Ling Tian

Ling Tian
Ketakutan


__ADS_3

Keempat orang dari Klan Xun itu masih membeku ditempatnya untuk beberapa waktu kareka kejutan yang diberikan oleh Ling Tian dan kedua saudaranya. Mereka masih tidak percaya dengan yang dirasakan oleh tubuh mereka sebelumnya.


Ranah Kaisar Puncak? Bukankah berarti kali ini Klan Xun sudah menyinggung orang yang salah? Bahkan orang-orang dari Klan Bai yang menjadi Klan Penguasa di Hutan Tanpa Batas sangat jarang yang mencapai ranah itu.


Lalu bagaimana nasib Klan Xun yang sudah terlanjur ini yang bahkan beberapa kali menyinggung orang yang bernama She Tian dan ternyata memiliki dua pendukung yang tidak boleh diusik siapapun?


Dapat dilihat dari wajah keempatnya kini bermandikan keringat karena ketakutan memikirkan apa yang akan terjadi dengan Klan Xun setelah ini.


"N-nona.. B-bisakan anda y-yang menyampaikan ini kepada Patriark?" tanya salah satu pria dengan terbata-bata. Dia mengatakan hal demikian karena wanita didepannya adalah salah satu dari putri sang Patriark.


"P-paman.. T-temani a-aku juga paman! A-aku tidak berani memberitahu ayah sendiri!" jawab wanita Xun itu juga dengan terbata-bata.


"B-baik Nona!" ujar pria itu.


Keempatnya lalu berusaha untuk menenangkan diri mereka masing-masing selama beberapa menit namun belum juga kunjung menjadi tenang. Hingga satu jam berlalu, barulah si wanita atau putri dari Patriark Xun sanggup berdiri dari tempat duduknya meski keringat dingin masih terlihat mengalir dipelipisnya.


Putri Patriark Xun menyimpan kotak hitam milik Ling Tian dengan hati-hati kedalam cincin penyimpanannya. Setelah itu barulah dia bersama ketiga pria lainnya pergi meninggalkan tempat itu dengan tergesa-gesa menuju Istana Xun di ibukota dan masuk kedalam aula pertemuan Klan Xun untuk membahas perihal She Tian.


Tidak lupa, salah satu pria dari ketiga pria itu meminta kepada orang lain dari klannya untuk menggantikan tugas Nona Muda mereka menerima barang yang akan dilelang tiga hari kedepan.


***


Ling Tian dan kedua saudaranya muncul sepuluh kilometer dari kaki Gunung Huashu. Mereka muncul dengan wajah tersenyum sebab membayangkan betapa paniknya Klan Xun saat ini.


"Lalu? Apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Zhuge Ruxu.


"Benar! Apa yang akan kita lakukan kali ini?" ucap Mao An bertanya dengan pertanyaan yang sama.


"Cih! Ikut-ikutan! Dasar tidak kreatif!" ujar Zhuge Ruxu mencibir.


"Suka-suka aku lah!" sahut Mao An sengit.


"Haiss.. Sudah-sudah! Kalian bersenang-senang dan nikmatilah suasana Kota Xun! Mungkin kamu saudara Mao An ingin mendatangi Bi Si'er lagi!" ucap Ling Tian sedikit menggoda Mao An.

__ADS_1


"Cih! Aku tidak mau!" jawab Mao An cemerut.


"Hahaha.. Ayolah saudaraku! Aku lihat dia juga suka padamu!" ujar Ling Tian semakin menjadi-jadi.


"Huh! Aku juga tahu itu! Maksudku tadi adalah aku tidak mau berlama-lama disini! Aku ingin segera mendatanginya!" ujar Mao An.


Zheppp!


Setelah mengatakan itu, Mao An lalu langsung menghilang dari pandangan Ling Tian dan Zhuge Ruxu yang membuka rahangnya lebar-lebar karena tidak percaya.


"S-saudari Ruxu! Coba kau cubit tanganku!" ujar Ling Tian sambil memberikan tangannya kepada Zhuge Ruxu untuk dicubit.


Zhuge Ruxu dengan tatapan kosongnya pun mencubit tangan Ling Tian dengan sangat kuat.


"Aaaaww! Sakit! Sialan! Ternyata benar ini tidak mimpi! Dari mana keberanian kucing hitam itu datang jika membahas masalah perempuan?" ujar Ling Tian bertanya.


"Yaah.. Mungkin saja dia merasa sudah cukup tua saat ini dan harus memiliki penerus!" ucap Zhuge Ruxu asal.


