
Setelah menyimpan kristal iblis dari dua lawannya yang telah dia bunuh. Ling Tian duduk dengan santai dibawah pohon yang cukup besar lalu menonton pertarungan kedua saudaranya sambil mengeluarkan secangkir teh dan meminumnya dengan tenang.
Karena terlalu fokus menghadapi musuh-musuhnya, mereka berdua sama sekali tidak menyadari bahwa pertarungan Ling Tian sudah selesai dan orang yang menjadi pelaku itu sedang menikmati tehnya yang sangat lezat untuk diminum.
Andai mereka memperhatikan tingkah konyol Ling Tian itu, mereka berdua pasti akan memberikan sumpah serapah supaya Ling Tian tersedak saat minum.
Bagaimana tidak? Bukannya membantu saudaranya yang sedang bertarung melawan musuh, Ling Tian malah asyik menonton sambil ngeteh. Sial! Untung saja keduanya belum melihat polah Ling Tian itu.
.
.
Diadalam pertarungan, Mao An terus beradu cakar dengan pemimpin hewan iblis kelinci dan sesekali menghindar. Dia berhasil membuat banyak luka pada tubuh lawannya dengan cakar miliknya. Sementara dirinya masih baik-baik saja dengan tanpa luka sedikit pun.
Hal itu sudah membuktikan bahwa jurus atau serangan cakar dari Mao An lebih baik daripada milik pemimpin hewan iblis kelinci.
Craashh... Craashh...
"Aaakhh.."
Dua serangan cakar Mao An kembali mengenai tubuh pemimpin hewan iblis kelinci. Dia berteriak kesakitan lalu menjaga jarak dari Mao An.
"Dua lagi! Jadi jumlah total adalah lima puluh satu seranganku berhasil mengenaimu! Haha.. Cakarku memang yang terbaik!" ucap Mao An sambil tertawa senang seolah pertarungan itu adalah sebuah permainan baginya.
Namun tiba-tiba wajah senangnya langsung menghilang saat dia melihat kearah pohon besar yang tidak terlalu jauh dari tempatnya bertarung. Mao An melihat seorang pemuda tampan sedang duduk santai sambil minum teh dan menonton pertarungannya.
'Kampret Tuan Muda Tian! Ternyata dia sudah selesai menghabisi lawannya! Cih! Dia malah asyik ngeteh sambil menonton dan tidak membantu! Sial!' batin Mao An menggerutu.
Mao An lalu bergerak dengan sangat cepat menghampiri lawannya yang sedang terluka lalu memukulinya dengan ganas dan tanpa ampun. Pemimpin hewan iblis kelinci yang mendapat serangan tak terduga yang begitu ganas dari Mao An hanya bisa pasrah tanpa bisa berkelik sedikit pun.
Bak! Buk! Bak! Buk!
"Aaakkhh.."
Bak! Buk! Bamm...
Duak! Duak! Buk! Buk!
__ADS_1
"Aakkhh.. Tidak! Cukup! Aku menyerah!" teriak pemimpin hewan iblis kelinci itu sambil menger*ng kesakitan.
"Cih! Tidak ada kata menyerah!" ujar Mao An sambil terus menghajar pemimpin hewan iblis kelinci.
Bak! Buk! Bak! Buk!
Bamm... Bamm...
Mao An terus menghajar pemimpin hewan iblis kelinci itu sampai puas dan kedongkolan hatinya terhadap Ling Tian menghilang. Setelah hampir sepuluh menit menghajar lawan tarungnya itu akhirnya Mao An menghentikan ayunan tangannya.
Pemimpin hewan iblis kelinci itu kini hanya bisa tergeletak dan tidak sadarkan diri dengan wajahnya yang sudah tidak atau mustahil dikenali lagi. Mao An bersikap acuh tak acuh lalu meninggalkan hewan iblis kelinci itu begitu saja.
Dia menghampiri Ling Tian yang sedang asyik ngeteh sambil terus melihat kearahnya.
"Sepertinya ada yang terburu-buru!" ucap Ling Tian sambil terkekeh.
"Sialan kau Tuan Muda! Mengapa malah ngeteh disini dan tidak membantu aku dan kakak ketiga?" tanya Mao An dengan nada penuh keluhan.
"Hahaha.. Mengapa juga aku harus membantu kalian? Bukankah kau dan saudari Ruxu juga mampu mengalahkan lawan dengan tanpa bantuanku?" ujar Ling Tian dengan santai lalu menyesap tehnya.
