
Seorang pria paruh baya berpakaian layaknya bangsawan turun dari lantai dua. Raut wajahnya tampak muram saat melihat kedua penjaga tokonya mengerang kesakitan memegangi tangannya yang putus.
"Apa yang kau lakukan kepada mereka bocah?" tanya pria baya itu yang tidak lain adalah manajer toko.
Tidak menjawab pertanyaan pria paruh baya, Ling Tian malah balik bertanya.
"Apakah kamu manajer ditoko ini?"
"Iya, aku manajer sekaligus pemilik toko ini! Apa yang kau lakukan kepada mereka?" jawab pria baya dan kembali menanyakan perihal tangan kedua penjaganya yang terpotong.
"Aku tidak melakukan apapun! Aku hanya tidak suka saja tangan kotornya hendak menyentuhku. Eh.. Tiba-tiba putus tangan mereka!" jawab Ling Tian dengan mengangkat kedua bahu seolah bukan dia pelakunya.
"Awalnya aku ingin membeli stelan pakaian bagus untukku, namun sepertinya aku tidak jadi," lanjut Ling Tian.
"Cih! Orang miskin sepertimu mana bisa membeli pakaian disini! Bahkan satu pakaian termurah saja mustahil!" kata wanita pelayan yang mulai lagi tumbuh keberanian setelah kedatangan bosnya.
"Kamu bisa diam? Kau tahu masalah ini berawal dari mulut kotormu yang sombong itu?" tanya Ling Tian dengan dingin dan sorot mata tajam.
"Apa-apaan tuduhanmu itu! Bukankah benar kau itu hanya orang miskin yang sok mau beli pakaian mahal saja! Dan lagi bualanmu tadi yang katanya mau membeli toko ini? Cih!" jawab wanita pelayan dengan nada tinggi.
Criiing!
Lima puluh ribu koin platinum muncul membentuk gunungan kecil didepan semua orang dan mengejutkannya.
"Apa koin-koin ini cukup untuk membeli toko ini? Jangankan toko, Kota Zhongjian ini bisa kubeli dengan sedikit hartaku!" ujar Ling Tian dengan datar.
Swuusshh...
Koin-koin platinum itu kembali raib. Semua orang masih terdiam mematung dalam keterkejutannya. Puluhan ribu koin platinum? Bahkan harga termahal pakaian pakaian yang dijual hanya seharga dua koin emas! Gila! Jika pemuda didepannya masih dikatakan miskin lalu bagaimana dengan orang-orang lain? Bukankah kakek atau leluhur kemiskinan jika seperti itu? Bahkan Tuan Kota Zhongjian saja mungkin hanya mempunyai paling banyak sepuluh ribu koin platinum saja!
"Mengapa hanya diam? Bukankah sebelumnya kalian mengatakan aku orang miskin?" tanya Ling Tian yang menyadarkan lamunan semua orang.
"Aah! T-tuan Muda! Tolong jangan diambil hati ucapan wanita j*lang itu aku akan memecatnya sekarang juga!" ucap pria paruh baya dengan terbata-bata dan mengutuk pelayannya.
__ADS_1
"Sekarang kau dipecat dan akan dihukum dan didenda! Karena tindakan bodohmu orang lain mendapatkan bencananya!" lanjut pria paruh baya.
"Ta-tapi tuan, nanti saya makan apa jika tuan memecat saya?" tanya wanita pelayan itu sambil bersujud dan menangis tersedu-sedu.
"Itu bukan urusanku! Kalian berdua masih sanggupkan? Seret dia keluar dari sini! Aku muak melihat j*lang ini!" kata pria paruh baya.
"Baik tuan!" jawab kedua penjaga toko bertangan buntung satu itu dengan serentak.
"Tuan! Kumohon maafkan saya! Jangan pecat dan usir saya! Tuan!" teriak wanita itu ketika diseret kedua penjaga.
"Sekali-sekali jangan hanya melihat tampilan luarnya saja! Kadang kita tidak tahu bahwa sesungguhnya orang yang terlihat buruk itu adalah kemuliaan yang tak terhingga! Maka hanya penyesalan yang akan ditorehkan jika menyia-nyiakannya!" ujar Ling Tian pelan.
Setelah kepergian pelayan sombong itu, suasana ditoko menjadi hening. Pria paruh baya itu cukup merasa tidak enak hati dan canggung terhadap Ling Tian. Dirinya serba salah dan bingung hendak berbicara apa.
