
Suara tamparan itu terus bergema tanpa henti yang membuat orang yang mendengarkannya menjadi bergidik ngeri. Semua orang yang sebelumnya keluar dari restoran sangat tidak menyangka bahwa Tuan Muda Lu Ka yang mereka segani akan ditampari seperti itu hingga hampir seluruh giginya lepas semua.
Bayangkan saja! Seorang yang sudah berada di Ranah Kaisar Puncak dengan ditambah kekuatan fisiknya yang sudah meningkat karena pelatihan paksa saat di Dunia Jimi De menampar seseorang bertulang muda seperti Tuan Muda Lu Ka yang kekuatannya hanya pada ranah Pendekar Platinum Menengah Bintang 1. Sungguh Tuan Muda Lu Ka yang malang dan benar-benar luka.
Plak!
Plak!
Plak!
Mao An terus menampari pemuda tidak tahu sopan santun itu hanya dengan kekuatan fisiknya saja. Jika saja dia menggunakan satu persen saja energi Qi miliknya yang sudah menjadi Kaisar Qi, maka sudah dipastikan Tuan Muda Lu Ka akan langsung menjadi debu.
Bukan Mao.An dan Ling Tian yang kejam yang hanya karena makanannya yang dijatuhkan dengan tidak sopan, tapi seperti inilah hukum yang berlaku di dunia yang ditempatinya saat ini. Dimana yang kuat akan berkuasa dan yang lemah akan ditindas. Jika tidak membunuh maka dia akan dibunuh atau bahkan dilecehkan harga dirinya terlebih dahulu.
Namun Tuan Muda daei Klan Lu ini salah mencari lawan. Orang yang dia dan pengawalnya singgung ternyata lebih kuat dari mereka puluhan atau bahkan ratusan kali lipat dari mereka berdua. Alhasil, mereka berdua harus menerima hukuman atau siksaan yang saat ini sedang dia rasakan.
Bahkan dengan perlakuan Mao An yang membunuh pengawal serta menyiksa Tuan Muda Klan Lu itu tidak ada seorang pun yang membantunya. Itu menandakan bahwa mereka juga tidak mempermasalahkannya sama sekali.
Justru diantara mereka ada yang tersenyum puas dengan apa yang telah dilakukan Mao An kepada keduanya. Mereka tentu adalah orang-orang yang dibuat sakit hati oleh Tuan Muda Lu Ka, khususnya pengawalnya yang sangat ringan tangan dan mudah sekali memukuli orang yang lebih lemah daripada mereka.
Plak!
Plak!
Setelah hampir lima belas menit menampari Tuan Muda Lu Ka, Mao An menjatuhkan tubuh yang sudah tidak memiliki kesadaran itu layaknya sebuah sampah. Wajah dari Tuan Muda Lu Ka juga sudah tidak bisa dikenali lagi oleh orang-orang. Bahkan jika itu adalah orang tuanya sendiri.
__ADS_1
"Huh! Itulah hukuman bagi orang yang sombong dan mengganggu acara makan kami!" ujar Mao An lalu berniat untuk kembali duduk.
Namun sebelum dia menjatuhkan bokongnya diatas kursi, Ling Tian sudah mengeluarkan satu koin platinum dan meletakannya diatas meja lalu berdiri dari bangkunya.
"Mari kita cari tempat lain! Disini ada darah! Aku menjadi sedikit tidak selera untuk makan!" ujar Ling Tian.
"Hah! Benar sekali! Ayo kita pergi dari tempat ini!" ujar Mao An.
Mereka berdua pun pergi meninggalkan tempat itu dengan disaksikan oleh semua orang yang masih saja tidak percaya. Bagaimana tidak? Mereka telah membuat seorang pemuda yang memiliki pangkat tinggi seperti halnya Tuan Muda dari Klan Lu sekarat dengan wajah yang yang tidak bisa dikenali lagi.
"Mereka benar-benar orang yang sangat kejam!" salah satu orang yang melihat betapa ganasnya Mao An yang sebelumnya terus menampar Tuan Muda dari Klan Lu itu.
