
"Apa!" kaget Hei Si.
"Tian'er ingin berlatih disana bu!" jawab Ling Tian.
"Tapi kenapa harus di hutan gelap nak? Tempat itu sangat berbahaya!" kata Hei Si.
"Tian'er juga tahu bu! Tapi Tian'er juga ingin mencari keberuntungan disana! Siapa tahu dengan terus berlatih dantian Tian'er akan terbuka!" jawab jujur Ling Tian.
Hei Si tampak berfikir. Dia takut kehilangan anaknya, tapi juga berharap apa yang dikatakan Ling Tian terjadi. Yaitu dengan terbukanya dantian Ling Tian. Hal ini membuat hatinya bimbang untuk melepaskan sang anak. Dia sangat mengetahui bahaya di hutan gelap. Tapi dia juga mengetahui banyak kemanfaatan yang akan diperoleh Ling Tian jika berlatih disana. Jika keberuntungan yang dikatakan Ling Tian benar-benar terjadi, maka betapa bahagianya Ling Tian. Dan jika dengan Hei Si melarang Ling Tian berlatih disana dan dantiannya akan tetap tersegel, betapa akan merasa bersalahnya Hei Si.
"Kapan rencanamu akan berangkat nak? Dan berapa lama kamu akan disana?" tanya Hei Si.
"Mungkin besok bu! Dan mungkin lima tahun sudah cukup buatku disana!" jawab Ling Tian.
"Tidak! Ibu tidak akan mengizinkanmu jika selama itu! Tiga tahun mentok buat ibu!" kata Hei Si.
"Baik bu, Tian'er akan tinggal disana hanya tiga tahun dan akan kembali setelah itu," ucap Ling Tian.
"Baik! Ibu mengizinkanmu tapi kamu harus berjanji! Tiga tahun harus pulang kerumah!"
"Tian'er berjanji sama ibu!" jawab Ling Tian.
Bukan tanpa alasan kuat Hei Si mengizinkan Ling Tian. Dia tahu dengan kekuatan fisik Ling Tian yang sekarang, dia akan mampu menandingi kekuatan Pendekar Besi tahap akhir. Cukup aman bagi seseorang untuk bepergian melancong sendiri.
*****
Di kediaman Ling Qinzu, setelah usai pertemuan,
'Tch! Patriark selalu saja melindungi bocah keparat Tian itu! Aku harus mencari cara agar dia keluar dari Klan secepat mungkin! Andai dia ikut turnamen, pasti para peserta akan babak-belur dibuatnya!' gumam Ling Qinzu.
"Apa kalian punya cara agar bocah itu segera minggat dari Klan?" tanya Ling Qinzu pada para tetua yang duduk bersamanya.
"Tidak tetua agung!" jawab mereka.
"Cih! Kalian benar-benar tak berguna!" kata Ling Qinzu muram.
"Tetua agung!" panggil salah tetua.
"Iya, ada apa?"
"Kemaren ada salah satu muridku yang mendengar obrolan bajingan kecil itu dengan Ling We!" kata tetua.
"Obrolan?" tanya Ling Qinzu.
"Benar tetua agung! Muridku mengatakan si Bedebah kecil itu tentang hutan gelap! Dan menurut muridku Ling Tian bangs*t itu tertarik berlatih disana!" ujar si tetua.
"Oh benarkah?" tanya Ling Qinzu.
"Benar tetua agung! Jadi kita tidak perlu repot-repot mengurusi bagaimana cara mengeluarkan dia dari Klan! Dia sendiri yang akan keluar dan bisa dipastikan akan mati di hutan gelap! Bukankah tetua agung tahu betul betapa mengerikannya hutan itu?" ungkap tetua lagi.
"Hemmm.. Bagus! Ini berita bagus! Hahaha. Dia pasti mati jika masuk ke hutan mengerikan itu!" kata Ling Qinzu bahagia.
__ADS_1
"Terima kasih beritamu tetua Meng! Mari kita minum! Hahaha." lanjutnya.
*****
Keesokan harinya, setelah berkemas dan menyiapkan segala sesuatu untuk kebutuhan perjalanan, Ling Tian berniat pamit kepada ibunya.
"Ingat pesan ibu Tian'er! Jangan masuk terlalu dalam di hutan itu! Akan sangat berbahaya bagi keselamatanmu!" ucap Hei Si.
"Baik bu! Tian'er akan usahakan mengingat pesan ibu!" ungkap Ling Tian.
"Baiklah! Do'a ibu menyertaimu! Dan semoga kamu mendapatkan keberuntungan itu!" kata Hei Si.
"Iya bu! Kalau begitu Tian'er pamit! Sampaikan pada paman Bo Teng dan para tetua Tian'er minta maaf telah banyak membuat kesusahan," ucap Ling Tian tulus.
"Pasti akan ibu sampaikan! Kamu tenang saja! Hati-hati disana dan utamakan keselamatanmu!" ujar Hei Si.
"Baik."
Setelah berpamitan dengan sang ibu, Ling Tian segera melesat ke kediaman sahabatnya, Ling We. Dia juga berniat akan berpamitan kepada karibnya itu. Saat dalam perjalanan, Ling Tian tak sengaja berpapasan dengan Ling Liuhua. Dia segera berhenti untuk menyapa.
"Ah! Nona Lianhua! Kita bertemu lagi!" ucap Ling Tian.
