
Ling We turun dari atas langit dengan wajah kusam. Sangat kontras dengan pakaiannya yang compang-camping. Tinggal di suruh saja dia duduk dipinggir jalan maka pasti banyak orang yang akan iba dan memberi sumbangan.
"Jadi kita sudah harus melanjutkan perjalanan?" tanya Ling We dengan wajah datar.
"Oy.. Oy.. Ada apa dengan wajahmu? Dan tentu saja kita harus melanjutkan! Kita tidak bisa selamanya disini! Kamu gantilah pakaian terlebih dahulu dan kita berangkat setelahnya!" jawab Ling Tian.
"Baiklah.." lemas Ling We. Dia hanya bisa menurut dan pergi untuk mandi serta berganti pakaian.
Hanya butuh waktu lima menit bagi Ling We untuk menyelesaikan ritual mandinya. Lekas itu, dia segera kembali ketempat dimana Ling Tian berada. Namun kali ini tampak ada yang berbeda. Ling We dapat melihat seluruh Tetua Sekte Neraka juga hadir disana.
"Kok tumben pada kumpul? Ada acara kah?" tanya Ling We dengan bodoh.
"Kami semua berkumpul untuk mengiringi kepergian Tuan Muda Tian dan Tuan Muda We dari Sekte Neraka!" jawab Patriark Li Duanren.
"Oh.. Jadi begitu.." angguk Ling We faham.
Mereka semua akhirnya berjalan menuju pintu gerbang sekte dengan santai. Tidak lupa Ling Tian mengajak ngobrol para Tetua agar suasana menjadi sedikit hidup.
Desas-desus kepergian Ling Tian dan Ling We sudah terdengar oleh para murid. Mereka semua sangat menyayangkan hal tersebut. Mereka masih ingin ditinggali oleh Dewa yang membuat mereka menjadi lebih kuat.
Namun harus bagaimana lagi? Keputusan Sang Dewa adalah mutlak! Para murid sekte tidak bisa menahannya sama sekali. Mereka harus menerimanya dengan lapang dada. Mereka tidak harus terus ditunggui oleh Sang Dewa. Mereka harus berkembang dan mandiri.
Sang Dewa telah memberi mereka bahan untuk menjadi kuat dan hebat, tinggal bagaimana mereka mengolahnya. Umpama Ling Tian sudah memberikan bahan berupa singkong, tinggal cerdas-cerdas mereka hendak dibuat jadi makanan apa. Mungkin jadi singkong rebus, singkong goreng, ataupun gethuk bagi yang bisa. Atau mungkin jenis makanan lainnya.
"Aku masih belum bisa terima jika Dewa Formasi akan pergi meninggalkan kita!" ucap salah satu murid Sekte Neraka yang melihat rombongan Ling Tian dan para Tetua menuju pintu gerbang sekte.
"Benar sekali! Rasanya baru saja kemaren Yang Mulia Dewa Formasi mengunjungi kita! Eh sekarang sudah hendak pergi saja!" sahut teman yang ada disebelah.
"Tapi keputusan beliau adalah sebuah hal mutlak! Kita hanya harus berusaha untuk menjadi yang terbaik untuk tidak mengecewakannya saat beliau kembali berkunjung!"
"Benar sekali katamu! Kita harus menjadi kuat dan hebat demi Dewa kita tidak kecewa!"
"Iya!"
Bisik-bisik para murid yang belum rela Ling Tian meninggalkan Sekte Neraka terus terdengar ditelinga Ling Tian. Sementara Ling Tian sendiri hanya bisa menghela nafas panjang. Kepergiannya tidak bisa ditunda lebih lama lagi! Karena hanya akan memperlama dirinya menjajaki daratan tengah yang luas ini.
__ADS_1
Ling Tian dan Ling We serta rombongan para Petinggi Sekte Neraka akhirnya tiba di pintu gerbang sekte. Dia dan saudaranya melangkah keluar dari gerbang dan memandang para Tetua dibelakangnya.
"Jadilah lebih kuat lagi! Aku akan membutuhkan kalian suatu hari nanti!" ucap Ling Tian.
"Kami tidak akan mengecewakan Tuan Muda!" seru semua Petinggi Sekte kemudian berlutut dihadapan Ling Tian dan Ling We.
"Semoga perjalanan Tuan Muda berdua berjalan dengan semestinya!" kata Patriark Li Duanren menambahkan.
Ling Tian mengangguk. Dia melihat Ling We yang kemudian juga ikut mengangguk.
"Baiklah.. Kami pergi sekarang!" ujar Ling Tian dan Ling We bersamaan.
