Ling Tian

Ling Tian
Hukuman


__ADS_3

Ling Tian buru-buru pergi untuk mengantarkan Ling Lianhua di rumah kemudian mencari keberadaan dari Feng Lanse'er dan juga Bai Si'er di tempat pelatihan murid Klan Ling.


Setelah mendapati keduanya sedang melatih para murid, dia menunggunya sampai pelatihan dari para murid itu selesai. Ling Tian memberikan pesan melalui telepati kepada keduanya untuk mendekat kepadanya.


"Salam Tuan Muda!" ucap keduanya sembari menangkupkan kedua tangannya untuk memberikan rasa hormat.


"Salam kedua saudari!" ujar Ling Tian membalas.


"Ada apa Tuan Muda mencari kami? Apakah ada sesuatu hal yang mendesak?" tanya Feng Lanse'er penasaran.


"Hah! Benar sekali! Saudari Feng, saudari Si'er! Aku memberi tugas kepada kalian berdua untuk menangkap saudara Ling We dan juga kucing hitam jadi-jadian itu! Mereka berdua telah membuat onar lagi dengan mencuri ikan-ikan milik Tetua Kelima!" kata Ling Tian menjelaskan.


"Apaaaa..! Beraninya..! Baik Tuan Muda! Aku pastikan akan menangkap mereka berdua dan akan menghukum suami bodoh itu! Mari saudari Feng, kita cari dan bekukan mereka!" seru Bai Si'er dengan marah karena Mao An pastilah dalang di balik semua ini.


"Baik suadari Si'er!" angguk Feng Lanse'er lalu berubah menjadi burung Phoenix biru yang sangat indah yang diikuti oleh Bai Si'er yang bertransformasi menjadi singa putih betina yang terlihat sangat garang kemudian pergi meninggalkan Ling Tian seorang diri diempat itu tanpa berpamitan lagi.


"Haiihhh.. Mereka terlalu bersemangat sehingga sampai melupakan aku," ucap Ling Tian sembari menghela nafas panjangnya.


"Semoga kalian baik-baik saja saudara We dan An." ucapnya lagi lalu pergi meninggalkan tenpat pelatihan para murid dan kembali di kediaman ayah dan ibunya.


Ling Tian tidak terlalu khawatir akan kedua gadis itu tidak dapat menemukan dua pembuat onar, karena dengan keberadaan Feng Lanse'er yang sebenarnya adalah sosok Dewi Phoenix maka kedua pembuat onar itu pastilah tidak akan berdaya sama sekali.


***


Di Hutan.


"Ha-hachiiimmm..!"

__ADS_1


Ling We dan Mao An tiba-tiba bersin dengan serentak dan merasakan seluruh tubuh mereka menggigil untuk beberapa saat.


"Ada apa dengan kita? Mengapa tiba-tiba kita bersin secara serentak seperti ini? Dan mengapa pula tubuhku menggigil seperti ini seperti akan ada sesuatu yang mengerikan akan menimpa diriku?" ucap Ling We yang bertanya-tanya.


"Aku juga merasakan firasat yang sangat buruk akan menimpa kita. Tapi aku juga tidak tahu apakah itu," kata Mao An yang masih merasakan getaran dari tubuhnya yang menggigil.


"Sudahlah saudaraku! Lebih baik lupakan saja hal tidak penting ini. Dan keluarkan lagi ikan yang tersisa dari hasil jarahan kita ditempat Tetua Kelima!" seru Ling We yang mengajak untuk berfikiran positif saja.


Belum sempat Mao An mengucapkan kata-katanya dari mulutnya yang sudah terbuka untuk menjawab seruan dari Ling We, tiba-tiba suara seseorang yang sangat dikenalinya terdengar di telinga Mao An dan itu sangatlah dingin sekali nadanya.


"Ternyata benar kalian berdualah pembuat onar itu,"


"Hmm.. Saudari Feng! Tolong buatlah array kurungan agar mereka tidak bisa kabur!" pinta Bai Si'er kepada Feng Lanse'er melalui telepati yang kemudian langsung diangguki oleh Dewi Phoenix itu.


Mao An dan Ling We yang mendengarkan kata-kata dingin itu langsung menelan ludah dengan kasar. Mereka berdua langsung berdiskusi dengan menggunakan telepati untuk merencanakan bagaimana cara kabur dari terkaman singa betina itu.