"Tch!" Mao An hanya membalasnya dengan decakan kemudian ikut duduk disebelah Ling Tian dan menuangkan teh pada gelas yang tersedia untuk dirinya sendiri lalu meminumnya dengan tergesa-gesa.
.
.
Zhuge Ruxu terlihat tersenyum dan sangat menikmati pertarungannya. Meskipun dia dapat dengan mudah mengalahkan kedua lawannya dengan segenap kemampuannya, namun dia tidak melakukannya.
Dia sengaja memberikan peluang kepada kedua lawannya untuk merasa seperti diatas angin untuk sementara waktu lalu dia dapat menikmati pertarungan panjangnya.
Sama seperti Mao An, senyuman Zhuge Ruxu langsung merosot dan berbalik 180 derajat saat melihat dua orang yang tidak lain adalah Ling Tian dan Mao An sedang melihat tontonan gratis darinya sambil bersantai meminum teh.
'Ayolah.. Sialan! Dua orang itu benar-benar menjengkelkan sekali!' batin Zhuge Ruxu mengeluh sambil terus bertarung dengan lawannya.
Zhuge Ruxu lalu menatap tajam kearah dua lawannya yang langsung membuat keduanya bergidik dan mundur untuk menjaga jarak. Namun, Zhuge Ruxu tiba-tiba melesat dengan sangat ekstrem yang membuat keduanya kalang kabut.
Srak! Srak! Srak!
__ADS_1
"Aaakkkhh.. Tidakkk! Ampun.. Ampuni kami!" teriak salah satu lawan Zhuge Ruxu.
Srak! Srak! Srak
Srak!
"Ampun kepalamu, ampun! Kalian bisa lihat bukan dua orang sialan itu? Kalian harus menjadi bahan palampiasan kekesalanku!" teriak Zhuge Ruxu sambil terus menebaskan pedang pusakanya.
Srak! Srak!
Keduanya menjadi bulan-bulanan pedang milik Zhuge Ruxu. Mereka hanya bisa pasrah dan mengutuk kesialannya hari ini. Entah mimpi apa mereka semalam sehingga mereka bertemu dengan sosok seperti Zhuge Ruxu.
"Sudah cukup! Saatnya kalian mati!" ucap Zhuge Ruxu lalu menebas leher keduanya.
Sraakk! Sraakk!
Blug! Blug!
Dua kepala mirip kelinci itu terjatuh dan hewan iblis lawan Zhuge Ruxu telah mati dengan kondisi fisik sangat mengenaskan. Bagaimana tidak? Hampir seluruh tubuh mereka berdua penuh dengan sayatan pedang dari Zhuge Ruxu.
Jika harus disalahkan akan kekejaman Zhuge Ruxu ini, maka Ling Tian lah yang harusnya disalahkan karena dia yang mendalangi perkara itu untuk keduanya melakukan perkara yang akhirnya membuat wanita itu kesal.
Zhuge Ruxu lalu membedah tubuh itu dan mengambil inti atau kristal iblis kedua hewan iblis musuhnya itu lalu berjalan menghampiri kedua saudaranya yang sedang berpesta itu dengan wajah tidak enak dipandang.
.
.
"Sepertinya kakak ketiga sama kesalnya denganku!" ucap Mao An yang melihat wajah suram dari Zhuge Ruxu yang sedang berjalan mendekati mereka berdua.
"Hehehe.. Biarkan saja! Jika dia bertanya hal sama, maka jawab saja dengan jawaban yang sama pula!" ujar Ling Tian santai.
"Ayolah Tuan Muda! Kamu memang bisa santai! Tapi bagaimana denganku nanti? Saat di dunia jiwa saja aku digebuki habis-habisan sama kakak ketiga! Untung saja waktu itu ada kakak pertama Wei yang menghentikannya. Jika tidak.." Mao An tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Dia merasa merinding saat mengingat kejadian waktu itu saat dirinya dan Long Yuan sedikit menggoda Zhuge Ruxu di dunia jiwa.
"Tenang saja! Tenang! Aku akan membantumu!" ujar Ling Tian lalu menyesap tehnya kembali.
Slruup!
__ADS_1
"Aaahh.. Mantaap!" seru Ling Tian sangat puas dengan rasa teh galaksi yang dia beli dari Manajer Cabang Paviliun Harta Karun Ma Pu pada saat dirinya berada di Kota Obat.