Ling Tian

Ling Tian
Daratan Barat 9


__ADS_3

Sreett! Sreett!


"Aaaaakkhh.."


"Aaakkhhh.."


Ling Tian terus mengayunkan pedang pusaka tingkat putih miliknya dengan gerakannya yang sangat lincah yang membuat para bandit itu tidak berdaya dan sama sekali tidak dapat membalas serangan tersebut.


Ling Tian sengaja mengalirkan elemen angin untuk membuat gerakan cepatnya seolah berasal dari elemennya itu. Selain itu, Ling Tian juga dapat menjadikan tebasan pedang miliknya berkali-kali lipat lebih tajam dan jangkauan lebih jauh dari pada tanpa menggunakan elemen angin.


Namun meskipun Ling Tian dan Mao An telah melakukan aksi yang sangat memukau itu, karena jumlah musuh yang mereka berdua hadapi adalah ribuan, membuat keduanya harus sedikit bersabar untuk dapat mengalahkan semua musuhnya yang terus datang seperti tiada habisnya.


Di lain sisi, pemimpin dari para bandit kelabang kuning menyaksikan pertarungan kedua orang misterius bertopeng separuh wajah dengan mengangguk-anggukkan kepalanya. Benar yang dikatakan oleh jenderal kanannya bahwa kedua orang ini meskipun hanya memiliki kultivasi 2 tingkat dibawahnya, dia harus benar-benar mewaspadai mereka.


"Ternyata kedua pengacau ini cukup memiliki kualifikasi juga untuk bertarung melawanku. Namun sebelum itu kalian para bawahan harus mengujinya terlebih dahulu," ucap sang pemimpin bandit dengan senyuman liciknya.


"Baik pemimpin!" angguk 30 bawahannya yang berada di kultivasi ranah Pendekar Berlian Awal dengan serentak lalu bergerak meninggalkan tempatnya dan masuk dalam pertempuran.


Ling Tian dan Mao An yang tiba-tiba mendapat serangan dari para kultivator tingkat tinggi sedikit terkejut karena kekuatan mereka cukup lumayan daripada ratusan orang yang telah mereka bantai sebelumnya.


Namun begitu, keduanya sama sekali tidak kewalahan karena pada dasarnya mereka berdua adalah kultivator yang memiliki kultivasi di atas ranah Pendekar Berlian dan energi Qi keduanya sudah tidak bisa dibayangkan oleh para kultivator bandit kelabang kuning.


Bisa dikatakan bahwa sebenarnya mereka berdua hanya ingin bermain-main saja lalu memberikan kekecewaan yang tidak dapat mereka bayangkan. Hal ini juga berguna untuk mengelabui para bandit itu agar tidak menjadikan budak-budak mereka sebagai sandera.


"Lumayan, kekuatan yang kalian miliki cukup lumayan dan mungkin dapat membuatku berkeringat nanti." ujar Mao An dengan senyuman menjengkelkan lalu kembali bergerak menyerang.


Trank! Trank! Trank!


Tring! Tring!


Mao An yang sebelumnya bertarung menggunakan gaya helikopter kini telah bertarung dengan cukup serius dan menggunakan jurus-jurus tombak yang Klan Mao miliki. Mao An tidak ingin jika dia akan kalah dari Ling Tian dan harus membayar setiap makanan ataupun penginapan yang mereka datangi.


"Keparat! Dia ternyata sangat hebat!" ujar salah satu bawahan dari pemimpin bandit kelabang kuning.


"Benar! Dia sangat lihai dalam memainkan tombaknya. Aku tidak pernah tahu ada teknik tombak yang seperti dilakukan oleh kultivator ini," sahut temannya.

__ADS_1


"Ini sangat di luar ekspektasi kita semua!" sahut temannya yang lain lagi.


"Hehehe.. Kalian tetaplah para semut dihadapan Tuan Muda ini!" seru Mao An dengan menyeringai jahat lalu mengayunkan tombaknya dengan sangat cepat.


Tring! Tring!


Tring!


Suara dentingan senjata tombak dan senjata-senjata lain yang dimiliki oleh bawahan dari pemimpin bandit kelabang kuning terdengar memekakkan telinga disertai dengan ledakan energi yang berbentuk seperti pisau angin yang menyebar ke segala arah.


Jleebb!


"Ugh!"


Salah satu dari bawahan pemimpin bandit kelabang kuning terkena tusukan tombak Mao An tepat pada jantungnya yang membuat bawaan itu langsung mati seketika dengan mata yang terbuka lebar karena tidak percaya akan nyawanya yang tamat episode hari ini.


