Ling Tian

Ling Tian
Memberikan Teknik


__ADS_3

"Sudah sayang.. Sudah! Jangan galak-galak sama mereka! Mereka masih anak-anak! Dan juga awas lho kalo marah-marah nanti cepat bertambah tua!" kata Ling Bo Teng berniat membujuk istrinya.


(Sriiiing!)


Tatapan yang setajam pedang segera menembus jantung Ling Bo Teng.


"Ooh.. Jadi kamu mengatakan aku sudah tua? Bagus! Bagus sekali! Nanti malam kamu jangan tidur dirumah! Dan burungmu harus puasa empat puluh hari!" ujar Wang Zie naik pitam. Dia melengos dan melipat tangannya didada.


"Eh! Sayangku.. Bukan begitu maksudku!" Ling Bo Teng langsung dibuat gelagapan.


"Bukan maksud bagaimana? Jelas-jelas kamu mengatakan bertambah tua! Itu berarti aku sudah kamu anggap tua!" balas Wang Zie acuh tak acuh dan sedikit dingin.


"Ayolah sayang.. Bukan begitu maksudku!" Ling Bi Teng terus membujuk Wang Zie. Namun Wang Zie sama sekali tidak memperdulikannya.


Ling Tian dan kedua kakaknya yang melihat adegan konyol dan merajuknya istri dari sepasang suami istri itu hanya bisa menggelengkan kepala dan angkat tangan. Mereka sama sekali tidak bisa membantu Ling Bo Teng kali ini!


"Bibi, paman! Kalau begitu Tian'er pamit dulu!" Ling Tian tiba-tiba berucap.


"Jadi kamu akan langsung pergi dan tidak mau latih tanding dengan kakak?" Ling Yun dengan cepat memberikan tanggapan.


"Bukan Tian'er tidak mau kakak Yun! Tapi seperti yang Tian'er katakan, berlatihlah dengan orang yang kekuatannya diatasmu! Dengan siapapun! Maka lambat laun teknik pedangmu akan menjadi semakin hebat!" jawab Ling Tian.


"Baiklah kalau begitu.." kata Ling Yun dengan lemas.


Sementara sepasang suami dan istri yang awalnya sedang ngambek-ngambekan langsung terhenti saat Ling Tian mengatakan akan pergi pamit.


Ling Bo Teng mendekati Ling Tian dengan senyuman tidak bisa diartikan. Ling Tian dan yang lainnya sudah bisa menebak bahwa pria paruh baya atau lebih tepatnya Patriark Klan Ling ini sedang ada maunya.


"Ekhem.. Hehe.. Nak Tian!" panggil Ling Bo Teng dengan mata anak anjing.


"Iya paman?" Ling Tian pura-pura mengangkat alisnya.


"Itu.. Kamu kan sudah memberikan teknik yang bagus untuk Jian'er dan Yun'er!" kata Ling Bo Teng.


"Iya.." angguk Ling Tian mengikuti alurnya. Padahal dia sudah tahu apa yang akan dikatakan pamannya itu.


"Emm.. Apakah.. Apakah itu.." Ling Bo Teng sangat malu mengatakannya.


"Apakah itu apa paman Bo?" Ling Tian masih saja sok tidak faham.


"Ayah ingin diberi teknik tingkat dewa juga Tian'er!" kata Ling Yun.


"Ohh.. Apakah paman juga tertarik dengan teknik tingkat dewa?"

__ADS_1


"Itu.. Tentu saja pamanmu ini tertarik! Siapa orang yang tidak tergiur memiliki teknik yang kuat dan hebat?" jawab Ling Bo Teng.


Cih! Dasar ayah yang serakah! Padahal kan sudah memiliki teknik yang kuat! Masih saja meminta teknik lain!" gerutu Ling Jian sangat pelan.


"Hoi bocah! Ayah mendengarmu!" ujar Ling Bo Teng kepada anaknya, Ling Jian.


"Hmm.. Baiklah paman! Aku akan memberikan teknik pedang yang cocok dan sedikit mempunyai kesamaan dengan teknik paman atau semua orang di Klan Ling! Namun ada sebuah persyaratan untuk seseorang mempelajarinya!" kata Ling Tian.


"Persyaratan?" Ling Bo Teng mengangkat alisnya.


"Benar!" angguk Ling Tian.


"Kamu bisa menyebutkan syaratnya sekarang!" kata Ling Bo Teng dengan semangat.


"Persyaratannya adalah paman harus menembus ranah Pendekar Platinum terlebih dahulu!" jawab Ling Tian.


"Apaaa! Itu.. Bukankah itu akan sangat sulit?" Ling Bo Teng merasa keberatan.


"Paman Bo! Paman telah mencapai ranah Pendekar Emas Akhir Bintang 7. Ranah Pendekar Platinum itu tidak lama lagi paman!" ujar Ling Tian.


"Tapi mengapa harus berada di ranah Pendekar Platinum terlebih dahulu untuk mempelajari teknik atau jurus yang kamu sebutkan itu?" tanya Ling Bo Teng.


"Itu karena setiap gerakan teknik ini mengkonsumsi banyak sekali energi Qi! Hanya ranah Pendekar Platinum saja yang memiliki kualifikasi memakainya!" jawab Ling Tian.


