Ling Tian

Ling Tian
Dua Syarat!


__ADS_3

"T-tuan M-muda Ling! T-tolong jangan hancurkan Sekte Neraka kami! K-kami mengaku salah Tuan Muda Ling!" ujar Tetua Ketujuh dengan tergagap. Dia saat ini mengakui kebenaran kabar tersebut dengan yakin seyakin-yakinnya. Jika generasi mudanya saja semengerikan ini, lalu bagaimana dengan para Tetua atau Patriarknya? Itu yang sedang Tetua Ketujuh Sekte Neraka fikirkan.


"Hahh.. Itu tergantung bagaimana kalian nantinya! Jika memang kalian bisa memberikanku kompensasi yang memuaskan, maka kalian tentu akan bebas! Namun jika kalian tidak bisa, maka lupakan saja nama Sekte Neraka dari daratan tengah saat ini!" balas Ling Tian yang telah memulai skemanya.


"I-itu.." Tetua Ketujuh tidak bisa membalasnya lagi.


"Ngomong-ngomong, mau sampai kapan tamu seperti kami ini disuruh berdiri-diri disini dan tidak diminta masuk? Hmm.." tanya Ling We tiba-tiba.


Tetua Ketujuh hanya bisa menggertakkan giginya saat mendengar pertanyaan Ling We. Entah mengapa dia begitu jengkel dengan Ling We.


"Oh! Tentu saja tidak Tuan Muda Ling We! Mari kita masuk dan minum teh terlebih dahulu!" jawab Tetua Ketujuh dengan wajah masam.


"Tuan Muda Li, Tetua Tiga Belas! Tolong sampaikan kepada Patriark danbpara Tetua Sekte bahwa Tuan Muda dari Klan Ling datang berkunjung!" lanjut Tetua Ketujuh meminta Tetua lain dan Tuan Muda Li Shin menyampaikan pesan.


"Baik Tetua Ketujuh!" angguk Tetua Tiga Belas dan berlalu dari tempat berdirinya bersama Li Shin.


Tetua Ketujuh membawa Ling Tian dan Ling We ketempat dimana para tamu biasanya ditempatkan. Setelah sampai, Tetua Ketujuh langsung meminta kepada pelayan untuk membuatkan teh terbaik.


.


.


Sementara itu, Tetua Ketiga Belas dan Tuan Muda Li Shin mendatangi aula pertemuan untuk memberikan kabar kepada Patriark Sekte dan Tetua lainnya tentang kedatangan dua orang pemuda dari Klan Ling.


Kreek...


Pintu masuk aula terbuka saat Tetua Tiga Belas mendorongnya. Dia bersama Tuan Muda Li Shin masuk dan memberikan salam.


"Salam Patriark! Salam Tetua sekalian!"


"Ah! Tetua Tiga Belas, Shin'er! Salam!" balas Patriark Sekte yang diikuti oleh para Tetua yang lain.


Tanpa basa-basi, Tetua Tiga Belas langsung menceritakan alasan mengapa dirinya datang ke aula pertemuan kepada Patriark Sekte dan para Tetua tanpa ada yang ditutup-tutupi sedikitpun. Sementara Li Shin hanya bisa menundukkan kepala karena merasa dialah dalang penyebab masalah kali ini.


Raut wajah Patriark dan para Tetua Sekte Neraka berubah-ubah saat mendengar cerita Tetua Tiga Belas. Namun saat mendengar kedua pemuda yang disinggung oleh Li Shin adalah Tuan Muda dari klan yang harus dihindari alias Klan Ling, seluruh tubuh Patriark dan Tetua Sekte Neraka bergetar karena ketakutan. Terlebih Tetua Tiga Belas mengatakan bahwa kekuatan salah satunya berada pada ranah Pendekar Berlian Akhir, ini akan menjadi akhir yang buruk bagi Sekte Neraka!


"Dasar anak ceroboh!" teriak Patriark Sekte Neraka lalu menghilang dari tempat duduknya dan tiba-tiba menampar Li Shin dengan sangat keras.

__ADS_1


Plaakkkk!


Baaammmm...


Patriark Sekte Neraka atau Li Duanren hanya membiarkan anaknya terkapar begitu saja lalu mengajak para Tetua Sekte Neraka untuk pergi menemui dua pemuda dari Klan Ling, Ling Tian dan Ling We.


***


Ditempat lain, didalam istana kediaman Klan Lian berada, Patriark Lian ditemani oleh istrinya sedang berada disebuah kamar yang terdapat seorang pemuda terluka parah dan seorang tabib yang sedang mengobati dan memeriksanya.


Setelah beberapa saat memeriksa, tabib itu pun berhenti dan menghadap kearah Patriark Lian dan istrinya.