"Haaahh.. Baiklah.. Kau carikan saja dua puluh stelan pakaian terbaik berwarna hitam yang cocok dengan tubuhku ini!" ujar Ling Tian dengan menghela nafas panjang namun tidak lemas.
"B-baik Tuan Muda! Anda bisa duduk dulu disini menunggu sebentar. Saya pribadi yang akan menyiapkan semua!" jawab pria paruh baya.
"Baik!" singkat Ling Tian.
"Baik tuan!" jawab pelayan wanita.
Pria patuh baya itu pergi dengan pelayan lain untuk menyiapkan pesanan masing-masing. Tak butuh waktu lama datanglah pelayan cantik membawakan satu teko teh hangat dengan gelas cantik yang menjadi wadahnya nanti.
Dengan anggun dan hati-hati pelayan cantik itu menuangkan teh untuk Ling Tian.
"Silakan dinikmati tehnya Tuan Muda!" ucap pelayan dengan tersenyum manis.
"Terima kasih nona!" jawab Ling Tian ramah.
Ling Tian menikmati teh hangat itu dengan tenang.
'Aah.. Rasanya cukup lumayan juga! Haiih, andai didunia ini ada kopi.. Hmm.. Betapa nikmatnya..' gumam Ling Tian berandai-andai.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong pelayan, ayo ikut nikmati teh hangat ini bersamaku! Jangan hanya berdiri disitu! Kesini! Duduklah!" ujar Ling Tian yang merasa tidak enak saat pelayan didepannya hanya berdiri dan memandanginya menyesap teh hangat.
"S-saya tidak berani Tuan Muda!" jawab pelayan itu dengan gugup.
"Ayolah.. Tidak perlu sungkan! Aku tidak enak jika aku menikmati enaknya teh hangat ini namun kamu hanya berdiri dan melihat saja!" tutur Ling Tian.
"Tidak Tuan Muda! Saya tidak berani untuk tidak sopan! Kalau begitu saya akan pergi saja!" pelayan itu berkata dengan bahasa yang sangat baik.
"Emm.. Baiklah! Kau terimalah ini! Ini tips untukmu yang telah melayaniku dengan baik!" kata Ling Tian sambil melemparkan tiga koin platinum.
Wanita pelayan itu menangkap koin itu dan membelalakkan matanya hingga hampir keluar. Tiga koin platinum! Bahkan gaji bulanannya hanya satu koin emas! Dengan cepat wanita itu ingin menolaknya namun Ling Tian sudah mengangkat tangannya memberi kode untuk tidak bicara.
"Aku akan sangat kecewa jika kau menolak pemberianku yang tidak seberapa itu!" ujar Ling Tian.
"T-terima kasih Tuan Muda! Semoga Sang Maha Dewa selalu mengasihi Tuan Muda," tutur pelayan itu dengan air mata yang sudah membanjiri pipinya. Dia sangat bersyukur hari ini bertemu dengan orang sebaik Ling Tian.
Sebenarnya pelayan muda itu saat ini keluarganya dalam kondisi kesusahan. Ayahnya sedang sakit keras dan harus diobati atau diberikan pil penyembuh. Namun harga yang harus dibayar adalah sepuluh koin emas, tentu saja keluarga pelayan wanita muda itu tidak bisa berkutik sama sekali dan akhirnya anak gadis satu-satunya itu harus dengan terpaksa bekerja demi bisa membelikan obat atau pil untuk ayahnya.
"Baiklah.. Kau boleh pergi sekarang!" kata Ling Tian dengan senyuman terbaiknya.
"Sekali lagi terima kasih Tuan Muda!"
"Iya, sudahlah.. Itu rejekimu hari ini!"
Setelah menunggu beberapa saat, pria paruh baya itu datang kembali dengan dua pelayan yang membawa beberapa pack stel pakaian hitam ditangannya.
"Tuan Muda, ini adalah semua pesanan anda. Silakan anda cek dulu Tuan Muda!" kata pria baya sembari memerintahkan kedua pelayan untuk meletakkan barang dimeja depan Ling Tian.
"Emm.. Apakah ada ruangan khusus untukku mencobanya?" tanya Ling Tian.
"Tentu ada Tuan Muda! Pelayan, tolong arahkan Tuan Muda ini keruangan ganti!" tutur pria paruh baya.
"Baik, mari ikuti saya Tuan Muda!" kata pelayan.
__ADS_1
"Ya."