
Ling Tian yang mendengar ucapan dan menyaksikan Wei Ziin menyeringai iblis kepada prajurit surgawi hanya menggelengkan kepalanya. Dia dibuat tidak berdaya dengan semua ini.
"Haaiih.. Untung saja adik Ziin sangat cantik! Jika saja tidak? Ah! Aku tak bisa membayangkannya!" lemas Ling Tian.
Benar saja! Setelah mengucapkan itu, Wei Ziin berubah menjadi ganas dalam setiap serangannya. Hanya butuh waktu lima belas menit untuk Wei Ziin membuat prajurit surgawi roboh dan terjatuh ketanah.
Prajurit surgawi itu sudah terpotong semua bagian kaki dan tangannya. Benar-benar sadis sekali Wei Ziin.
"Satu kali tebasan, mati kau!" ucap Wei Ziin yang masih melayang diudara.
"Ziin'er.. Cepatlah! Jangan menunda-nunda lagi! Sepertinya kita telah telat mengikuti rapat!" ujar Ling Tian dengan berteriak.
"Baik kakak!" sahut Wei Ziin.
Wei Ziin memandangi prqjurit surgawi dengan senyum mengejek.
"Kamu sangat beruntung karena kami sedang terburu-buru. Jadi aku tidak bisa terlalu lama menyiksamu. Baik! Sekarang matilah!" ujar Wei Ziin sambil mengayunkan pedang pusak tingkat hijaunya ke leher prajurit surgawi.
Jrezz..
Kepala prajurit surgawi terpotong dengan rapi. Tak lama kemudian semuanya melebur menjadi pertikel-partikel cahaya keemasan yang masuk kedalam tubuh Wei Ziin dan membuatnya menjadi semakin kuat serta menyembuhkan seluruh luka-lukanya.
Bhuuzzhh...
Ledakan aura ranah Pendekar Platinum Awal menyebar kesegala arah dan membuat bumi yang dipijaki sedikit bergetar.
"Inikah ranah Pendekar Platinum yang sesungguhnya? Sangat kuat! Aku merasa, melawan sembilan bintang penuh diatasku bukanlah masalah yang serius untukku!" ucap Wei Ziin lirih. Senyuman dibibirnya juga tidak bisa untul tidak mengembang.
"Selamat adik Ziin! Kamu telah melewati petir kesengsaraan surgawi dengan baik! Selamat atas terobosannya!" ujar Ling Tian yang tiba-tiba muncul di samping Wei Ziin.
"Ah.. Kakak! Terima kasih. Ini semua juga berkat bantuan dan semangat darimu!" kata Wei Ziin.
"Yasudah.. Yasudah.. Sekarang kamu gantilah pakaianmu dulu! Lihatlah.. Bajumu begitu compang-camping dan banyak bagian tubuhmu yang terlihat!" ujar Ling Tian dengan nyengir kuda dan tanpa dosa.
Seketika wajah Wei Ziin langsung memerah karena malu.
Zheep!
Wei Ziin langsung menghilang dan melesat menuju istana Ling untuk berganti pakaian. Dia juga tidak habis pikir, kakak Ling Tiannya begitu bodoh dan polos mengatakan bagian tubuhnya terlihat. Sial!
Setelah beberapa menit lamanya, Wei Ziin akhirnya keluar daria kamar dengan kembali ke tampilan terbaiknya. Namun kali ini ada yang berbeda dari pancaran aura dan raut wajahnya. Aura kebangsawanan yang sangat mendominasi dan raut wajahnya tampak lebih dewasa dari sebelum-sebelumnya.
__ADS_1
"Sudah selesai?" tanya Ling Tian yang sudah duduk di kursi yang ada didalam ruang tamu istana Ling.
"Sudah kakak!" jawab Wei Ziin.
"Baiklah.. Mari kita keluar sekarang! Sepertinya kita sudah sedikit telat mengikuti rapat di Klan Ling!" tutur Ling Tian.
"En.." Wei Ziin hanya mengangguk pelan sebagai jawaban.
Ling Tian berdiri dari duduknya dan berjalan keluar dari istana Ling. Dengan gerakan ringan di tangan, Ling Tian membuat segel guna membuka gerbang dunia jiwa.
Zhuuung!
Pusaran angin putih keemasan segera terbentuk dan membesar hingga cukup untul dilewati empat orang sekaligus.
"Mari adik Ziin!" ajak Ling Tian.
"Iya.. Silakan kakak Tian!" sahut Wei Ziin.
Zheep!
Keduanya masuk dan menghilang dari halaman istana Ling dunia jiwa.
Klan Ling.
Didalam aula pertemuan Klan Ling, seluruh Tetua atau Petinggi yang jumlahnya dua kali lipat banyaknya dari sebelum-sebelumnya sedang mengadakan rapat guna membahas turnamen. Dapat dilihat juga ada seorang pemuda biasa saja dengan wajah yang biasa saja pula juga ikut dalam pertemuan penting tersebut. Bahkan mungkin terlihat wajah sangat malas dan bosan dari rautnya. Benar! Pemuda itu adalah Ling We, sahabat karib Ling Tian yang kini menjadi Tetua Ke-Dua Puluh sekaligus yang termuda di Klan Ling.