"Bagaimana keadaan Kun'er tabib?" tanya istri Patriark Lian dengan khawatir.


"Kondisi Tuan Muda Lian Kun saat ini benar-benar memprihatinkan. Mungkin luka-luka luar masih bisa disembuhkan atau tangan dan kakinya bisa ditumbuhkan! Namun lain halnya dengan fikirannya Nyonya!" jawab si tabib dengan jujur.


"Maksud tabib?" tanya Patriark Lian.


"Benar Patriark! Orang yang menyerang Tuan Muda Lian Kun juga telah mengobrak-abrik isi fikirannya sehingga tidak stabil!" jawab tabib.


"Apaa! Jadi.. Jadi anakku akan.." Patriark Lian tidak bisa melanjutkan ucapannya. Dia sangat sedih sekaligus marah secara bersamaan. Sedih karena prihatin terhadap kondisi putra kesayangan dan kebanggaannya. Lalu marah karena orang yang melukai putranya ini begitu kejam dan kejam.


"Aku meminta maaf karena tidak bisa berbuat banyak Patriark!" ucap tabinlb sambil menangkupkan kedua tangan.


"Aakkhh.. Siapapun kau yang melakukan ini kepada putraku! Aku tidak akan memaafkanmu sampai kapanpun sebelum tangan ini sendiri yang membunuhmu!" geram Patriark Lian. Sementara sang istri hanya bisa menangis dan menangis saja.


"Ling.."


Tidak beberapa lama, tiba-tiba sebuah suara yang sangat lemah terdengar oleh ketiga orang itu dari mulut Lian Kun.


"Tunggu! Apakah kalian mendengarkan gumaman Kun'er?" tanya Patriark Lian.


"Iya! Tapi tidak terlalu jelas!" jawab istri patriark.


"Benar!" tambah sang tabib.


"Ling.." ucap Lian Kun dengan tanpa sadar.

__ADS_1


"Ling?" ucap ketiganya secara serentak.


"Sialan! Apakah orang dari Klan Ling daratan timur yang melakukannya?" teriak Patriark Lian dengan tubuh yang bergetar.


"Itu mungkin saja Patriark!" kata si tabib menambahkan spekulasinya.


"Klan Ling! Jadi kalian sudah bergerak ke daratan tengah? Baiklah! Aku akan memburu dan membunuh kalian semua!" ujar Patriark Lian.


"Kalau begitu aku pergi dulu!" lanjut Patriark Lian. Dia ingin segera pergi dan melakukan pertemuan guna membuat suatu pengaturan untuk masalah kali ini.


"Baiklah suamiku.. Tolong!" jawab sang istri.


"Kamu tenang saja! Aku akan pastikan orang yang melukai putra kita akan sangat menyesalinya! Baiklah.. Aku pergi!" tutur Patriark Lian lalu menghilang dari tempatnya berdiri.


***


Di ruang tamu Sekte Neraka, Empat orang sedang duduk sambil menyesap teh dengan tenang. Tidak! Bukannya tenang, tapi memang tidak ada sesuatu lagi yang bisa dibicarakan.


Sampai lima belas orang pria dan wanita baya datang memasuki ruangan tersebut. Tetua Ketujuh segera berdiri dan memberikan salam.


"Salam Patriark! Salam Tetua sekalian!"


"Ya!" singkat Patriark Sekte Neraka Li Duanren.


Bhuusshh...


Tiba-tiba sebuah aura tirani disertai niat membunuh yang sangat kuat meledak dengan gila dan menekan semua orang. Aura dari seorang kultivator ranah Pendekar Berlian Akhir yang tidak lain milik Ling Tian.


Semua orang dibuat berlutut dan beberapa orang sampai ada yang memuntahkan seteguk darah.


"Tidak usah basa-basi lagi! Aku sudah terlalu sabar menunggu kalian disini! Kalian tentu sudah tahu mengapa aku sampai berkunjung bukan?" kata Ling Tian dengan dingin.


"T-tuan M-muda L-ling! Tolong maafkan kesalahan putraku! Dan jangan hancurkan Sekte Neraka kami!" ucap Patriark Li Duanren dengan terbata-bata.


"Memaafkan putramu dan tidak meratakan sekte kecil ini? Itu mudah saja! Tapi aku mempunyai dua syarat!" jawab Ling Tian dengan santai.


_______________________________________

__ADS_1


*Maaf baru bisa up lagi. Author lagi kurang sehat. Do'anya yah.. Dari temen-temen semua.. Buat kesembuhan Author.. Agar bisa Up seperti biasa lagi. Terima kasih.🙏


__ADS_2