
"Aku mengakui, hidung seekor cacing memang sangat tajam!" cibir Ling Tian.
"Sialan! Mana yang lainnya bocah?" Long Yuan langsung dengan tanpa malu meminta.
"Apanya?" Ling Tian sok tidak tahu. Dia justru memasang wajah malas dan seperti orang mengantuk.
"Anggur dua ribu tahun lah! Apa lagi?" ujar Long Yuan dengan geram.
"Cepat! Mana yang lain!" lanjutnya.
"Hahaha.. Apakah kamu sedang merampok cacing biru sialan?" tanya Ling Tian dengan tertawa girang.
"Sayangnya kamu salah orang! Aku sudah tidak lagi memegang anggur tersebut! Aku sudah meminumnya bersama saudara We! Jika kamu mau, maka minta saja kepada senior Wei! Hahaha.." imbuhnya.
"Itu-.." Long Yuan tidak berani melanjutkan kata-katanya. Dia tidak terlalu enak meminta kepada Wei Hun. Namun melihat Wei Hun yang saat ini sedang menuangkan anggur mulia itu didalam gelas, dirinya tidak bisa untuk tidak menelan ludah kasar.
Glup!
Long Yuan tidak memahami betul ucapan Ling Tian. Sudah tidak memegang? Memang benar dan tidak bohong bahwa saat ini Ling Tian sudah tidak memegang anggur dua ribu tahun! Namun didalam cincin penyimpanannya masih ada ratusan botol lagi. Sungguh kata-kata yang licik lagi cerdik!
Sebenarnya bukan hanya Long Yuan saja yang menginginkan anggur dua ribu tahun tersebut. Mao An dan Zhuge Ruxu pun sangat tergiur dan ingin sekali meneguknya. Namun mereka tidak berani meminta kepada Wei Hun yang sebelumnya memasang wajah garang.
"S-saudara Wei!" panggil Long Yuan dengan suara pelan.
"Hm..?" Wei Hun hanya mengangkat alisnya.
"Bolehkah aku meminta sedikit saja anggurmu itu?" tanya Long Yuan.
"Ini!" tanpa basa-basi dan menjawab, Wei Hun langsung melemparkan botol anggur tersebut kepada Long Yuan.
Long Yuan tentu gelagapan untuk menangkap harta karunnya itu. Namun akhirnya dia berhasil menangkapnya dengan baik.
"Lupakan masalah anggur dua ribu tahun! Mari kita bahas pesan dari Sang Maha Dewa terlebih dahulu!" ucap Wei Hun.
__ADS_1
"Senior Wei benar! Lalu apa pesan guru tua itu kepada senior?" tanya Ling Tian santai.
"Sialaaan! Jangan panggil Yang Agung dengan sebutan itu bodoh!" Long Yuan langsung menggerutu saat mendengar Sang Maha Dewa seluruh semesta dipanggil oleh Ling Tian dengan sebutan guru tua.
"Hahaha.. Dia memang guruku yang sudah tua cacing sialan! Apa pesannya?" Ling Tian tetap santai dan justru tertawa menanggapi Long Yuan.
"Sang Maha Dewa memerintahkan kami bertiga untuk segera berangkat ke Alam Menengah untuk membuat pijakan disana!" ujar Wei Hun.
"Kapan kalian akan berangkat?" tanya Ling Tian.
"Sepuluh hari atau satu bulan waktu dunia jiwa dari sekarang!" jawab Wei Hun.
"Lalu bagaimana dengan para murid kalian? Apakah sudah selesai dalaam pelatihannya?" Ling Tian kembali bertanya.
"Mereka sudah berlatih dengan baik selama seratus hari di dunia jiwa. Kekuatan mereka semua juga saat ini juga sudah berada di ranah Pendekar Emas Akhir! Saat ini kami meminta menyuruh mereka untuk terus berkultivasi di aula kultivasi milik Tuan Muda untuk menembus ranah Pendekar Platinum. Namun begitu, kami menyarankan mereka untuk keluar dan menerima petir kesengsaraan secara langsung guna memperkuat tubuh mereka! Selain itu kami semua juga sudah memberikan jurus lengkap yang kami kuasai kepada mereka melalui transfer ingatan!" giliran Zhuge Ruxu yang tiba-tiba menjawabnya dengan penjelasan panjang kali lebar.
"Jadi begitu.. Baguslah!" ujar Ling Tian sambil mengangguk puas.
