
Ling Tian dan si kerbau mengamuk itu terus saling adu senjata yang menimbulkan dentingan yang memekakkan telinga. Sementara kedua teman si kerbau tanduk emas yang sudah selesai memulihkan kekacauan energi segera masuk lagi dalam pertarungan.
Pertarungan keempatnya semakin intens dan menarik. Beberapa orang menonton dengan bersemangat dan mencari sebuah pelajaran dari pertarungan tersebut.
Dengan masuknya dua kerbau yang lainnya, Ling Tian semakin bersemangat untuk bertarung. Senyuman cerah terlihat jelas dari sudut bibir Ling Tian.
Sebenarnya bisa saja Ling Tian menghajar ketiganya dalam sekejap dan mengalahkannya, namun Ling Tian merasa sudah cukup lama tidak menggerakkan badan. Jadi dia sengaja bermain-main dengan ketiga kerbau tanduk emas tersebut.
Seperti biasa, Ling Tian menggunakan teknik pedang Klan Yi untuk mengimbangi ketiganya. Ling Tian sangat menikmati pertarungan kali ini. Sementara ketiga kerbau itu sudah sangat kewalahan dan juga penuh kemarahan.
Terlebih saat melihat Ling Tian yang tersenyum, kehormatan mereka seperti sedang diinjak-injak oleh Ling Tian. Senyum itu mereka artikan sebagai suatu ejekan keras untuk mereka, bahkan Klan Xun mereka.
Trank! Trank!
Trank!
"Ayo keluarkan semua yang kalian miliki! Apa hanya itu kemampuan dari Klan Xun yang terkenal dengan pertahanannya itu? Cih! Aku sangat kecewa dengan kebenaran yang ada! Ternyata kabar itu hanyalah sebuah kebohongan belaka!" ucap Ling Tian mencibir.
"Keparat!" teriak ketiganya sangat marah.
Bahkan sang wasit yang mendengar cibiran sangat berani dari pemuda bertopeng itu wajahnya kini berubah menjadi merah padam karena marah yang terus berusaha dia tahan. Dia langsung melaporkan hal ini kepada sang Patriark dan Tetua Agung Klan Xun.
Sementara orang yang menonton dan menikmati pertarungan epic Ling Tian sampai memelototkan kepalanya karena tidak percaya dengan apa yang didengarkan oleh telinga mereka.
"Pemuda bertopeng ini terlalu berani!" ucap salah satu penonton sambil menggelengkan kepala.
"Benar! Aku yakin tidak lama lagi pemuda itu dalam masalah besar!" ujar temannya membenarkan dan menambahkan praduganya.
__ADS_1
"Kita akan segera melihatnya nanti!" ucap penonton itu.
"En.." temannya hanya mengangguk.
***
Sementara itu ditempat lain. Dua orang pria paruh baya sedang meminum teh hangat sambil mengobrol dengan santai disebuah gazebo taman belakang sebuah istana.
Mereka berdua terus bercanda dan tertawa tanpa ada yang membatasinya.
"Hahaha.. Patriark! Kita akan untung besar kali ini!" ucap salah satu pria paruh baya kepada pria baya lainnya.
"Benar Tetua Agung! Saran yang kamu berikan benar-benar membuat keuntungan yang sangat besar bagi Klan Xun kita!" ujar pria baya lainnya yang dipanggil Patriark.
"Hahaha.. Aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan untuk kepentingan dan kejayaan Klan Xun!" ucap pria baya yang dipanggil Tetua Agung.
Benar! Mereka berdua adalah Patriark Xun Chai dan Tetua Agung Xun Zuo yang sedang bahagia karena mendapat keuntungan sangat besar dari peraturan yang mereka berdua buat.
Wajah mereka berseri-seri terlebih Patriark Xun Chai yang menerima harta yang sangat banyak dari pemuda bertopeng yang Tetua Agung mintai denda yang sangat tidak masuk akal.
Sebenarnya saat itu Tetua Agung asal nyeplos kata saja, namun dia tidak menyangka bahwa pemuda bertopeng itu akan membayarnya tanpa berkedip.
Tentu saja melihat uang sebanyak itu yang diberikan dengan cuma-cuma Tetua Agung tidak akan menolaknya dan mengatakan akan memberikan denda juga kepada Jendral Besar Mang Juan.