"Cih! Begitukah?" tanya Ling Tian dengan wajah aneh.


Setelah itu keduanya kemudian berpisah untuk melakukan hal atau kegiatan masing-masing. Tentunya untuk Zhuge Ruxu adalah bersenang-senang dan menikmati suasana dan keindahan Kota Xun dengan berbelanja atau jalan-jalan.


Sementara untuk Ling Tian sendiri, dia melesat menuju pusat Kota Xun atau lebih tepatnya kediaman utama dari Klan Xun. Dia akan memulai aksinya untuk membuat orang-orang dari Klan Xun menangis darah karena kehilangan.


"Cih! Jika si cacing biru sialan itu masih disini, dia pasti sangat senang dengan perbuatan yang akan aku lakukan ini!" ucap Ling Tian pada dirinya sendiri saat mengingat kenakalan si berandalan satu itu saat di Kota Qingque dulu dan mencuri anggur milik Wei Yuji.


'Haahh.. Semoga kau, senior Wei dan Hu kecil baik-baik saja!' batin Ling Tian yang sebenarnya sudah cukup merindukan kebersamaan dengan saudara-saudaranya itu.


Setelah sedikit bernostalgia dengan saudara seperkonyolannya itu, dia langsung mempercepat geraknya dengan mengendalikan elemenitas bayangannya.


Zheep!


Lima menit setelah menghilangnya Ling Tian, dua sosok yang memiliki mata berwarna biru tiba ditempat Ling Tian sebelumnya.

__ADS_1


"Sial! Pemuda itu sangat cepat!" ujar salah satu dari kedua sosok itu.


"Ayo ke Kota Xun sekarang! Aku yakin dia akan kesana!" sahut temannya.


"Ayo! Kita tidak boleh kehilangan jejaknya terlalu lama!" kata sosok bermata biru sebelumnya.


Kedua sosok itu kembali menghilang menyatu dengan udara tipis yang sebetulnya adalah sedang melesat dengan kecepatan tinggi.


***


Sementara itu di aula pertemuan Klan Xun, Patriark dan para Tetua yang sedang membahas suatu masalah yang terjadi di dunia rahasia dan masalah pelelangan tiba-tiba dikejutakan dengan sebuah pusaran angin berwarna kebiruan.


Swush... Swush... Swush...


Swush...


Keempat sosok dengan satu wanita dan tiga pria keluar dari pusaran angin itu. Dan benar! Mereka adalah Nona Muda Klan Xun dan tiga pria yang bertugas menjaga kegiatan Nonanya di gedung pelelangan yang ada di kaki Gunung Huashu.


Mereka berempat bergegas pergi meninggalkan gedung itu menggunakan gerbang teleportasi jarak pendek agar segera sampai di pusat Klan Xun atau aula pertemuan.


Setelah muncul dengan tiba-tiba dan mengejutkan semua orang diruangan pertemuan, mereka berempat lalu berlutut dihadapan sang Patriark Klan Xun, Xun Chai.


"Hormat ayah!" ucap wanita itu.


"Putriku! Ada apa? Mengapa kau dan ketiga tetua penjagamu datang tiba-tiba kesini dan dengan memasang wajah ketakutan seperti itu?" tanya Patriark Xun Chai dengan lembut kepada putrinya.


Sang putri tidak langsung menjawab, dia mengambil nafas panjang beberapa kali setelah itu barulah dia menjelaskan permasalahan yang membuatnya datang dengan tiba-tiba.


Saat setelah mendengarkan penjelasan sang putri dan kebenaran dari kesaksian ketiga pengawalnya, wajah semua orang khususnya Patriark Xun Chai dan Tetua Agung Xun Zuo menjadi berubah buruk.


Keringat dingin mengucur dari kening semua orang dari para petinggi Klan Xun itu. Jika memang benar yang dikatakan oleh putrinya ini adalah benar, maka sudah dipastikan bahwa Klan Xun berada dalam bahaya kehancuran saat ini.


"Patriark! Bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan? Sebelumnya, kita bahkan dengan sengaja beberapa kali membuat ulah dan menyinggung pemuda itu!" ujar Tetua Agung Xun Zuo bertanya dengan wajah sangat panik.

__ADS_1


"Aakkhh.. Sial! Sial! Sial! Aku juga tidak tahu! Meminta bantuan kepada Klan Bai? Itu sangat mustahil! Mereka sangat tertutup semenjak Yang Mulia pergi meninggalkan Hutan Tanpa Batas!" ujar Patriark Xun Chai yang sudah merasa frustasi.


__ADS_2