
***
Di tempat Tetua Kelima.
"Tidaaaak..! Ikankuuu..! Siapa yang mencuri ikankuuu..? Tidaaak..!" teriak Tetua Kelima dengan sangat kencang sehingga membuat para tetangga disebelah kediamannya sangatlah kaget.
Mereka buru-buru mendatangi kediaman dari Tetua Kelima untuk memastikan perihal apa gerangan yang membuatnya dapat histeris seperti itu. Padahal biasanya Tetua Kelima itu sangatlah terkenal dengan kebijaksanaan serta ketenangannya dalam menghadapi hal-hal yang sangat pelik sekalipun.
Namun kali ini mereka mendapati suatu hal yang berbeda dari Tetua Kelima. Tetua Kelima tampak kehilangan ketenangannya karena suatu alasan yang menurut mereka pastilah sesuatu yang sangat gawat.
Orang-orang berbondong-bondong mendatangi kediaman Tetua Kelima termasuk Tetua Pertama Ling Lian Zong atau ayah dari Ling Lianhua yang kebetulan rumahnya tidak terlalu jauh dari rumah Tetua Kelima.
"Ada apa Tetua Kelima? Mengapa kamu sampai histeris seperti itu? Apakah ada suatu masalah yang sangat genting?" tanya Tetua Pertama atau Tetua Ling Lian Zong.
"Ini lebih daripada genting Tetua Pertama!" jawab Tetua Kelima dengan pandangannya yang terus menelisik ke segala arah seperti sedang mencari seseorang.
"Tenanglah Tetua Kelima! Katakan apa masalahnya?" ujar Tetua Ling Lian Zong sembari memegangi pundak dari Tetua Kelima agak dirinya dapat menjadi tenang.
Setelah tersadar dan menghela nafasnya yang begitu panjang beberapa kali, Tetua Kelima akhirnya kini telah dapat menjadi tenang.
"Katakan! Sebenarnya ada masalah apa sehingga tetua sampai membuat gaduh seperti ini?" tanya Tetua Ling Lian Zhong yang keheranan.
"Ikan peliharaanku Tetua Pertama.. Ikan peliharaanku telah hilang karena dicuri orang!" jawab Tetua Kelima dengan wajah lesunya.
Ayah dari Ling Lianhua hampir saja memuntahkan seteguk darah dan ingin sekali menempeleng Tetua Kelima karena ternyata hal yang membuat pria tua itu seperti orang kesetanan adalah hanya karena ikan peliharaannya dicuri oleh seseorang. Sungguh suatu hal yang menurutnya tidak penting sama sekali.
"Tetua Kelima! Bukankah itu hanyalah ikan saja? Mengapa tetua begitu histeris sehingga membuat kegaduhan di dalam klan?" tanya Tetua Ling Lian Zong dengan keningnya yang mengerut.
__ADS_1
"Tetua Pertama jangan mengatakan itu hanyalah ikan saja! Tetua Pertama benar-benar telah melukai hatiku!" ujar Tetua Kelima dengan memasang wajah mengenaskannya.
"Anda tahu Tetua Pertama, aku memelihara ikan itu selama belasan tahun lamanya. Namun kini telah hilang begitu saja dicuri oleh seseorang yang tidak bertanggung jawab!" ujarnya lagi dengan kesedihan yang tidak dibuat-buat.
Tetua Ling Lian Zong hanya dapat menggelengkan kepalanya melihat ekspresi menyedihkan dari Tetua Kelima.
"Baiklah Tetua Kelima.. Aku akan meminta kepada tetua bagian kehakiman untuk menyelidiki masalah ini dan mencari siapa dalang dibalik pencurian ikan milik Tetua Kelima!" ujar Tetua Ling Lian Zong pada akhirnya.
"Baik! Terima kasih Tetua Pertama karena telah membuatku sedikit lebih tenang." kata Tetua Kelima sembari memaksakan senyumannya kepada Tetua Pertama.
Namun dalam hati Tetua Kelima masihlah tetap seperti sebelumnya yaitu menangis darah karena kehilangan ikan-ikan kesayangan yang telah dia pelihara selama belasan tahun lamanya. Dia berjanji di dalam batinnya akan memberikan hukuman seberat-beratnya dan membuat pelaku itu kapok sekapok-kapoknya agar dapat menyembuhkan luka dalam hatinya yang telah tergores.
'Awas saja, jika sampai aula kehakiman menemukan dirimu wahai pencuri sialan, aku pasti kan akan membuatmu menangis seperti aku yang menangis seperti ini!' batin Tetua Kelima sembari melihat ke arah Tetua Pertama dan orang-orang yang dibuatnya terkejut sebelumnya pergi meninggalkan kediamannya.
***
Di Sebuah Hutan.
Mao An yang sedang menikmati ikan bakar yang terasa sangat lezat bersama dengan Ling We tiba-tiba saja bersin dengan sangat keras sekali.
