
Tiba-tiba petir menyambar diatas langit. Awan hitam juga menyelimuti petir itu. Suasana menjadi gelap dan terlihat mencekam. Ling Jun melihat kearah langit.
'Jika kau tidak terima dengan nama calon anakku, maka akan kupastikan dia sendiri yang akan menaklukkanmu' gumamnya pada langit.
Ling Jun masih menatap tajam kearah langit hitam penuh petir itu, namun segera teralihkan oleh Hei Si yang menjerit kesakitan.
"Aduuuh, suamiku!"
"Istriku, kamu kenapa?" tanya Ling Jun.
"Perutku sakit! Sepertinya aku mau melahirkan sekarang!" ucap Hei Si.
"Ah! Baiklah, mari masuk dulu kerumah, aku akan memanggil tabib Yi," kata Ling Jun.
"Achhh, sakit sekali suami!" jerit Hei Si. Dia tak sanggup untuk berjalan lagi. Mengetahui itu, Ling Jun lekas menggendong istrinya masuk kedalam rumah. Setelah membaringkan sang istri, dia kemudian meminta tolong tetangga sebelah untuk menjaga Hei Si, sementara dia akan pergi kerumah tabib.
Belum juga melangkahkan kaki keluar gerbang rumahnya, hujan deras tiba-tiba mengguyur seperti sengaja disiramkan.
'Langit sialan!' gumam Ling Jun.
Dia tak menghiraukan hujan itu. Pakaian yang dia sandang kini telah basah kuyup. Dia terus berlari dengan cepat menuju rumah tabib Yi. Lima belas menit kemudian, Ling Jun telah sampai didepan rumah sang tabib. Dia bergegas mengetuk pintu.
"Tabib Yi. Apa kau ada dirumah?" ucap Ling Ling Jun.
"Kreeek," suara luitan pintu terbuka.
"Oh Tuan Ling. Ada apa hujan-hujan kemari?" tanya Tabib Yi.
"Tabib Yi, cepat kau bersiap! Istriku hendak melahirkan!" jawab Ling Jun.
"Oh! Nyonya Hei Si sudah bereaksi? Baiklah, saya akan bersegera!".
Setelah menyiapkan beberapa peralatan persalinan, Tabib Yi dan Ling Jun cepat-cepat berangkat. Seperti sebelumnya, Ling Jun menyelimuti Tabib Yi dengan tenaga dalam lalu melesat kearah Klan Ling berada.
Lima belas menit kemudian, mereka berdua telah sampai dihalaman rumah Ling Jun. Setelah mengganti pakaian yang basah, Tabib Yi langsung berjalan tergopoh-gopoh menuju kamar Hei Si berada.
Didalam kamar sudah ada istri Patriark Ling yang bernama Wang Zie dan satu wanita tetangga rumah Ling Jun. Tabib Yi langsung memeriksa Hei Si dan memberi saran kepada dua wanita tersebut untuk terus memberi semangat agar Hei Si selalu bisa mempertahankan kesadarannya. Tabib Yi sangat takut kejadian dua bulan lalu kembali terjadi.
Tetesan air hujan dari langit terus saja mengguyur tanpa berhenti. Ditambah suara jeritan sang istri membuat hati Ling Jun kembali merasakan sakit namun tak berdaya seperti dua bulan yang lalu. Ling Bo Teng atau Patriark Klan Ling juga kembali membujuk Ling Jun. Namun semua orang tahu bahwa hasilnya akan tetap nihil.
"Ayo semangat Nyoya, dorong terus," ucap Tabib Yi.
"Iya adik ipar, kamu pasti bisa! Terus dorong sekuatmu," tambah istri Patriark.
"Aaaaakkhhh!" jerit Hei Si.
"Ayo lagi adik ipar, kamu pasti bisa!" seru Wang Zie lagi.
"Aku sudah tidak kuat kakak Zie. Sakit sekali!" ucap Hei Si.
"Aaakkkhhhhh!"
"Kamu tidak boleh bilang begitu adik ipar! Terus berjuang! Ini demi anakmu!" jawab Wang Zie.
