
Wei Ziin sangat berharap bisa mendekati Ling Tian dan mengobrol bersama. Ah! Gejolak batinnya semakin kuat saja dari waktu ke waktu.
'Ada apa denganku? Mengapa aku selalu ingin memandanginya?' gumam Wei Ziin pada dirinya sendiri.
Tentu saja Wei Ziin merasa aneh dengan situasi yang sangat membuat hatinya resah tak berdaya ini. Dia sama sekali tidak mengenali atau bahkan merasakan rasa yang seperti sekarang ini. Dia hanya berulang kali menghela nafas panjang dan terus memandangi Ling Tian yang sedang memapah kakeknya.
***
Sementara itu di daratan selatan atau Kekaisaran Han sedang terjadi perang yang berkecamuk dengan hebat. Perang itu disebabkan karena beberapa sekte aliran putih menolak tunduk kepada Kaisar Han dan bergabung dengan aliansinya.
Atas dalih itu, Kaisar Han dan seluruh anggota aliansi aliran hitam menyerbu dan membantai semua yang membelot dari kehendaknya.
"Ayoo! Hancurkan saja mereka yang tidak mau tunduk kepadaku! Hahaha.." Kaisar Han tertawa dengan lantang saat melihat prajurit serta kelompoknya saat ini sedang menekan aliran putih.
Baammm! Bammm!
Sreet! Sreet!
"Aakkhh!"
"Aaaakhh!"
Sementara dipihak aliran putih hanya bisa menggertakkan gigi dengan amarah yang memuncak. Mereka adalah kelompok aliansi aliran putih yang tersisa di daratan selatan.
"Sial! Bagaimana ini Patriark Meng? Jika seperti ini terus kita akan kalah!" ujar salah satu tetua sekte aliran putih kepada Patriarknya.
"Bajing*n! Kaisar bedebah itu benar-benar tidak punya hati! Bisa-bisanya menyerang rakyatnya sendiri dan menyuruhnya patuh menjadi budaknya! Cuih! Sampai mati aku tidak akan sudi beralih menjadi aliran hitam! Lebih baik aku mati!" kata Patriark Meng.
"Kami juga demikian! Kami lebih baik mati daripada tunduk dengan Kaisar menjijikkan itu!" sahut tetua yang lain.
__ADS_1
Mereka semua telah membulatkan tekat untuk tidak menyerah sampai titik darah penghabisan. Meskipun mereka tahu akan kalah karena memang sedari awal sudah kalah dari segala hal, tapi setidaknya dalam batin mereka bertekat, mereka harus membawa mati nyawa musuh sebanyak yang mereka bisa.
"Bajing*n!" Patriark Meng berteriak lantang saat menyerang salah satu jendral kekaisaran.
Patriark Meng mengayunkan tangannya dengan lihai untuk memberi luka kepada sang jendral. Tangan kanannya memegang tombak dan tangan kirinya memegang pedang. Namun karena kalah dalam hal kekuatan, jendral itu dengan mudahnya menghindari setiap serangan yang berbahaya itu.
Kekuatan Patriark Meng memang cukup tinggi untuk orang-orang di daratan selatan atau bahkan di Benua Langit. Dia berada di ranah Pendekar Platinum Menengah Bintang 6. Namun begitu dia masih kalah dengan kekuatan jendral utama Kekaisaran Han yang sudah di ranah Pendekar Platinum Akhir Bintang 5. Jarak yang cukup signifikan.
Hal ini disebabkan karena seluruh aliansi aliran hitam diberikan kekuatan gelap oleh pemimpin mereka sehingga bisa naik tingkat satu tahapan penuh. Awalnya jendral utama Kekaisaran Han hanya di ranah Pendekar Platinum Menengah Bintang 5 kini menjadi Pendekar Platinum Akhir Bintang 5.
"Menyerah saja Patriark Meng! Kau tidak akan pernah bisa melawan kekuatan absolute dikubu kami!" ucap sang jendral disela-sela pertarungan.
"Cuih! Aku tidak akan sudi! Aku lebih baik mati!" kata Patriark Meng
"Baiklah jika itu maumu!" ujar jendral Kekaisaran Han.
Sang jendral kemudian menambah kecepatan serangnya menjadi beberapa kali lipat lebih cepat. Pedang besar ditangannya menjadi lebih lincah dan mengerikan.
Baru beberapa tarikan nafas, Patriark Meng sudah menerima banyak luka disekujur tubuhnya. Darah mengalir dengan sangat deras membasahi pakaian Patriark Meng.
