Ling Tian

Ling Tian
Berani Menyentuh Anakku? Mati!


__ADS_3

Booommmm...


Pintu gerbang atau lebih tepatnya gapura milik Tetua Agung Ling Qinzu hancur seketika hanya dengan sabetan pedang pusaka tingkat putih Ling Jun yang sudah dia genggam dan hunuskan semenjak keluar dari kediamannya.


"Keluar kau Qinzu sialan!" teriak Ling Jun lagi.


Wuuss..


Satu sosok pria baya melesat menuju Ling Jun.


"Apa yang anda lakukan Tetua Jun? Mengapa kamu menghanjurkan gapura rumahku?" tanya pria itu yang tidak lain adalah Tetua Agung, Ling Qinzu.


"Kau masih bertanya setelah apa yang kau lakukan pada putraku saat aku tidak ada?" bentak Ling Jun bertanya.


Ling Qinzu tidak bisa menjawab apa-apa. Dia memang pernah hendak membunuh anak Ling Jun Ling Tian. Dan sekarang sang ayah dari bocah sontoloyo itu sangat murka kepadanya.


Ling Qinzu juga sadar tidak mungkin bisa melawan Ling Jun yang didepannya sedang melayang, tanda sudah mencapai ranah Pendekar Emas. Sementara dia hanyalah ranah Pendekar Besi. Perbedaan dan jarak yang sangat signifikan bagai langit dan bumi.


"Jawab! Mengapa kau hanya diam Qinzu sialan!" teriak Ling Jun.


"Tetua Jun, a-aku bisa menjelaskannya," ujar Ling Qinzu.


"Menjelaskan? Cih! Gara-gara kau anakku pergi meninggalkan klan dan sekarang aku tak tahu bagaimana nasibnya! Aku tidak akan mengampunimu!" ucap Ling Jun kemudian melesat dengan sangat cepat menyerang Ling Qinzu.


Swuusshh...


Bammm!


Ling Qinzu yang tidak mempunyai kualifikasi untuk melawan hanya bisa diam dan sebisa mungkin menahan sabetan pedang Ling Jun. Namun karena perbedaan kekuatan, dia terpental jauh dan menabrak tembok rumahnya hingga hancur.

__ADS_1


Ugh.. Uhuk!


Ling Qinzu memuntahkan seteguk darah hanya dengan satu serangan Ling Jun.


Swuusshh...


Serangan susulan kembali datang kearahnya. Ling Qinzu hanya bisa pasrah menerimanya. Didalam hatinya dia sangat marah membenci kepada sosok Ling Tian. Karena dialah dirinya dalam posisi seperti ini.


Baammm...


Tetua Agung Klan Ling itu benar-benar tidak berdaya menghadapi Ling Jun. Dia kembali terlempar dan membentuk kawah yang cukup lebar. Tulang-tulangnya patah dan bergeser tak beraturan. Dia terluka dalam sangat parah dan parah.


***


Sementara itu dikediaman Patriark Ling Bo Teng, Patriark Ling sedang bersantai dengan sang istri dan kedua anaknya sambil minum teh tiba-tiba dikejutkan dengan kedatangan salah satu murid Klan Ling yang tergesa-gesa.


"Ada apa? Mengapa kau datang dengan tergesa-gesa dan panik begitu?" tanya Patriark Klan Ling, Ling Bo Teng.


"Gawat Patriark! Ada hal buruk! Tetua Jun telah kembali!" kata murid dengan panik.


"Ooh.. Adikku telah kembali? Bukankah itu kabar baik?" tanya Ling Bo Teng menyeritkan dahi karena aneh.


"Bukan begitu Patriark! Tetua Jun telah kembali tapi saat ini dia sedang marah besar dan menghajar Tetua Agung hingga tidak berdaya!" jawab murid.


"Apaaaa! Gawat! Ini pasti ada hubungannya dengan Tian'er! Baiklah terima kasih atas informasinya!" kata Ling Bo Teng cepat.


"Iya, sama-sama Patriark! Kalau begitu saya undur diri!" ujar murid.


"Iya, silakan!" kata Ling Bo Teng.

__ADS_1


"Kalian semua aku harus pergi kesana sekarang juga! Kalau tidak, Tetua Agung pasti akan tewas dibunuh oleh saudaraku!" lanjutnya kepada anggota keluarganya.


Tanpa menunggu jawaban dari semua anggota keluarganya, Patriark Ling atau Ling Bo Teng langsung melesat pergi menuju kediaman Tetua Agung.


'Gawat! Aku tidak boleh terlambat!' gumam Ling Bo Teng.


***


Bamm!


"Ukhuk!" Ling Qinzu kembali batuk darah. Dia sudah tidak berdaya dan diambang kematiannya.


"Gimana rasanya dihajar orang yang lebih kuat darimu Qinzu sialan? Apa kau tahu seperti apa rasanya yang putra kecilku rasakan saat kau menghajarnya?" tanya Ling Jun dengan nada sinis dan membentak.


Ling Qinzu tidak menjawabnya atau lebih tepatnya sudah tidak bisa lagi mengeluarkan suara untuk menjawab pertanyaan Ling Jun.


Para anggota Klan Ling lainnya termasuk para tetua yang datang sejak awal hanya menyaksikan saja. Mereka takut jika ikut campur urusan pertikaian kedua orang itu akan terseret atau paling parah mati dahulu sebelum Tetua Agung. Mereka semua menjaga jarak dan diam seribu bahasa.


"Kenapa hanya diam? Kau bahkan sangat lemah! Hanya dengan dua serangan kecilku kau hampir mati! Cuih! Tapi jangan harap kau akan selamat! Hari ini sudah tercatat akan hari kematianmu Qinzu bangs*t! Berani menyentuh anakku? Hanya kematian yang akan kau dapatkan!" kata Ling Jun.


"Baiklah.. Sekarang terima kematianmu! Kuharap dikehidupanmu selanjutnya kau tidak lagi suka membully yang lebih lemah darimu!" lanjutnya lalu menyiapkan serangan terakhirnya untuk menghabisi Tetua Agung.


Swooosshh...


Fluktuasi udara tergoncang dan tidak beraturan. Pedang pusaka tingkat putih ditangannya tampak mengeluarkan aura yang sangat kuat.


"Matilah kau sialan!" teriak Ling Jun.


"Saudaraku.. Berhenti!"

__ADS_1


__ADS_2