
Wuuusssh...
Aura langit dan bumi tertarik dan berkumpul kearah tinju Ling Tian membentuk cahaya transparan.
"Bersiaplah untuk mati! Pukulan Pelebur Bumi!" teriaknya lagi kemudian mengarahkan tinjunya kepada Patriark Lang Shan.
Swuuusshh...
Sementara Patriark Lang Shan juga sudah bersiap dengan seluruh kekuatan untuk menahan bedaru dengan pukulan Ling Tian. Dia yang memiliki basis kultivasi tinggi sangat yakin mampu mengalahkan bahkan menghancurkan jurus sang lawan. Patriark Lang Shan meluncur dengan cepat.
Swuussshh...
Boommm... Boommmm...
Ledakan dua kali terdengar sangat keras, membuat Yi Jireu dan tetua pertama Klan Lang menghentikan pertarungan. Pandangan mereka tertuju kearah dimana terjadinya ledakan. Setelah beberapa saat, kepulan debu menghilang oleh tiupan angin. Terlihat dengan jelas dimata semua orang lubang kawah yang sangat besar dan dalam.
"Oh tidak! Patriaaark!" teriak tetua pertama Klan Lang kemudian bergegas menuju sang Patriark. Namun Yi Jireu dengan sigap menghalanginya.
"Hoo.. Ingin kesana? Hadapi dulu orang tua ini! Hehehe," ucap Yi Jireu terkekeh.
"Yi Jireu! Minggirlah!" bentak tetua pertama Klan Lang.
"Apa? Bisa lebih keras lagi? Aku tidak mendengar kamu bicara apa! Hihihi," goda Yi Jireu.
"Kurang aja! Mati saja kau!" teriak Tetua Pertama Klan Lang
Amarah yang meluap-luap disertai kepanikan akan kondisi sang Patriark membuat Tetua Pertama tidak bisa menahannya lagi. Dia menyerang Yi Jireu dengan membabi-buta. Hal ini menjadi keuntungan tersendiri bagi Yi Jireu. Serangan yang tidak teratur membuatnya dengan mudah menghindar lalu membalas dengan santai. Yi Jireu yang pada dasarnya lebih kuat dari Tetua Pertama Klan Lang itu kini semakin berada diatas angin. Kemenangannya sudah bisa dipastikan. Luka Tetua Pertama sedikit demi sedikit menyebar di seluruh bagian tubuhnya. Sayatan dan tebasan pedang Yi Jireu tidak bisa dia hindari.
Sementara Tetua Kedua Klan Lang hanya bisa menyaksikan Patriark dan Tetua Pertamanya dihajar habis-habisan oleh lawannya. Dia tidak berani berkutik sedikitpun meski kekhawatiran memenuhi batinnya. Sosok Yi Bei benar-benar menakutkan dihadapannya.
Ling Tian semakin beringas dalam menyerang. Sedangkan Patriark Lang Shan sangat tidak mengira bahwa lawannya saat ini sangat kuat dan kuat. Dia tidak berdaya dan menerima pukulan demi pukulan Ling Tian.
"Hoho.. Apa hanya seperti ini kesombonganmu sebelumnya tua bangka?" ejek Ling Tian disela serangannya.
Patriark Lang Shan tidak menanggapi ejekan itu. Dia terus berfokus dan berusaha menghingdari tinjua Ling Tian. Namun semaksimal apapun usahanya, dia hanya bisa menerima dengan pahit kesia-siaannya.
Jurus Pukulan Pelebur Bumi tahap kedua milik Ling Tian benar-benar mampu mengalahkan kekuatan Pendekar Perunggu Tahap Awal. Hanya berbekal kekuatan fisik dan tulang, Ling Tian terus memenerus menghantami Patriark Lang Shan dengan bogemnya.
"Sudahlah! Mari kita akhiri ini semua!" ucap Ling Tian.
