
Ling Tian tersenyum melihat sekitar seribu tusuk daging yang siap untuk di sate itu. Dia menyimpan beberapa dan membakarnya secara perlahan dengan elemen apinya dan dia kontrol tidak terlalu panas.
Sementara Ju Hou dan Ju Hoi hanya bisa membuka mulutnya lebar-lebar karena tidak percaya dengan apa yang dilakukan Ling Tian. Untung saja tidak ada lalat yang lewat sehingga tidak ada yang mampir masuk kedalam mulut mereka berdua.
"Saudara Hou, saudara Hoi! Apa yang kalian fikirkan? Mengapa bengong seperti itu? Kemarilah! Ikut makan!" ucap Ling Tian setelah sate kelinci iblis itu sudah matang.
"Ah! Baik!" ujar keduanya tersentak kaget.
"Haiih.. Kalian ini!" ucap Ling Tian tidak berdaya.
Mereka bertiga akhirnya dengan santai memakan sate kelinci iblis itu dengan tenang.
"Waah.. Ternyata enak juga sate kelinci ini meski tanpa bumbu!" ucap Ju Hoi memuji sambil terus mengunyah.
"Ya.. Begitulah.. Daging hewan iblis memang cukup lezat meski tanpa bumbu. Namun tidak banyak orang yang tahu karena memang cara pengolahannya yang berbeda!" ucap Ling Tian menanggapi.
"Maksud Tuan Muda? Pengolahan yang berbeda bagaimana?" tanya Ju Hoi.
"Seseorang yang dengan asal memakan daging hewan iblis tanpa ada pengolahan khusus maka rasanya akan sangat pahit serta akan ada evek samping yaitu energi yang dia miliki akan berubah menjadi energi iblis secara perlahan!" jawab Ling Tian.
"Lalu bagaimana cara Tuan Muda Tian mengolahnya? Sementara sebelumnya kami hanya melihat Tuan Muda membakarnya saja!" ujar Ju Hoi sangat penasaran.
"Hehehe.. Aku pernah keluar dari Hutan Tanpa Batas dan menemui orang-orang yang berburu hewan iblis. Aku belajar suatu teknik yang menetralkan kandungan berbahaya dalam daging hewan iblis dari orang-orang itu!" jawab Ling Tian sedikit membuat cerita.
"Oh.. Jadi begitu.." ujar Ju Hoi faham.
Sementara Ju Hou hanya mengangguk-anggukkan kepala percaya dengan ucapan Ling Tian. Terlebih dia tidak pernah sekalipun keluar dari Hutan Tanpa Batas sewaktu dia belum mencapai Ranah Raja.
Di Hutan Tanpa Batas, sebenarnya para beast bebas berkeliaran keluar array pembatas jika belum mencapai Ranah Raja. Namun kebanyakan dari mereka tidak melakukannya karena didalam Hutan Tanpa Batas aura langit dan bumi beserta sumberdayanya jauh lebih baik daripada diluar array.
Setelah selesai makan sate, Ling Tian akhirnya pergi meninggalkan tempat itu meninggalkan kedua Ju bersaudara untuk melanjutkan petualangannya sendiri. Sementara kedua Ju bersaudara hanya bisa setuju lalu mengambil kristal iblis yang terdapat pada mayat kelinci-kelinci iblis.
__ADS_1
Tidak lupa sebelum Ling Tian pergi, dia mengambilkan sumberdaya yang ternyata adalah sebuah tanaman obat yang cukup langka namun Ling Tian telah memilikinya di kebun obat hasil tanaman kedua gurunya.
***
Sementara itu di pusat Dunia Jimi De, aula pertemuan Klan Gou atau klan anjing api sedang diadakan rapat darurat. Itu dikarenakan kedua leluhur mereka yang tidak pernah keluar dari pengasingan tiba-tiba keluar dan menyuruh semua petinggi Klan Gou untuk berkumpul.
Kini kedua leluhur itu duduk diatas kursi tertinggi sambil menatap para anggota Klan Gou mereka dengan serius.
"Kami merasakan bahwa Dunia Jimi De kita ini telah terhubung dengan seseorang!" ucap salah satu leluhur yang bernama Gou Rie. Dia adalah leluhur perempuan daei Klan Gou.
"Apakah itu benar leluhur Rie?" tanya Patriark Gou Heng.
"Benar! Jadi kalian sudah tahu apa maksud kami bukan?" tanya satu leluhur lain yang bernama Gou Ku.
