang lantang.
Ling We tersenyum mendengar seruan orang yang menurutnya sangatlah tolol itu.
__ADS_1
"Bahkan jika kalian sudah di ranah raja atau ranah kaisar sekalipun, kami tidak akan gentar sedikit pun!" ucap Ling We dengan nada sangat tegas.
Tawa Kaisar Han Biao seketika terhenti saat mendengar ucapan Ling We.
"Bocah! Kau mengerti tingkatan setelah ranah Pendekar Berlian?" tanya Kaisar Han Biao dengan mata tajam.
"Aku tidak perlu menjawabnya! Lebih baik kalian semua pergi dari wilayah kami atau kami akan memerangi kalian semua!" ujar Ling We dengan santai.
"Keparat!" teriak Kaisar Han Biao lalu berniat untuk melesat untuk menyerang Ling We.
Namun tubuhnya membeku ditempat saat tiba-tiba saja dia merasakan niat membunuh yang maha dahsyat meledak dari arah prajurit daratan timur yang dengan khusus diarahkan hanya untuknya. Tentu saja niat membunuh itu berasal dari Bai Senlu yang tidak ingin Ling We terluka karena serangan tiba-tiba Kaisar Han Biao.
"Kheuk!"
Kaisar Han Biao tiba-tiba memuntahkan seteguk darah dari mulutnya karena tidak kuasa menahan besarnya niat membunuh itu. Hal itu tentu membuat ketiga orang lainnya bingung, akan tetapi tanpa menunggu waktu dan karena ada kesempatan, Ling We langsung melesat dengan kecepatan cahaya menyerang Kaisar Han Biao itu.
Bommm...
Sementara Ling Jian, dia berteriak kepada seluruh pasukannya untuk mulai menyerang dan mengusir pengacau yang akan menjajah negeri mereka.
Nan Kong yang sebelumnya ingin menolong Kaisar Han Biao namun terlambat, dia lalu memberikan kode kepada pasukannya untuk ikut menyerang lalu mengarahkan pandangannya kepada Ling Jian yang baru saja selesai meneriaki pasuksnnya untuk mulai perang.
"Kurang ajar!" ucapnya marah lalu dia juga ingin melakukan hal yang sama dengan Kaisar Han Biao.
Namun kejadian yang sama juga terjadi kepada Nan Kong. Niat membunuh yang luar biasa dahsyat tiba-tiba menghantam tubuhnya yang membuatnya membeku dan perasaan tercekik yang tidak tertahankan.
"Kheuk!"
Nan Kong pun sama memuntahkan darah dari mulutnya karena tidak tahan dengan niat membunuh itu. Dalam kehidupannya, dia tidak pernah merasakan niat membunuh yang lebih pekat dan kelam daripada yang dia rasakan sebelumnya.
Boommmm...
__ADS_1
Tiba-tiba Ling Jian melakukan hal yang sama dengan Ling We disaat Nan Kong belumlah siap atau sedang menstabilkan kekacauan energi pada tubuhnya.
"Aakhh.."
Nan Kong terlempar sambil berteriak keras saat merasakan sakit luar biasa dari pukulan Ling Jian yang mendarat tepat didadanya.
"Keparat! Dasar pengecut!" teriak Nan Kong dengan kemarahan yang menguasai.
Dia dengan cepat bangun dari tempatnya terlempar namun Ling Jian sudah kembali muncul tepat didepannya dengan pedang yang diselimuti oleh petir hitam yang berderak-derak dan mengayunkan kepadanya.
"Mati!" ucap Ling Jian.
"Tidak semudah itu bocah!" ujar Nan Kong lalu pedang energi berwarna hitam dengan aura pekat dan suram terbentuk untuk menghadang serangan dar Ling Jian.
Boommm...
Keduanya sama-sama termundur beberapa puluh langkah dan jarak mereka berdua kini sekitar tiga puluh meter. Nan Kong tersenyum melihat Ling Jian yang juga ikut termundur oleh hadangan pedang energi miliknya.
Hal itu menandakan perbedaan kekuatan yang sangat kentara dan jauh antara keduanya. Jika saja Nan Kong sebelumnya dalam posisi yang sama dengan Ling Jian, maka sudah dipastikan bahwa Ling Jian akan kalah telak dan mungkin akan langsung terluka parah.
"Aku tidak tahu darimana kekuatan niat membunuh yang terpancar sebelumnya, tapi sepertinya itu hanya berlaku sekali saja untuk kami berdua!" ujar Nan Kong sambil melihat Kaisar Han Biao yang sedang bertarung dengan Ling We namun membuat Ling Jian kebingungan.
Bagaimana tidak? Yang dikatakan oleh orang didepannya ini sama sekali tidaklah dia paham! Kekuatan niat membunuh? Ling Jian merasa tidak pernah memiliki perencanaan seperti itu.
Tapi hal yang sebelumnya dia lihat deengan Kaisar Han Biao dan Nan Kong yang tiba-tiba membatu lalu memuntahkan seteguk darah dari mulut mereka mungkin berhubungan dengan niat membunuh yang dikatakan oleh Nan Kong ini.
"Aku tidak tahu apa yang sedang kau katakan! Tapi mungkin itu adalah peringatan Langit bahwa kalian telah melakukan hal yang salah dengan menyerang daratan timur kami!" ujar Ling Jian.
"Hahaha.. Aku tidak percaya dengan ucapanmu itu! Matilah!" ucap Nan Kong lalu melesat dengan sangat cepat menyerang Ling Jian dengan ayunan pedang energinya.
Swoosshh...
__ADS_1