
Tidak terasa waktu pun terus berlalu hingga malam hari pun telah tiba. Namun obrolan dari keluarga Ling Tian masih lah terus berlanjut dan bahkan malah kini bertambah ramai saja. Beberapa ta tua yang sebelumnya pada saat siang hari masihlah bertugas kini mendatangi kediaman dari Ling Jun karena ingin mengetahui kabar ataupun hanya ingin melihat Ling Tian.
"Baiklah.. Sekarang untuk kalian berlima! Aku sengaja mengeluarkan kalian semua dengan tujuan mulai sekarang kalian sudah dapat kembali ke klan masing-masing dan mengabdikan diri kalian kepada mereka!" ucap Ling Tian sembari melihat ke arah 5 murid dari saudara-saudarinya.
"Adapun mengenai peperangan yang akan terjadi saat melawan aliansi aliran hitam, nanti orang dari Klan Ling pasti akan memberitahukan kepada kalian! Apakah kalian semua mengerti?" ucapnya lagi sembari menanyakan kepada kelimanya.
"Baik Tuan Muda! Kami mengerti!" jawab kelimanya dengan serentak dan menganggukkan kepalanya.
"Bagus! Aku senang mendengarnya! Aku harap kalian bisa secepat mungkin kembali ke klan dan memberikan kontribusi yang baik untuk mereka!" tutur Ling Tian sembari tersenyum dengan lebar.
Ling Tian kemudian mengeluarkan 5 buah senjata pusaka tingkat merah yang berupa 4 pedang dan 1 palu dari dalam cincin penyimpanannya. Dia melemparkan senjata-senjata pusaka itu kepada kelima murid dari saudara dan saudarinya. 4 pedang untuk Yi Shu, Ling Lianhua, Gu Mei dan Hong Lie. Sementara pusaka palu adalah untuk Xuan Ji.
Wajah-wajah mereka langsung saja terlihat sangat sumringah karena telah mendapatkan hadiah yang sangat berharga dari Ling Tian. Mungkin saat ini dan seterusnya senjata-senjata pusaka itu akan menjadi pusaka klan selain Klan Ling tentunya, yang hanya akan digunakan oleh mereka dan juga keturunan mereka nanti.
"Terima kasih Tuan Muda!" ucap mereka berlima dengan bahagia.
"Ya.. Lupakan saja!" kata Ling Tian singkat karena memang dia kurang menyukai jika ada seorang yang sudah dianggapnya sebagai saudara yang mengucapkan kata terima kasih kepadanya.
Disana tidak terlihat sedikitpun ada wajah-wajah yang cemburu dengan kelima murid dari saudara-saudari Ling Tian karena telah mendapatkan hadiah berupa senjata pusaka tingkat merah. Padahal biasanya jika orang-orang selain dari Klan Ling pastilah akan menatap senjata-senjata pusaka itu dengan tatapan penuh keserakahan.
Ya, itulah perbedaan antara orang-orang dari Klan Ling dan orang-orang dari klan yang lainnya. Orang-orang dari Klan Ling merasa bahwa keserakahan itu hanyalah akan membuat mereka terperosok ke lubang penyesalan yang tiada habisnya.
Selain itu juga mereka percaya bahwa mereka pasti akan juga mendapatkan senjata seperti itu atau minimal senjata yang berada di bawahnya sedikit dari Ling Tian saat peperangan melawan aliansi aliran hitam nanti. Jadi untuk saat ini, memasukkan sifat iri di dalam hati hanyalah akan membuat hati mereka kotor dan akan kesulitan untuk menaikkan kultivasi saja.
__ADS_1
"Oiya, untuk saudari Gu Mei.. Tolong sampaikan permohonan maafku kepada leluhur kalian karena dulu aku dan saudaraku Long Yuan telah membuat kalian sedikit bangkrut!" ujar Ling Tian sembari tersenyum cengengesan mengingat apa yang dilakukan oleh saudara koplaknya itu kepada orang-orang dari Klan Gu.
"Baik Tuan Muda Tian! Aku pasti akan menyampaikan pesan ini kepada leluhur Gu!" jawab Gu Mei sembari menangkupkan kedua tangannya.
Acara obrolan itu akhirnya berakhir ketika waktu telah menunjukkan lewat tengah malam atau dini hari. Tentu saja untuk menambah kesakralan dari acara pertemuan itu, mereka semua menutupnya terlebih dahulu dengan cara makan-makan. Dan orang yang paling bersemangat untuk sesi ini tentu saja adalah Mao An si kucing hitam kecil jadi-jadian.
Setelah semuanya telah selesai, orang-orang pun kembali ke tempat masing-masing dan untuk para bawahan dari Ling Tian mereka semua diminta tinggal oleh Patriark Ling Bo Teng di tempatnya karena Istana Klan memiliki banyak sekali kamar yang kosong sekaligus banyak pelayan yang siap untuk melayani mereka jika mereka membutuhkan sesuatu.