Zheepp!
Keduanya menghilang dari hadapan para Petinggi Sekte Neraka bersatu dengan udara tipis tanpa meninggalkan jejak aura sedikitpun.
Setelah kepergian kedua orang bermarga Ling tersebut, Patriark Li Duanren dan para Tetua Sekte Neraka lalu bangkit dari berlutut. Mereka serentak menghelakan nafas panjang.
"Baiklah! Mari kita menjadi lebih kuat dan hebat dalam formasi dan array! Tuan Muda Ling telah mempercayakan semua kepada kita! Ujar Patriark Li Duanren memberikan semangat.
***
Zheep! Zheep!
Sementara itu, disaat yang sama kedua sosok pemuda bertopeng separuh wajah dengan memakai jubah hitam dan merah kehitaman muncul diatas langit jauh sekitar sepuluh mil dari Sekte Neraka berada. Kedua pemuda itu tidak lain adalah Ling Tian dan Ling We. Hanya dalam waktu beberapa detik saja mereka sudah sejauh ini dalam melesat terbangnya.
"Wah.. Kecepatanmu cukup lumayan juga saudara We!" ujar Ling Tian memberikan pujian yang tulus.
"Terima kasih untuk pujianmu saudaraku! Tapi aku masih belum puas hanya dengan kecepatan seperti ini!" balas Ling We. Dia masih belum puas dengan kecepatan yang dimilikinya saat ini. Dia merasa, kecepatan ini belumlah separuh dari kecepatan Ling Tian saat membawanya pergi dari hutan saat itu. Yang dia inginkan adalah melampaui itu!
Padahal jika itu orang lain yang bukan Ling We, mereka pasti akan sangat bangga memiliki kecepatan terbang secepat ini. Karena hanya orang-orang dari ranah Pendekar Berlian Awal lah yang mampu melakukan kecepatan terbang seperti Ling We.
Mereka berdua terus melesat kearah tidak menentu karena belum memiliki tujuan baru. Sementara yang ditunggu Ling Tian berupa kemunculan harta langit dan bumi masih butuh waktu beberapa saat lamanya menurut Wei Hun.
"Jadi, kemana tujuan kita kali ini?" tanya Ling We.
__ADS_1
"Kita akan mencari sebuah kota terlebih dahulu untuk mencari informasi!" jawab Ling Tian.
"Baiklah.."
Ling We hanya bisa pasrah mengikuti saja. Yang terpenting baginya adalah berpetualang dan tidak mendekam didalam klan seperti ayam yang sedang mengerami telur. Ling We tahu dia juga punya telur, tapi miliknya itu tidak akan pernah menetas jika di-erami.
Lupakan pemikiran konyol itu!
Mereka terus melesat terbang dan saat ini telah berada diatas sebuah hutan yang cukup luas. Pohon-pohon tinggi dengan dedaunan berwarna hijau saja yang mampu mereka lihat dengan mata kepala.
Trink! Trink!
Trank! Trank! Trank!
Tiba-tiba sebuah suara benturan besi terdengar dikedua telinga kedua pemuda bertopeng separuh tersebut.
"Saudaraku?" ucap Ling We.
"Benar! Sepertinya didepan kita ada yang sedang bertarung! Mari kita lihat terlebih dahulu!" sahut Ling Tian.
Zhep! Zhep!
Keduanya menghilang dari tempat semula dan muncul tidak jauh dari pertarungan dengan menyembunyikan aura keberadaan. Mereka berdua menonton pertarungan dua kelompok orang berjubah hijau dan hitam keemasan dengan tenang diatas dahan pohon raksasa
Boommm...
Sebuah ledakan terjadi saat serangan seorang wanita berumur sekitar empat puluhan tahun mengenai seorang pria paruh baya berjubah hijau hingga terpental beberapa meter jauhnya.
Sebuah ngarai juga ikut tercipta yang ditengah-tengahnya terdapat pria baya yang sedang memegangi dadanya yang terlihat sesak. Sebercak darah juga jelas ada disudut bibir pria baya tersebut. Itu bisa terlihat setelah angin menerbangkan debu-debu yang berhamburan kemana-mana.
"Apa sebenarnya yang Klan Lian inginkan? Mengapa kalian menyerang kami Asosiasi Alkimia?" ujar pria paruh baya berjubah hijau dengan kemarahan yang meluap-luap.
_________________________________________
*Maaf belum bisa konsisten Up pada jadwal🙏.. Intinya sehari Author usahakan 2 bab🙏
__ADS_1