Ling Tian

Ling Tian
Murid Pertama


__ADS_3

Tidak begitu lama, sang gadis Xing'er dan ayahnya pun datang membawakan sesuatu yang dipesan oleh Ling Tian dan Mao An. Keduanya menyajikan makanan dan minuman yang cukup banyak itu dimeja tempat kedua pelanggannya itu.


"Silakan dinikmati Paman Tian dan Kakek Mao!" ujar Xing'er dengan tersenyum riang.


Sementara untuk sang ayah merasa tidak berdaya dengan begitu aktifnya sang anak kepada dua pelanggannya itu.


"Maafkan ketidak sopanan anakku ini Tuan-tuan!" ujar sang ayah dari Xing'er.


"Eh? Itu tidak perlu Tuan! Oiya, perkenalkan namaku Tian! Dan ini saudara tua bangkaku Mao An! Silakan Tuan dan Xing'er ikut makan bersama kami!" kata Ling Tian dengan sangat ramah.


"Namaku Jiu! Panggil saja pak tua Jiu! Dan untuk itu.. Itu tidak perlu Tuan Muda Tian! Kami tidak ingin mengganggu makan Tuan Muda Tian dan Senior Mao!" ujar ayah dari Xing'er yang bernama Jiu menolak dengan halus.


Ling Tian hanya menggelengkan kepalanya. Sementara Mao An langsung bereaksi.


"Tuan Jiu ikut saja! Ayo makan bersama kami! Toh Tuan Jiu sedang tidak ada pelanggan lain selain kami. Bukankah begitu Xing'er kecil?" ucap Mao An.


"Tapi senior Mao.." Jiu pun ragu.


"Tidak perlu ragu Tuan Jiu! Duduklah.. Tuan Mudaku juga ingin berbicara sesuatu denganmu dan juga Xing'er!" ujar Mao An dengan tersenyum.


Akhirnya dengan penuh keterpaksaan, Jiu dan Xing'er pun diduk dimeja ysng sama dengan Ling Tian dan Mao An untuk menyantap hidangan yang banyak itu.


Xing'er makan dengan sangat lahap yang membuat Ling Tian dan Mao An tersenyum. Ya! Meskipun dia dan ayahnya yang menjual makanan itu, tapi dia sangat jarang memakan masakan lezat seperti ini.


Sementara untuk sang ayah Jiu, dia menggelengkan kepala tidak berdaya dan cukup malu akan polah anaknya. Dia hanya makan sedikit saja yang hanya berniat untuk melegakan kedua pelanggannya.


Setelah selesai melahap semua makanannya, Jiu dan Xing'er dengan sigap membereskan semua piring dan gelas kotor, membawanya kebelakang untuk dicuci nantinya. Kemudian mereka berdua kembali duduk bersama dengan Ling Tian dan Mao An karena sebelumnya Mao An mengatakan bahwa Ling Tian ingin berbicara serius kepada mereka.


"Tuan Muda Tian! Sebelumnya senior Mao mengatakan bahwa Tuan Muda ingin berbicara kepada kami berdua. Jika boleh tahu, perihal apakah itu?" tanya Jiu dengan penasaran.

__ADS_1


"Ah! Itu.. Aku ingin Xing'er menjadi muridku!" jawab Ling Tian singkat dan to the poin.


"Apaa! M-murid?" Jiu dan Xing'er tersentak kaget.


"Benar! Aku ingin menjadikan Xing'er sebagai murid pertamaku! Bagaimana? Apakah Tuan Jiu menyetujuinya?" tanya Ling Tian sambil terus mempertahankan senyumannya.


"Itu.. A-apakah Tuan Muda Ling Tian adalah seorang kultivator?" ujar Jiu dengan hati-hati balik bertanya.


Ling Tian tersenyum mendengar pertanyaan balik dari Jiu, dia hanya mengangguk sebagai jawaban lalu mengeluarkan sedikit auranya yang membuat Jiu kembali tersentak kaget.


Ling Tian hanya mengeluarkan auranya di ranah Pendekar Berlian kepada Jiu. Jika Ling Tian mengeluarkan aura ranah aslinya, maka sudah dipastikan Jiu dan Xing'er akan mati ditempat karena tidak kuat menahan beban.


"T-tapi Tuan Muda Tian.. Bukannya aku ingin menolaknya, tapi Xing'er adalah harta satu-satunya yang kumiliki!" ucap Jiu dengan bersedih. Dia sadar hanyalah manusia biasa, hanya Xing'er lah satu-satunya yang dia miliki saat ini. Jadi dia sangat keberatan untuk melepaskan putri imutnya itu.


"Tuan Jiu! Aku tidak mengatakan bahwa aku hanya akan membawa Xing'er seorang jika Tuan Jiu menyetujuinya. Aku ingin Tuan Jiu juga ikut bersama denganku! Tuan Jiu juga bisa belajar kultivasi nantinya!" ujar Ling Tian dengan lembut.


