Ling Tian

Ling Tian
Darah Ini?


__ADS_3

"Hahaha.. Ayolah teman kecil. Mengapa kau sangat marah kepadaku?" Tanya Naga Biru yang masih terkekeh. Namun lain halnya dengan pak tua Wei Hun, dia hanya menggelengkan kepalanya melihat celotehan tidak jelas dari sahabat Naganya itu.


"Bagaimana aku tidak marah denganmu? Pertama, kau mengaum keras sekali saat aku hendak tidur. Kedua, dirimu mempermainkanku dengan para bawahan sialan itu. Dan yang ketiga yang paling sial dan menjengkelkan dalam hidupku! Aku ditenteng seperti plastik sampah oleh elang jelek itu lalu dilempar seperti dibuang begitu saja seperti sampah! Dasar CACING BIRU sialan!" Teriak Ling Tian tak bisa memendam kejengkelannya lagi.


"Ahahaha.."


Kali ini tinggal pak tua Wei Hun yang tertawa terbahak-bahak. Sementara Naga Biru menatap tajam kearah Ling Tian dan berdecak kesal dengan tawa pak tua Wei Hun.


"Eh.. Kenapa kamu tertawa senior?" Tanya Ling Tian yang masih belum memahami keadaan.


"Sudah sangat lama aku tidak mendengar kata-kata cacing biru untuk panggilan Sang Raja Beast di Hutan Gelap. Hahaha.. Mungkin terakhir kali adalah seribu lima ratus tahun yang lalu! Bukan begitu saudaraku? Hahaha.." ucap pak tua Wei Hun kepada Naga Biru dengan senyuman penuh arti.


Sementara Naga Biru sangat kesal. Dia sangat benci dwngan sebutan itu. Mengingatkan dengan awal mula dirinya yang seekor Binatang Suci bisa berada di Benua Langit alam fana. Garis-garis hitam tercetak jelas diwajahnya, kemudian berteriak,


"Sialan kau tua bangka! Apa kau ingin bertarung? Apa kau mau kupanggang dengan api biruku?"


"Hahaha.. Ayolah saudaraku! Tapi siapa takut? Akan kulahap apimu itu dengan hukum pelahap milikku," jawab pak tua Wei Hun masih dengan raut wajah santui seolah tanpa beban. Hal itu tentunya membuat Naga Biru semakin mendengus kesal namun dia tidak menanggapi lagi. Dia tahu betul hukum melahap milik Wei Hun yang sangat merepotkan. Segala macam serangan akan dengan mudahnya menghilang tertelan oleh pusaran angin pelahap segalanya. Kecuali jika dirinya lebih kuat daripada Wei Hun, masih ada kemungkinan dia bisa mengalahkan atau bahkan menghancurkan pusaran angin pelahap. Sementara saat ini kekuatannya hanya di ranah beast tingkat 7 atau setara dengan Wei Hun di ranah puncak Pendekar Berlian, maka mustahil dia mengalahkan Wei Hun.


"Cih.." Decak Naga Biru.


"Hei.. Heii.. Mengapa kalian malah saling bertengkar!" ucap Ling Tian.


"Hahaha.. Lupakan anak muda. Itu tidak penting! Baiklah, mari kita sembuhkan dulu luka-luka ditubuhmu itu! Kau cukup nekat juga ternyata. Menggunakan jurus yang sangat membebani tubuhmu. Tapi untung saja kau tidak meledak menjadi bubur daging." Kata Wei Hun.

__ADS_1


Wei Hun lalu berjalan mendekati Ling Tian.


"Duduklah dengan sikap lotus! Aku akan membuka sedikit segel dalam dantianmu sehingga kau mampu menggunakan energi qi meski hanya sepuluh persen. Namun sebelum itu, siapa namamu anak muda?" Tanya Wei Hun.


"Ling Tian!" Singkat Ling Tian tanpa basa-basi.


Deg!


Jantung Wei Hun dan Naga Biru tersentak kaget dan sepersekian detik jantung mereka berhenti berdetak. Ling Tian? Klan Ling? Apakah mereka salah mendengar? Tidak! Kedua kuping mereka masihlah berfungsi dengan baik dan normal. Jelas-jelas mereka mendengar Nama Klan Ling disebutkan oleh pemuda didepan mereka.


"Klan Ling?" Tanya Naga Biru memastikan.


"Benar. Apakah ada masalah dengan nama Klanku?" Tanya balik Ling Tian dengan kerutan didahinya.


Kerutan dikening Ling Tian semakin dalam. Dia memiringkan kepalanya dengan kebingungan memenuhi otaknya.


"Tentu saja! Tidak masalah. Tapi untuk apa?" Tanya Ling Tian yang sangat bingung namun tetap memberikan beberapa tetes darahnya kepada Wei Hun dengan cara menggigit ujung jari.


"Tidak apa-apa! Kami hanya ingin mengecek dan memastikan. Langkah bgaimana dan teknik apa yang akan aku berikan kepadamu nanti. Kau tunggulah sebentar disini!" Bohong Wei Hun yang dibalas Ling Tian dengan anggukan.


"Naga kecil! Ikut aku!" Lanjutnya.


"Tentu." Jawab Naga Biru.

__ADS_1


Tiba-tiba sebuah cahaya biru keemasan yang menyilaukan menyelimuti tubuh besar Naga Biru. Sekejap kemudian cahaya meredup dan dapat dilihat seorang pemuda sangat tampan kisaran terlihat seperti berumur enam belas tahun langsung melesat menyusul Wei Hun yang telah mendahuluinya.


"Wuaaahh! Ternyata Cacing Biru sialan itu bisa awakening menjadi manusia! Dan juga cukup tampan? Heh.. Tapi masih dibawahku!" ujar Ling Tian dengan sifat narsisnya yang kembali kumat.


***


Sementara itu didalam istana, Wei Hun yang telah sampai disebuah tempat, ia bersegera mengeluarkan sebuah batu yang cukup besar yang memiliki altar kuno diatasnya dengan dipenuhi pola-pola rumit tanda sebuah formasi. Altar itu bernama Alltar Pelacak Darah. Wei Hun segera melemparkan darah Ling Tian diatas altar.


Darah itu melayang dengan tenang. Tanpa berlama-lama Wei Hun mengalirkan energi qi yang cukup banyak kealtar kuno. Sebagai tanggapan, altar itu mulai bersinar merah terang layaknya darah segar.


Naga Biru pun sampai. Belum sempat dirinya berkata, Wei Hun sudah berucap dengan setengah teriak,


"Cepat bantu aku! Alirkan energi qi milikmu ka arah altar! Cepaat!"


"Baik."


Naga Biru melakukan hal yang sama dengan Wei Hun. Sinar altar semakin kuat dan terang. Bukan hanya itu saja, aura yang sangat kuat tiba-tiba muncul. Beberapa menit kemudian sinar itu berkumpul pada satu titik yang mana darah Ling Tian melayang berada ditengah-tengahnya.


Tak berselang lama, sinar tersebut meredup karena terserap oleh darah milik Ling Tian. Darah Ling Tian yang awalnya berwarna layaknya darah umumnya manusia, sedikit demi sedikit berubah menjadi keemasan dan terus berubah hingga berwana emas sempurna disertai cahaya yang mencuat keluar dan mengelilingi.


Wei Hun dan Naga Biru memelototkan kedua matanya. Mereka tidak percaya dengan apa yang saat ini dilihatnya.


"D-darah i-ini?" Ucap Naga Biru terbata-bata.

__ADS_1


"Shen Zhu Ling!"


__ADS_2