
Ling Tian berjalan mengikuti gadis pelayan itu dari belakang dengan santai ketempat kasir berada.
"Silakan Tuan Muda membayar biaya administrasinya dulu!" ucap gadis pelayan itu dengan lembut menunjuk tempat kasir berada.
"Baik!" angguk Ling Tian lalu berjalan mendekati meja kasir.
"Tuan Muda ingin menginap berapa hari?" tanya sang kasir tanpa basa-basi.
"Beberapa hari!" jawab Ling Tian aneh yang membuat sang kasir mengerutkan kening.
"Maksud Tuan Muda? Bisa diperjelas lagi?" tanya sang kasir.
"Emm.. Begini nona.. Sebelum aku menjawabnya, bolehkan aku menanyakan suatu hal?" ucap Ling Tian balik bertanya yang semakin membuat sang kasir keheranan.
Sang gadis kasir tidak langsung menjawab. Dia melihat Ling Tian dari atas hingga bawah meneliti dan menilai seluruh penampilan Ling Tian. Dia melihat pemuda tampan didepannya itu sangatlah acak-acakan dan tampak kusut sekali membuat gadis kasir itu sedikit risih dan jijik.
Dia telah menarik kesimpulan bahwa pemuda didepannya ini adalah orang miskin yang sok datang ke penginapan mewah tempatnya bekerja. Terlebih aura yang dikeluarkan hanyalah ranah Pendekar Berlian Awal Bintang 1, menandakan pemuda ini sangatlah lemah sekali.
Namun karena peraturan yang ditetapkan oleh penginapan yang mengharuskan menghormati setiap pelanggan yang datang, dia tetap mempertahankan senyuman manisnya meskipun dengan terpaksa.
"Tuan Muda! Pertanyaan apakah yang ingin anda tanyakan kepadaku? Jika memang itu tidak membahas privasi atau aku mengetahuinya, maka aku akan dengan senang hati menjawabnya!" ucap sang gadis kasir dengan ramah. Namun disebenarnya didalam hatinya sangatlah menahan dongkol.
"Terima kasih nona! Tentu saja bukan hal privasi! Aku hanya ingin bertanya, kira-kira kapan dunia rahasia di Gunung Huashu itu akan terbuka?" ucap Ling Tian bertanya dengan ramah.
"Apaaa! Untuk apa Tuan Muda menanyakan hal itu? Apakah Tuan Muda ingin memasuki dunia rahasia itu dengan kekuatan seperti itu?" gadis kasir itu terkejut mendengar pertanyaan Ling Tian yang ternyata hanyalah pertanyaan yang sudah diketahui semua orang di Kota Xun dan terheran dengan pemuda lemah didepannya. Dia menarik kesimpulan bahwa pemuda lemah ini bukanlah berasal dari Kota Xun.
"Tentu! Aku ingin mencari keberuntungan di dunia rahasia itu! Apakah ada yang salah?" tanya Ling Tian keheranan.
"Tentu saja anda salah Tuan Muda! Bahkan para Tetua Klan Xun yang sudah berada di Ranah Raja Tahap Menengah sampai Puncak kembali dari dunia itu dengan keadaan terluka! Lalu bagaimana dengan anda?" ucap gadis kasir dengan nada mencibir.
Ling Tian hanya menggelengkan kepalanya pelan. Dia melihat wajah gadis kasir itu yang terlihat sangat jelas menatapnya dengan jijik.
"Lalu apakah nona tahu kapan dunia itu akan terbuka?" tanya Limg Tian kembali ke pembahasan awal.
"Tentu saja! Dunia rahasia itu akan terbuka dalam waktu dua minggu lagi!" jawab sang gadis kasir.
"Baiklah.. Aku memesan kamar terbaik untuk sepuluh hari! Berapa biaya yang harus aku bayar?' ucap Ling Tian dengan santai.
Gadis kasir itu membuka rahangnya lebar-lebar saat mendengar Ling Tian ingin menyewa sebuah kamar khusus dan itu dalam waktu sepuluh hari! Apakah dia tidak salah dengar.
"Tuan Muda! Anda tidak bercanda bukan?" tanya gadis kasir.
__ADS_1
"Sebutkan saja biayanya!" ucap Ling Tian dengan ekspresinya yang tiba-tiba berubah menjadi datar.
"Baik! Untuk satu hari ruangan khusus dikenakan biaya seratus koin emas, jadi jika sepuluh hari maka-.."
Cring!
Belum selesai gadis itu menyebutkan jumlah keseluruhannya, Ling Tian sudah meletakkan sebelas koin platinum diatas meja kasir tersebut dan membalikkan badan melihat gadis pelayan yang sedari awal menunggunya dengan sabar. Dia memberikan satu koin platinum untuk membayar informasi gadis kasir tersebut.
"Tolong antarkan aku kekamar sekarang!" ucap Ling Tian sambil tersenyum ramah, membuat sang gadis pelayan semakin dag-dig-dug.
"B-baik Tuan Muda!" jawabnya dengan gugup.
Mereka berdua meninggalkan gadis kasir yang masih melongo melihat sebelas koin platinum didepannya itu.
Ling Tian terus berjalan mengikuti gadis pelayan dengan santai.
"Oiya pelayan! Tolong ketika saya didalam kamar, jangan biarkan siapapun menggangguku atau mendatangi kamarku!" ucap Ling Tian.
Dia berniat memasuki dunia jiwa untuk memurnikan energi Qi miliknya menjadi Kaisar Qi dan berusaha menerobos jika itu memungkinkan.
"Baik Tuan Muda!" jawab gadis pelanyan mengangguk.
