
Ling Tian dan Mao An melesat dengan kecepatan tinggi diatas langit yang membuat keduanya terlihat hanya dua kilatan cahaya atau seperti meteor yang sedang terjatuh saja.
Keduanya terus berbincang-bincang di dalam perjalanan dengan santainya. Padahal jika melaju dengan kecepatan tinggi harusnya suara jangan dikeluarkan oleh mulut akan tertinggal di belakang, makanya banyak sekali orang yang sedang berkendara berdua dengan kecepatan tinggi dan diajak ngobrol, jawaban dari yang diajak ngobrol hanyalah hah dan iya saja.
Akan tetapi hal itu tidak berlaku untuk keduanya. Mereka berdua tetap mengobrol dengan santai karena pendengaran mereka sangatlah tajam daripada manusia-manusia pada umumnya. Ya! Itu sangatlah wajar mengingat mereka berdua adalah seorang kultivator.
Disaat keduanya terus melesat sambil mengobrol, tiba-tiba Mao An menanyakan sebuah pertanyaan yang tiba-tiba muncul dari ide dalam otaknya.
"Ehem! Tuan Muda! Bagaimana jika aku menyamar menjadi kucing hitam saja? Seperti yang dulu pernah dilakukan oleh kakak keempat Ling Hu," ujar Mao An bertanya.
Ling Tian mengerutkan kening saat mendapati pertanyaannya menurutnya sangatlah aneh itu. Buat apa harus menyamar jika kultivasinya saat ini saja sudah berada di ranah tertinggi ataupun tak dari kultivasi yang ada di Hutan Tanpa Batas?
"Mengapa kau harus menyamar seperti itu?" tanya Ling Tian sambil berhenti melesat yang diikuti oleh Mao An.
Mao An cengar-cengir terlebih dahulu sebelum memberikan alasan dari pertanyaan yang dia tanyakan sebelumnya.
"Hehehe.. Tuan Muda! Aku yakin jika Tuan Muda bergerak sendiri pasti akan sangat lebih leluasa daripada harus berduaan bersamaku! Jadi aku cukuplah menjadi seekor kucing hitam kecil saja yang bertengger di pundak Tuan Muda sambil melihat dan mempelajari apa saja yang tuan muda lakukan kepada setiap orang yang ditemui oleh Tuan Muda entah itu lawan ataupun kawan! Tuan Muda tahulah bahwa aku itu masih sangat kurang berpengalaman mengenai hal tentang cara bersikap!" ujar Mao An memberikan jawaban selogis-logisnya.
Ling Tian terdiam sejenak dan memikirkan apa yang dikatakan oleh Mao An memang ada benarnya. Selain merasa lebih leluasa, Mao An seringkali merepotkannya dengan tingkah-tingkah atau tindakan yang menurutnya tidaklah perlu menggunakan otot tapi harus dipikirkan terlebih dahulu.
Mungkin benar jika Mao An menonton apa yang dia lakukan dengan teman atau lawan maka saudaranya yang kurang berpikir alias lebih mengandalkan otot dan kekuatannya itu akan memetik sebuah pelajaran sehingga akan menjadi lebih baik kedepannya.
__ADS_1
Akan tetapi Ling Tian merasa saudaranya
sangatlah aneh dengan tiba-tiba memikirkan diri seperti itu. Dia berpikir mungkinkah dia hanya ingin nebeng saja dan tidak ingin capek-capek melesat ke sana kemari dengan menggunakan tenaganya.
"Hahh.. Baiklah! Idemu cukuplah baik! Aku harap kamu akan dapat benar-benar belajar tentang bagaimana cara bersikap dengan semua orang!" ucap Ling Tian pada akhirnya sambil menghela nafas.
Mao An tersenyum lebar karena saudara sekaligus Tuan Mudanya menyetujui apa yang dia usulkan. Dengan cepat dia langsung berubah menjadi seekor kucing hitam kecil yang terlihat sangatlah imut namun tidak mengalahkan keimutan dari kucing putih Ling Hu.
Mao An langsung melompat ke pundak kanan Ling Tian selalu memejamkan mata seperti bermalas-malasan saja.
