
"Permisi Tuan! Maaf!" ujar Ling Tian dengan sopan menyapa pria paruh baya yang sedang lewat. Tidak lupa Ling Tian mrnangkupkan kedua tangannya.
"Ah! Iya anak muda.. Ada apa?" balas pria paruh baya tersebut yang juga menangkupkan kedua tangan.
"Maaf sebelumnya, saya hendak bertanya," kata Ling Tian.
"Iya, silakan nak!" angguk pria paruh baya.
"Saya dan saudaraku adalah pendatang baru. Kami mencari letak portal teleportasi! Disini, kira-kira dimana portal teleportasi itu berada?" tanya Ling Tian.
"Ooh.. Portal teleportasi! Kalian cukup beruntung bertemu denganku! Aku adalah salah satu pegawai yang bertugas menjaga portal! Saat ini saya juga sedang menuju kesana! Mari kita kesana bersama! Jaraknya tidak terlalu jauh kok!" kata pria paruh baya tersebut.
"Wah.. Kebetulan sekali! Tolong arahkan jalan kami tuan!" ujar Ling Tian dengan senang. Dia tidak menyangka malah akan bertemu dengan pegawai yang bertugas menjaga portal yang dirinya dan Ling We cari.
"Mari ikuti saya!" kata pria paruh baya.
"Silakan tuan!" ujar Ling Tian dan Ling We.
Ling Tian dan Ling We berjalan mengikuti pria paruh baya tersebut. Mereka melewati beberapa perempatan jalan dan berbelok kekanan dan kekiri.
Mereka bertiga berjalan hampir lima belas menit lamanya. Akhirnya Ling Tian dan Ling We dapat melihat sebuah portal dimensi untuk digunakan berteleportasi kesuatu tempat yang jauh.
'Portal dimensi ini cukup besar untuk ukuran Benua Langit! Mungkinkah pembuatnya adalah organisasi yang kuat atau klan yang sangat besar?' gumam Ling Tian dalam hatinya. Dia merasa sedikit takjub dengan portal didepannya.
Setelah pria paruh baya itu menyapa beberapa temannya, dia segera melihat kearah Ling Tian dan Ling We.
"Ini adalah portal teleportasi yang aku maksud! Ngomong-ngomong, apakah kalian bermaksud untuk menggunakannya?" tanya pria paruh baya.
"Benar sekali tuan!" jawab Ling Tian mengangguk.
"Baiklah.. Silakan ikuti aku untuk menyelesaikan administrasinya!" kata pria paruh baya.
"Mari!" balas Ling Tian.
Ling Tian dan Ling We dibawa oleh pria paruh baya tersebut memasuki sebuah gedung kecil yang berada tidak jauh dari portal itu berada. Ling Tian dapat melihat ada beberapa orang didalam gedung dan setiap kali berpapasan dengan pria baya yang menuntunnya mereka selalu memberikan salam dengan sangat sopan.
"Salam Tetua Ketiga!" ucap seorang gadis muda yang tampaknya adalah seorang resepsionis yang bertugas dibidang administrasi.
"Ya!" balas pria paruh baya yang dipanggil dengan sebutan Tetua Ketiga. Kemudian dia mengajak duduk Ling Tian dan Ling We di kursi yang ada didepan meja si resepsionis wanita.
"Maaf sebelumnya aku belum memperkenalkan diri kepada kalian berdua! Aku adalah Tetua Ketiga Klan Meng, Meng Luo. Jadi, kemanakah tujuan kalian berdua ini?" tanya Meng Luo.
"Oh! Suatu kehormatan bisa berbicara dengan Tetua Ketiga klan penguasa Kota Awan. Mohon maaf kami tidak bisa membuka identitas kami kepada Tetua dan harap Tetua memaklumi! Kami ingin pergi ke daratan tengah!" jawab Ling Tian.
"Tidak masalah tidak memberitahukan identitas kalian. Setiap orang pasti mempunyai privasi tersendiri dan kalian pasti juga punya alasan untuk menyembunyikan identitas. Jadi kalian ingin ke daratan tengah? Baiklah.. Untuk biaya menggunakan portal cukup maha-" ucapan Meng Luo dipotong oleh Ling Tian.
"Tidak perlu dirisaukan masalah pembayaran! Jadi berapakah biaya yang harus kami keluarkan?" tanya Ling Tian.
__ADS_1
"Baiklah! Menuju daratan tengah, setiap orangnya akan dikenakan biaya sepuluh ribu koin emas!" jawab Meng Luo.
"Baik! Jadi jika kami berdua maka dua puluh ribu koin emas?" tutur Ling Tian.
"Benar sekali nak!" angguk Meng Luo.
Ling Tian terdiam sejenak. Dia seperti sedang berfikir atau mungkin sedang melakukan sesuatu dalam diamnya.
Swiishh...
Ling Tian melambaikan tangan dan mengeluarkan sebuah cincin penyimpanan.
"Tolong diperiksa kembali Tetua Meng!" kata Ling Tian dan menyerahkan cincin penyimpanan tersebut kepada Meng Luo.
"Baik!" angguk Meng Luo menerima dan hendak memeriksanya.
"Oiya, satu lagi Tetua Meng! Buah yang didalamnya itu adalah ucapan terima kasihku kepadamu karena telah begitu ramah dengan kami!" tambah Ling Tian namun melewati telepati yang hanya bisa didengar Meng Luo.
Meng Luo cukup terkejut saat suara bocah didepannya bergema dikepalanya. Itu berarti bocah didepannya ini sudah berada di ranah Pendekar Emas! Pantas saja mereka menyembunyikan identitasnya. Sesuatu yang dibelakang kedua bocah ini pastilah tidak sederhana.