Ling Tian berhenti menyerang dan mundur lima langkah. Dia mengambil ancang-ancang dan berkuda-kuda kuat untuk jurusnya yang kedua kali. Aura langit dan bumi kembali tertarik dengan kuat dan bermuara ditinjunya. Hal ini semakin membuat semua orang Klan Lang ketakutan, terutama Tetua Kedua yang hanya bisa menyaksikan tanpa bisa berbuat apa-apa. Setelah merasa cukup, Ling Tian segera berteriak dan menjotoskan bogemnya kepada Patriark Lang Shan.
__ADS_1
"Pukulan Pelebur Bumi Tahap Kedua!"
Swuuuuusshhh...
Patriark Lang Shan hanya bisa pasrah menerima pukulan tanpa menghindar. Dia menutup kedua matanya dan menyesali semua tindakan, khususnya tindakan anaknya yang sombong dan menyinggung orang salah. Namun penyesalan hanya tinggallah penyesalan. Hal seperti ini sudah sangat terlambat baginya saat ini.
Booooommmmm...
Ledakan besar terjadi. Kabut asap berwarna kemerahan menyebar kemana-mana. Patriark Lang Shan tewas seketika dan hancur berkeping-keping.
Ling Tian yang telah menyelesaikan pertarungan menghela nafas panjang. Sebenarnya dia juga sangat menyayangkan hal seperti ini terjadi. Dia juga sudah mengingatkan untuk tidak membuat masalah ini berbuntut panjang. Namun kesombongan dan kebanggaan hati para anggota Klan Lang benar-benar tidak bisa diberi pengampunan.
Dia melirik Yi Jireu dan Tetua Pertama yang juga sudah selesai bertarung. Sama halnya dengan Patriark Lang Shan, Tetua Pertamanya juga mati mengenaskan dengan tubuh tercabik-cabik penuh dengan luka. Sementara Yi Bei hanya berhela-hela dan menahan Tetua Kedua Klan Lang untuk tidak ikut campur pertarungan. Wajah Tetua Kedua Klan Lang terlihat sangat menyedihkan. Meski dia masih sehat wal afiat dan tanpa luka satupun, namun batinnya tersa hancur menjadi debu. Bagaimana tidak? Klan Lang benar-benar akan merosot saat ini dan seterusnya. Kematian Patriark Lang Shan dan Tetua Pertama akan menjadi pukulan telak bagi seluruh anggota Klan. Klan Lang yang sebelumnya mampu bersaing dengan Klan Yi di Desa Cendana, bahkan saat ini mungkin tidak akan mampu melawan Klan-klan kecil yang sebelumnya menjadi bawahan Klan Lang. Tetua Kedualah saat ini yang menjadi orang terkuat Klan Lang. Basis kultivasinya yang di tingkat Pendekar Besi Tahap Akhir Bintang 5 masih sangat jauh jika dibandingkan para pemimpin Klan di Desa Cendana yang rata-rata di tingkat Pendekar Perunggu Tahap Awal atau Menengah.
Tetua Kedua Klan Lang melangkah dengan gontai menuju mayat Tetua Pertama. Dia tidak menghiraukan Yi Bei. Yi Bei pun tidak mempermasalahkannya. Dia lebih fokus melihat ekspresi wajah Ling Tian yang seperti orang menyesal. Setelah beberapa hari berkumpul bersama. Dia menjadi faham betul bagaimana karakter Ling Tian. Sosok bocah yang sangat welas asih pada semua orang terkhusus pada temannya, namun akan sangat menakutkan pada musuh-musuhnya.
Yi Bei mendekati Tetua Kedua Klan Lang yang masih terduduk lemas didepan mayat Tetua Pertama.
"Saudara! Aku harap ini menjadi pelajaran yang berharga untuk kalian semua anggota Klan Lang. Bahwa kesombongan hanya akan berdampak buruk pada pelakunya!" Yi Bei menasehati.
"Terima kasih saudara Bei. Kami akan benar-benar mengambil hikmah atas ini semua!" ucap Tetua Kedua dengan lemah.
Tetua Kedua mengangkat mayat Tetua Pertama dan menggendongnya untuk dia bawa kembali ke Klan.
