
Ling Tian berada didalam dunia jiwa miliknya selama beberapa hari lamanya. Dia berkumpul dengan saudara-saudaranya sembari memantau perkembangan Ling Lianhua beserta yang lainnya.
Sekitar sepuluh hari disana, Ling Tian kembali keluar ke dunia nyata dan keluar dari kamarnya. Dia mendapati Tetua Zhong En atau murid magangnya bahkan belum bisa membuat formasi berbentuk tungku alkimia.
'Ternyata belum selesai?' tanya Ling Tian pada dirinya sendiri saat melihat Tetua Zhong En masih bersemangat untuk membuat formasi.
Ling Tian dapat melihat kantung mata Tetua Zhong En sedikit menghitam. Ling Tian mengira hal itu terjadi karena murid magangnya ini kekurangan tidur.
Itu memanglah benar adanya. Selama hampir empat hari ini Tetua Zhong En sama sekali tidak tidur dan hanya fokus kepada pelatihannya membuat formasi berbentuk tungku.
"Tetua Zhong!" sapa Ling Tian.
Tetua Zhong En yang mendengar suara Ling Tian segera menghentikan aktifitasnya dan melihat kearah sumber suara.
"Ah! Guru! Akhirnya kamu keluar dari kamarmu! We'er dan Nian'er sejak kemarin menunggumu keluar dan ingin memberikan itu kepadamu!" ujar Tetua Zhong En sambil menunjukan sesuatu seperti token yang bertuliskan nomor 178.
"Apakah ini nomor urut peserta turnamen milikku?" tanya Ling Tian setelah menerima.
"Benar sekali guru! Itu adalah nomor urut yang guru dapatkan untuk bisa mengikuti acara turnamen alkimia.
"Lalu, dimanakah saudaraku itu?" tanya Ling Tian.
"Oh.. We'er dan Nian'er sedang jalan-jalan mengelilingi Kota Obat! Apakah guru membutuhkan mereka berdua? Aku akan menyuruh pelayan untuk memanggilnya kembali jika guru mau!" jawab Tetua Zhong En.
"Itu tidak perlu! Biarkan mereka menikmati kebersamaannya! Oiya, berlatih terus-menerus adalah sesuatu yang bisa dibilang sebagai orang yang giat dan pantang menyerah. Namun berlatih tanpa istirahat sedikitpun hanya akan membebani! Tidak akan ada kesempurnaan dalam hasil pelatihannya! Tetua Zhong faham dengan maksudku bukan?" tanya Ling Tian.
Tetua Zhong hanya bisa menunduk sebelum setelahnya menganggukkan kepalanya pelan. Dia tentu faham dengan ucapan gurunya barusan. Dia terlalu memaksakan diri bahkan tanpa istirahat atau tidur sama sekali. Dia tidak pernah sedikitpun meninggalkan ruang tamu setelah kepergian Ling Tian kekamarnya.
"Kalau begitu Tetua Zhong istirahatlah! Jangan terlalu memaksakan diri!" kata Ling Tian.
"Baik guru!" ujar Tetua Zhong En.
"Bagus jika Tetua menurut!" angguk Ling Tian.
"Baiklah.. Aku juga ingin jalan-jalan di Kota Obat. Mungkin akan ada sesuatu yang akan menarik perhatianku!" lanjutnya.
"Apakah guru hendak ditemani pelayan?" tanya Tetua Zhong En.
__ADS_1
"Itu tidaklah perlu! Dan satu lagi, jangan panggil aku guru jika ada saudarakunsedang disini! Apa kamu mengerti?" kata Ling Tian.
"Tapi mengapa?" tanya Tetua Zhong En.
"Ya.. Intinya jangan panggil aku guru jika tidak sedang berdua seperti ini!" jawab Ling Tian yang tidak menjelaskan alasannya kepada Tetua Zhong En.
"Oh.. Baiklah.." turut Tetua Zhong En.
Bagaimanapun, Ling Tian tentu tidak enak dengan saudaranya jika Tetua Zhong En memanggilnya guru dihadapan Ling We. Sementara Tetua Zhong adalah calon mertua dari saudaranya itu.
"Baik! Kalau begitu aku pergi dulu!" kata Ling Tian.
Zheep!
Tanpa menunggu jawaban iya dari Tetua Zhong, Ling Tian langsung menghilang bersama udara tipis. Sementara Tetua Zhong yang ditinggal.Ling Tian dan diperbolehkan tidur langsung menguap lebar-lebar dan menjatuhkan dirinya diatas kursi empuk. Tidak lama kemudian, Tetua Zhong En langsung tertidur dan mengeluarkan suara khas dari mulutnya cukup keras.
***
Kota Obat.
Disebuah pasar yang cukup dipadati oleh banyak sekali pengunjung, terlihat dua orang muda-mudi sedang berjalan sambil memilah-memilih beberapa barang yang mereka jumpai.