Semua pelayan Ling Tian termasuk Feng Lanse'er dan Leluhur Xueren Chong sama sekali tidak keberatan akan hal itu. Lagi pula di tempat ini mustahil ada seseorang yang akan dapat membahayakan Ling Tian. Mereka berdua tentu saja tahu mengenai formasi array yang melingkupi seluruh kawasan Klan Ling.
Keduanya sungguh sangat terkejut saat menemukan formasi array seperti ini ada di sebuah alam tingkat rendah seperti Benua Langit. Itu karena biasanya formasi seperti ini hanya dimiliki oleh mereka para dewa yang memiliki kekuasaan pada suatu dunia yang ada di alam dewa.
Namun saat mereka kembali mengingat bahwa Tuan mereka adalah Ling Tian yang berasal dari Shen Zhu Ling yang memiliki kejeniusan luar biasa dalam segala bidang dan kultivasi, maka mereka berdua pun segera memakluminya.
Hari-hari berlalu dengan cepatnya. Tidak terasa Ling Tian sudah berada di klan semenjak kepulangannya dari wilayah terlarang daratan utara bersama dengan Feng Lanse'er dan Leluhur Xueren Chong kini sudah berjalan 2 bulan.
Kelima murid dari saudara-saudarinya kecuali Ling Lianhua juga sudah kembali ke klan masing-masing semenjak malam itu Ling Tian menyuruh mereka untuk kembali dan berkontribusi. Hari-hari Ling Tian saat ini adalah pengangguran total dan sesekali mengajak Ling Xing'er untuk berlatih bersama di dalam dunia jiwa.
Sebenarnya Ling Tian bukanlah sosok yang menganggur begitu saja. Hanya dari pandangan mata orang lain saja dia terlihat pengangguran, namun aslinya di tiap harinya dia selalu sibuk dengan meracik banyak sekali pil dan juga menempa bermacam-macam senjata yang keseluruhannya minimal adalah senjata tingkat hijau kualitas sempurna.
Itu semua dia siapkan untuk peperangan melawan pihak aliansi aliran hitam suatu hari nanti. Dia yakin pasti mereka akan membutuhkan semua itu meskipun di pihaknya memiliki banyak sekali kultivator kuat dan juga orang yang sudah berada di ranah dewa sekalipun.
Hal itu karena seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya oleh Ling Tian kepada Feng Lanse'er bahwa kemungkinan jika Feng Lanse'er ikut bertarung dalam peperangan, maka kemungkinan akan terdeteksinya dirinya oleh aturan dimensi ataupun oleh para dewa penjaga dunia akan semakin besar.
__ADS_1
Sementara untuk para saudara dan juga para pelayan dari Ling Tian, mereka diminta secara khusus oleh Patriark Ling Bo Teng dan juga ayah dari Ling Tian untuk melatih para murid klan mereka. Tentu saja para saudara dan juga para pelayan Ling Tian dengan senang hati menerima tawaran itu karena mereka pun ingin berkontribusi kepada klan milik tuan mereka.
.
.
Di pinggir danau.
"Aiih.. Ikan-ikan di sini sangatlah pemalas sekali untuk memakan umpanku! Tidak seperti di dunia jiwa Tuan Muda Tian yang sangat mudah untuk memancing banyak ikan!" keluh Mao An yang mata pancingnya tidak pernah disentuh oleh ikan di danau tersebut.
"Ahahaha.. Ayolah saudaraku! Mungkin karena banyaknya dirimu mengeluh, jadi ikan-ikan di danau tidak mau menyentuh mata pancingmu! Coba lihatlah punyaku, aku sudah hampir mendapatkan satu ember penuh!" kata Ling We sembari tertawa terbahak-bahak mengejek Mao An.
"Cih! Disini memanglah sangat sedikit ikannya. Aku dapat melihatnya dengan mata harimauku. Oiya saudara We, bagaimana jika kita ambil saja ikan-ikan peliharaan milik Tetua Kelima? Sepertinya cukup lezat jika kita bakar barsama dan ditemani dengan beberapa botol anggur," ucap Mao An yang mengutarakan idenya.
"Hmm.. Ide yang sangat bagus! Baiklah.. Aku setuju denganmu!" kata Ling We yang juga sebenarnya cukup penasaran dengan rasa ikan peliharaan milik Tetua Kelima.
"Hahaha.. Kalau begitu kamu siapkan saja perapiannya. Urusan mengambil ikan itu, serahkan padaku!" kata Mao An dengan tertawa lantang.
"Oke saudaraku! Tos dulu dong!" seru Ling We mengajak tos.
"Yuhuuu.." ujar Mao An lalu mengayunkan tangannya menyambut dari tangan Ling We.
Plok!
__ADS_1