"Tenang saudaraku, tenang! Aku juga sedang memikirkannya. Lagi pula bukan hanya singa betina itu saja yang mengejar kita, di atas langit ada saudari Feng yang juga ikut memantau!" ujar Mao An yang juga panik dan kebingungan.


Kedua pembuat onar itu terus berdiskusi untuk rencana pelarian mereka. Hingga pada akhirnya mereka berdua sepakat untuk berlari ke arah yang berlawanan lalu bertemu kembali di satu titik yang telah disepakati.


Keduanya pun langsung melesat dengan kecepatan tinggi meninggalkan tempat pesta mereka selama beberapa hari terakhir namun kecepatan mereka masihlah kalah dengan kecepatan sebuah array yang berbentuk jaring laba-laba yang tiba-tiba muncul mengurung mereka.


"Sial!" teriak keduanya di dalam hati mereka.


Feng Lanse'er dan Bai Si'er kembali berubah dalam bentuk manusia lalu muncul didekat Mao An sembari tersenyum menyeringai.


"Hahaha.. Ingin kabur? Jangan harap!" seru Feng Lanse'er dengan dingin lalu membuat array kurungan itu mengecil dan terus mengecil hingga berdiameter 2-3 meter saja sehingga Mao An dan juga Ling We yang terperangkap di dalamnya berdesakan dan berusaha untuk melepaskannya.

__ADS_1


"Oh.. Sudari Feng dan istriku yang cantik jelita.. Maafkan aku yang khilaf ini. Tolong lepaskan kami yang lemah ini yah.." ucap Mao An yang berusaha untuk membujuk kedua wanita itu dengan memuji-mujinya karena biasanya wanita itu sangatlah tidak bisa menahan diri jika dipuji.


Swoosshh...


Sebuah api berwarna biru muncul dari telapak tangan Feng Lanse'er dan langsung membakar wajah dari Mao An hingga gosong.


"Awww.. Aww.. Panas! Ampun saudari Feng!" teriak Mao An sembari berusaha memadamkan api Feng Lanse'er.


"Bicara omong kosong sedikit saja, aku pasti akan membakarmu lagi!" ucap Feng Lanse'er acuh tak acuh.


"Suamiku.. Apa masih panas?" tanya Bai Si'er dengan nada lembut dan tersenyum dengan manis. Namun Mao An langsung merasakan firasat buruk saat melihat senyuman itu.


"Ehemm.. Benar sekali istri cantikku. Wajahku terasa nanas sekali," jawab Mao An dengan manja dan dibuat-buat.


"Kalau begitu, sebagai istri yang baik, aku akan mendinginkannya!" ujar Bai Si'er lalu membekukan wajah Mao An dengan elemen es miliknya.


Ling We langsung menelan ludahnya dengan kasar saat melihat betapa tidak ada ampunnya kedua wanita dihadapannya ini. Dia mencoba untuk sebisa mungkin diam dan tidak berbicara sedikitpun seolah-olah dia sangat menyesali perbuatannya yang membuat onar.


"Saudara We! Kamu sangat pendiam ternyata! Seperti anak anjing yang penurut dan tidak banyak tingkah," kata Feng Lanse'er dengan senyuman menawannya.


Ling We langsung tersentak dan kepercayaan hatinya yang sebelumnya langsunglah hancur berkeping-keping saat mendengar penuturan Feng Lanse'er yang sepertinya juga tidak akan melepaskannya dari hukuman. Wajahnya yang tenang juga langsung berubah menjadi terlihat sangat gelisah.


"Ehem.. Ayolah saudari Feng! Tolong maafkan aku! Jangan bawa kami ke aula kehakiman yah.." kata Ling We dengan tatapan mata memohon dan benar-benar seperti mata anak anjing sekarang.


"Diam!" seru Feng Lanse'er sambil membakar wajah Ling We.


"Awww.. Awww.. Ampun saudari Feng! Baik, aku akan diam!" teriak Ling We yang kepanasan.

__ADS_1


Setelah itu mereka berdua pun dibawa oleh kedua gadis itu dengan cara dicangking oleh Feng Lanse'er layaknya seonggok sampah yang tidak berguna. Lalu sesampainya mereka di Klan Ling, keduanya langsung dihukum dengan berbagai macam hukuman dan benar-benar berakhir dengan digantung di depan pintu gerbang klan dengan kaki di atas, kepala dibawah dan dengan tanpa mengenakan baju. Sungguh nasib yang sangatlah sial untuk kedua pembuat onar itu!


__ADS_2