
"Ngomong-ngomong dimana Tuan Muda Tian? Bukankan Tetua We berangkat bersama dengannya?" tanya penjaga pintu itu.
Wajah Ling We sedikit menjadi kaku dan suram saat dirinya ditanyakan perihal Ling Tian. Dia tentu tidak tahu dimana bocah bau itu. Dulu saat dia berada di Kota Obat, Ling Tian pergi meninggalkannya tanpa pamit kepadanya. Ling Tian waktu itu hanya meninggalkan sepucuk surat kepadanya yang mengatakan dia telah pergi dari Kota Obat dan memintanya untuk meningkatkan kekuatan serta menjaga Zhong Nian.
"Ada apa dengan Tuan Muda Tian?" tanya penjaga gerbang itu lagi.
"Cih! Dia pergi tanpa pamit atau mengajakku lagi!" jawab Ling We dengan kesal.
"Ahaha.. Ayolah Tetua We! Kamu seperti tidak tahu Tuan Muda Tian saja!" ujar penjaga gerbang itu sambil tertawa renyah.
Melihat betapa akrabnya seorang Ling We yang mana dia memiliki kedudukan sebagai tetua dengan penjaga pintu gerbang masuk Desa Cemara, sungguh membuat orang-orang dari Klan Zhong itu merasakan pukulan keras. Mereka berfikir bagaimana hal seperti ini bisa terjadi. Pemandangan yang seperti itu tidak pernah mereka lihat di tempat mereka tinggal.
Status dan jabatan sering kali membuat pembatas antara kalangan biasa dengan kalangan bangsawan. Padahal mereka itu sadar mereka itu sama-sama manusia. Padahal mereka sama-sama makan daru mulut yang sama bentuk dan tempatnya.
Mereka yang dari kalangan tinggi atau bangsawan sering kali merendahkan orang-orang yang dari kalangan rendah. Mereka tidak sadar bahwa dengan adanya kalangan rendah mereka bisa dikatakan kalangan tinggi atau bangsawan.
"Haiis.. Sepertinya kita harus sedikit menata kembali struktur dan aturan kekeluargaan kita nanti setelah pulang!" ucap pria paruh baya atau ayah dari Zhong Nian, Tetua Zhong En.
"Benar! Kami sungguh malu melihat betapa dekatnya hubungan kemanusiaan di wilayah terpencil ini!" ujar salah satu tetua dari Klan Zhong.
Setelah berbicara untuk ramah tamah kepada kedua penjaga gerbang Desa Cemara, Ling We mengajak keluarga dari Zhong Nian kekasihnya itu untuk masuk dan menuju Klan Ling berada.
Seluruh anggota Klan Zhong hanya bisa membuka lebar-lebar mulut mereka melihat pemandangan serta keramaian Desa Cemara. Setelah berjalan kaki sekitar lima belas menit, rombongan keluarga Zhong yang dibawa Ling We akhirnya sampai juga dua ratusan meter didepan gerbang Klan Ling.
Hal yang pertama kali dilihat oleh keluarga Zhong Nian adalah sebuah pemukiman yang super megah dan mewah dengan pemandangan yang menakjubkan. Formasi array tingkat tinggi yang terlihat sangat kokoh seperti kubah berwarna kebiruan melingkupi seluruh pemukiman itu.
__ADS_1
"Selamat datang di Klan Ling!" ucap Ling We kepada keluarga calon istrinya sambil tersenyum.
"Nak! A-apakah benar ini Klan Ling?" tanya Zhong En dengan terbata-bata. Dia sangat tidak percaya melihat sebuah klan yang begitu kuat berada dipinggiran daratan timur.
Bahkan untuk dua penjaga gerbang disana adalah orang-orang yang sudah berada pada ranah Pendekar Platinum Awal. Sungguh tidak terduga sama sekali!
Bahkan untuk Ling We sendiri cukup terkejut dengan perubahan itu. Bagaimana tidak? Dia hanya pergi bersama Ling Tian tidaklah terlalu lama, namun kekuatan Klan Ling mikiknya sungguh diluar dugaan.
Memang itu sungguh mencengangkan bagi semua orang dari luar Klan Ling. Karena mereka tidak tahu bahwa Klan Ling memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh orang dari klan lain. Sesuatu itu adalah garis darah.