"Acara turnamen akan diadakan sepuluh hari lagi! Apakah ada metode yang kiranya terbaik menurut kalian?" tanya Patriark Ling Bo Teng yang menjadi pimpinan rapat.
"Patriark! Sepertinya untuk acara turnamennya, lebih baik dijalankan seperti biasanya saja!" ujar Tetua Kedelapan.
"Maksud Tetua Kedelapan turnamen akan dibagi menjadi dua tahapan?" tanya Patriark Ling.
"Benar Patriark! Tahapan pertama yaitu pertarungan bebas! Semua peserta bebas menyerang siapa saja dan menyisakan enam belas orang yang akan masuk ke acara inti yaitu lawan tanding satu-satu hingga memenangkan pertarungan dan menjadi juara!" tutur Tetua Kedelapan.
"Aku juga setuju dengan Tetua Kedelapan! Ini cukup praktis untuk acara turnamen!" ucap Tetua Kedua yang dijabat oleh Ling Lian Zong, ayah Ling Lianhua.
"Benar! Aku juga setuju!"
"Aku juga!"
Beberapa Tetua menyuarakan persetujuannya akan pendapat Tetua Kedelapan. Sementara Tetua yang lainnya masih saja diam bahkan untuk Patriark Ling Bo Teng dan adiknya Ling Jun yang menjadi Tetua Pertama sekaligus ayah dari Ling Tian. Mereka malah seperti sedang menunggu seseorang. Ya! Memang benar! Mereka memang sedang menunggu kedatangan Ling Tian.
__ADS_1
"Baiklah.. Saran dari Tetua Kedelapan akan diperhitungkan dengan matang-matang. Sekarang senior Wei, Yuan'er, Mao An atau kamu Zhuge Ruxu! Mungkin kalian ada sedikit saran?" tanya Ling Bo Teng mengalihkan pandangan kepada keempat orang asing yang ada di rapat pertemuan itu.
Wei Hun, Long Yuan, Mao An dan Zhuge Ruxu dibuat mengerutkan kening saat mereka dimintai pendapat tentang jalannya turnamen nantinya. Padahal mereka sebelumnya hanya duduk santai sambil meminum teh hangat yang tersaji didepannya ditemani sedikit cemilan yang ada.
"Menurutku ide yang disampaikan oleh Tetua Kedelapan memanglah cukup sederhana dan tidak merepotkan kita!" ujar Wei Hun mengangguk.
"Tapi sepertinya kalian tidak perlu repot-repot untuk membahas hal ini!" tambah Long Yuan.
"Benar!" Zhuge Ruxu membenarkan.
"Mengapa demikian Yuan'er?" kini giliran Ling Jun yang bertanya sekaligus membuka suara.
"Karena Ling Tian itu sepertinya juga sudah menyiapkan semuanya dengan matang-matang! Bukankah aku benar bocah bau!" jawab Long Yuan dengan sedikit sinis melihat kearah pintu masuk aula pertemuan.
Zheepp!
"Hahaha.. Kamu memang selalu tahu cacing biru kecil!" ujar Ling Tian dengan gelak tawanya yang tiba-tiba muncul dari udara tipis bersama dengan Wei Ziin.
"Cih! Dasar bocah bau! Aku tentu tahu isi otakmu itu jika mengenai hal-hal penting seperti ini!" cibir Ling Yuan.
Ling Tian tidak menyahut cibiran Long Yuan. Dia dan Wei Ziin menangkupkan kedua tangannya untuk memberi hormat kepada semua Petinggi atau Tetua Klan Ling.
"Salam Tetua sekalian!" ucap mereka berdua dengan serentak.
"Salam!" ujar semua Tetua juga dengan menangkupkan kedua tangan.
"Salam Tian'er, salam Ziin'er! Silakan duduk!" ujar Patriark Ling.
"Baik paman!" turut Ling Tian dan Wei Ziin.
Ling Tian dan Wei Ziin menempati tempat duduk yang tersedia dan duduk dengan tenang. Setelah menempatkan bokongnya dengan nyaman, Ling Tian memandangi seluruh Tetua Klan Ling. Namun tiba-tiba keningnya dibuat mengerut.
"Eh.. Saudara We? Kau ada disini juga? Dan kekuatanmu?" Ling Tian sangat terkejut saat saudara sekonyolnya itu juga duduk dijajaran para Tetua Klan.
"Ayolah saudara Tian! Kau uraikan dengan cepat rencanamu untuk acara turnamennya! Kau tahu bukan hal ini itu sangat membosankan!" jawab Ling We dengan malas dan bodoh amat kepada semua tetua yang menganggapnya aneh.
"Hahaha.." Ling Tian tertawa dengan pecah saat mendapati ucapan sahabat karibnya itu yang sama sekali tidak pernah berubah.
________________________________
*Up lagi nanti jam 3 sore. 🙏🤗
__ADS_1