
Setelah mengucapkan itu, Ling Tian langsung berjalan pergi meninggalkan Ling We yang masih dalam kondisi ketidak-fahamannya.
"Ah.. Saudaraku! Tunggu aku sialan!" teriak Ling We sambil berlari menyusul Ling Tian.
Mereka berdua berjalan beriringan dan mengikuti antrian.
"Huh! Antrian ini panjang sekali!" keluh Ling We yang melihat ada sekitar tujuh puluh orang sedang mengantri didepannya.
"Sabar! Orang sabar pantatnya lebar!" celetuk Ling Tian asal-asalan.
"Sialan kau saudaraku! Daripada begitu, mending aku terobos dan kutendang mereka semua yang tidak mau minggir!" Ling We malah menanggapinya dengan serius.
"Eh.. Tenanglah sebentar bodoh! Antri juga tidak akan sampai membunuhmu! Tidak usah mengeluh terus!" geram Ling Tian. Dia sama sekali bahwa sepuluh hari bersama Ling We benar-benar membuatnya sakit kepala. Meski begitu, tidak jarang pula Ling Tian dibuat tertawa oleh sifat konyol saudaranya itu.
"Tch!" Ling We tidak menanggapi ucapan Ling Tian. Dia hanya berdecak dengan kesal.
Setelah menunggu hanpir setengah jam yang menurut Ling We dirinya sudah hampir jamuran karena bosan, akhirnya kini giliran mereka berdua untuk diperiksa oleh tiga penjaga gerbang.
"Identitas!" ucap penjaga satu dengan acuh tak acuh. Dia sengaja melakukan itu karena merasa kedua pemuda didepannya ini sok misterius dengan bukti menggunakan topeng hitam kembar menutupi setengah wajah. Penjaga satu ini adalah seorang pria paruh baya.
"Eh! Songong sekali kamu pak penjaga!" kata Ling We langsung terpancing emosi.
"Lalu kenapa? Tidak terima? Silakan pergi atau perlihatkan identitas kalian cepat!" ujar penjaga dua memberi tanggapan. Dia juga seorang paruh baya.
"Sialan! Kalia-" ucapan Ling We dipotong oleh Ling Tian.
"Sudahlah saudaraku! Tidak perlu dipermasalahkan! Pak tua! Kemarilah sebentar! Ada yang ingin aku sampaikan!" kata Ling Tian sambil tersenyum ramah kepada tiga penjaga gerbang.
"Ada apa? Tidak usah bertele-tele! Cepat perlihatkan identitas kalian dan bayar biaya masuk! Atau pergi saja! Dibelakang kalian masih banyak yang mengantri!" kini giliran penjaga tiga yang nyerocos.
"Bajing*n kalian para tua bangka! Saudaraku ingin bicara baik-baik, kalian malah tidak menghiraukannya! Apa kalian ingin mati?" geram Ling We yang sudah tidak bisa menahan amarahnya. Dia sudah terlalu sabar kali ini, namun tetap dibuat naik pitam oleh tingkah ketiga penjaga gerbang Kota Awan.
"Oh? Kamu mengancam kami?" tanya penjaga dua dengan sengit.
"Tetap tenang saudaraku! Sebelumnya maafkan saudaraku tuan-tuan sekalian! Ini pengenal kami!" ujar Ling Tian sambil melemparkan lencana giok milik Klan Ling. Dia sengaja melakukan itu karena juga sudah cukup muak dengan ketiga penjaga gerbang.
Saat penjaga satu melihat lencana giok yang ditangkapnya, bola mata penjaga satu langsung membulat dengan sempurna. Bahkan hampir saja keluar dari tempatnya. Tubuhnya bergetar hebat dan keringat dingin membanjiri punggungnya. Sial! Bahkan nyawanya sudah hampir keluar dengan sendirinya karena saking takutnya!
"I-ini.. T-tuan Mu-da L-ling.." ucap penjaga satu yang mengejutkan kedua penjaga yang lain.
"A-apa?" keduanya melihat penjaga satu yang sudah diam membatu dan keringat sebesar jagung menetes dari wajahnya.
Kedua penjaga lain juga melihat lencana giok tertinggi milik Klan Ling ditangan penjaga satu. Keduanya juga langsung bergetar hebat karena ketakutan. Mereka telah melakukan kesalahan besar dan mati adalah hukuman paling ringan!
Mereka bertiga ingin langsung menjatuhkan diri dan berlutut dihadapan kedua pemuda bertopeng hitam separuh wajah ini.
__ADS_1
"Jangan berlutut! Atau kalian akan benar-benar kubunuh!" ucap Ling Tian pelan namun masih terdengar jelas oleh ketiga penjaga gerbang.
Ketiga penjaga gerbang kembali membeku saat mendengar ucapan Ling Tian.
"Rahasiakan keberadaan kami! Atau kalian akan menyesalinya!" tambah Ling Tian sambil mengambil lencana miliknya dari penjaga satu dan memberikan dua keping koin emas.
"Mari masuk saudaraku!" ajak Ling Tian kepada Ling We.
"Siap!" jawab Ling We.