"Benar! Aku baru melihat ada orang yang sekejap mereka! hanya karena masalah makanan saja mereka membunuh pengawal dari Tuan Muda Lu Ka! Tapi aku cukup senang karena dengan hal itu mungkin saja Tuan Muda dari Klan Lu itu agar sedikit lebih berpikir lagi supaya tidak bertindak sesuka hatinya!" ujar temannya yang lain
"Apa kita akan menolongnya?" tanya salah satu orang yang ada disekitar tempat itu.
"Haaiiss.. Merepotkan saja!" kata orang itu.
Setelahnya, beberapa orang pun datang menghampiri Tuan Muda dari klan besar itu serta pengawaannya yang mati untuk dikuburkan.
Sementara untuk Mao An dan Ling Tian, mereka berdua pergi meninggalkan restoran itu dengan sangat santai seolah tidak pernah terjadi suatu hal apapun. Orang-orang yang melihat Mao An dan Ling Tian sebelumnya melakukan hal mengerikan tentu langsung membukakan jalan untuk keduanya.
Mereka tentu tidak ingin membuat masalah dengan orang seperti itu. Bagi mereka membuat masalah dengan Ling Tian atau Mao An sama saja mencari kematian. Bagaimana tidak? Orang-orang dari klan yang besar itu saja tidak membuat keduanya mundur ataupun gentar. Lalu bagaimana dengan mereka yang hanya berasal dari individual?
Ling Tian dan Mao An pergi suatu tempat yang mana di tempat itu Tetua Ketujuh dari Sekte Neraka sedang duduk bersama dengan temannya yang lain. Temannya itu tidak lain adalah Tetua Kesembilan Sekte Neraka.
__ADS_1
"Salam Tetua Ketujuh!" ucap Ling Tian yang tiba-tiba muncul di dekat Tetua Ketujuh dan Tetua Kesembilan bersama dengan Mao An disampingnya.
Tetua Ketujuh terperanjat saat melihat seorang pemuda bertopeng berdiri tepat dihadapannya bersama dengan seorang pria paruh baya sambil menangkupkan kedua tangannya. Tentu saja mengenali pemuda bertopeng itu karena awal dia melihat Ling Tian juga mengenakan topeng yang sama.
"D-dewa!" ujar Tetua Ketujuh dan Kesembilan berdiri dari tempat duduknya kemudian langsung menjatuhkan diri untuk berlutut dihadapan Ling Tian.
Akan tetapi Ling Tian langsung mencegahnya dengan menggunakan energinya yang tak kasat mata.
"Tidak perlu begitu! Nanti dapat menarik banyak perhatian orang!" ujar Ling Tian sambil tersenyum.
"D-dewa.. Apakah anda juga akan ikut serta dalam perebutan harta langit dan bumi ini?" tanya Tetua Ketujuh Sekte Neraka.
"Jangan panggil aku dengan sebutan itu lagi!Aku sungguh tidak suka! Dan untuk pertanyaanmu, tentu saja aku akan ikut!" jawab Ling Tian dengan cepat dan tegas.
"Oiya, ini.. Aku sebelumnya melihatmu membela ke neraka dengan kekuatan formasi yang cukup luar biasa! Terimalah! Ini ada sedikit hadiah untukmu! Terus pertahankan sikap seperti itu! Aku sungguh sangat menyukainya!" ujar Ling Tian sambil memberikan sebuah cincin penyimpanan kepada Tetua Ketujuh.
"I-ini.. bukankah ini sangat berlebihan Dew-.. Maksudku Tuan Muda?" ujar Tetua Ketujuh dengan enggan untuk menerima pemberian Ling Tian.
"Aku akan sangat kecewa jika kamu menolaknya Tetua Ketujuh!" ucap Ling Tian dengan memasang ekspresi wajah kecewa.
Dengan cepat Tetua Ketujuh langsung menerima pemberian dari Ling Tian itu karena takut akan mengecewakan Sang Dewa atau pun orang yang paling berjasa dari sekte yang dia tinggali.
Disaat Tetua Ketujuh baru saja mengambil cincin penyimpanan pemberian dari Ling Tian, sebuah Armada perang berupa kapal terbang yang sangat besar dengan dikelilingi oleh beberapa puluh kapal terbang kecil lainnya tiba di wilayah terlarang daratan tengah.
Melihat itu, wajah Ling Tian langsung menjadi lebih serius.
__ADS_1
"Aliansi aliran hitam!" ucapnya pelan namun masih dapat didengar oleh Mao An serta dua Tetua yang ada di dekatnya.