
Mendengar jawaban Ling Tian membuat tubuh Jiu menjadi bergetar hebat. Dia tentu pernah mendengar tentang Klan Ling yang pernah menjadi penguasa seluruh daratan di Benua Langit meskipun dia hanyalah rakyat biasa.
Itu karena cerita yang turun temurun dari leluhurnya yang selalu diceritakan mengenai Klan Ling yang sangat adil kepada semua kalangan meskipun jika mereka hanyalah orang biasa.
"T-tuan Muda Ling!" ujar Jiu yang seketika itu ingin berlutut dihadapan Ling Tian namun segera dihentikan oleh Mao An.
"Bukankah sebelumnya Tuan Muda sudah mengatakan bahwa kalian sekarang adalah bagian dari keluarganya? Maka sangat tidak pantas bagi seorang dari keluarga berlutut dihadapan keluarganya!" ucap Mao An sambil berusaha untuk menegakkan badan Jiu.
Hati Jiu begitu bergetar karena ungkapan Mao An. Dia begitu tidak menyangka bahwa pemuda bertopeng dihadapannya ini berasal dari Klan Ling yang terkenal sangat mulia di zaman dulu.
Jiu tidak henti-hentinya bersyukur dalam hatinya akan kehadiran Xing'er yang membuat Ling Tian tertarik untuk menjadikannya sebegai murid. Sementara untuk Xing'er sendiri, dia hanya mampu berdiri dengan mulut terbuka. Dia menatap gurunya itu dengan mata tidak percaya.
Belum lama ini dia diceritakan oleh sang ayah mengenai Klan Ling yang pernah menguasai Benua Langit. Saat itu dia begitu tertarik dan ingin mengetahui seperti apa orang-orang dari Klan Penguasa itu.
Dan sekarang dia tidak hanya bertemu dengan orang dari klan yang sangat dia puja itu, akan tetapi dia bahkan telah menjadi murid Tuan Mudanya serta diakui sebagai anggota keluarga dari Klan Ling. Sungguh Xing'er tidak pernah memimpikan hal yang sampai sedemikian, akan tetapi takdir langit begitu baik kepadanya.
Ling Tian hanya tersenyum melihat Mao An yang mengingatkan Jiu untuk bersikap layaknya keluarga kepada dirinya. Ya! Memang seperti inilah yang dia inginkan. Dia lalu menepuk pundak Jiu dan mengatakan bahwa dia akan membawa Jiu dan putrinya ke suatu tempat untuk berpindah. Tentu saja Ling Tian akan memindahkan mereka terlebih dahulu kedalam dunia jiwa sebelum dia melatih Xing'er dengan tangannya sendiri.
Jiu dan Xing'er hanya mengangguk dan menurut. Mereka tidak tahu akan dibawa kemana oleh Ling Tian. Yang jelas mereka sudah percaya kepada Ling Tian seratus persen. Mereka tidaklah ragu sedikit pun kepadanya.
Zhuuung!
Ling Tian membuka gerbang dunia jiwa dan meminta mereka untuk masuk. Sebelumnya Ling Tian telah memberi kabar kepada Zhuge Ruxu untuk menyambut keduanya didepan Istana Ling.
"Masuklah.. Akan ada saudaraku yang lain dan murid-muridnya yang akan menyambut kalian disana! Dan untukmu Xing'er! Nikmati dulu suasana ditempat barumu nanti serta persiapkan mentalmu sebelum kakak melatihmu! Oiya, panggil aku kakak! Jangan guru! Okkey?" ujar Ling Tian.
"En.. Baik gur-.. Emm.. Maksudku kakak!" jawab Xing'er sambil mengangguk-anggukkan kepala yang membuat Ling Tian dan Mao An begitu gemas dengannya.
Ling Tian mengusap ujung kepala Xing'er dengan lembut.
__ADS_1
"Baik! Sekarang masuklah kalian!" pinta Ling Tian lagi.
"Sekali lagi terima kasih Tuan Muda!" ucap Jiu.
"Lupakan terima kasihmu! Masuklah.." ujar Ling Tian dengan menggelengkan kepala.
"Baik Tuan Muda!" kata Jiu lalu mengajak Xing'er masuk kedalam pusaran angin putih keemasan bersama-sama.
Setelah keduanya mengilang masuk dalam dunia jiwa, Ling Tian dan Mao An saling angguk, mereka berdua akan melanjutkan perjalanannya lagi. Namun sebelum itu, Ling Tian membuat sebuah segel ditangannya dan memasang sebuah formasi didalam kedai itu.
