
"Saudaraku, kumohon berhenti! Jangan bunuh Tetua Agung!" ujar Ling Bo Teng yang tiba-tiba datang dan berdiri dihadapan Tetua Agung Ling Qinzu menghalangi Ling Jun untuk membunuhnya.
"Saudaraku menyingkirlah! Biarkan aku menghabisinya! Jangan menghalangiku!" kata Ling Jun marah.
"Tidak! Bagaimanapun dia adalah Tetua Agung Klan Ling kita. Dia adalah kekuatan Klan Ling. Jadi kumihon hentikan!" tutur Ling Bo Teng memohon.
"Tapi dia telah berani hendak melenyapkan putra kesayanganku! Karena dia juga lah putraku pergi dan sekarang tidak tahu bagaimana nasibnya!" kata Ling Jun menatap saudaranya dengan tajam.
"Memang benar dulu dia hendak membunuh putramu, tapi aku juga telah memberinya pelajaran yang sepadan dan sekarang kamu juga telah menghajarnya. Kumohon hentikan ini dan aku yakin putramu Ling Tian akan baik-baik saja disana. Dia pergi bukan hanya karena Tetua Agung, tapi dia pergi karena ingin menjadi kuat dengan jalannya sendiri disamping menghilangkan kesedihannya atas kepergianmu. Saudaraku! Aku yakin saat ini dia sudah menjadi kuat!" ucap Ling Bo Teng membujuk.
Ling Jun yang mendengar ucapan saudaranya Ling Bo Teng alias Patriark Ling akhirnya menurunkan kembali pedang pusakanya. Dia juga menyadari sepenuhnya bukan karena Tetua Agung saja Ling Tian pergi, tapi juga karenanya juga yang meninggalkan Ling Tian bertahun-tahun hanya dengan alasan menjalankan misi klan.
"Saudaraku, kuharap kamu bisa tenang dan yakinlah Ling Tian akan kembali dengan selamat!" ujar Ling Bo Teng mendekati Ling Jun dan menepuk pundaknya.
Ling Jun tidak menjawabnya. Raut kesedihan terpampang jelas diwajahnya. Dia sangat menyesal telah meninggalkan Klan Ling khususnya meninggalkan Ling Tian yang pada akhirnya tanpa hasil apapun dan malah berujung dengan perubahan dan kepergian putra kesayangannya.
Ling Jun membalikkan badan dan terbang melesat meninggalkan saudaranya dan Tetua Agung yang sedang sekarat tak sadarkan diri.
Swuusshh...
__ADS_1
"Ranah Pendekar Emas!" ucap Ling Bo Teng terkejut setelah melihat Ling Jun pergi dengan cara terbang. Ling Bo Teng mengela nafas panjang dan mendekati Tetua Agung yang terkapar.
"Kalian tolong bawa Tetua Agung ke ruang perawatan!" ucapnya kepada para tetua dan murid klan yang mulai mendekat.
"Baik Patriark!" jawab mereka serentak.
***
Sementara itu, Ling Jun sudah kembali kekediamannya langsung disambut oleh Hei Si dan Ling Lianhua.
"Dari mana suami?" tanya Hei Si.
"Menghajar Qinzu sialan itu! Tapi kakak Bo Teng menghalangi untuk melenyapkan bajing*n itu!" jawab Ling Jun.
"Baiklah." ucap Ling Jun.
***
Ling Tian, Long Yuan dan Wei Hun baru keluar dari penginapan. Mereka berjalan santai menikmati keindahan Kota Awan. Tiba-tiba Ling Tian berhenti dan merasakan hatinya begitu sakit karena sesuatu.
__ADS_1
"Ada apa saudara Tian?" tanya Long Yuan.
"Entahlah.. Hatiku tersara seperti tersayat dan ingin pulang ke Klan Lingku sesegera mungkin!" jawab Ling Tian sambil memegang dada kirinya.
"Mungkin kedua orang tuamu sedang merindukanmu yang telah lama pergi tanpa kabar?" ujar Wei Hun.
"Entahlah senior Wei, aku tidak tahu!" kata Ling Tian menjawab.
"Oiya, apakah senior akan pergi sekarang juga?" lanjutnya bertanya kepada Wei Hun.
"Benar! Aku akan kembali ke Hutan Gelap sekarang! Sudah cukup lama aku meninggalkan para jendral disana. Aku takut mereka bertengkar satu sama lain. Kau tahu bukan mereka tidak bisa akur sama sekali?" ungkap Wei Hun.
"Hahaha.. Tentu aku tahu itu! Sampaikan salamku kepada mereka dan katakan kepada jendral elang sialan itu jika suatu saat bertemu denganku aku akan menenterngnya seperti sampah sama seperti yang dia lakukan padaku waktu itu!" ujar Ling Tian yang masih belum melupakan kesialannya dengan jendral Elang Emas.
"Hahaha.. Baik! Aku akan menyampaikannya kepada mereka. Kalau begitu aku pamit undur diri dulu!" kata Wei Hun.
"Silakan senior Wei!" ucap Ling Tian.
"Oiya, terima ini senior!" lanjut Ling Tian mengeluarkan satu Buah Bodhi dan tiga Anggur Putih.
__ADS_1
"Ling Tian.. Ini-?" gagap Wei Hun.
"Aku harap dengan ini senior bisa menaikkan kultivasi senior melampaui ranah Pendekar Berlian!" tutur Ling Tian sambil tersenyum ramah.