"B-benarkah itu Tuan Muda Tian?" tanya Jiu tidak yakin dengan pendengarannya. Maka dari itu dia ingin memastikannya sekali lagi.


"B-baik! Aku menyetujuinya! Xing'er! Cepat bersujud dan berilah hormat untuk gurumu!" ujar Jiu dengan cepat setuju dan menyuruh Xing'er yang sedari tadi ikut menyimak.


"B-baik ayah!" kata Xing'er terburu-buru.


Dia dengan cepat menjatuhkan dirinya dan bersujud tiga kali dihadapan Ling Tian.


"Xing'er memberi hormat kepada guru!" ucap Xing'er dengan penuh hormat.


Jiu sampai menangis haru melihat putrinya kini telah menjadi murid orang yang sangat kuat seperti Ling Tian. Hal inilah yang dia cita-citakan selama ini. Menjadi kuat dengan cara berkultivasi.


Sementara untuk Ling Tian, dia tersenyum dengan ramah dan mengusap kepala Xing'er dengan lembut.

__ADS_1


"Bangunlah Xing'er! Hormatmu guru terima! Mulai sekarang kamu adalah muridku!" ucap Ling Tian.


"Baik! Terima kasih guru!" jawab Xing'er lalu berdiri dan langsung memeluk Ling Tian.


Xing'er tentu juga sangat bahagia akan hal ini. Menjadi kuat dan diakui oleh banyak orang adalah cita-citanya semenjak dahulu. Namun karena keterbatasan dan ayahnya yang seorang manusia biasa membuatnya tidak punyai modal untuk membeli sumberdaya meskipun hanya sumberdaya tingkat rendahan.


Diumurnya yang sudah menginjak delapan tahun harusnya dia sudah belajar mengenal kultivasi setahun yang lalu. Namun karena profesi ayahnya yang hanya seorang pemilik kedai membuat dia harus ikut serta membantunya agar dikatakan anak yang berbakti.


Ditambaah lagi karena dia sudah tidak memiliki ibu yang harusnya menjadi penyangga hatinya disaat sedih membuat gadis kecil ini semakin rapuh.


Xing'er menangis tersedu-sedu dipelukan Ling Tian. Sementara Ling Tian hanya membalas pelukan anak kecil itu dengan penuh kasih dan perhatian. Beberapa kali dia mengusap ujung kepala gadis kecil itu agar menjadi tenang dan berhenti menangis. Namun hasilnya tetap nihil dan setelahnya Ling Tian membiarkan Xing'er untuk seperti itu sampai dia puas dan lega dengan mengeluarkan segala keluhannya.


Xing'er berhenti menangis saat dia tiba-tiba merasakan kantuk dan tertidur begitu saja pada pelukan Ling Tian. Hal itu membuat Jiu sang ayah merasa tidak enak dengan Ling Tian.


Akan tetapi Ling Tian memintanya untuk tidak mengganggu tidur Xing'er. Ling Tian justru meminta Jiu untuk menutup kedainya dan mengemasi barang-barang yang akan dibawa karena Ling Tian dan Mao An akan langsung membawa mereka berdua setelah Xing'er bangun dari tidurnya.


Jiu hanya menurut. Dia dibantu dengan Mao An mengemasi barang-barangnya serta milik Xing'er. Setelah dua jam, Xing'er akhirnya terbangun dari tidurnya. Dia sangat terkejut saat dia bangun ternyata masih berada dipelukan sang guru. Dua pasang mata yang lainnya juga sedang menatapnya. Mereka tentu adalah ayah serta Mao An yang tersenyum kepadanya.


"Xing'er sudah bangun?" tanya Ling Tian dengan lembut.


"Ah.. Guru! Maafkan Xing'er yang tidak sengaja tidur!" ujar Xing'er dengan malu setelah melepaskan pelukannya pada Ling Tian.


"Tidak apa-apa! Oiya Tuan Jiu! Jika boleh tahu, dari marga apa kalian berdua?" tanya Ling Tian yang sebelumnya tidak mendapati marga keluarga keduanya.


"Tuan Muda Tian! Kami hanyalah rakyat jelata dan manusia biasa! Kami tidak memiliki marga apapun yang kami sandang dalam penyebutan nama kami!" jawab Jiu dengan jujur.


Ling Tian tersenyum mendengar jawaban jujur Jiu.


"Baiklah.. Nama kalian sekarang Ling Jiu dan Ling Xing'er! Kalian berdua adalah keluargaku sekarang!" ucap Ling Tian dengan ramah.

__ADS_1


"Apaaa! L-ling? B-benarkah Tuan Muda Tian dari Klan Ling?" tanya Jiu dengan wajah terkejut.


"Tentu! Aku adalah Ling Tian!"


__ADS_2