"Satu.." ucap Mao An yang mulai menghitung bawahan dari pemimpin bandit yang dibunuhnya lalu bergerak kembali dengan sangat cepat menyerang bawahan lain menggunakan jurus-jurus tombaknya.


Trank! Trank!


"Aakkhh.."


"Dua.." ucap Mao An lagi dan terus melakukan hal yang sama ketika dia berhasil membunuh bawahan lain dari pemimpin bandit kelabang kuning.


Hal itu benar-benar membuat para bawahan yang lain yang masih hidup menjadi gentar dan tidak bersemangat untuk melawan serta membunuh Mao An. Mereka takut akan nasib mereka menjadi sama seperti teman-teman mereka yang telah meregang nyawa.


Sang pemimpin bandit kelabang kuning mengerutkan keningnya saat melihat para bawahannya yang melawan salah satu dari pria bertopeng separuh wajah malah bergerak sedikit demi sedikit mundur dan mendekat ke arahnya, seolah mereka ingin menjadikannya umpan untuk dibunuh selanjutnya oleh pria bertopeng separuh wajah.


"Dasar bawahan tidak berguna!" teriak sang pemimpin bandit lalu mengeluarkan pedang pusaka tingkat hijau kualitas menengah dan bergerak maju untuk menyerang Mao An.


Zheep!


Trankkkk!


Bhuusshh...

__ADS_1


"Ohoo.. Akhirnya bos besarnya telah turun tangan juga. Aku kira kamu hanya akan menonton saja dan bersikap pengecut selamanya," ucap Mao An sambil tersenyum mengejek setelah berhasil menghadang laju serangan pedang dari sang pemimpin bandit kelabang kuning.


"Ternyata memang benar kamu memiliki cukup kekuatan untuk melawanku," kata sang pemimpin bandit sembari membuat kuda-kuda beladiri dan tersenyum lebar kepada Mao An.


"Hahaha.. Senyumanmu itu membuatku ingin muntah saja manusia lemah!" seru Mao An langsung memprovokasi dan tertawa terbahak-bahak serta tidak sadar bahwa tawanya itu lebih menjijikkan daripada senyuman sang pemimpin bandit kelabang kuning.


"Tertawalah sebelum kau mati dan tidak bisa tertawa lagi sialan!" balas sang pemimpin bandit dengan sengit.


"Hmm.. Aku pastikan kamulah yang akan mati di tanganku." ujar Mao An lalu bergerak terlebih dahulu menyerang sang pemimpin bandit.


Sang pemimpin bandit yang mendapati dirinya diserang dengan gerakan tusukan tombak dari musuhnya, tentu saja tidak akan berdiam diri dan menerimanya dengan pasrah. Dia juga bergerak maju untuk menyambut serangan itu dengan menggunakan pedang pusaka tingkat hijau yang dia genggam.


Trank! Trank!


Bhuusshh...


Suara benturan tombak dan pedang langsung terdengar memekakkan telinga beserta dengan ledakan energi efek dari benturan itu. Mao An yang menyegel kultivasinya hingga berada di ranah Pendekar Berlian Menengah Bintang 9 atau dua tingkat berada di bawah kultivasi milik sang pemimpin bandit kelabang kuning sedikit kewalahan namun mencoba untuk tetap bertahan.


Mao An ingin sekali melepas segel pada kultivasinya dan membuat sang pemimpin bandit itu tidak berdaya. Namun mengingat perjanjiannya dengan Ling Tian, dia tidak melakukannya. Dia tidak ingin dianggap bermain curang lalu pada akhirnya dialah yang dianggap kalah dan harus membayar setiap makanan dan juga penginapan yang mereka kunjungi.


Tring! Tring!


Senjata keduanya terus saja berbenturan dan Mao An dipaksa dalam posisi bertahan.


"Hahaha.. Dimanakah letak kesombonganmu yang kau bicarakan itu bedebah bangs*t?" tanya sang pemimpin bandit kelabang kuning sambil tersenyum mengejek di sela-sela dirinya menyerang Mao An.


Seketika wajah dari Mao An langsung memerah karena marah dan bergerak mempercepat ritme pertarungannya sekaligus mengkolaborasikannya dengan cakar dan tendangan yang juga sama mengerikannya dengan tusukan tombak miliknya.


Sang pemimpin bandit itu langsung terkejut saat mengetahui bahwa pria bertopeng separuh wajah itu belumlah mengeluarkan segenap kemampuan miliknya pada saat dia membuatnya tertekan dan harus dalam posisi bertahan.


'Sial! Ini tidak baik!' seru sang pemimpin bandit di dalam hatinya karena merasakan firasat yang buruk akan segera menimpa dirinya.


________________________________________


VOTE yuuk.. VOTE😁📢

__ADS_1


__ADS_2