__ADS_1
Mendengar ucapan Wang Zie yang menyebut demi anaknya, Hei Si kembali tergugah semangatnya. Benar! Dia sangat mendambakan kehadiran buah hatinya itu. Sudah sebelas bulan lamanya dia menunggu, dan hari itu telah tiba saat ini. Hei Si bergumam pada dirinya sendiri,
'Anakku pasti akan bersedih jika melihat ibunya begitu lemah seperti ini. Tidak! Aku tidak boleh memperlihatkan kelemahan kepada anakku!".
Wang Zie yang melihat raut wajah Hei Si kembali bersemangat sebab ucapannya, dia kemudian berkata,
"Iya adik ipar! Semua demi anakmu, jadi kamu harus kuat dan pantang menyerah!"
"Iya Nyonya!" sahut Tabib Yi dan satu wanita lagi.
"Baik, aku pasti akan terus berjuang!" ucap Hei Si penuh tekad.
Proses persalinan Hei Si yang begitu memilukan disertai teriakan-teriakan kesakitan, sungguh membuat semua hati para pria yang berkumpul melemas dan lunak. Bagaimanapun demikianlah perjuangan seorang ibu. Sejak awal hendak keluar ke dunia saja sudah merepotkan, bahkan membuat sang ibu dalam kondisi hidup dan mati, lalu apa mereka yang sudah keluar, kemudian diberkati dengan pengetahuan atau ilmu yang lebih tinggi malah berulang kali membantah seorang ibu? Bahkan acap kali membuat hati sang ibu sakit! Sungguh anak tak tahu diri!
Patriark Ling atau Ling Bo Teng yang mengetahui bahwa istri saudaranya akan benar-benar melahirkan segera menghubungi Patriark Klan Hei lewat pesan giok jiwa. Dari situlah, saat Patriark Hei selesai membaca isi pesannya, dia langsung meluncur menuju Klan Ling tanpa menghiraukan gelapnya malam dan derasnya curah hujan.
Rombongan kereta kuda Patriark Klan Hei yang hanya beranggotakan lima orang tiba ditempat saat jeritan Hei Si berada dipuncaknya.
Istri dan Patriark Hei yang mendengarnya langsung keluar dari kereta tergesa-gesa. Belum juga mereka melangkahkan kaki kedalam gapura rumah Ling Jun, tiba tiba,
"Oaaaakk!"
"Oaaaakk!"
"Oaaaakk!"
Suara tangisan bayi akhirnya terdengar bersamaan dengan letupan keras petir diatas langit. Suasana mengharukan terjadi. Bagaimana tidak? Setelah perjuangan Hei Si yang hampir enam jam, akhirnya berbuah manis dengan kemunculan bayi mungil berkelamin laki-laki.
Ling Jun yang mengetahui langsung masuk kedalam kamar dan melihatnya secara langsung. Dia mendekati Hei Si yang sedang menangis haru dan segera memeluknya. Sepasang insan itu teramat bahagia malam ini.
"Emmm," hanya suara itu yang keluar dari Hei Si dan anggukannya.
"Terima kasih karena telah berjuang untuk anak kita. Terima kasih istriku!" ucap Ling Jun lagi sembari terus memeluk istrinya itu dengan penuh kasih sayang.
Setelah selesai mengurus segala perlengkapan bayi dan membersihkannya, Tabib Yi langsung memberikan bayi tersebut kepada Hei Si.
"Ini Nyonya Jun, bayi anda laki-laki. Sangat tampan dan tampan!" puji Tabib Yi.
"Ah! Tabib Yi, cepat kemarikan anakku. Ah! Pelan-pelan Tabib Yi!" jawab Ling Jun tak sabaran.
"Baik Tuan Ling. Juga hendak mengatakan bahwa putra anda ini punyai beberapa tanda lahir khusus Tuan!" kata Tabib Yi.
"Tanda lahir khusus?" tanya Ling Jun yang mengerutkan kening.
"Benar Tuan Ling. Ditengah-tengah tengkuk putra anda ada tanda seperti bunga teratai yang berwarna separuh merah dan separuh biru! Konon katanya jika ada yang memiliki tanda seperti ini akan menjadi pendekar yang mampu mengendalikan dua elemen yang berlawanan!" jawab Tabib Yi.
"Oh begitu kah?" sahut Hei Si.
"Nyonya bisa melihatnya sendiri," jawab Tabib Yi, lalu melanjutkan,
"Dan juga ada semacam segel melintang di dada hingga belakang punggungnya dan di jari manis tangan sebelah kanannya!"
