
Ling Tian, Mao An dan kedua komandan dari pasukan elite Klan She akhirnya berbincang-bincang santai sambil menunggu pasukan yang akan segera tiba dibawah pimpinan langsung Tetua Pertama Klan She.
Sementara untuk anggota Klan She yang sebelumnya terluka karena serangan yang dilancarkan oleh Mao An segera disuruh memulihkan diri.
"Tuan Mao An! Mohon maaf sebelumnya. Apakah anda bukan berasal dari Hutan Tanpa Batas ini?" tanya Komandan Fuiqi dengan hati-hati.
Dia tidak bisa lagi menahan diri untuk tidak bertanya karena penasaran dengan identitas dari Mao An. Sebab dia tidak pernah mendengar ada Klan Mao yang berdiam di wilayah Hutan Tanpa Batas.
Mao An dengan tenang menganggukkan kepalanya seolah sudah maklum dan mengetahui dengan apa yang akan ditanyakan komandan dari pasukan elite Klan She tersebut.
"Komandan Fuiqi! Aku memang bukanlah dari kawasan Hutan Tanpa Batas. Aku adalah seorang Tuan Muda dari Klan Mao yang berasal dari sebuah keluarga kecil yang ada di ujung selatan daratan tengah.."
"Karena suatu masalah internal dalam klan, aku akhirnya memilih untuk menjadi seorang pengembara yang selalu berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain, yang akhirnya berakhir di dalam Hutan Tanpa Batas ini!" jawab Mao An dengan sedikit membuat cerita guna meyakinkan komandan tersebut untuk percaya.
"Haahhh.. Aku sebenarnya sangat merindukan keluargaku!" lanjutnya sambil dengan ekspresi mata menerawang keatas langit.
Kedua komandan pasukan elite Klan She bahkan Ling Tian ikut mengangguk-anggukkan kepala. Namun dibenaknya dia sangat terkejut dengan Mao An yang begitu menjiwai dalam beracting.
'Sungguh hebat kucing kecil ini!' gumamnya dalam hati.
"Tuan An! Maaf karena telah mengingatkan anda dengan kenangan anda!" ucap Komandan Fuiqi dengan menangkupkan tinju dan merasa sedikit bersalah.
"Tidak apa-apa Komandan Fuiqi! Ini justru menjadi pengingat bagiku selalu bahwa keputusanku untuk pergi meninggalkan klan saat sedang ada masalah adalah keputusan terbodoh yang pernah aku lakukan! Aku merasa akulah pengecut serta pecundang sejati yang lari dari masalah!" ucap Mao An dengan tersenyum kecut.
"Aku harap kalian bertiga tidak melakukan apa yang pernah aku lakukan!" lanjutnya memberikan nasehat.
Mendengar hal itu, Ling Tian sampai memelototkan matanya tidak percaya dengan Mao An. Namun buru-buru dirinya menangkupkan kedua tangannya untuk berterima kasih karena kedua komandan melakukan hal tersebut.
"Terima kasih atas nasehatnya Tuan An! Aku She Na akan selalu mengingat nasehat Tuan An!" ucap She Na dengan senang.
__ADS_1
Mereka berempat terus mengobrol santai dibawah pohon raksasa sampai sekitar setengah jam hingga akhirnya pasukan yang dikatakan oleh kedua komandan Klan She itu telah tiba.
Kedua komandan serta Ling Tian dan Mao An langsung mendatangi mereka untuk memberikan penyambutan.
"Salam Tetua Pertama!" ucap kedua komandan dan Ling Tian yang menyamar sambil menangkupkan tangannya dengan hormat. Sementara Mao An hanya diam dibelakang ketiga orang itu sambil menatap seorang pria yang tampak sepuh berdiri dengan tegap juga sesekali menatapnya.
Pria sepuh atau Tetua Pertama Klan She melihat kearah Ling Tian dengan lekat dan bingung. Komandan Na yang mengetahui arti tatapan itu segera memberikan penjelasan yang seperti dia terima dari Mao An dan Ling Tian melalui telepati.
"Mao An dari Klan Mao? Aku tidak pernah mendengar nama klan itu di kawasan Hutan Tanpa Batas! Apakah dia berasal dari luar?" tanya Tetua Pertama dengan tatapan menyelidik kearah Mao An.
"Benar Tetua Pertama, dia memanglah bukan berasal dari kawasan Hutan Tanpa Batas! Dia berasal dari Klan Mao atau ras jaguard di ujung selatan daratan tengah!" jawab Komandan Na.
Tetua Pertama Klan She menganggukan kepalanya lalu menatap Mao An.
