
"Apa yang kalian lakukan? Cepat berdiri!" ucap Ling Tian dengan nada sedikit meninggi. Dia sangat tidak suka akan hal seperti ini. Menurutnya, hanya kedua orang tua lah yang pantas menerima sembah sujud seperti itu.
"Y-yang Mulia! Hamba yang rendah ini tidak berani!" ujar leluhur Gou Ku yang masih saja bersujud dengan semua anggota Klan Gou.
"Mengapa kau mengatakan hal demikian? Apa yang mendasari ucapanmu itu? Lalu siapa Shen Zhu Ling itu?" ujar Ling Tian membuat runtutan pertanyaan.
"Shen Zhu Ling adalah nama marga daei penguasa seluruh alam maka kami sebagai orang rendahan wajib bersujud dengan keturunan trah Shen Zhu Ling!" jawab Gou Ku.
"Haiis.. Ada-ada saja! Kalian bangunlah! Kalian ini mungkin salah orang! Aku dari Klan Ling di daratan timur Benua Langit! Bukan Shen Zhu Ling seperti yang kalian maksudkan!" ujar Ling Tian tak berdaya.
"Yang Mulia! Bolehkan kami melihat elemen petir milik Yang Mulia?" tanya leluhur Gou Ku yang cukup mengejutkan Ling Tian. Pasalnya seolah orang tua itu mengerti bahwa dia memiliki elemen petir.
"Baik! Tapi berjanjilah setelah aku mengeluarkan elemen petirku maka kalian harus berdiri dan jangan pernah berlutut lagi didepanku atau bahkan bersujud!" ucap Ling Tian.
"Oiya, jangan menyebutku dengan kata Yang Mulia! Itu sungguh tidak enak ditelingaku!" imbuh Ling Tian.
"B-baik!" ucap semua orang lalu berdiri dari bersujudnya.
Melihat semua orang telah berdiri dan berjanji untuk tidak berlutut, Ling Tian mengeluarkan elemen petirnya yang mana petir itu adalah petir yang berwarna hitam.
Track! Track!
Petir hitam dengan aura penghancur yang sangat mengerikan berderak-derak ditangan Ling Tian. Semua orang menjadi sangat takjub dengan petir itu. Kini mereka seratus persen yakin bahwa Klan Ling yang disebutkan oleh Ling Tian adalah trah Shen Zhu Ling.
Sebenarnya Ling Tian bisa saja mengeluarkan petir tanpa warna miliknya. Namun dia tidak melakukannya karena petir itu hanya petir yang ada pada dongeng-dongeng orang yang ada di alam semesta.
"Sekarang bagaimana? Apa kalian semua sudah puas?" tanya Ling Tian.
__ADS_1
"Sudah Tuan Muda! Terima kasih!" ujar semua orang dari Klan Gou.
"Apakah Klan Ling adalah Shen Zhu Ling yang kalian maksudkan?" tanya Ling Tian.
"Benar Tuan Muda! Hanya orang-orang dari trah Shen Zhu Ling yang memiliki petir berwarna hitam!" jawab Gou Rie sambil tersenyum.
Ling Tian tidak percaya dengan apa yang dia dengarkan. Jika tahu akan seperti ini, maka dia akan mengeluarkan petir tanpa warna yang ada dalam dongeng itu agar orang-orang ini tidak terlalu berlebihan dalam menghormatinya.
Ling Tian hanya tersenyum tak berdaya sambil menggelengkan kepalanya. Setelah itu, Ling Tian meminta kepada para anggota Klan Gou ini untuk memanggil empat klan hewan iblis lainnya karena dia ingin membicarakan sesuatu kepada mereka semua.
"Baik Tuan Muda!" ucap semua orang.
Semua orang kecuali dua leluhur Gou Ku dan Gou Rie pergi meninggalkan aula pertemuan. Ling Tian disuguhi dengan berbagai macam makanan dan buah-buahan yang lezat. Dia dan kedua leluhur Klan Gou itu berbincang-bincang santai sambil menunggu orang-orang dari empat klan lainnya.
Waktu terus berlalu, setelah menunggu selama hampir tiga jam lamanya, delapan orang tua dengan dua puluh pria dan wanita baya datang memasuki aula pertemuan Klan Gou. Mereka adalah para leluhur dari empat klan beserta para petingginya.
"Selamat datang para tua bangka sekalian! Silakan duduk!" ucap Gou Ku dengan kaku. Dia sebenarnya tidak menyukai orang-orang ini karena suatu alasan. Namun karena yang menyuruhnya adalah Ling Tian, maka dia mau tidak mau harus menyambut mereka.