'Haiihh.. Sudah kuduga! Selain untuk menjalankan apa yang dikatakannya sebelumnya ternyata ada udang di balik bakwan juga! Dia ingin bersantai-santai dan tidur-tiduran saja! Cih Dasar saudara laknat!' batin Ling Tian sambil menghela nafas panjangnya kemudian setelah itu dia pun melesat dengan kecepatan tinggi untuk melanjutkan perjalanan menuju Istana Kekaisaran Xiao.
Ling Tian mendarat tidak jauh dari pintu gerbang kota Nianqing lalu melanjutkan mendekati gerbang dengan cara berjalan kaki. Kota Nianqing memiliki peraturan yang tersendiri yaitu bagi selain anggota dari klan bangsawan maka dilarang untuk melakukan perjalanan menggunakan cara terbang kecuali jika orang itu berada di ranah Pendekar Platinum.
Seperti biasanya, Ling Tian selalu melakukan hal yang tidak pernah dilupakan yaitu dengan cara menyegel kultivasinya hingga titik yang cukup rendah yaitu di ranah Pendekar Emas Awal Bintang 5.
Sementara untuk kucing hitam yang tidur-tiduran dengan malas di pundaknya, dia sama sekali tidak memperlihatkan aura sedikitpun yang menandakan dia bukanlah monster beast alias hanya kucing peliharaan biasa saja. Setidaknya itu yang dipikirkan oleh orang-orang yang melihatnya.
"Identitas!" ucap salah satu penjaga gerbang dengan wajah datar. Dia memiliki kekuatan ranah Pendekar Emas Menengah Bintang 1. Begitu pula dengan temannya yang satunya.
Ling Tian tersenyum sebelum akhirnya menunjukkan lencana giok milik Klan Ling. Kedua penjaga gerbang itu memperlihatkan raut wajah terkejut namun hanya sementara saja, setelah itu keduanya kembali ke sikap wajah datar tanpa ekspresi.
__ADS_1
"Satu keping emas untuk biaya masuk!" ucap salah satu penjaga gerbang.
'Oh.. Cukup mahal! Pantas saja kota Nianqing ini sangatlah megah!' batin Ling Tian sambil mengeluarkan satu keping emas untuk pembayaran biaya masuk kota.
"Silakan masuk Tuan Muda! Jika Anda belum mengerti mengenai peraturan dari Kota Nianqing ini, silakan bacalah ini terlebih dahulu!" ucap salah satu penjaga gerbang sambil memberikan sebuah kertas yang berisikan mengenai peraturan yang harus dipatuhi oleh semua orang dengan tanpa terkecuali saat berada di dalam Kota Nianqing atau Ibukota Kekaisaran Xiao.
Penjaga gerbang itu memanggil dengan sebutan tuan muda karena lencana yang diperlihatkan oleh Ling Tian bukanlah lencana biasa-biasa saja alias lencana yang memiliki kedudukan sangat tinggi di klan-nya.
"Terima kasih prajurit! Jika begitu aku akan mempelajarinya terlebih dahulu!" ucap Ling Tian sambil berjalan memasuki kota dengan mata yang terus tertuju pada tulisan yang ada di kertas alias sambil membaca.
"Ya! Silakan Tuan Muda!" kata prajurit penjaga gerbang.
Ling Tian terus berjalan memasuki kota sambil membaca larik dan demi larikan peraturan yang harus dipatuhi oleh pengunjung sepertinya di kota Nianqing ini.
"Sangat menarik! Selain Klan Xiao, Klan Lian dan beberapa klan bangsawan, tidak akan ada orang yang berani untuk bertindak sembarangan di kota ini! Bisa dikatakan kota ini juga kota yang sangat damai karena peraturan yang begitu ketat!" ucap Ling Tian lirih sambil menganggukkan kepalanya paham.
Dia terus bergerak tanpa tahu arah dimana Istana Kekaisaran Xiao itu berada.
"Baiklah.. Lebih baik menuju ke restoran terlebih dahulu sembari mencari informasi! Bagaimana kucing pemalas? Apakah kau setuju juga?" tanya Ling Tian kepada Mao An.
"Hehehe.. Tentu sangat setuju Tuan Muda!" jawab Mao An sambil memperlihatkan gigi tajamnya alias dia sedang cengar-cengir. Mengenai hal makanan, mana mungkin Mao An tidak menyetujuinya?
__ADS_1