Namun pada kenyataannya hal itu tidak pernah terjadi! Mang Juan adalah Jendral Besar Kota Xun dan juga termasuk pilar kekuatan dari Klan Xun. Mana mungkin Tetua Agung mendendanya dengan denda setinggi langit itu. Semua itu hanya akal-akalan Tetua Agung untuk keuntungan Klan Xun.
Disaat mereka sedang tertawa dan bercerita dengan senang, tiba-tiba sebuah getaran dari cincin penyimpanan atau lebih tepatnya dari giok penghubung mengganggu kesenangan dan kegembiraan mereka berdua. Wajah mereka yang sebelumnya berseri berubah menjadi masam karena hal ini.
__ADS_1
"Apa-apaan Tetua Kesembilan ini! Sudah dua kali ini menghubungiku! Dasar mengganggu kesenangan orang saja!" ucap Patriark Xun Chai dengan nada kesal.
"Benar! Aku pun begitu! Sebenarnya apa masalahnya sehingga dia tidak bisa menyelesaikannya sendiri?" ujar Tetua Agung Xun Zuo juga dengan gusar.
Keduanya lalu memeriksa pesan yang dikirimkan oleh Tetua Kesembilan Klan Xun mereka. Tidak berapa lama, wajah mereka langsung berubah menjadi menyeramkan.
"Bagus! Sangat bagus! Ada yang berani menghina Klan Xunku! Tetua Agung! Ayo kita lihat seperti apa pemuda itu! Jika memang dia berbahaya, maka kita bunuh saja!" ujar Patriark Xun Chai.
"Benar! Ayo kita lihat!" ucap Tetua Agung Xun Zuo.
Keduanya lalu menyudahi acara bersenang- senangnya dan menghilang dari tempat itu untuk melihat aksi orang pemuda yang begitu berani mengucapkan kata-kata menghina ditempat Klan Xun itu berada.
***
Ling Tian terus bertarung dengan ketiga kerbau tanduk emas. Dia masih terlihat baik-baik saja, sementara ketiga lawannya sudah banyak luka sayatan pedang tingkat putihnya.
Saat Ling Tian menebas salah satu dari ketiga kerbau itu, tiba-tiba sebuah niat membunuh yang sangat kuat terpancar dari arah penonton kepadanya.
Dia mundur untuk menjaga jarak. Seketika wajahnya berubah menjadi serius dan melihat arah dimana niat membunuh itu datang. Ling Tian melihat dua orang pria paruh baya sedang menatapnya dengan tajam. Ling Tian mengenal salah satu diantaranya yang tidak lain adalah Tetua Agung Klan Xun.
'Sepertinya orang yang menyerangku dengan niat membunuh itu adalah Patriark Klan Xun!' batinnya menjadi sangat waspada.
Setelah menjaga jarak, Ling Tian mengalirkan beberapa persen Qi Kaisar kepada tangannya dan melambaikan tangan. Seketika angin yang berhembus dengan sangat kuat menghempaskan ketiganya hingga menabrak formasi penghalang dan membuat mereka bertiga tak sadarkan diri.
"Wasit! Aku sudah selesai! Dimana tokenku yang lainnya?" ucap Ling Tian bertanya dengan santai. Namun didalam hatinya dia sangat waspada dengan Patriark dan Tetua Agung Klan Xun.
Suasana menjadi sangat hening. Tidak ada jawaban dari pertanyaan Ling Tian. Tidak ada pula teriakan kemenangan dari penonton satu orang pun. Semuanya terkejut dengan apa yang dilakukan Ling Tian.
__ADS_1
Hanya melambaikan tangan lalu menghempaskan ketiga lawannya? Bukankah harusnya dia bisa melakukan sejak awal tanpa adanya pertarungan sengit?
Hanya dua orang pria paruh baya yang tidak terkejut dengan aksi Ling Tian itu, sebab mereka tahu bahwa pemuda bertopeng itu menggunakan Qi Kaisar yang sangat kuat untuk mengalahkan ketiga generasi muda Klan Xun yang telah bertransformasi itu. Keduanya hanya menatap tajam pemuda bertopeng separuh wajah itu tanpa bergerak sedikitpun.