"Baiklah saudara Bei. Aku pergi dulu! Maafkan atas sifat kami selama ini pada kalian orang Klan Yi," ucap Tetua Kedua Klan Lang tulus.
"Tidak apa-apa! Kami sudah pasti memaafkan kalian bahkan sebelum kalian meminta maafpun. Kami tahu kalian hanya khilaf saja!" jawab Yi Bei dengan senyuman hangat dan membuat Tetua Kedua Klan Lang sangat terharu.
"Baiklah. Terima kasih untuk semuanya. Aku pamit sekarang!" ucap Tetua Kedua.
"Silakan saudara." jawab Yi Bei.
Tetua Kedua Klan Lang melesat meninggalkan mereka bertiga. Sementara Yi Bei melihat kearah Ling Tian dengan wajah penuh senyuman.
"Saudara Tian baik-baik saja?" tanya Yi Bei.
"Ah.. Aku baik-baik saja tetua Bei! Hanya sedikit lelah saja!" jawab Ling Tian juga membalas senyuman Yi Bei.
Yi Jireu juga mendekati Ling Tian. Dia menepuk-nepuk pundak Ling Tian. Dia juga sangat kagum akan jurus milik Ling Tian.
"Jurus saudara Tian memang sangat mengerikan!" ucapnya lalu melanjutkan,
__ADS_1
"Aku mendengar saat saudara meneriakkan jurus itu masih ditahap kedua! Apa masih ada tahap selanjutnya?"
Yi Jireu sangat penasaran dengan itu semua. Begitu juga dengan Yi Bei.
"Ah.. Benar saudaraku! Memang masih ada satu tahapan jurus lagi. Tapi aku masih belum sanggup menggunakannya. Tubuh dan tulang-tulangku bisa hancur jika menggunakannya pada kondisiku yang masih lemah seperti sekarang ini," jawab Ling Tian apa adanya.
"Sungguh jurus yang mengagumkan!" ceplos Yi Bei tanpa sadar.
"Kamu benar tetua Bei!" sahut Yi Jireu yang juga mengakui kehebatan jurus pukulan Ling Tian.
"Kalian terlalu berlebihan dalam menilai dan juga aku heran, mengapa kalian bisa berada disini?" tanya Ling Tian.
"Haha.. Baik saudara Tian! Sebenarnya Patriark Yi Sun Sang dan Tetua Bei yang menginisiatifkan untuk mengikuti saudara Tian. Patriark dan Tetua Bei merasa bahwa saudara Tian pasti akan disergap orang-orang Klan Lang. Dan ternyata dugaannya benar! Bahkan Patriark Lang Shan sendiri yang bertindak!" jawab Yi Jireu dengan santai.
"Terima kasih atas perhatian Patriark dan anda Tetua Bei!" ucap Ling Tian tulus.
"Hah.. Sebagai saudara, bukankah kita berkewajiban menjaga saudaranya jika dia dalam kesulitan atau bahaya?" Yi Bei tidak menjawab tapi malah melontarkan kembali pertanyaan yang membuat Ling Tian terdiam membisu.
"Sudahlah! Jangan lagi berterima kasih jika saudara Tian masih menganggap kami saudara!" lanjutnya.
Ling Tian sangat senang mendengar ucapan Yi Bei. Dalam hatinya yang paling dalam, Ling Tian berjanji akan membalas semua kebaikan Yi Bei dan Klannya jika suatu saat dia sudah menjadi orang yang kuat.
"Baik saudara Bei," ucap Ling Tian.
"Lalu apa yang akan saudara Tian lakukan saat ini?" tanya Yi Jireu.
"Tentu saja beristirahat sejenak lalu melanjutkan perjalananku!" jawab mantap Ling Tian.
.
.
.
________________&&&&.
Tinggalkan like, komentar, atau votenya...
Kata-kata hari ini:
"Jika dia masih saja menganggapmu tidak ada saat hadirmu, maka dia buatlah menyesal atas kepergianmu" ...😎
__ADS_1