"Baik! Sudah selesai! Mari pergi sekarang!" ujar Ling Tian.
"Ayo!" jawab Mao An.
Keduanya pun pergi meninggalkan kedai itu dengan berjalan kaki santai. Mereka berjalan menikmati suasana di Desa Chugu yang sangat asri itu. Setelah hampir satu kilometer menjauh dari kedai milik Jiu, Ling Tian kembali membuat gerakan segel pada tangannya.
"Aktif!" ucap Ling Tian.
Terdengar suara ledakan yang cukup nyaring dari arah belakangnya. Ling Tian sengaja menghancurkan kedai milik Jiu agar warga Desa Chugu menjadi waspada. Dia sebelumnya sudah merasakan ratusan orang yang mendekat kearah desa dengan niat tidak baik.
Ling Tian mengira bahwa mereka itu pastilah para bandit yang ingin menjarah Desa Chugu atau menculik secara terang-terangan para gadis mudanya desa ini.
"Apakah kita akan mencegat mereka?" tanya Mao An yang juga sudah tahu akan perihal para bandit.
"Tidak! Kita akan menunggu mereka dipintu gerbang utama desa saja! Dan sebelumnya aku ingin melihat bagaimana Desa Chugu ini menanggulangi para bandit itu!" jawab Ling Tian sambil tersenyum.
Dia lalu mengajak Mao An untuk terbang diatas awan untuk menyaksikan terlebih dahulu orang-orang Desa Chugu menghadapi para bandit.
.
__ADS_1
.
Disisi lain, setelah mendengar ledakan yang sangat keras dari arah kedai sederhana milik Jiu, para warga yang terdiri dari kultivator amatir atau tingkat rendah langsung bergerak menuju kearah sumber ledakan.
Mereka berbondong-bondong menuju kedai Jiu. Setelah sampai, alangkah betapa terkejutnya mereka saat mengetahui kedai sederhana itu telah hancur menjadi puing-puing dan pemiliknya tidak terlihat sama sekali.
"Ini serangan! Pasang sikap waspada!" ucap pria paruh baya yang memiliki kekuatan paling tinggi yaitu ranah Pendekar Perak Menengah Bintang 4. Dia juga adalah kepala desa dari Desa Chugu.
"Baik kepala desa!" ujar para prajurit Desa Chugu dengan serentak.
Semua prajurit yang berjumlah 70 orang itu langsung bergerak membagi kelompok menjadi dua dengan dikomandani oleh orang yang memiliki kekuatan ranah Pendekar Perunggu.
Diantara mereka ada yang menuju kearah pintu gerbang dan ada pula yang bergerak menyelidiki kasus ledakan yang menghancurkan kedai sederhana milik Jiu.
Sang kepala desa yang bernama Tuchi hanya menggelengkan kepalanya melihat puing-puing kedai milik Jiu. Dia berfikir bahwa ternyata masih ada orang yang sekejam itu dengan mengancurkan kedai tempat manusia biasa.
Sebagai kepala desa, dia tentu mengenal Jiu dengan baik. Jiu adalah manusia biasa yang tidak berkultivasi karena faktor tidak bisa membeli sumberdaya. Jiu juga dikenal sebagai pedagang yang sangat ramah kepada semua orang khususnya bagi orang yang mendatangi kedai sederhananya.
Akan tetapi nasibnya begitu buruk dengan dia mendapatkan serangan dari orang yang tidak diketahui hingga mati tak bersisa dan kedainya hancur menjadi puing-puing saja. Ya! Itulah yang difikirkan oleh Tuchi.
Saat kepala desa Tuchi sedang meratapi nasib sial yang dialami oleh Jiu, tiba-tiba seorang prajurit yang sebelumnya bertugas menuju pintu gerbang desa datang dengan tergopoh-gopoh dan berwajah panik.
"Ada apa? Mengapa kamu begitu terburu-buru?" tanya Tuchi.
"Kepala desa! Hahh.. Hahh.. Anu kepala desa!" ujar prajurit itu dengan nafas ngos-ngosan.
"Apa? Katakan dengan jelas!" ujar Tuchi dengan nada membentak.
"Itu kepala desa! Diluar gerbang ada sekelompok bandit yang biasa menjarah desa-desa kecil!" ucap prajurit dengan nafas memburu.
__ADS_1
"Apaaa! Yaa Dewa.. Ujian apalagi ini.." ucap Tuchi dengan lemas dan tidak berdaya. Dengan segera dia dan para prajurit yang tersisa menuju ketempat pintu gerbang masuk Desa Chugu.