
"Sepertinya tidak. Aku akan jadi penonton saja!" jawab Ling Tian tenang.
"Sialan! Berani sekali kalian mengabaikanku!" teriak penjaga gerbang lalu melesat menyerang Long Yuan.
Swuusshh...
Tap!
"Apaa!"
Long Yuan menghentikan pedang penjaga gerbang dengan menjepitnya dengan kedua jari.
"Bisakah kau bersabar sedikit sebelum menemui dewa Yama?! Aku sedang bicara dengan suadaraku!" kata Long Yuan.
Krakk!
Pedang itu patah! Tidak! Ini adalah senjata kelas tiga! Dapat dipatahkan hanya dengan memelintirkan jari yang menjepitnya! Gila! Ini adalah hal gila! Fikir penjaga gerbang.
Keringat dingin langsung mengalir dari pelipis dan punggungnya. Tak berselang lama, penjaga gerbang merasakan terpaan semilir angin dilehernya. Kepalanya tiba-tiba terjatuh tanpa tahu sebab dan pelakunya.
Penjaga gerbang mati dengan mata melotot karena tidak percaya dirinya akan mati semudah itu. Penjaga gerbang lain juga tentunya sangat terkejut. Dia membelalakkan matanya dan merasakan ketakutan yang teramat sangat. Ia juga tidak tahu menahu siapa gerangan yang membunuh saudaranya itu.
"Ugh.. Niat pedang yang kuat!" ucap Ling Tian.
"Hohoo.. Kau tau tentang niat pedang saudaraku?" tanya Long Yuan.
"Niat pedang? Hahaha.. Bahkan Jiwa Pedang dan Tubuh Pedang aku menguasainya!" jawab Ling Tian dengan nada sombong.
__ADS_1
"Tu-buh Pedang? K-kau menguasainya?" tanya Long Yuan terbata-bata.
"Tentu saja!" singkat Ling Tian.
"Sialan! Kau harus mengajariku saudaraku!" kata Long Yuan menggertakkan gigi.
"Itu bisa diatur, yang penting coba kau saksikan dulu bagaimana perbedaan niat pedangmu dan milikku!" ucap Ling Tian.
Bluk!
Kepala penjaga yang lain terjatuh tanpa tahu apa yang terjadi. Bahkan Long Yuan sendiri tidak tahu kapan Ling Tian menyerang penjaga gerbang.
"Sialan! Itu niat pedang yang sedikit lagi menuju jiwa pedang!" umpat Long Yuan.
"Hahaha.. Seperti namanya, kita hanya perlu berniat saja menyerang dengan pedang tapi tubuh kita hanya diam. Sebab aku telah menguasai jiwa pedang, maka akan mudah membuat pedang dimanapun aku mau dengan koneksi jiwaku, bahkan jika itu dileher musuh!" kata Ling Tian.
"Hahhh... Baiklah." pasrah Long Yuan.
Long Yuan sengaja terbang keatas langit dan melihat seluruh kediaman Klan Gu.
Swuuusshhh...
Duaaarr!
Hanya dengan lambaian tangannya, ledakan besar dan keras terjadi didepan kediaman utama Klan Gu.
"Siapa yang berani-beraninya membuat keributan di Klan Gu?" teriak pria tua yang tak lain Patriark Gu.
__ADS_1
Patriark Gu dan para tetua saat itu sedang mengadakan pertemuan darurat guna membahas lelang agung Paviliun Harta Karun dan yang kedua tentang orang yang sudah membuat putranya pulang dalam kondisi mengenaskan. Namun tiba-tiba dikagetkan dengan ledakan besar yang tepat terjadi didepan pintu aula pertemuan.
Tentu saja Patriark Gu dan para tetua sangat marah saat ada orang yang mengganggu jalannya pertemuan. Mereka melesat untuk melihat siapa gerangan yang berani membuat ulah di klannya.
"Siapa kau? Mengapa kau membuat keributan di Klan Gu?" tanya Patriark Gu dengan tatapan tajam.
"Hm.. Pendekar Emas Awal Bintang 7? Lumayan! Oiya, apa prajurit pengawal tuan muda sialan itu tidak mengatakan bahwa aku akan datang mengunjungi kalian!" teriak Long Yuan.
"Jadi kalian adalah orang yang sudah membuat putraku sekarat! Tidak akan pernah kumaafkan!" ujar Patriark Gu dengan niat membunuh merembes keluar darinya.
"Hahaha.. Aku hanya memberinya sedikit pelajaran! Dan aku datang kesini baik-baik guna meminta kompensasi yang layak saat putra sialanmu itu menghalangi jalan penguasa ini dan menyia-nyiakan waktu berhargaku!" kata Long Yuan.
"Kompensasi matamu! Mati kau sialan!" teriak Patriark Gu lalu melesat menyerang Ling Yuan dengan tapaknya.
Swuuusshh...
"Hanya ranah Pendekar Emas Awal berani menyerang penguasa ini? Cari mati!" ucap Long Yuan.
Tap!
"Apaa!"
Tapak Patriark Gu terhenti saat Long Yuan mencengkramnya dengan tangan kirinya.
"Masih butuh waktu seribu tahun untukmu melawanku!" ujar Long Yuan melambaikan tangannya ke kepala Patriark Gu.
Swuuusshh...
__ADS_1
Duaaarr!