Meng Luo hanya mengangguk faham dan memeriksa isi dari cincin penyimpanan yang ada ditangannya. Setelah beberapa saat, betapa terkejutnya Meng Luo hingga matanya membulat sempurna saat mendapati dua ratus koin platinum didalamnya! Tidak! Bukan karena koin platinumnya! Dia memang cukup terkejut saat pemuda didepannya memiliki banyak koin yang hanya dimiliki oleh klan atau sekte besar saja! Tapi keberadaan satu buah anggur putih yang melegenda juga ada diantara tumpukan koin platinum.
"T-tuan Muda.. I-ini..?" Meng Luo tidak bisa melanjutkan ucapan paraunya. Seluruh tubuhnya bergetar dengan hebat dan tidak karuan. Saat ini dia menduga bahwa orang yang menggemparkan Benua Langit beberapa saat yang lalu adalah kedua pemuda yang ada didepannya ini. Meng Luo juga langsung mengubah cara panggilnya yang sebelumnya anak muda, kini menjadi Tuan Muda.
"Saya harap Tetua Meng tetap bertingkah sewajarnya. Saya juga berharap Tetua Meng merahasiakan ini!" ujar Ling Tian melalui telepati.
Mendengar pesan Ling Tian, Meng Luo hanya bisa menghirup nafas dalam-dalam yang terasa dingin. Dia berusaha menstabilkan jantungnya yang berdetak lebih cepat daripada saat jatuh cinta pada pandangan pertama waktu muda dulu. Sial! Perumpamaan ini keterlaluan tidak keterlaluan bukan?
"Baik Tetua Ketiga!" jawab gadis resepsionis tersebut dan mencatat nama kedua pengunjung dengan nama yang seperti Meng Luo katakan.
"Sudah Tetua Ketiga!" ucap gadis resepsionis.
"Bagus!" angguk Meng Luo.
"Kalau begitu, mari kita menuju portal sekarang!" ujar Meng Luo mengajak Ling Tian dan Ling We bergegas.
"Baik!"
Mereka bertiga segera pergi dari gedung pencatatan dan menuju dimana portal teleportasi berada.
"Mari buka portal menuju daratan tengah!" ujar Meng Luo kepada kedua orang yang berjaga didepan portal.
"Baik Tetua Ketiga!" jawab kedua penjaga portal serentak.
Mereka bertiga membuat gerakan rumit ditangan atau biasanya dikenal dengan sebutan penyegelan untuk mengaktifkan portal. Tidak lama, portal dimensi itu bergetar ringan dan mengeluarkan dengungan pelan. Fluktuasi udara menjadi kacau dan riak spasial mulai terbentuk.
Zhuung!
__ADS_1
Meng Luo melemparkan dua batu roh tingkat rendah untuk menstabilkan pusaran angin tersebut.
Sementara Ling Tian dan Ling We hanya menonton saja tanpa bergerak sedikitpun.
'Portal dimensi membutuhkan batu roh untuk menstabilkan riak spasial yang terbentuk! Sementara batu roh di Benua Langit ini sangatlah langka! Organisasi, klan atau sekte dibelakang pemilik portal dimensi ini tentgulah sangat luar biasa kuat!' batin Ling Tian. Dia cukup penasaran dengan intensitas yang memiliki bisnis membuka portal dimensi.
"Kalian berdua! Cepatlah masuk! Kami hanya mampu mempertahankannya selama lima menit!" ujar Tetua Ketiga.
"Baik!" jawab Ling Tian dan Ling We.
"Mari saudara We!"
"Ayo sobat!"
Ling Tian dan Ling We segera melangkahkan kaki untuk memasuki portal.
Zheepp!
Keduanya pun menghilang terbawa tarikan pusaran angin.
***
Daratan tengah.
Sebuah portal dimensi yang berada perkotaan kecil dipinggiran Kekaisaran Xiao daratan tengah tiba-tiba bergetar dan terbentuk sebuah celah dimensi.
Zhuuung!
"Sepertinya ada orang luar yang akan berkunjung ke daratan tengah!" ucap salah satu penjaga portal.
"Benar!" jawab penjaga lainnya.
"Kita harus siaga satu! Akhir-akhir ini banyak sekali orang-orang aliran hitam yang berusaha merangsek masuk!" ujar si penjaga.
"Jika yang keluar adalah mereka, maka aku akan langsung membunuhnya!" tiba-tiba seorang pria sepuh dengan aura kuat muncul dan mamasang sikap siaga namun tetap tenang.
"Tetua Fang! Salam Tetua Fang!" ujar kedua penjaga portal setelah menenangkan keterkejutannya.
"Ya! Kalian tetap fokus dan waspada!" kata Tetua Fang.
"Baik Tetua Fang!"
Celah dimensi perlahan-lahan terbentuk sempurna dan memperoleh ketenangannya. Tidak lama, celah itu memuntahkan dua orang pemuda bertopeng hitam separuh wajah dengan memakai jubah hitam dan merah kehitaman. Benar! Kedua pemuda itu adalah Ling Tian dan Ling We!
Swuusshh...
Swuusshh...
__ADS_1
"Akhirnya tiba juga di daratan tengah yang terkenal heb-.. Eh? Mengapa mereka memasang sikap siaga?" ucapan Ling We berubah saat mendapati dirinya dan Ling Tian dikepung oleh beberapa orang.
"Siapa dan darimana asal kalian? Jawab jujur atau mati!"