Setelah berlatih keras menggunakan sesuatu yang dibuat dan ditinggalkan Ling Tian, garis darah mereka satu persatu mulai bangkit yang membuat kultivasi mereka melonjak dengan sangat cepat dua kali lipat melebihi kultivator lain.
Ling We tersenyum saat melihat kedua penjaga gerbang dari jauh berdiri dengan santai sembari bertugas. Dia lalu mengeluarkan sebuah topeng dan memakainya. Setelah itu, Ling We melesat dengan cukup cepat menyerang kedua penjaga gerbang itu dengan tapaknya.
Swooshh...
Boommm...
Keduanya terlempar cukup jauh dari pintu gerbang itu dan menghantam tanah dengan cukup keras.
"Cih! Ternyata Klan Ling yang terkenal kuat itu sangatlah lemah!" ejek Ling We. Dia tentu tidak dikenali oleh kedua penjaga gerbang itu karena dia memakai topeng.
"Cuih!" kedua penjaga gerbang itu meludah darah dari mulutnya sebelum akhirnya keduanya kembali bangkit.
"Siapa kau! Mengapa menyerang kami tanpa sebab?" tanya salah satu penjaga gerbang itu dengan geram.
__ADS_1
"Bukan siapa-siapa! Hanya iseng saja!" jawab Ling We dengan santai.
Pernyataan dari Ling We itu membuat mereka yang awalnya hanya kesal kini menjadi sangat murka. Keduanya langsung mengeluarkan pedang dari cincin penyimpanan.
"Ohoo.. Sepertinya kalian akan serius! Baiklah.. Maju dan perlihatkan kepadaku kekuatan Klan Ling itu!" ucap Ling We dengan nada mengejek. Dia juga mengeluarkan sebilah pedang tingkat putih dari cincin penyimpanannya.
"Keparat! Kau benar-benar keterlaluan!" teriak kedua penjaga gerbang itu marah lalu menyerang Ling We dengan kekuatan penuhnya menggunakan teknik pedang petir yang Ling Tian bagikan kepada Patriark Ling Bo Teng atau pamannya.
Namun Ling We dapat melihat bahwa teknik itu tidaklah lengkap. Karena yang lengkap hanya akan diturunkan oleh Patriark Ling Bo Teng kepada calon penggantinya nanti.
Trank! Trank! Trank
Benturan kedua pedang terdengar sangat nyaring. Mereka bertiga bertarung dengan sangat sengit. Tentunya Ling We masih sangat menahan kekuatannya. Jika tidak, maka hanya dengan beberapa gerakan saja dia pasti sudah mengalahkan kedua penjaga gerbang itu.
Keributan yang ditimbulkan oleh pertarungan antara Ling We dengan kedua penjaga gerbang langsung menarik banyak perhatian orang. Mereka semua langsung menonton dari jauh pertarungan sengit itu.
Banyak dari mereka juga yang mencibir perbuatan pria bertopeng karena berani membuat masalah dengan Klan Ling. Bahkan terang-terangan menyerang orang dari Klan Ling didepan pintu gerbangnya.
Sementara untuk keluarga dari Zhong Nian, mereka hanya bisa menggelengkan kepalanya tidak berdaya. Mereka tahu bahwa calon menantunya itu sangatlah jail dan suka membuat onar. Sementara pertarungan ini mereka yakin bahwa Ling We hanya ingin menguji kekuatan tempur Klan Lingnya saja.
Bamm! Bamm!
Ling We berhasil menyarangkan dua pukulan pada dada kedua penjaga gerbang yang sukses mengirim keduanya terbang hingga menabrak formasi array.
"Haiihh.. Kalian ini masih lemah sekali!" ucap Ling We dengan santai sambil menghela nafas seperti orang yang sedang kecewa.
__ADS_1
Sementara semua orang yang mendengarkan ucapan santai dari pria bertopeng itu hampir muntah darah karena tidak percaya. Bahkan dalam kondisi yang mungkin saja dapat membuatnya dapat terbunuh ditempat itu dia masihlah sangat santai.
"Sialan! Siapa yang berani membuat keributan disini?"