"Ada apa saudaraku?" tanya Ling We yang keheranan dengan saudaranya yang tiba-tiba bersin.
"Cih! Pasti ada orang yang sedang mengutuk harimau tampan dan perkasa ini. Dasar orang-orang iri memang selalu lah begitu! Harusnya mereka itu cukup mensyukuri apa yang diberikan Sang Maha Dewa kepadanya! Bukan malah iri dan mengotori hati! Haiihh.. Sudahlah! Mari lanjutkan saja saudaraku! Aiiss.. Ikan milik Tetua Kelima ini memang benar-benar lezat. Bahkan hampir menyamai lezatnya ikan yang berada di dalam dunia jiwa milik Tuan Muda Tian," kata Mao An sembari melahap kembali ikan bakar yang ada di tangan kanannya kemudian meminum anggur yang ada di tangan kirinya.
"Ahahaha.. Benar sekali kamu saudaraku! Aku juga sama tidak menyangka bahwa ikan-ikan peliharaan Tetua Kelima sangatlah enak jika dibakar. Untung saja kamu mengambilnya cukup banyak sehingga kita memiliki cukup stok untuk beberapa hari. Hahaha.." ujar Ling We sembari tertawa terkekeh-kekeh.
"Yoo.. Saudaraku! Tentu saja aku mengambilnya cukup banyak. Bahkan aku hanya menyisakan dua ekor saja supaya Tetua Kelima masihlah dapat menernak ikan itu kalau kita dapat mengambilnya lagi suatu hari nanti. Kekeke.." tutur Mao An juga ikut terkekeh.
__ADS_1
"Ide yang sangat brilian saudaraku!" kata Ling We dengan tulus memuji Mao An.
"Yah.. Kamu tidak perlu memujiku seperti itu saudaraku! Ayo nikmati lagi! Haha.."
"Ahhh.. Beginilah hidup yang sesungguhnya! Benar-benar sangat nikmat!" seru Ling We setelah menenggak anggur pada botol yang terpegang di tangan kirinya.
Mereka berdua terus saja berpesta di dalam hutan itu selama beberapa hari tanpa memperdulikan Tetua Kelima yang sakit hati dan petugas di aula kehakiman yang kebingungan karena tidak dapat melacak siapa sebenarnya pelaku yang mencuri ikan-ikan peliharaan itu.
Ya, begitulah mereka! Ketika 2 pembuat onar saling bertemu, maka sudah dipastikan akan ada orang yang sakit hati dan menangis dengan pilu. Demikianlah yang terjadi saat ini kepada Tetua Kelima.
Dia benar-benar tidak dapat menerima akan takdir ini terlebih bahwa dia mendapat kabar jika aula kehakiman telah menutup kasus ini setelah 3 hari tidak ditemukan pelaku ataupun bukti-bukti yang dapat menunjukkan ke arah pelaku pencurian itu.
***
Di sisi lain, Ling Tian telah kembali dari Kota Awan bersama dengan Ling Lianhua karena ingin berjalan-jalan dibuat sangat terkejut dengan kondisi dari Tetua Kelima saat mereka berdua tidak sengaja melewati kediamannya ketika ingin kembali ke kediaman Ling Lianhua.
Ling Tian dan Ling Lianhua dengan segera menghampiri Tetua Kelima yang sedang duduk termenung di dekat kolam yang ada di depan rumahnya. Ling Tian langsung saja menyapa dan memberi hormat kepada Tetua Kelima.
"Salam Tetua Kelima!" ucap Ling Tian.
Tetua Kelima hanya mengangguk dan membalas angkupan tangan Ling Tian dan Ling Lianhua.
"Apa yang sebenarnya terjadi denganmu Tetua Kelima? Mengapa kondisimu begitu menyedihkan seperti ini?" tanya Ling Tian dengan keheranan.
"Lihatlah Tuan Muda Tian! Ikan di kolamku hanyalah tersisa dua ekor saja! Padahal sebelumnya ada sekitar 70 ekor! Ada seseorang yang mencurinya dan tidak diketahui siapa pelakunya. Bahkan petugas dari aula kehakiman klan tidak dapat melacaknya sama sekali." jawab Tetua Kelima dengan nada dan raut wajah yang sangat menyedihkan.
"Ada pencuri di Klan Ling?" ucap Ling Lianhua mengerutkan keningnya.
__ADS_1
Ling Tian terdiam dan berpikir untuk sejenak sembari memegangi dagunya. Tiba-tiba Ling Tian menggerakkan gigi kuat-kuat dan membuka matanya lebar-lebar.
"Ini pasti ulah dua pembuat onar itu! Aiiss.. Bagaimana mungkin sifat cacing biru sialan itu bisa menurun kepada mereka berdua?" ucap Ling Tian dengan nada yang sangat kesal dan sekaligus yakin.