"Cih! Lama tidak berjumpa orang tua Gou!" sahut leluhur dari Klan Tuzi, Tuzi Un.
"Hahaha.. Benar sekali! Jika bukan karena Tuan Muda tidak memintaku untuk mengumpulkan kalian disini, mana mungkin kita akan bertemu seperti ini!" ujar Gou Ku dengan senyum masam.
"Tuan Muda? Tuan Muda siapakah yang kau maksudkan tua bangka?" tanya leluhur lain dari Klan Chong, Chong Wang.
"Hahaha.. Kalian para orang tua dan bocah-bocah kemaren sore tidak perlu banyak tanya! Silakan masuk dan duduklah dulu! Nanti Tuan Muda yang akan menyampaikan semuanya!" ucap Gou Ku yang tidak ingin tanya jawabnya dengan para leluhur empat klan lain itu berujung dengan berdebat.
Delapan leluhur dan dua puluh petinggi dari Klan Tuzi, Klan Tunzhu, Klan Kao dan Klan Chong akhirnya hanya menurut saja. Namun tatapan mereka tidaklah lepas dari pemuda tanpa aura yang sedang duduk diatas kursi utama.
__ADS_1
Tatapan tidak suka jelas ada pada mata mereka. Mereka mencibir dalam hati atas kelakuan Klan Gou yang dengan sembarangan menempatkan pemuda sampah dan tidak berguna diatas kursi utama.
"Orang tua Ku! Apa maksudmu menenpatkan pemuda sampah itu diatas kursi utama? Apakah kalian ingin menghina kami dengan hal ini?" tanya leluhur dari Klan Kao, Kao Fuxi.
"Lancang!" teriak Patriark, Tetua Agung dan para Tetua dari Klan Gou yang baru memasuki aula.
"Beraninya kau tua bangka mengatakan hal itu kepada Tuan Muda! Apa Klan Kao sudah tidak ingin hidup lagi di Dunia Jimi De?" bentak Patriark Gou Heng tanpa takut sedikitpun.
"Kau! Bocah sialan! Beraninya kau tidak sopan denganku! Apa kau ingin bertarung?" balas leluhur Kao Fuxi dengan marah.
"Siapa takut! Aku Gou Heng akan meladeni tua bangka bau tanah sepertimu dengan senang hati!" ujar Gou Heng sengit.
"Kalian berdua diam!" teriak Gou Ku dan Gou Rie bersamaan. Aura ranah Pendekar Berlian Puncak meledak dari tubuh mereka membuat semua orang menjadi sangat waspada.
Terlebih untuk para Patriark dan Tetua dari empat klan lainnya. Selama ini hanya orang-orang dari Klan Tunzhu atau klan marmut listriklah yang belum memberikan tanggapannya. Mereka hanya diam karena kedua leluhur mereka memerintahkan untuk diam dan menonton saja apa yang akan diperlihatkan oleh ketiga klan lainnya.
Selain itu, kedua leluhur Klan Tunzhu tidaklah bodoh. Mereka berfikir rasional. Mana mungkin klan sekuat dan sehebat Klan Gou akan menghormati pemuda tanpa aura itu jika memang pemuda itu adalah sampah tidak berguna.
Menurut kedua leluhur Klan Tunzhu hal itu sangatlah mustahil. Terlebih dengan melihat ekspresi tenang yang dikeluarkan oleh pemuda itu setelah kedua leluhur dari Klan Gou meledakkan kekuatan puncaknya menambah keyakinan orang-orang dari Klan Tunzhu ini akan ketidak biasaan dari pemuda yang terlihat biasa itu.
Setelah kedua leluhur meledakkan aura puncaknya, bukan malah perdebatan itu terhenti, justru para leluhur dari tiga klan lain kecuali Klan Tunzhu juga ikut meledakkan auranya sehingga suasana di aula itu sangatlah mencekam.
Bhuussshhh...
Tiba-tiba sebuah ledakan niat membunuh yang maha dahsyat dan kuat menyebar kesegala arah tanpa pandang bulu. Membuat semua orang yang ada di aula pertemuan Klan Gou itu merasa seperti ditusuk dadanya dengan tombak, lalu dicekik lehernya dan mereka tidak bisa melawannya sama sekali.
Bahkan beberapa diantara para Patriak dan Tetua dari kelima klan bawahan Dewa Neraka Kuno itu langsung terjatuh sambil memuntahkan banyak darah karena tidak kuat.
__ADS_1
"Apa kalian sudah selesai?" tanya sebuah suara pemuda yang tidak lain adalah Ling Tian.