"Baik! Silakan duduk paman! Ambillah sikap lotus! Aku ingatkan sekali lagi! Jangan sekali-kali paman mencobanya sebelum paman menembus ranah Pendekar Platinum! Atau paman Bo akan menjadi cacat!" Ling Tian memberi peringatan keras sekali lagi.


"Baik nak! Aku mengerti!" jawab Ling Bo Teng sambil mengangguk lalu duduk dengan sikap lotus diatas tanah.


"Dan untuk bibi, aku juga akan memberikan teknik untukmu! Namun sama dengan yang digunakan kakak Yun sebelumnya! Silakan bibi juga ikutlah duduk lotus!" ujar Ling Tian.


"Baik Tian'er!" Wang Zie yang awalnya sedikit cemberut akan kecewa karena hanya dia yang tidak mendapatkan hadiah teknik kuat, namun saat ini langsung berubah menjadi berseri-seri penuh senyuman. Dia duduk disamping suaminya, Limg Bo Teng.


"Sekarang pejamkan mata kalian! Tahanlah rasa sakitnya! Itu akan sebentar saja!" kata Ling Tian.


"Baik!" jawab Ling Bo Teng dan Wang Zie serentak. Mereka berdua memejamkan kedua matanya.


Ling Tian hanya mengangguk. Kemudian, dia mengangkat kedua tangan untuk menunjuk Ling Bo Teng dan Wang Zie. Tidak lama, muncul seberkas cahaya hijau dari ujung jari tangan Ling Tian.


Chuusshh...


Seberkas cahaya hijau itu menembak dengan sangat cepat dan mengenai tepat ditengah-tengah dahi Ling Bo Teng dan Wang Zie.


"Ugh!"

__ADS_1


Paman dan bibi Ling Tian mulai merasakan rasa sakit yang teramat pada otaknya. Mereka hanya bisa menggertakkan gigi kuat-kuat untuk menahannya. Perlahan, ingatan-ingatan baru berupa gerakan dan apa saja yang dilakukan untuk melakukan sebuah teknik muncul memadati isi kepala paman dan bibi Ling Tian.


Didalam hati, mereka berdua dibuat takjub dengan ingatan baru ini. Teknik yang sangat mengerikan kuat dapat mereka berdua lihat. Sementara untuk Ling Jian dan Ling Yun hanya menonton saja dengan tenang. Mereka sudah pernah merasakan sensasi seperti yang dirasakan oleh ayah dan ibunya.


"Kakak Yun, kakak Jian! Kalau begitu aku pamit terlebih dahulu! Katakan kepada paman dan bibi ucapan maafku karena tidak bisa menunggu mereka selesai! Aku harus segera ketempat saudara We sekarang juga!" ucap Ling Tian.


"Oh.. Jika begitu silakan Tian'er! Terima kasih atas semuanya!" sahut Ling Yun.


"Lupakan kata terima kasih kakak Yun! Baiklah.. Tian'er pergi!" kata Ling Tian sambil menangkupkan kedua tangan.


"Silakan Tian'er!" balas Ling Yun dan Ling Jian dengan serentak dan menangkupkan kedua tangan.


Zheep!


Ling Tian pun menghilang dari penglihatan kedua kakaknya.


***


Ditempat lain di Klan Ling, didepan sebuah kediaman yang sangat sederhana bahkan lebih sederhana daripada kediaman Ling Jun dan keluarganya, tampak seorang pemuda berwajah biasa saja dengan tampilan yang juga biasa saja alias tidak ada sedikitpun yang menarik sedang terbaring diatas batu hitam.


Berulang kali pemuda itu mengubah posisi rebahannya untuk mencari kenyamanan. Namun tetap saja rasanya tidak seperti yang diharapkan. Sial! Namanya berbaring diatas batu maka sampai kiamatpun tidak akan nyaman!


"Sialan batu ini! Mengapa kamu tidak nyaman sekali!" ucap pemuda itu dengan kesal. Dia memukul-mukul batu hitam itu. Sungguh perbuatan yang unfaedah sekali!


Swuusshh...


Disaat sedang asik memukuli batu hitam, tiba-tiba sebuah serangan yang mematikan dari sebilah belati terbang melesat dengan cepat menghampiri pemuda itu. Dengan gesit pula pemuda itu menghindar dan terbang keatas langit-langit.


Boommm...


Ledakan besar terjadi saat belati terbang itu gagal mengenai target dan hanya menabrak batu hitam hingga menghancurkannya menjadi debu.


"Aiiisshh.. Saudara Tian! Kamu menghancurkan tempat istirahat ternyamanku!" ujar pemuda itu yang tidak lain adalah Ling We. Ling We sendiri sudah bisa menebak bahwa serangan itu pasti dari Ling Tian meski dia tidak bisa mendeteksi keberadaannya sekarang.


"Ahahaha.. Sepertinya ada satu lagi pemuda gemblung yang suka mengoceh sendiri dengan batu dan mengeluh terus-terusan! Hahaha.." sebuah tawa ejekan milik seseorang yang sangat dikenali Ling We terdengan dengan jelas. Benar! Suara itu adalah milik Ling Tian.


"Haiihh.. Kamu tahu sendirilah bagaimana diriku sobat!" Ling We hanya membalasnya masih dengan penuh keluhan.


Zheep!


Ling Tian muncul dari udara tipis tepat didepan Ling We.


"Bagaimana jika kamu ikut denganku berpetualang?"

__ADS_1


__ADS_2