"I-iya Tuan Muda Tian," jawab Ling Lianhua gugup. Dia terheran dengan Ling Tian yang sudah mengetahui mananya. Padahal dipertemuan kemaren belumlah sempat berkenalan.
"Ah! Tidak perlu memanggilku Tuan Muda! Panggil saja Tian atau saudara Tian. Aku akan lebih senang! Hm.. Ngomong-ngomong Nona Liu hendak kemana?" tanya Ling Tian basa-basi.
"Ini Tuan Muda. Eh! Maksudku saudara Tian. Saya hendak ke tempat Patriark. Ada pesan dari ayah yang harus kusampaikan! Saudara Tian sendiri hendak kemana? Kenapa banyak membawa barang?" ucap Ling Lianhua menundukkan pandangan.
"Berpamitan? Memangnya Tu-.. Maksudku saudara Tian hendak pergi kemana?"
"Benar! Saya akan berlatih di hutan gelap!" ungkap Ling Tian.
"Hutan gelap?" kaget Ling Lianhua.
"Betul!"
"Bukankah hutan itu sangat berbahaya?" tanya Ling Lianhua. Tampak diraut wajahnya ada rasa kekhawatiran. Ling Tian yang melihatnya merasa sedikit senang.
'Hmm... Apa dia mengkhawatirkanku? Apa ini tanda bahwa dia menyukaiku?' gumam Ling Tian. Kemudian dia menatap tajam kearah Ling Lianhua. Pandangan mereka bertemu beberapa saat. Wajah Ling Lianhua tampak sedikit kemerah-merahan seperti tomat masak.
"Yang kamu katakan memang benar adanya! Hutan gelap memang sangat berbahaya! Namun aku akan tetap kesana untuk berlatih!" jawab Ling Tian penuh keyakinan.
"Hei Cacat! Jauhi Nona Lian! Kamu tidak pantas dekat-dekat dengan dia!"
Tiba-tiba serampangan ucapan menyela obrolan Ling Tian dan Ling Lianhua.
"Hm..." gumam Ling Tian sambil menengok kearah sumber suara.
Rupa-rupanya ada lima pemuda yang melihat Ling Tian sedang bercakapan dengan Ling Liuhua. Tentu saja mereka panas dan tidak senang. Salah satu dari mereka adalah pemuda paling berbakat di Klan Ling, Ling Xuan.
"Cacat! Pergi dan jauhi Nona Lianhua sekarang!" ucapnya lagi.
__ADS_1
"Apa urusan kalian jika aku dekat dengan Nona Lian?" tanya Ling Tian datar.
"Tentu saja kami tidak senang! Kamu hanya mengotori pandangan sang bidadari! Dasar Cacat!" jawab pemuda itu dengan tatapan menghina.
"Owh.. Lalu jika aku tak mau bagaimana?" tanya Ling Tian.
"Tentu saja kami akan menyingkirkanmu dan menendangmu dari Klan!"
"Hei.. Hei.. Coba saja jika kalian mampu!" ucap Ling Tian tersenyum jahat.
"Owh! Jadi kamu menantang kami? Baiklah! Ayo! Hajar dia!" ajak Ling Xuan pada rekan-rekannya.
"Sriiiing!" bunyi pedang keluar dari rangkanya.
"Cukup! Kalian! Apa yang kalian lakukan?" bentak Ling Lianhua. Dia merasa bersalah atas keributan ini. Dia memang tahu kekuatan Ling Tian, namun jika harus melawan lima orang sekaligus, maka hanya akan ada kekalahan dan luka parah yang diterima Ling Tian.
"Ho.. Ho! Sepertinya Si Cacat ini hanya bisa berlindung dibalik ketiak wanita!" ejek salah satu pemuda.
"Kamu benar! Si Cacat itu memang tidak tahu malu!" tambah Ling Xuan.
"Cukup saudara Xuan! Jika kamu terus melanjutkan permasalahan ini, jangan harap aku dan teman-temanku mau menyapamu! Apa lagi mengenalmu!" ancam Ling Lianhua.
Ling Xuan mengerutkan keningnya. Tentu saja dia tidak mau jika tidak mendapat sapaan dari para wanita cantik. Dia menghela nafas.
"Cih! Kali ini kamu selamat Cacat! Turunkan pedang! Ayo pergi!" ucapnya, kemudian pergi bersama teman serombongannya.
"Maafkan atas kejadian ini saudara Tian," ucap Ling Lianhua tulus.
"Tidak apa-apa Nona Liu. Aku sudah terbiasa dengan hal seperti ini," Jawab Ling Tian.
"Ya sudah, kalau begitu aku pamit! Terima kasih atas perlindunganmu tadi!" lanjutnya.
"Iya saudara Tian! Silakan!" jawab Ling Lianhua.
Ling Tian melesat pergi ke rumah Ling We. Setelah cukup berbasa-basi kepada saudaranya, Ling Tian pergi untuk memulai perjalannya.
"Mari kita mulai petualangannya!"
.
.
.
________________&&&&.
Tinggalkan like, komentar, atau votenya...
Kata-kata hari ini:
"Nikmatilah hidupmu yang sebentar ini! Aku tahu hidupmu susah!😂.. Jangan tambah kesusahanmu dengan keluhanmu!" .. (dampratanmu ngena njirr!)ðŸ¤ðŸ¤£ðŸ¤£ðŸ¤£
__ADS_1