
Ucapan Tuan Muda Li Shin berhasil membuat kedua Tetua dari Sekte Pedang Suci dan Sekte Kekuatan mengerutkan kening.
"Baik! Aku akan menantikan apakah ucapanmu itu benar atau hanya omong kosong belaka!" tutur Tetua Ong Feng. Dia benar-benar menantikan apakah dirinya akan melihat kejutan dari salah satu peserta turnamen.
Ketiganya tidak lagi berbicara dan memfokuskan kembali kepada para peserta turnamen. Tuan Muda Li Shin tersenyum mendengar penuturan Tetua Ong Feng itu, dia sangat percaya dengan kemampuan Ling Tian sebagai Dewa sektenya tidaklah sebatas hanya menguasai formasi saja.
Lima belas menit telah berlalu. Sesuai dugaan Ling Tian, peserta kedua yang berhasil menyelesaikan pemurnian pil roh kultivasi adalah seorang gadis yang berjuluk Dewi Alcemis, Zhong Nian. Disusul dengan Tuan Muda Huang Cai lima menit kemudian.
Waktu terus berjalan dan beberapa peserta juga telah mengangkat tangannya tanda telah selesai. Kini sepuluh peserta telah dinyatakan lolos kebabak berikutnya dan butuh empat peserta lagi yang bisa meraihnya.
Ling Tian mulai menggerakkan tangannya untuk mengambil bahan-bahan pembuatan pil roh kultivasi tingkat 2. Para penonton yang sebelumnya memberikan kritikan keras kepadanya juga langsung meperlihatkan reaksinya.
"Lihatlah! Pemuda bertopeng itu mulai bergerak dan memunguti bahan pil!"
"Apa yang akan dilakukan oleh idiot itu kepada bahan-bahan itu? Aku yakin dia hanya melihat-lihat saja!"
"Benar! Pemuda tidak berguna itu pasti hanyalah akan melakukan hal yang sia-sia!"
Berbagai reaksi dan cercaan dapat didengar sementara ada lima orang yang melihat Ling Tian dengan pandangan lain. Mereka adalah Tetua Zhong En, Zhong Nian, Tuan Muda Li Shin, Tetua Ketujuh Sekte Neraka dan yang terakhir tentu adalah Ling We.
Ling We sendiri memasang wajah sinis dan senyuman yang tidak bisa diartikan.
"Hmm.. Si tukang pamer hendak beraksi!" ucap Ling We pelan.
"Apa yang kau bilang nak? Siapa yang tukang pamer?" seorang pria tua yang berada disamping Ling We bertanya karena sedikit mendengar ucapan Ling We.
"Ah! Kakek! Coba lihat pemuda bertopeng itu! Dialah si tukang pamer yang kumaksud!" jawab Ling We sambil menunjuk kearah Ling Tian yang diatas panggung.
"Pemuda bertopeng tidak berguna itu? Mengapa kamu mengatakan dia tukang pamer? Apakah pamer kebodohan?" pria tua itu mengangkat alisnya.
__ADS_1
"Kakek coba perhatikan saja apa yang akan dia lakukan! Oiya, apakah kakek punya sakit jantung atau tidak?" ujar Ling We bertanya sedikit memasang wajah serius namun membingungkan pria tua itu. Hal itu wajar karena Ling We malah justru menanyakan sesuatu yang lain saat dirinya menanyakan perihal pemuda bertopeng.
"Anak muda! Mengapa kau malah justru menanyakan aku sakit jantung atau tidak! Apa kau menyumpahiku?" kakek tua itu bertanya dengan mengeraskan rahangnya karena merasa sedikit tersinggung.
"Ahaha! Bukan begitu kakek tua! Aku hanya memastikan anda tidak mati saja karena akan terkejut melihatnya!" jawab Ling We sambil tertawa.
"Anak muda! Kamu begitu percaya diri mengatakan pemuda bertopeng idiot itu akan mengejutkanku! Apakah kamu berani menjamin? Apakah kamu berani bertaruh?" tanya kakek tua itu dengan wajah geram.
"Ohoo? Kakek mengajakku bertaruh? Hal apa yang akan kakek pertaruhkan?" Ling We tentu sangat tertarik. Karena dia sudah tahu dengan pasti akan kemenangannya.
