
Di lain sisi, Mao An yang sedang menonton pertarungan Ling Tian dan pria paruh baya jelmaan ular berkepala tiga yang mulai pada tingkat keseriusan tiba-tiba diserang oleh kedua pemuda lainnya.
Bammm...
Tapaknya menghadang serangan keduanya namun dirinya tetap terlempar beberapa meter karena ketidak seimbangan jumlah dan kekuatan.
"Kampret! Kalian bocah-bocah ular kemarin sore beraninya menyerangku secara membokong? Pengecut!" umpat Mao An.
"Hehe.. Jika kau memanggil kami bocah ular kemarin sore, maka itu berarti kamu adalah kucing tua bau tanah!" ucap salah satu dari kedua pemuda tersebut sambil terkekeh.
"Brengs*k! Dimana sopan santun kalian kepada orang tua? Dan lagi apakah kalian tidak mengerti bahwa dimanapun tempat ular itu selalu takut dan menghindari kucing? Mengapa kalian malah justru arogan?" Mao An bertanya keheranan namun sangat konyol.
"Cih! Itu jika kebiasaan hewan liar biasa! Bukan dengan kami!" jawab salah satu pemuda dengan sengit. Dia sungguh tidak terima jika disamakan dengan apa yang diucapkan Mao An sebelumnya meski dalam hatinya mengakui bahwa sampai kapan pun ular akan tetap takut terhadap kucing.
"Hahaha.. Benarkah? Meskipun kalian cukup kuat! Sekali ular maka tetaplah ular! Dan aku adalah kucing hitam yang mendominasi!" ucap Mao An sambil tertawa terbahak-bahak.
"Bajing*n! Saudaraku! Ayo gebuki kucing bau tanah itu sampai mati!" ucap salah satu pemuda kepada pemuda yang lain.
"Baik!" jawab saudaranya.
Mereka berdua lalu melesat mendekati Mao An lalu menyerang secara bersamaan dengan serangan tapak.
Swoshh...
"Cih! Ular-ular lemah sukanya main keroyokan! Datanglah kalian berdua!" ucap Mao An lalu mengalirkan cukup banyak Qi pada tangan kanannya lalu ikut melesat menghadang serangan kedua lawannya.
Zheep!
"Makan itu cakar!" teriak Mao An sambil mengayunkan dengan kuat tangan kanannya.
Swoosshh...
Tiga bilah cahaya berbentuk layaknya cakar melesat dengan kecepatan tinggi mendahului Mao An dan bertemu dengan kedua tapak berwarna hitam.
Boommmmm...
Ledakan super dahsyat dengan bumi yang tergoncang serta aliran udara yang tidak stabil terjadi membuat area pertempuran ketiga ras beast itu hancur luluh lantak.
Ketiganya terpental mundur puluhan meter lalu dengan cepat bangkit kembali.
"Sangat kuat!" ucap kedua pemuda dari jelmaan beast ular kepala tiga yang sangat terkejut.
Keduanya sangat tidak menyangka bahwa si kucing hitam Mao An yang tingkatan kultivasinya sama dengan mereka mampu mengimbangi serangan gabungan keduanya.
Hal itu sangat wajar karena Mao An memiliki pondasi kultivasi yang lebih solid daripada kedua pemuda ras beast ular kepala tiga. Bagaimana mungkin tidak? Mao An menaikkan kultivasinya dengan mengkonsumsi serta menyerap esensi buah-buahan abadi, maka sangat tidak etis jika dia kalah dengan keduanya.
"Cih! Ternyata kekuatan gabungan kalian sangatlah lemah!" ucap Mao An mencibir sambil mengibaskan tangannya pada pakaiannya yang kotor karena debu.
__ADS_1
"Sangat sombong!" teriak mereka berdua bersamaan lalu kembali melesat mengeroyok Mao An.
Bamm... Bamm...
Bamm...
Pertarungan ketiganya berlangsung dengan sengit dengan ledakan demi ledakan yang terus terdengar memekakkan telinga saat kedua serangan tapak atau tendangan yang saling bertemu.
"Sampai kapan pun yang namanya kucing itu selalu mendominasi daripada ular!" ucap Mao An terus memprovokasi disela-sela pertarungannya.
"Kucing keparat! Apa mulutmu bisa diam!" seru salah satu pemuda geram dengan mulut Mao An yang terus mengeluarkan ocehan yang mengganggu.
"Hahaha.. Ular kecil! Terima cakarku!" ucap Mao An tertawa sambil melesatkan cakarnya kepada pemuda yang terprovokasi.
Swoshhh...
Srak!
"Akkhh.."