"Tuan Mao An! Perkenalkan! Aku She Wu! Tetua Pertama Klan She mengucapkan terima kasih kepada Tuan karena telah menolong komandan kami yang tidak berdaya!" ucapnya dengan hormat sambil menangkupkan kedua tangan.
"Untuk masalah saudaraku Danfan, aku justru sangat senang telah menolongnya dari cengkraman manusia licik itu! Mengingat kita adalah ras beast maka kita seyogyanya harus saling membantu! Jadi lupakan kata terima kasih Tetua Wu sebelumnya!" ucap Mao An dengan keramahan dan bahasa baik tingkat tinggi.
"Baiklah.. Ucapan Tuan An memanglah benar! Kita sesama ras beast memang seharusnya bersatu agar tidak selalu ditindas oleh ras manusia!" ucap Tetua Pertama She Wu membenarkan.
Keduanya akhirnya mengobrol dengan santai sambil sesekali tertawa dengan renyah. Sebelumnya Tetua She Wu atau Tetua Pertama Klan She itu sudah mempersilahkan ketiga komandan yang termasuk Ling Tian untuk berkumpul dengan komandan pasukan yang lainnya.
"Tuan Mao An!" ucap Tetua Pertama memanggil dengan ragu.
"Bicaralah Tetua Wu!" ucap Mao An.
"Aku berniat menjamu Tuan An secara pribadi dikediamanku di Klan She! Kiranya Tuan An sudi untuk datang!" ucap Tetua Pertama dengan ragu.
Mao An tersenyum ramah kepada pria sepuh itu lalu memberikan jawabannya.
__ADS_1
"Tetua Wu! Dengan senang hati aku akan mendatangi kediaman anda nanti! Sebelumnya aku juga sudah mendapat undangan dari Komandan Na untuk mendatangi kediamannya!" ucap Mao An.
"Oh benarkah begitu?" tanya Tetua Pertama.
"Tentu! Selain itu, aku juga memang sudah berniat untuk ke Klan She bersama saudaraku Danfan jika sebelumnya kami tidak ditemukan oleh Komandan Na dan Komandan Fuiqi!" jawab Mao An menjelaskan.
"Baiklah.. Aku senang mendengarnya!" ujar Tetua Pertama.
Setelah berbincang-bincang beberapa saat, Tetua Pertama lalu memanggil Komandan Na untuk menginstruksikan separuh pasukan supaya bersiap untuk kembali ke klan, sementara separuh yang lainnya melanjutkan penyisiran mencari manusia yang menyusup dan menawan dua prajurit elite mereka.
Selesai berkemas, Tetua Pertama bersama Mao An, Ling Tian, Komandan Na, Komandan Fuiqi dan seratus lima puluh pasukan elite Klan She pergi meninggalkan tempat itu menyisakan seratus prajurit elit yang tersisa dengan empat komandan yang memimpin.
Diadalam perjalan, Tetua She Wu atau Tetua Pertama Klan She itu selalu mengajak bicara Mao An dalam berbagai hal dan aspek. Dia juga mengajaknya berbagi pengalaman masing-masing dalam hal kultivasi ataupun pertarungan yang pernah dilewati dalam kehidupan.
Ling Tian yang berjalan dibelakang kedua orang itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Terlebih dengan Mao An yang sikapnya kini terlihat sangat bijak dan berwibawa layaknya Tetua Agung disebuah klan besar.
Setelah melakukan perjalanan kurang lebih enam jam, rombongan itu akhirnya memasuki sebuah hutan yang memiliki pepohonan yang sangat hijau dengan udara yang sangat menyejukkan. Aura langit dan bumi ditempat itu juga sangat pekat dan menyegarkan.
Mao An dan Ling Tian dibuat takjub oleh pemandangan itu. Meskipun sebelumnya mereka telah mendapatkan ingatan dari She Danfan, tapi tetap saja keduanya merasa sangat terperangah.
Hal seperti itu segera mereka berdua tahan saat menyadari kembali akan mereka yang sedang dalam penyamaran.
"Pema dangan disini sangatlah indah!" ucap Mao An dengan takjub.
"Tentu saja! Kami memang selalu diwajibkan menjaga kelestarian alam yang kami tempati!" ujar Tetua She Wu.
"Oiya.. Selamat datang di kawasan Tengah Hutan Tanpa Batas Tuan Mao An! Ini adalah wilayah terluar dari wilayah inti Klan She kami!" lanjut Tetua Pertama sambil tersenyum ramah.
"Terima kasih Tetua Wu!" ucap Mao An dengan senang.
__ADS_1