"Jika pemuda bertopeng itu benar-benar bisa membuatku terkejut seperti ucapanmu, maka akan aku serahkan lima ratus koin emasku untukmu! Namun jika ternyata mengecewakan, maka kamu harus memberiku cukup seratus lima puluh keping emas saja!" ujar si kakek tua.
"Sepakat!" tanpa menunggu lama Ling We menyetujuinya.
Mereka berdua mengeluarkan taruhan masing-masing dari cincin penyimpanannya untuk menunjukkan keseriusannya dalam bertaruh. Kakek tua itu mengeluarkan lima ratus koin emas dan Ling We seratus lima puluh keping emas. Perbedaan yang sangat besar dan sangat menguntungkan untuk Ling We.
Keduanya lalu melihat arah Ling Tian yang sedang mengumpulkan seluruh bahan ditelapak tangannya.
Kakek tua itu tidak memberi tanggapan sama sekali. Dia hanya melihat Ling Tian yang menurutnya sedang melakukan hal bodoh.
.
.
Ling Tian selesai mengumpulkan semua diatas telapak tangan dan mengamati bahan-bahan pembuatan pil tersebut.
'Bahan yang cukup berkualitas dan masih baru dipetik! Sepertinya Asosiasi Alkemis memang mempunyai kebun tanaman obatnya sendiri! Dengan ini aku harusnya bisa membuat pil roh kultivasi tingkat 3 kualitas sempurna!' gumamnya sambil tersenyum.
Setelah itu Ling Tian melemparkan seluruh bahan-bahan tersebut keatas udara dan membuatnya melayang dengan menggunakan kekuatan jiwanya.
__ADS_1
Para penonton tentu langsung bereaksi dan memberikan kritikan bahkan tidak sedikit yang terang-terang mengucapkan hinaan.
"Lihatlah! Apa lagi yang dilakukan pemuda bertopeng gila itu! Dia melemparkan bahan-bahan pembuatan pil di udara!" seru salah satu penonton.
"Dia benar-benar sudah tidak waras!" sahut yang lainnya.
"Apakah dirinya benar-benar sudah frustasi karena tidak bisa membuat pil roh tingkat 2! Sungguh ironis!"
"Ah! Jika bahan-bahan itu terjatuh, bukankah pihak Asosiasi Alkemis akan rugi? Itu adalah tanaman obat yang berharga!"
"Mengapa harus ada pemuda tolol yang mengikuti turnamen alkemis seperti ini? Benar-benar tidak tahu diri!"
"Haihh.. Harusnya dia tidak dilahirkan ke dunia saja! Itu mungkin lebih baik daripada harus menjadi orang sebodoh itu!"
Sebenarnya Ling Tian yang memiliki indra pendengaran yang sangat tajam sedikit banyak mendengar cercaan serta hinaan para penonton yang ditujukan kepadanya. Namun dia hanya terus diam dan justru tersenyum penuh arti.
Ling Tian melayangkan bahan-bahan tersebut dengan kekuatan jiwa yang mengalir dari tangan kirinya. Selepas itu, dia mengangkat tangan kanannya dan perlahan api yang sangat panas keluar dan membakar semua bahan-bahan pembuatan pil roh.
Aksinya itu sukses membuat semua orang berteriak dan beberapa diantaranya histeris.
"Oi! Pemuda gila! Apa yang kau lakukan? Kau ingin menghanguskan barang seberharga itu!" salah satu Tetua dari Asosiasi Alkemis berteriak dengan keras. Dia tentu tidak terima jika bahan-bahan atau tanaman obat dari Asosiasi menjadi sia-sia karena hangus.
Namun sebelum dia dan orang lain berteriak lebih keras lagi, sebuah cahaya kuning yang menyilaukan mata muncul dari api yang mulai padam milik pemuda bertopeng.
Semua orang spintan menutup.matanya dua detik dan membukanya pada detik berikutnya. Namun ada yang berbeda dengan mata semua orang itu. Mata semua orang itu tampak seperti hendak keluar karena melihat sesuatu yang membuat mereka sebelumnya menutup mata.
"I-itu.."
Tetua yang sebelumnya berteriak lantang dan mencaci Ling Tian tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Bahkan disisi kursi para dewan juri, satu daiantara tiga juri yang tidak lain adalah pemimpin tertinggi Asosiasi Alkemis sampai berdiri dari tempatnya duduk.
__ADS_1
"Itu pil roh kultivasi tingkat 3 kualitas sempurna!"