Cakar Mao An mengenai lengan kiri pemuda tersebut. Dia buru-buru mundur menjaga jarak dari Mao An. Darah segar berwarna merah kehijauan mengalir dengan deras dari lukanya. Dengan cepat dia mengalirkan Qi untuk menghentikan pendarahan.
Melihat saudaranya terluka terkena serangan cakar Mao An dan sedang ingin menjaga jarak, pemuda yang satu lagi dengan cekatan menghadang Mao An yang ingin memberikan serangan susulan.
"Keparat! Aku akan membunuhmu!" teriak pemuda tersebut menghadang cakar Mao An.
Swooshh...
Bammm... Sraak!
"Ugh!"
Pemuda itu terpental jauh karena evek ledakan dengan luka cakar memanjang didadanya. Darah segar pun mengalir dengan deras layaknya sebuah sungai.
"Haha.. Bagaimana ular-ular kecil? Apakah masih mau dilanjut?" ucap Mao An bertanya dengan menyeringai.
"Sialan!" teriak kedua pemuda itu bersamaan.
Mao An lalu bergerak dengan cepat mendekati salah satu pemuda.
Plaaakkk!
Swuusshh...
Bammmm...
Tamparannya yang telak mengenai wajah pemuda itu dan menerbangkannya hingga puluhan meter. Tidak puas dengan hanya menampar salah satunya, Mao An bergerak sangat cepat menghampiri pemuda yang lain dan memberikan serangan yang sukses membuat pemuda itu mencium telapak kaki sandal yang Mao An kenakan.
__ADS_1
Buak!
Swuusshh...
Bammm...
"Ukhuk!"
Pemuda itu terlempar menghantam tanah dengan keras dan terbatuk darah. Dia dan pemuda yang lain terkapar tidak berdaya diatas ceruk tanah yang dihasilkan karena hantaman tubuh mereka
"Huh! Itu adalah pelajaran bagi bocah-bocah yang tidak punya sopan santun kepada yang lebih tua!" ucap Mao An lalu menghampiri kedua pemuda itu dan menghajarnya sampai babak belur. Tidak lupa Mao An menjewer telinganya sampai hendak robek sebagai peringatan keras darinya.
"Dasar bocah-bocah nakal!" ucapnya sambil menyeret kedua pemuda itu dengan telinga yang terus dijapit jari.
"Aaakhhh.. Ampun senior! Ampuni kami!" ucap salah satu pemuda.
"Senior! Aakkhh.. Telingaku mau robek senior! Ampun!" teriak pemuda yang satu lagi.
"Cih! Kalian sebelumnya begitu arogan dan percaya diri ingin mengalahkanku? Dimana sikap itu sekarang hah?" Mao An berkata dengan geram seolah dia adalah sosok orang tua yang sedang memarahi kedua putranya yang sangat bandel.
"Tidak senior! Tidaaak! Aaaww.. Sakit! Kami tidak berani! Tolong lepaskan tangan senior!" ucap salah satu pemuda yang sudah menangis karena sudah tidak bisa menahan lagi rasa sakit pada telinganya.
Mao An dengan santai terus berjalan mondar-mandir kesana kemari membuat kedua pemuda dari ras beast ular kepala ketiga itu berteriak minta tolong untuk dilepaskan.
.
.
Di lain sisi, tanpa memperhatikan apa yang sedang dilakukan Mao An kepada kedua pemuda, Ling Tian dan pria paruh baya yang memiliki kekuatan Ranah Raja Tahap Awal terus bertarung dengan sengit.
Boomm... Boomm...
Boommm...
Pria paruh baya itu sudah mengerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya untuk mengalahkan Ling Tian. Namun lawannya atau Ling Tian masih saja sehat wal afiyat tanpa goresan luka sedikit pun karena memang tubuhnya tidak akan pernah bisa terluka.
Terlebih Ling Tian selalu saja dapat menghindari serangan fatal yang dilancarkan pria paruh baya tersebut.
'Bajing*n! Ternyata bocah ini sangat kuat dan lincah seperti tupai!' gumam pria paruh baya itu menggerutu.
"Bocah keparat! Apa kau hanya bisa menghindar dan melompat-lompat seperti kodok?" seru pria paruh baya memprovokasi.
"Hah! Seranganmu saja yang terlalu lambat seperti keong! Cih!" sahut Ling Tian tidak mau kalah.
"Keparat! Aku akan membunuhmu!" teriak pria paruh baya lalu menyerang dengan membabi-buta disertai ledakan elemen racun yang dia miliki.
"Aku bahkah sudah lupa berapa kali kau mengatakan hal itu! Namun lihatlah! Aku masih sehat jasmani dan rohani!" ucap Ling Tian sambil terus menghindar dari serangan racun yang dilancarkan pria paruh baya.
__ADS_1