"Kami tahu leluhur! Kami harus tunduk kepada orang itu!" ucap semua orang di aula itu.
"Bagus! Klan Gou ku memang yang terbaik dari dulu!" ucap Guo Ku dengan puas.
"Lalu apa yang akan kita lakukan saat ini leluhur?" tanya salah satu Tetua.
Saat setelah Leluhur Gou Rie baru saja selesai berbicara, sebuah pusaran angin hitam atau celah dimensi terbentuk didepan semua orang dari Klan Gou.
Patriark dan seluruh petinggi Klan Gou menjadi sangat waspada dengan hal itu. Mereka ingin mengeluarkan senjata masing-masing namun dengan cepat dicegah oleh kedua leluhur.
"Seperti yang diharapkan dari Leluhur Klan Gou yang paling setia!" ucap sebuah suara milik seorang pemuda.
Lalu tidak lama muncullah Ling Tian dari dari dalam pusaran angin hitam itu dengan wajah yang tersenyum ramah.
Bruukk!
Kedua leluhur Klan Gou langsung turun dari tempat duduknya lalu berlari menuju Ling Tian dan bersimpuh dengan cara berlutut. Tidak hanya berlutut, keduanya bahkan menangis dengan tersedu-sedu melihat Ling Tian.
__ADS_1
Bagaimana tidak? Mereka sudah sangat lama menunggu seorang tuan yang diramalkan oleh tuan sebelumya atau Dewa Neraka Kuno yang akan membawa mereka kembali kepada kejayaan masa lampau dan membalaskan dendam atas apa yang dilakukan oleh orang yang mengusir mereka dari tempat tinggal asli mereka.
Bisa dikatakan bahwa penguasa Dunia Jimi De yang akan meneruskan tuan mereka sebelumnya adalah juru selamat bagi mereka semua.
"Hormat kami penguasa Jimi De!" ujar kedua leluhur dengan hikmat dan tulus.
Ling Tian hanya tersenyum melihat kedua hewan iblis tua yang berlutut itu. Sementara semua orang dari Klan Gou langsung tercengang saat mendengar kedua leluhur memanggil pemuda asing yang baru tiba itu dengan sebutan penguasa Jimi De.
Tubuh mereka semua bergetar dengan hebat lalu tanpa sadar air mata mereka juga ikut menetes karena kebahagiaan. Tanpa diperintahkan, mereka semua berlutut dengan sangat hikmat.
"Hormat kami penguasa Jimi De!" ucap mereka semua dengan serentak.
Ling Tian menatap mereka semua dengan lembut. Dia sungguh tidak menyangka bahwa akan mendapatkan sambutan yang seperti ini. Sambutan dengan tangis haru dan penuh harapan itu sungguh membuat hatinya melembut.
"Bangunlah! Hormat kalian aku terima!" ucap Ling Tian.
"Baik Penguasa!" ucap semuanya.
Kemudian dua leluhur meminta Ling Tian untuk duduk di kursi utama sebagai penghormatan pertama mereka. Sementara dua leluhur dan yang lainnya juga duduk pada kursi masing-masing.
"Pengua-.." ucapan leluhur Gou Ku terhenti saat Ling Tian tiba-tiba mengangkat tangannya.
"Tolong jangan panggil aku dengan sebutan itu! Aku sungguh tidak senang dan tidak menyukainya! Panggil aku dengan sebutan Tuan Muda saja!" ucap Ling Tian.
"Baik Peng-.. Maksudku Tuan Muda!" ujar leluhur Gou Ku menurut.
Ling Tian mengangguk senang karena orang tua itu menurut.
"Maaf hamba yang rendah ini lancang. Jika boleh tahu, dengan siapa hamba ini menghadap?" tanya leluhur Gou Ku mewakili semua orang yang juga sama penasarannya.
"Ling Tian!" jawab singkat Ling Tian yang menggunakan identitas aslinya.
__ADS_1
Seketika tubuh leluhur Gou Ku dan semua orang kembali bergetar dan mereka kembali menjatuhkah diri. Bahkan kali ini mereka bersujud dengan air mata yang sudah tidak terbendung lagi.
"Y-yang Mulia Shen Zhu Ling Tian!" ujar leluhur Gou Ku dengan nada bergetar dan tangisan haru. Sementara Ling Tian justru kebingungan dengan apa yang dilakukan oleh para anggota Klan Gou itu.