"Lalu? Apakah hanya itu saja pesan dari guruku?" lanjut Ling Tian bertanya.
"Ooh.. Harta langit dan bumi? Dimanakah letak harta itu akan muncul?" Ling Tian menjadi sedikit tertarik.
"Sang Maha Dewa tidak mengatakan dimana letak jelasnya. Intinya tidak lama lagi harta itu akan segera muncul di daratan tengah ini! Saudara kecil hanya perlu menunggunya sebentar!" jawab Wei Hun.
"Emm.. Baiklah! Aku akan menunggunya dan akan melihat harta langit dan bumi macam apa yang akan keluar nantinya!" ujar Ling Tian.
Sebelum mereka melanjutkan obrolan, tiba-tiba seorang pria tua dan pemuda yang membawa sebuah nampan berisikan teko dan gelas datang dan memasuki aula tamu Sekte Neraka.
"Permisi!" ucap pria tua itu.
"Silakan!" jawab Ling Tian dan semua saudaranya.
Pria tua itu terdiam sejenak karena merasakan jantungnya hendak copot. Merasakan aura yang terpancar dari orang-orang didepannya, tubuh pria tua itu tidak bisa untuk tidak bergetar ketakutan. Pria tua itu tidak lain adalah ayah dari Li Shin atau Patriark Sekte Neraka, Li Duanren.
__ADS_1
"Mengapa hanya diam disana? Silakan masuk Patriark!" ucap Ling Tian dengan ramah.
"Ah! B-baik Tuan Muda Ling!" kata Patriark Li Duanren dengan sedikit tergagap.
"Salam Tuan Muda Ling! Salam senior semuanya!" ujar Patriark Li Duanren sambil menangkupkan kedua tangan lalu duduk di kursi yang tersedia.
"Salam!" jawab semua orang.
"Patriark! Perkenalkan.. Mereka semua adalah saudara-saudaraku!" ujar Ling Tian dengan tersenyum.
"Iya Tuan Muda!" angguk Patriark Li Duanren.
Patriark Sekte Neraka Li Duanren ini terus berusaha mempertahankan ketenangannya. Pasalnya, dia merasa bahwa orang-orang dihadapannya kali ini bukanlah orang sembarangan.Dia pernah merasakan sensasi seperti ini meski tidak seperti sekarang saat berhadapan dengan Leluhur Lian Qin dan Leluhur Xiao Chen. Sementara Tuan Muda Li Shin hanya diam dan menuangkan teh untuk semua orang.
"Jadi kamu Patriark Sekte Neraka ini?" tanya Long Yuan.
"Benar senior! Saya Li Duanren adalah Patriark Sekte Neraka!" jawab Patriark Li.
"Tidak buruk untuk seseorang yang berada pada ranah Pendekar Berlian Menengah Bintang 5!" kata Long Yuan sambil manggut-manggut. Entah apa tujuannya bertanya seperti itu.
"Senior terlalu meninggikan! Saya hanyalah semut kecil dihadapan Naga Agung seperti senior!" ungkap Patriark Li dengan menggunakan bahasa kiasan namun berhasil membuat raut wajah Long Yuan sumringah secara tiba-tiba.
"Ooh.. Kamu pintar sekali dalam berkata-kata! Berhubung aku sedang dalam hati yang lumayan baik, terimalah sedikit hadiah dariku!" kata Long Yuan sambil melemparkan sebuah cincin penyimpanan kepada Patriark Li Duanren.
"Senior? Ini?" ucap Patriark Li Duanren setelah menangkap cincin tersebut. Dia tidak berani langsung menerimanya apalagi memeriksa dihadapan sang pemberi. Meskipun begitu, Patriark Li Duanren yakin bahwa didalam cincin penyimpanan yang ada ditangannya ini pastilah terdapat barang yang sangat berharga karena yang memberikannya adalah orang yang sangat kuat.
"Sudahlah Patriark Li! Terima saja pemberian saudaraku itu! Sangat jarang dia ini mau bersedekah seperti sekarang ini!" kata Ling Tian dengan nada yang sedikit tidak enak didengar oleh Long Yuan.
Mendengar ocehan dari bocah bau itu, seketika mood Long Yuan menjadi hancur berkeping-keping. Dia sangat ingin sekali mengucek-ngucek atau menampol mulut berbisa Ling Tian itu. Namun dia hanya bisa menahannya saja.
"Cih!"
______________________________________
__ADS_1
Yok yang belum VOTE yook😁📢📢📢