Mendengar ucapan Tabib Yi, sepasang suami istri itu langsung memeriksa jari manis putranya. Dan benar! Ada segel melingkar seperti tato. Ini sungguh mengherankan.
__ADS_1
"Tabib Yi, kakak ipar, dan kamu nyonya jung. Kami harap kalian mau berjanji dan merahasiakan tentang kedua tanda ini. Kau takut ada orang yang mengetahuinya dan berniat buruk kepada anakku ini," ucap Ling Jun.
"Baik." jawab ketiganya.
Hei Si membopong bayinya, Ling Jun yang duduk di sampingnya itu selalu mencandai si bayi. Dia teramat bahagia akan kehadiran sang buah hati. Dari raut wajahnya, tampak Ling Jun terlihat lebih muda dari biasanya. Hei Si hanya tersenyum melihatnya.
"Brak!"
"Aaahhh! Dimana cucuku?" teriak Patriark Hei setelah mendobrak pintu.
Semua orang tentu kaget. Begitu pula dengan sang bayi. Dia menangis sejadi-jadinya.
"Ayah mertua! Apa yang kamu lakukan? Kau membuat anakku menangis!" kata Ling Jun emosi.
"Ahahaha. Maaf-maaf! Aku terlalu bersemangat. Mana cucuku, aku ingin menggendongnya!" kata Patriark Hei.
"Suami tua bangka! Kamu datang-datang cari masalah! Mengganggu suasana haru-biru dari keluarga anakku. Keluar sekarang!" bentak suara wanita dari balik pintu. Wanita itu tidak lain adalah istrinya sendiri.
"Tapi istriku..." kata Patriark Hei.
"Tidak tapi-tapian! Keluar sekarang! Nanti kamu juga bakal kebagian jatah menggendongnya. Keluarlah!" jawab istrinya lagi.
"Sudahlah ibu, biarkan ayah disini. Tidak apa-apa," kata Hei Si.
"Tapi nak, kau tau dia sangat berisik!" sungut istri Patriark Hei.
"Ibu tidak perlu khawatir, ayah pasti tau diri. Iyakan ayah?" tanya Hei Si.
"Ah! Tentu saja." jawab Patriark Hei cepat. Dia benar-benar tak mau untuk keluar ruangan. Dia sangat ingin melihat dan berlama bersama cucu pertamanya itu.
Setelah suasana kembali normal, hujanpun sudah reda sepenuhnya. Pagi itu, hampir seluruh keluarga dari Klan Ling mendatangi kediaman salah satu tetua mereka yang sedang berbahagia. Ya! Kediaman itu tak lain adalah milik Ling Jun dan keluarga kecilnya.
Saat ini, kondisi Hei Si sudah membaik. Dia juga sudah bisa kembali menggunakan tenaga dalamnya. Keramaian dirumah Ling Jun benar-benar terjadi. Ucapan selamat dan perhatian mereka curahkan untuk keluarga kecil Ling Jun yang kini telah lengkap sudah. Canda tawa kerap menghiasi obrolan tersebut.
"Tetua Jun, kamu hendak beri nama anakmu dengan sebutan apa?" tanya salah satu hadirin. Sontak seluruh mata memandang kearah Ling Jun dan sama-sama menanti jawaban.
"Ah! Saudaraku! Seperti yang sudah saya katakan kepada istri saya. Jika anakku lahir laki-laki, maka...." gantung Ling Jun.
Semua orang menahan nafasnya, bersabar penuh menunggu kelanjutan kata-kata Ling Jun. Begitupun dengan kedua Patriark yang hadir.
"Maka akan aku beri nama... LING TIAN!" ucap Ling Jun lagi.
"Langit Bumi memberkahi Ling Tian!" teriak salah satu hadirin. Kemudian disahuti oleh semua orang.
"Langit Bumi memberkahi Ling Tian!"
"Langit Bumi memberkahi Ling Tian!"
______&&&&
Tinggalkan like, komentar, atau votenya...
Kata-kata hari ini:
__ADS_1
"Jangan malu terlihat baik! Soal ikhlas tidaknya urusan nomor pitu likur🤣.. intinya terlihat baik dulu! Daripada terlihat buruk?!!!!" (agak mikir aku tuu sekarang)🤔😂