Ling Tian dan Ling We pergi dengan tenang dan damai. Sementara ketiga penjaga gerbang Kota Awan masih diam mambatu karena sedang mengumpulkan nyawa mereka yang sebelumnya hendak kabur karena saking takutnya. Keheningan ketiganya dipecahkan oleh para pengantri yang protes karena menunggu begitu lama.
"Tuan-tuan! Kapan giliran kami masuk dan diperiksa?" teriak salah satu pengantri.
"Ah!" ketiganya kembali dalam kesadarannya.
"Baiklah! Selanjutnya!" kata penjaga satu.
.
.
"Huh! Untung saja kamu tadi menghalangiku! Jika tidak, mereka bertiga sudah aku tendang bokongnya dan kubuat babak belur!" ucap Ling We yang masih memiliki perasaan dongkol dihatinya kepada ketiga penjaga gerbang.
"Cih! Baiklah!" turut Ling We.
Mereka berdua melanjutkan perjalanan ke pusat kota untuk mencari sebuah butik atau toko pakaian. Setelah berjalan beberapa lama waktunya, akhirnya mereka sebuah toko yang lumayan besar dan mewah.
"Selamat datang di Toko Sandangan Apik kami Tuan-tuan Muda sekalian!" ucap seorang gadis pelayan toko tersebut.
'Eh? Kok ada toko orang jawa disini?' gumam Ling Tian dalam batinnya. Dia cukup terkejut dan terkekeh pelan saat mendapati ada bahasa jawa yang digunakan di dunia kultivator meski hanya sebuah nama toko.
"Apakah ada yang bisa saya bantu Tuan Muda?" lanjut gadis pelayan bertanya.
"Ya! Tolong carikan dua puluh set pakaian terbagus untuk saudaraku ini!" kata Ling Tian.
"Eh! Banyak sekali sobat?" Ling We terkejut.
"Sudahlah! Kamu diamlah saja!" ujar Ling Tian.
"Baik Tuan Muda! Kami akan menyiapkannya! Oiya, warna apa yang diinginkan?" tanya gafis pelayan.
"Warna apa?" Ling Tian mengulangi sambil melihat Ling We.
"Merah kehitaman!" jawab Ling We.
__ADS_1
"Baik Tuan Muda! Silakan menunggu sebentar!" kata gadis pelayan.
"Baik!"
Setelah menunggu hampir sepuluh menit, gadis pelayan sebelumnya kembali tiba bersama dua orang lainnya. Salah satunya adalah wanita paruh baya.
"Maaf sekali membuat Tuan-tuan Muda sekalian menunggu lama! Perkenalkan, namaku adalah Gu Raesi! Manajer di Toko Sandangan Apik ini!" ucap wanita baya itu dengan sopan dia meletakkan pakaian yang dibawanya diatas meja dan menangkupkan kedua tangannya untuk memberi hormat.
"Tidak apa-apa nyonya Gu! Kami tidak merasa menunggu!" balas Ling Tian dan juga memberi penghormatan.
'Oh.. Ternyata toko ini milik keluarga Gu!' batin Ling Tian. Dia kembali teringat akan dirinya dan Long Yuan yang saat itu merampok semua harta milik mereka dan membuat beberapa Tetua mereka babak belur. Ternyata toko yang memiliki nama unik ini adalah salah satu aset mereka.
"Silakan di cek terlebih dahulu Tuan Muda! Apakah pakaian ini sesuai dengan yang Tuan Muda pesan!" kata Gu Raesi dengan ramah.
"Aku percaya bahwa kalian pasti sangat ahli dalam memilihkan pakaian untuk saudaraku. Maka dari itu, berapa jumlah uang yang harus ku bayar untuk semua set pakaian ini?" ujar Ling Tian tanpa basa-basi.
"Oiya, satu lagi! Tolong antarkan saudaraku ke ruangan ganti untuk langsung memakainya!"
"Baik Tuan Muda! Pelayan! Antarkan saudara dari Tuan Muda ini ke ruangan ganti!" perintah Gu Raesi.
"Baik nyonya!" turut salah satu pelayan.
"Mari Tuan Muda!" lanjutnya mempersilahkan Ling We untuk mengikutinya.
"Baik!" Ling We mengangguk dan mengambil satu set pakaian baru berwarna merah kehitamannya. Dia membuntuti gadis pelayan untuk ke ruangan ganti.
"Jadi berapa keseluruhannya?" tanya Ling Tian saat setelah Ling We pergi
"Harga tiap satu set pakaian adalah dua koin emas. Maka keseluruhannya adalah empat puluh koin emas!" jawab Gu Raesi.
"Baik!"
Ling Tian mengeluarkan uang pas untuk membayar.
"Terima kasih Tuan Muda!" kata Gu Raesi senang.
"Ya!" singkat Ling Tian.
Setelah selesai bertransaksi dan Ling We juga sudah kembali dengan pakaian yang layak dipakai, kedua pemuda dari Klan Ling itu pergi dari Toko Sandangan Apik.
"Mari kita ketempat portal teleportasi!" ajak Ling Tian.
"Hendak kemana sebernarnya kita ini? Mengapa harus memakai portal teleportasi?" tanya Ling We keheranan.
"Kita akan menjajaki daratan terkuat di Benua Langit, daratan tengah!" jawab Ling Tian.
__ADS_1