"Kurang ajar!" teriak Patriark Meng memberikan semangat hidup untuk dirinya sendiri. Dia kembali melesat menyerang jendral sebisa mungkin.
Trank!
Bunyi benturan tombak dan pedang besar sang jendral utama terdengar sangat keras. Patriark Meng terpental beberapa depa jauhnya. Lagi-lagi karena perbedaan kekuatan yang sangat jauh.
"Lihatlah sekelilingmu bajing*n sialan! Hampir semua pasukanmu telah mati ditangan kami! Menyerahlah! Aku akan memberikan kematian cepat untukmu!" kata jendral utama.
Jendral utama Kekaisaran Han cukup kesal dengan kegigihan Patriark Meng dalam bertahannya. Dia beberapa kali dibuat gagal dan gagal lagi menebas bagiam tubuh lawan. Kehebatan seni tombak dan pedang Patriark Meng memang bukan bualan belaka. Tombak ditangan kanannya untuk fokus menyerang dan pedang ditangan kirinya untuk serangan tambahan serta pertahanan. Sial! Ini benar-benar merepotkan.
__ADS_1
'Aku harus cepat-cepat mengalahkannya. Jika tidak, Yang Mulia Kaisar pasti akan sangat marah kepadaku karena membunuh seorang yang lebih lemah begitu lama!' gumam sang jendral.
Tanpa menunggu lama, sang jendral langsung melesat keatas langit dan mengeksekusi seni tarung atau teknik pedang terkuatnya yang dia bisa untuk menghadapi Patriark Meng. Cahaya merah kehitaman terlihat menyelimuti pedang jendral utama. Dengan sangat cepat dia menyiapkan tekniknya dan bersiap menebaskan pedangnya.
"Gerakan Kelima Teknik Pedang Semi; Tebasan Ganda!" teriak jendral utama.
Swuushh... Swuusssh...
Sementara Kaisar Han hanya melihat jendral utamanya menggunakan jurus pedang terkuat hanya tersenyum sinis.
"Patriark Meng memang bukan orang lemah! Sampai-sampai jendralku harus mengeluarkan sepenuhnya jurus terkuat yang dia kuasai." ucap Kaisar Han lirih memberikan komentar.
Patriark Meng yang melihat dua bilah angin berbentuk bulan sabit yang menuju kearahnya dengan sangat cepat hanya bisa melebarkan matanya dan diam membatu seolah pasrah menerima.
Sebenarnya bukan diam membatu atau pasrah, lebih tepatnya dia tidak akan bisa lolos dari dua bilah angin itu. Andaipun dia bisa menahan satu serangan maka serangan satunya akan lolos dan mengenainya. Patriark Meng menggertakkan giginya dan memasang kuda-kuda kuat pada kakinya. Dia berniat menahan dua serangan itu sekaligus. Entah akan berhasil atau tidak, itu masalah nanti.
Boommm... Bhuuzzhh...
Jreezzzhh... Boommm...
Suara ledakan super keras dua kali terdengar oleh semua orang disertai oleh gelombang angin yang sangat tajam menyebar. Seketika perang terhenti dan melihat apa yang sebenarnya terjadi.
"Sudah selesai!" ucap Kaisar Han pelan.
Debu-debu dan asap mengepul hingga keatas langit. Setelah beberapa saat menghilang tersapu oleh angin, terlihat ngarai atau kawah yang sangat lebar juga dalam. Ditengah-tengah kawah terlihat sosok pria yang tergeletak tak berdaya dengan tubuh yang hancur sebagian dan nafas yang mulai melemah. Gila! Patriark Meng belum mati!
"Ooh.. Seperti yang diharapkan dari Patriark Meng yang sangat hebat dalam pertahanannya!" puji jendral utama Kekaisaran Han.
"A-ku Ber-sum-pah meng-utuk ka-kalian! Ka-lian akan m-mati lebih meng-enaskan dari i-ini!" kata Patriark Meng dengan terbata-bata kemudian menghembuskan nafas terakhirnya alias mati.
__ADS_1
Semua anggota aliansi aliran putih tertunduk lesu melihat pemimpin mereka telah mati. Semangat juang mereka langsung longsor dan hilang seketika. kali ini mereka sudah tak mau lagi menjalankan hidup.
"Jangan menyerah! Jika kita mati maka bawalah mati para bajing* n itu! Ledakkan diri kita!" teriak tiba-tiba salah satu anggota aliran putih.