Ling Tian

Ling Tian
Serangan Di Daratan Barat 4


__ADS_3

Melihat Jendral Leng mengeluarkan senjatanya, bahawah dari Han Tianba juga ikut mengeluarkan senjatanya yang berupa golok.


Aura kuat mengedar dari keduanya. Sementara yang lain langsung bergerak menjauh untuk membiarkan mereka berdua fokus bertarung satu lawan satu.


"Majulah Jendral!" ucap bawahan Han Tianba sambil menggerak-gerakkan jarinya menyuruh Dang Jendral maju.


"Kau yang meminta!" seru Jendral Leng lalu melesat menggunakan kecepatan tertingginya.


Swoosh...


Jendral Leng muncul kembali tepat didepan bahwahan Han Tianba sambil mengayunkan pedangnya kuat-kuat.


"Hyaaat!"


Disisi lain, bawahan Han Tianba itu masih tetap tenang dan masih dengan senyumannya yang terukir. Dia dengan santai mengayunkan tombaknya untuk menepis serangan pedang Jendral Leng.


Traankk!


Bhuusshh...


Suara benturan dua benda keras disertai gelombang kejut dari energi kedua orang itu meluas kesegala arah.


"Hanya itu saja? Lemah!" cibir bawahan Han Tianba.


Jendral Leng tidak menggubris ejekan bawahan Han Tianba. Dia fokus untuk mempersiapkan serangan keduanya.


Zhuung!


Pedang yang ada ditangan Jendral Leng berdengung lembut dan menyala merah seperti bara api. Benar! Jendral Leng mengalirkan elemenitas apinya kepada pedang untuk memperkuat daya hancur dari serangannya.


"Hoho.. Kau serius sekali Jendral! Tapi jangan senang dulu! Aku juga punya nyala api!" ucap bawahan Han Tianba lalu dia juga mengalirkan elemen apinya yang berwana hitam ke tombak yang dia pegang.


Zhuuung!


Tombak bawahan Han Tianba berdengung dengan keras dan aura mengerikan muncul darinya.


"Mari buktikan api siapa yang lebih hebat! Api merahmu atau api hitamku!" ujar bawahan Han Tianba.


Setelah bersiap, keduanya sama-sama melesat dengan cepat saling serang satu sama lain. Jendral Leng dengan sabetan pedangnya, bawahan Han Tianba dengan tusukan tombaknya.


Trank! Trank!


Trank!


Boomm...

__ADS_1


Trank!


Trank! Trank!


Pertarungan keduanya berjalan dengan sengit. Meskipun Jendral Leng kalah satu bintang dalam kultivasinya, namun dia dengan teknik pedangnya mampu mengimbangi kekurangan tersebut.


Melihat kedua orang itu bertarung, para anggota kelompok kedua belah pihak juga tidak mau kalah.


"Serang!" teriak satu Jendral yang datang bersama dengan Jendral Leng.


Dua ribu pasukan yang dibawanya dengan gagah berani langsung melesat mendengar teriakan sang Jendral.


"Haaaaaa!" teriak semuanya sambil melesat mendatangi musuh.


Satu bawahan Han Tianba yang lain hanya tersenyum melihat dua ribu semut datang ingin menyerang pasukannya yang berjumlah empat ratus. Dia lalu meluarkan pedang dari sarungnya dan mengacungkan kearah prajurit Kekaisaran Song.


"Serbuuu!" teriak pasukannya setelah melihat kode dari pemimpinnya.


Swussh... Swushh...


Keempat ratus pasukannya melesat dengan cepat menghampiri lawan dan ledakan demi ledakan serta dentingan senjata akhirnya mulai terdengar.


Trank! Tring!


Bomm... Bomm...


Satu bawahan Han Tianba yang lain juga ikut melesat menyerang satu Jendral lain yang datang bersama Jendral Song Ou Leng.


Peperangan sengit itu terus berlangsung lama hingga satu persatu pasukan dari kedua belah pihak mulai berjatuhan. Tidak! Lebih tepatnya pasukan dari pihak prajurit Kekaisaran Song lah yang berjatuhan. Sementara pasukan empat ratus orang dari bawahan Han Tianba masih utuh meski beberapa ada yang terluka ringan dan parah.


Han Tianba menyaksikan peperangan itu dengan santai dan mengangguk-anggukkan kepalanya. Seperti yang dia yakini sebelumnya, Kuantitas tidaklah berguna jika dihadapkan dengan kualitas.


"Hehe.. Dengan ini aku yakin nanti sore pasukanku sudah bisa menguasai daerah pantai ini!" ucapnya dengan puas.


Dia lalu kembali menyesap tehnya santai dan meminta beberapa pelayannya yang super-super cantik untuk mengipasi dan memijitinya.