Setelah sampai di lantai tiga penginapan dan didepan sebua kamar, pelayan itu membuka pintu kamar tersebut dan terlihatlah isinya yang sangat mewah.
"Baik!" angguk Ling Tian.
"Ini untukmu!" lanjutnya sambil memberikan satu koin platinum.
"T-tapi Tua-.."
"Terimalah.. Aku akan sangat kecewa jika kamu menolaknya!" ujar Ling Tian yang membuat sang gadis terdiam lalu menerima pemberian itu.
"Terima kasih Tuan Muda! Kalau begitu saya pergi dulu!" ucapnya dengan tulus lalu beranjak dari tempat itu.
"Iya! Silakan nona!" angguk Ling Tian lalu masuk kedalam kamar dan menguncinya dari dalam.
***
Daratan Barat.
Di pagi hari yang damai, disebuah hamparan pantai yang memiliki pasir putih yang indah dengan air lautnya yang terlihat berwarna biru, menambah keindahan tempat tersebut.
__ADS_1
Semilir angin menyegarkan berhembus dengan tenang membuat siapapun yang ditempat itu merasakan ketentraman dan ketenangan.
Puluhan sampai ratusan orang yang bekerja sebagai nelayan yang hanyalah sekelompok manusia biasa juga terlihat di bibir pantai itu. Mereka semua dengan semangat bersiap untuk memulai aktivitasnya mencari ikan di laut.
Beberapa orang juga terlihat sedang bersantai sambil menikmati keindahan mentari pagi yang dengan perlahan muncul dari ufuk timur cakrawala Benua Langit.
Mereka semua ada yang sedang bersandar disebuah kursi khusus dari bambu sambil sesekali perlahan menyesap teh hangat, ada pula yang sedang bercanda tawa dengan teman-temannya.
Kesemua orang itu adalah para kultivator yang berasal dari daratan barat atau lebih tepatnya adalah para prajurit penjaga pantai bagian timur daratan barat, tempat dimana Kekaisaran Song yang berkuasa.
"Pagi ini lebih indah dari biasanya!" ucap salah pemuda yang memiliki kekuatan di ranah Pendekar Perak Akhir Bintang 5.
"Haha.. Aku rasa sama seperti kemarin-kemarin! Selalu damai dan tidak ada masalah apapun!" sahut temannya yang lain. Dia juga memiliki kekuatan yang sama dengan pemuda sebelumnya.
"Kamu benar! Siapa juga yang berani atau hendak membuat masalah dengan Kekaisaran Song kita? Bukankah itu hanya cari mati?" ujar temannya yang lain. Meskipun ranah kultivasinya yang terendah dari yang lainnya, dia tetap berkata dengan berani seperti itu.
"Ya-ya-ya.. Tapi kita harus selalu waspada dengan kemungkinan buruk yang akan terjadi membahayakan Kekaisaran Song atau daratan barat ini!" tiba-tiba seseorang pria yang sedang duduk menyendiri ditempat itu berbicara dengan santai namun terdengar ketegasan tersendiri dari setiap kata yang keluar dari mulutnya.
Saat pria itu berbicara, beberapa pemuda yang sedang berbincang-bincang santai itu langsung menoleh kearah sang pria. Tampak sekali ketidak-senangan serta ketidak-puasan mereka perlihatkan kepada pria itu.
Namun meskipun begitu, mereka tidak berani membantah atau mengelak ucapannya karena pria itu adalah orang yang terkuat diantara mereka. Dia berada di ranah Pendekar Emas Awal Bintang 2 sekaligus yang menjadi komandan jaga di tempat tersebut.
"Sial! Komandan Ren semakin hari semakin terlihat menyebalkan!" ucap salah pemuda yang memiliki kekuatan terlemah melalui telepati.
"Benar! Mengapa juga jendral menugaskan dia untuk menjadi pemimpin kita! Cih! Dia benar-benar sangat kaku!" ucap pemuda yang lain yang juga melirik pria yang dipanggil Komandan Ren dengan tidak puas.
"Kalian tahu, bahkan aku sudah sangat ingin memukul wajah datarnya itu dengan tanganku ini!" ucap pemuda satunya sambil mengeratkan genggaman tangannya.
Disaat mereka sedang asik membicarakan ketidak-puasan mereka kepada sang komandan melalui telepati, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh puluhan nelayan yang berlarian kearah mereka sambil berteriak-teriak.
"Tuan! Tuan! Hahh.. Hahh.." teriak salah satu orang yang paling depan menghampiri sekelompok penjaga pantai itu.
Para prajurit penjaga pantai itu mengerutkan keningnya saat melihat wajah pucat pasi para nelayan itu. Pria yang menjadi Komandan prajurit itu dengan tergesa-gesa menghampiri kumpulan nelayan itu dan menanyakan alasan mereka yang begitu ketakutan itu.
"Ada apa dengan kalian? Mengapa kalian seperti orang ketakutan begitu?" tanya pria itu dengan wajah aneh.
"Tuan lihatlah!" ucap seorang nelayan sambil menunjuk kearah lautan lepas berada.
Semua pemuda yang merupakan prajurit penjaga pantai beserta pria yang menjadi Komandan itu spontan melihat apa yang ditunjuk nelayan itu.
Mereka semua menajamkan penglihatannya lalu tiba-tiba tubuh semua orang bergetar ketakutan. Wajah mereka juga berubah menjadi seputih kertas.
__ADS_1
"Oh tidak!" ucap Komandan prajurit dengan tubuh bergetar.
Mereka melihat sebuah armada perang berupa kapal terbang yang sangat besar dan ribuan kapal-kapal terbang kecil yang lain berada dibelakangnya.