"Nian'er! Bukankah yang ini cukup bagus? Mengapa kamu tidak memilihnya?" tanya Ling We keheranan saat Zhong Nian melewatkan sebuah perhiasan jepit rambut yang cukup indah menurut Ling We.
"We Gege! Itu memang terlihat sangat bagus! Namun bahannya untuk membuat kuranglah baik! Jepit itu mungkin hanya bertahan satu atau dua tahun saja sebelum warnanya akan berubah dan beberapa perhiasannya akan copot!" jawab Zhong Nian menjelaskan.
"Jadi begitu.." Ling We hanya menganggukkan kepalanya seolah memahami.
Zhong Nian juga menganggukkan kepalanya. Mereka berdua kembali melanjutkan belanjanya tanpa menghiraukan orang-orang yang sebenarnya sudah penasaran dengan identitas pemuda bertopeng yang menemani putri salah satu Tetua Tertinggi Asosiasi Alkemis.
"Lihatlah! Bukankah itu dewi alcemis kita?" tanya salah satu pengunjung pasar kepada temannya sambil menunjuk kearah Zhong Nian.
"Benar sekali! Itu adalah dewi alcemis! Lalu siapa pemuda bertopeng disebelahnya itu? Mengapa begitu dekat dengan dewi kita?" sahut orang disebelahnya.
"Aku juga tidak tahu siapa dia! Tapi benar katamu! Dia tampak sangat akrab dengan dewi alcemis kita! Mungkinkah dia.." ucapan orang itu sengaja dipotong.
"Mungkin dia apa?" tanya temannya.
__ADS_1
"Mungkinkah dia adalah calon suami dari dewi alcemis kita? Ugh! Sakitnya dadaku mengatakan ini!" jawab orang tersebut sambil memukul-mukul dada kirinya sendiri dengan tangan kanan yang tergenggam.
"Jangan bicara omong kosong! Mana mungkin pemuda itu calon dewi!" teman sebelahnya tidak terima.
"Tapi bukankah ini akan sedikit menarik?"
"Menarik? Maksudmu?"
"Kita semua tahu bahwa dewi alcemis Zhong Nian selalu menolak ajakan pertunangan dengan Tuan Muda Paviliun Harta Karun yang sama-sama berbakat dalam dunia alkimia. Namun saat ini dirinya secara terang-terangan memperlihatkan kepada semua orang akan kekasih barunya! Bukankah ini akan menarik?"
"Ohoo.. Benar sekali katamu! Aku ingin sekali melihat bagaimana tanggapan Tuan Muda Huang nantinya!"
Bisik-bisik dan pembicaraan tentang pemuda bertopeng yang telah berhasil menarik perhatian dewi alcemis Zhong Nian dan meraihnya menjadi kekasih terus saja berlangsung hingga kedua muda-mudi saling jatuh cinta itu menghilang dari pandangan semua orang.
***
Sementara ditempat lain, Ling Tian muncul tidak jauh dari pusat Kota Obat yang terlihat sangat ramai. Hal itu maklum karena tidak lama lagi akan diadakan turnamen alcemis yang diadakan di alun-alun kota. Ling Tian dapat menghirup udara yang sangat menyegarkan dari obat-obatan atau tanaman obat yang terpajang rapih hampir di tiap toko yang dirinya jumpai.
'Kota Obat memanglah sangat tepat untuk penamaan kota ini! Dengan setiap toko yang menjajajankan obat-obatan serta pil, ini menjadi daya tarik serta ciri khas Kota Obat!' gumam Ling Tian pelan.
Ling Tian terus berjalan sambil melihat-lihat sesuatu yang ada disetiap toko. Mungkin akan ada yang menarik perhatiannya. Setelah beberapa saat, Ling Tian berhenti berjalan dan melihat sebuah gedung yang sangat besar dan megah.
"Oh.. Disini ada Paviliun Harta Karun juga? Kebetulan sekali!"
________________________________________
Assalamu'alaikum para readers LT. Apa kabar kalian semua? Author harap kalian semua baik-baik saja dan sehat selalu! Aamiin.
Terima kasih telah mengikuti perjalanan LT hingga sampai pada titik sekarang ini. Mohon maaf karena kemarin-kemarin tidak bisa Up 2 bab perhari seperti yang Author harapkan🙏.
Ucapan terima kasih tak terhingga pokoknya untuk kalian semua yang telah like, komen serta memberikan dukungan kepada LT. Khususnya kepada dua buronan mingguan diatas😁. Admin LT yang paling imut kayak semut 'Arlingga Panega' dan akun atas nama 'Poniman Hardjo' yang menjadi pembaca terbanyak.
Semoga kalian semua selalu diberikan kesehatan dan terkabul semua hajatnya. Aamiin.
Sekian,
__ADS_1
Wassalamu'alaikum wr. wb.
Jangan Lupa VOTE.. Ini Hari Senin😏