Waktu berlalu dengan cepat. Tepat pada waktu sore harinya, pasukan empat ratus bawahan Han Tianba akhirnya berhasil menghabisi semua lawan-lawannya. Kini yang tersisa hanyalah tiga orang dari pasukan Kekaisaran Song yang kini menjadi tawanan pasukan Han Tianba. Mereka tidak lain adalah dua Jendral dan Komandan Ren itu sendiri.


Kondisi mereka saat ini benar-benar memprihatinkan dengan tangan dan kaki ada yang terpotong.


"Hahaha.. Bagaimana Jendral? Apakah nikmat rasanya kekalahan? Sudah aku katakan semut tetaplah semut!" ucap bawahan Hnman Tianba.


Setelah itu, mereka mengurung tiga tawanan itu dalam penjara khusus. Entah apa maksudnya mereka tidak menghabisi ketiganya hanya Han Tianba dan para bawahannya yang mengerti.


Armada perang raksasa itu kembali bergerak untuk memasuki dan menguasai benteng kota terdekat yang pasukannya sudah mereka habisi.

__ADS_1


Han Tianba dengan posisi berdiri tegap menatap daratan barat yang sangat luas.


"Seluruh daratan barat ini akan jatuh ke tanganku dan Yang Mulia!" ucapnya senang.


.


.


Hari-hari berlalu dengan cepat. Peperangan demi peperangan terjadi saat ribuan pasukan Organisasi Gedung Pembunuh disuruh oleh Han Tianba untuk menguasai kota-kota terdekat yang ada diwilayah pantai perbatasan deratan barat.


Satu persatu kota telah dikuasai. Kekuatan yang dikeluarkan oleh Organisasi Gedung Pembunuh bukanlah main-main. Mereka selalu membawa puluhan kultivator ranah Pendekar Berlian setiap kali penyerangan membuat Kekaisaran Song pusing tujuh keliling.


Belum lagi dengan strategi penyerangan yang bersamaan menyerang dibanyak kota, membuat Kekaisaran Sobg sakit kepala dan bingung hendak membagikan kekuatan dititik yang mana terlebih dahulu.


Karena ketidak tegasan Kaisar Song inilah membuat semakin banyak kota yang dikuasai oleh pasukan Organisasi Gedung Pembunuh Han Tianba.


***


Dunia Jiwa.


Didalam dunia jiwa di aula kutivasi, Ling Tian terus berusaha memurnikan Qi miliknya menjadi Kaisar Qi. Dia tidak tahu menahu tentang daratan barat yang sedang digempur oleh pasukan Organisasi Gedung Pembunuh dari aliansi aliran hitam pimpinan Han Tianba.


Satu minggu didunia luar telah berlalu, itu berarti di dunia jiwa sudah terlewat dua puluh satu hari. Sementara didalam aula kultivasi, Ling Tian sudah tidak tahu berapa lama dia duduk disana.


Dengan tenang Ling Tian terus melakukan pekerjaannya itu. Saat ini Qi dalam tubuh Ling Tian sudah termurnikan sebanyak tujuh puluh persen. Dengan kekuatannya saat ini, Ling Tian yakin akan mampu bertarung imbang dengan kultivator Ranah Kaisar Tahap Awal.


Ling Tian perlahan membuka matanya lalu menghela nafas panjang.


"Haiih.. Memurnikan Qi biasa menjadi Kaisar Qi memang perlu waktu ribuan tahun lamanya!" des*hnya pelan.


Ling Tian beranjak dari tempatnya duduk dan keluar dari aula kultivasi. Dengan langkah tenang dia menuju ke Istana Ling.


"Tuan Muda! Anda sudah selesai?" tanya Zhuge Ruxu menyambut kedatangannya.


"Hahh.. Aku baru bisa memurnikan tujuh puluh persen Qi menjadi Kaisar Qi!" ucap Ling Tian sambil menghela nafas panjang.


"Oiya! Selamat atas peningkatan kultivasimu!" lanjut Ling Tian yang dapat dengan jelas melihat Zhuge Ruxu telah berada di Ranah Kaisar Menengah.


"Ehehe.. Baik Tuan Muda! Ini juga berkat Tuan Muda juga! Aku sungguh tidak menyangka akan ada di ranah kultivasi yang tak terbayangkan ini!" ucap Zhuge Ruxu.


Ling Tian menganggukkan kepalanya.


"Lalu dimana Mao An?" tanyanya.


"Oh.. Adik kelima sedang berada di bilik lain aula kuktivasi! Katanya, dia ingin meningkatkan kekuatannya hingga mencapai Puncak Ranah Kaisar, mengingat perjalanan yang akan Tuan Muda jalani sangatlah berbahaya! Dia ingin membantu dengan kekuatannya!" jawab Zhuge Ruxu menjelaskan.

__ADS_1


"Owh.. Begitu.." ucap Ling Tian mengangguk.


__ADS_2